MARHABAN YA RAMADLAN

Bulan Ramadalan hampir datang, atau tepatnya nanti malam, dan seluruh umat muslim di dunia tentunya sangat gembira menyambutnya, karena  dengan Ramdlan tersebut umat akan dapat mengerjakan shalat tarawih dan di siang harinya dapat melakukan puasa.  Segala amal kebaikan pun akan diberikan pahala yang berlipat, manakala dilakukan dengan benar dan keikhlasan yang penuh.  Pada bulan suci ini pula umat akan terdorong untuk melakukan banyak kebaikan, seperti tadarrus al-Quran, shalat berjamaah, dzikir dan wirid, dan bersedekah.  Kondisi tersebut bukan hanya sebagai teori belaka, melainkan sudah menjadi kenyataan, terkecuali bagi mereka yang memang tidak mau.

Bulan suci tersebut bagi bangsa Indonesia yang sedang  menghadapi pemilihan presiden dan babhkan sedang pada  saat kampanye, tentunya diharapkan akan menjadi sebuah  solusi untuk mencari bentuk kampanye yang santun tanpa saling menghujat atau mencari kelemahan lawan, justru saat inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada masyarakat hal hal baik atau bahkan terbaik yang dapat dilakukan dan  yang akan dilakukan.  Kampanye jadinya menjadi sangat kodusif dan hanya kata kata biak saja yang akan dimunculkan.

Berpuasa sesungguhnya bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan lain yang membatalkan puasa, melainkan juga harus disertai menahan diri dari segala perbuatan yang dapat menyakitkan pihak lain, seperti dendam, iri, menghujat, memamerkan aib pihak lain, bertengkar, berkata ketus dan marah.  Bahgkan para ulama  sudah memberikan klasifikasi puasa dengan beberapa klasifikasi.  Ada puasanya orang awam, yakni puasa yang hanya menahan diri dari hal hal yang membatalkan puasa. Ada juga puasanya orang khas, yakni puasa yang disamping menahan diri dari segala hal yang membatalkan, juga sekaligus  menahan diri dari hal hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, seperti perbuatan yang menyakitkan pihak lain seperti di atas.

Namun sesungguhnya masih ada jenis puasa yang dianggap sebagai puasa yang dikehendaki oleh Tuhan, yakni puasa yang dijalankan dengan memetik seluruh hikmah yang terkandung di daalamnya.  Tentu saja mereka akan meninggalkan  segala hal yang membatalkan puasa, segala hal maksiat dan seluruh  perbuatan negatif, meskipun sedikit.  Mereka dapat menggali makna  puasa, seperti  sabar, disiplin,  peka terhadap nasib banyak manusia yang kurang mampu, menolong pihak lain, dan sleuruh amalan baik yang tidak hanya dilaksanakan pada saat puasa saja, melainkan justru mereka berkomitmen untuk melaksanakannya juga  pada saat setelah usai puasa.

Bulan suci memang sudah didepan mata kita, bahkan bagi sebagian saudara kita  sudah datang, yakni ada yang memulainya sejak haru Jumat yang lalu, dan ada juga yang memulainya sejak hari ini.  Kita tidak usah terlalu mempermasalahkan  hal tersebut, karena hal tersebut merupakan keyakinan masing masing, meskipun termasuk hal yang bersifat ijtihadiyyah.  Bgai mayoritas umat muslim yang mengikuti pengumuman pemerintah, tentu akan memulainya nanti malam dengan melaksanakan shalat tarawih dan esok harinya sudah berpuasa.  Untuk itu diperlukan persiapan yang matang sebagai wujud dari kesiapan kita menghadapi perntah Tuhan untuk berpuasa.

Sebagaimana  difirmnakan Tuhan sendiri bahwa puasa tersebut dimaksudkan agar para  pelakunya  dapat menjadi muttaqin atau orang orang yang bertaqwa.  Dalam pengertiannya yang swederhana, taqwa tersebut mengandung makna melaksanakan seluruh perintah Tuhan dan sekaligus meninggalkan seluruh larangan-Nya.  Dengan harapan seperti itu seharusnya seluruh umat yang selesai menjalankan ibadah puasa akan menjadi manusia yang pilihan dan akan selalu memberikan manfaat bagi masyarakat lainnya.

Barangkali itulah kemudian nabi Muhammad saw pernah  mengemukakan bahwa sebaik baik manusia itu ialah mereka yang dapat memberikan manfaat terbesar bagi umat dan lingkungannya.  Rupanya hal tersebut tidak berdiri sendiri melainkan  saling terkait, yakni ketika seseorang  melaksanakan ibadah puasa dengan penuh perhitungan, hingga mencapai ketaqwaan yang diharapkan, tentunya kemudian dia akan mampu memerankan dirinya sebagai teladan di tengah tengah masyarakatnya dan selalu memberikan manfaat bagi mereka.

Kembali kepada  kondisi saat ini dimana umat muslim di negeri kita sedaang menghadapi puasa atau bahkan sudah berada di dalamnya, sesungguhnya ada harapan besar bagi kita untuk masa depan bangsa ini.  Hal tersebut disebabkan   sebentar lagi akan ada pemilihan pemimpin nasional kita.  Mereka yang terpilih sudah barang pasti memang dikehendaki oleh umat dan sekaligus diberikan amanah untuk memajukan dan mensejahterakan swelueuh bangsa, termasuk yang pada saat pemilihan tidak meilihnya.

Presiden terpilih nanti akan sangat bagus manakala kemudian mewakafkan seluruh dirinya untuk bangsa dan negara, sementara urusan partai biarlah diurus oleh orang lain, sebab sudah banyak pengalaman bagi kita kalau rangkap jabatan, akan ada sisi yang dikorbankan, meskipun ada saja alasan yang dapat dimunculkan dan  seolah tidak menjadi masalah.  Hanya saja rakyatlah yang akan merasakan dampkanya dengan ranhgkap jabatan tersebut, apalagi rangkap tersebut dari pucuk pimpinan.

Artinya  mumpung saat ini sedang berada di bulan suci, karena itu dapat dijadikan renungan mendalam tentang  bagaimana mempercepat kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa ini, yakni dengan mengyusun, meskipun baru rancangan, sebuah kabinet pemerintahan yang ideal, yakni terdiri dari mereka yang profesional dalam bidangnya.  Jangan ada kepentingan ganda, yakni kepentingan menjalankan pemerintahan dan sekaligus kepentingan politik praktis.   Jangan lagi ada menteri, gubernur, bupati atau wali kota dan bahkan presiden dan wakilnya serta pejabat publik lainnya yang sekaligus juga ketua sebuah partai politik.

Barangkali masih mungkinlah kalau menteri  diangkat dari orang partai, tetapi harus profesional dan dan harus meninggalkan partainya atau sekedar tidak menjabar sebagai pengurus inti partai.  Dengan begitu menteri akan dapat fokus dalam menjalankan tugasnya untuk meraih  visi dan misi yang sebelumnya sudah disampaikan oleh presiden dan wakilnya.  Yakinlah bahwa kalau ada rangkap jabatan, pemerintahan tidak akan efektif dan cenderung stagnan serta bahkan malahan  lebih  mengarah kepada kelemahan serta macetnya pemerintahan.

Siapapun nantinya yang akan dipilih oleh lebih banyak masyarakat, maka seluruh  anak bangsa ini harus menghormatinya dan sekaligus mendukungnya untuk dapat mewujudkan visi misi yang diembannya.  Jangan sampai ada  satu pihak pun yang merecoki atau bahkan mencari cari kesalahan dan kelemahannya, sebab masa kampnye sudagh berlalu, dan presiden dan wakilnya sudah dipilih.  Itu artinya mau  atau tidak mau, senang atau tidak senang, pemimpin bangsa Indonesia ya itu.  Nah, untuk menuju Indonesia yang kokoh, sejahtera, tentu dibutuhkan partisi[asi aktif dari seluruh kompenen bangsa dalam pembangunan yang direncanakan.

Tidak suka memang merupakan hak seseorang, tetapi cukup disimpan di dalam hati saja, dan  sebaiknya memang berpartisipasi dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa dan negara kita, karena kalau hal tersebut dilakukan, kita telah  andil dalam membangun bangsa dan itu sudah barang pasti  menjadi salah satu amal baik yang akan diberikan pahala oleh Tuhan.  Janganlah menjadi orang yang  menghalangi orang lain berbuat baik, karena hal tersebut justru akan merugikan diri sendiri dan  banyak orang, karena itu perbuatan tersebut termasuk dosa yang akan mendapatkan balasan siksa.

Semoga kita menjadi manusia yang realistis dan  sekaligus gentel  untuk mau mengakui dan sekaligus mendukung siapapun yang nantinya dipilih dan dikehendaki masyarakat untuk memimpin negeri ini selama lima tahun mendatang.  Jikalau  masih ada yang melihat kelemahan pemimpin peilihan rakyat tersebut sebaiknya diberikan masukan yang konstruktif dan bukan berusaha untuk menjegalnya.  Ada waktunya lagi, yakni lima tahun kemudian.  Itulah seharusnya yang terjadi pada  bangsa yang bermaratabat ini dan sekaligus  berdemokrasi dengan baik dan santun.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.