PEMIMPIN AMANAH

Sudah banyak orang yang mengadobsi sifat Nabi Muhammad saw sebagai persyaratan ideal bagi semua pemimpin, yakni   sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh, tetapi dalam kenyataannya sifat sifat tersebut belum dapat diadobsi oleh pemimpin yang sebenarnya.  Artinya sifat sifat Nabi tersebut masih berada dalam dataran idealistis dan belum menjadi sikap dan perilaku para pemimpin yang ada.  Namun bukan berarti kita kemudian cuek saja dengan  hal tersebut, melainkan harus terus diupayakan melalui berbagai sarana yang memungkinkan, termasuk  saat ini dimana bangsa Indonesia  yang sedang akan memilih pemimpin.

Salah satu bentuk membumikan sifat sifat tersebut ialah melalui usaha yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, yakni  klarifikasi harta para capres dan cawapres serta menyertakan masyarakat dalam persoalan tersebut.  Artinya masyarakat juga diminta untuk turut melaporkan harta para calon yang diketahui oleh masyarakat, sehingga KPK nantinya  dapat mengklarifikasi kepada calon secara langsung.  Hal tersebut tentunya merupakan sebuah ikhtiyar yang cukup bagus dalam upaya  menjadikan pemimpin  ke depan jujur dan sekaligus amanah dalam  menyampaikan kekayaannya.

Harapan  selanjutnya ialah kalau para pemimpin tersebut mempunyai sifat jujur dan amanah, tentunya dalam mengemudikan negara ini tidak akan  cenderung mengkhianati jani janinya serta akan terus berusaha mensejahterakan rakyat.  Dengan  kondisi yang sangat terbuka seperti saat ini masyarakat juga sesungguhnya dapat berperana aktif dalam mengupayakan agar pemimpin masa depaqn benar benar jujur dan amanah, yakni melalui dialog yang dilakukan  oleh para capres dan cawapres dalam kampanye mereka.  Lebih lebih saat ini mereka sering mendatangi masyarakat untuk berkampanye.

Barangkali perlu dijelaskan secara agak lebih rinci mengenai sifat sifat tersebut, yakni  sidik atau jujur.  Sifat ini merupakan sifat dasar yang harus dimiliki oleh  pemimpin dalam level apapun, apalag pemimpin tertinggi disebuah negara.  Jujur tersebut sesungguhnya merupakan  sebuah kondisi dimana  seseorang itu  akan mengatakan  sesuatu apa adanya, sehingga  tidak  akan terjadi kebohongan dalam dirinya, dalam kondisi apapun, termasuk ketika harus  berkaitan dengan diri atau keluarganya yang justru akan merugikan.  Nah, karena jujur tersebut penuh dengan resiko tersebut, seorang yang jujur tentu akan terus berusaha untuk berbuat baik dan tidak akan melakukan  hal hal tidak terpuji atau melanggar ketentuan hukum.

Sesungguhnya  dengan sifat jujur tersebut sudah cukup menjadi syarat bagi seseorang untuk menjadi baik, karena  konsekwensi dari jujur akan melahirkan sifat lainnya yang juga positif.  Dengan demikian kejujuran tersebut tidak hanya  dilihat dari sisi perkataan semata melainkan juga dari sisi lainnya, seperti perbuatan, sikap, janji dan komitmennya untuk selalu  berlaku benar dan tidak pernah terlintas  dalam dirinya untuk  berbuat kejahatan, apapun bentuknya.  Itulah  sifat jujur yang dapat melahirkan sifat sifat positif lainnya.  Cuma persoalannya ntuk menjadi jujur memang tidak mudah dan  cepat.  Artinya kalau ada orang yang tidak jujur, kemudian  tiba tiba akan menjadi jujur dengan sendirinya, itu akan tidak mudah dan mungkin dapat dikatakan  mustakhil.

Jujur itu merupakan sebuah sifat dan sekaligus watak, sehingga pembentukannya juga harus melalui  pendadaran yang terus menerus dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata.  Akan sangat sulit bagi mereka yang sudah terbiasa dengan ketidak jujuran, kemudian  karena ada kepentingan tertentu, misalnya  mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin,  lantas  bisa  menjadi jujur dengan sesunguhnya.  Pasti akan sangat berat baginya untuk berlaku jujur, karena  orang sperti itu sudah barang tentu mempunyai banyak persoalan dalam hidupnya dan  kalau benar benar jujur, tentu akan sangat merugikan dan bahkan  bisa megurngkan keinginanya untuk menjadi calon.

Nah, kejujuran tersebut sesungguhnya juga dapat melahirkan sifat amanah itu sendiri.  Artinya kalau  otrang memang benar benar jujur, ia tentu juga harus amanah, yakni sikap terus memelihara dan menjalankan  apapun yang dipikulkan di pundaknya.  Amanah tersebut merupakan sifat yang juga harus dimiliki oleh seorang pemimpin, bahkan oleh seluruh manusia, karena dengan amanah tersebut seseorang akan tetap mampu menjadi manusia yang bermartabat, dan tidak akan turun menjadi manusia yang  hina.  Seorang pemimpin yang amanah tentu akan senantiasa menjalankan  program programnya dengan baik.

Secara lebih luas kalau pemimpin tersebut sebelumnya menjanjikan sesuatu atau telah menyampaikan visi dan misi serta programnya kepada masyarakat, maka seluruh pikiran dan tenaganya  akan difokuskan untuk merealisasikan visi dan misinya tersebu, dan sekaligus  berusaha untuk  terus menghimbau  dan memerintahkan kepada seluruh jajarannya untuk mencapai visi misi tersebut.  Amanah tersebut akan mampu menggerakkan dirinya  menjadi seorang panutan dalam bekerja dan  bersikap, sehingga  tidak akan pernah terbersit sedikitpun untuk mengkhianati umat yang telah memberikan  amanah tersebut.

Tentu akan lain kalau amanah tersebut hanya sebagai topeng belaka, yang tentunya  pada  saatnya nanti akan ketahuan bahwa  sesungguhnya  bukan amanah yang ada dalam dirnya, melainkan jutru sebaliknya, yakni khianat.  Ingkar janji, lupa dengan visi dan misinya serta selalu beralasan dalam sikap yang  keluar dari koridor yang dijanjikan, adalah wujud dari sikap yang bertentangan dengan amanah tersebut.  Jadi amanah sesungguhnya  harus menyatu dengan jujur sehingga akan dapat dilahirkan sifat positif lainnya pula.

Salah satu sifat yang  seharusnya ada pada diri seorang pemimpin ialah fathonah atau kecerdasan secara umum.  Dengan sifat cedeas tersebut seorang pemimpin akan dengan mudah mencari solusi atas persoalan yang menimpa negar dan rakyatnya, tanpa harus bertele tele dan  membiarkan persoalan tersebut terus berlanjut sehingga akan dapat menyengsarakan.  Kecerdasan tersebut akan mampu digunakan untuk kebaikan jikalau dibarengkan dengan sifat jujur dan amanah sebagaimana di atas, sebab kalau kecerdasan tersebut beridir  sendiri, justru akan sangat mebahayakan, seperti  penyelewengan dan pelangaran atas ketentuan yang ada.

Dapat saja kecerdasan tersebut digunakan untuk membohongi rakyat dengan melakukan hal hal yang menguntungkan dirinya, tetapi dibunhgkus dengan kegiatan yang seolah olah menguntungkan rakyat.  Cerdas tersebut hakekatnya ialah anugrah Tuhan yang diberikan kepada umat manusia, akan tetapi  kecerdasan tersebut  akan dapat digunakan untuk kejahatan, manakala tidak dibimbing dengan sifat baik lainnya. Tentu kalau kecerdasan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan umat dan usaha untuk mensejahterakan merea, sudah barang pasti itulah yang diharapkan.

Sifat terakhir yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ialah tabligh, yakni  menyampaikan  pesan dan juga  amanah yang dipercayakan kepadanya.  Salah satu hal yang harus dilakukan oleh pemimpin ialah  menyampaikan  hal hal penting yang harus diketahui oleh masyarakat, termasuk  dalam mengungkap  kekayaan pribadinya kepada publik, sehingga masyarakat akan tahu  apakah dia memang benar benar jujur dan amanah dalam menjalankan tugasnya ataukah tidak.  Penyampaian laporan harta kekayaan tersebut atau hal hal lain yang diangap penting oleh masyarakat dan juga ketentuan perundangan, mutlak dilakukan, dan jangan sampai ada  sesuatu yang disembunyikan.  Nah, kalau semua sifat tersebut diwujudkan dalam diri seorang pemimpin, maka  ada harapan cerah untuk terwujudkan kesejahteraan masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.