DUNIA POLITIK MEMANG SUSAH UNTUK DIPAHAMI

Rupanya dunia politik memang mempunyai ketentuan sendiri, dan tidak mesti sama dengan logika umum, karena di sana  ada sebuah kepentingan yang menjadi pengendali utamanya.  Pantas selalu saja ada  yang menyatakan bahwa  di politik itu tidak ada kawan dan atau lawan yang abadi, justru yang ada ialah kepentingan yang abadi. Perubahan yang sangat drastic pun dapat berlaku di politik, yang meskipun menurut ukuran logika tidak akan mampu menerimanya atau setidaknya memahaminya.  Sebagai contoh soal  perubahan arah politik  politikus itu  dapat sangat cepat dan drastic dan bahkan sangat bertentangan dengan logika umum.

Namun demikian dunia politik  tetap akan dapat memahami dan menerimanya.  Lantas pertanyaannya ialah apakah  dunia politik itu memang tidak rasional?  Jawabannya ialah ya, karena banyak hal hal yang tidak masuk akal, tetapi masih dapat berjalan di politik.  Terlalu banyak contoh kongkrit hal hal tidak masuk akal yang berjalan di politik, terutama tingkah dan sikap para politikus yang mempunyai kuasa di sebuah partai politik.  Artinya pada suatu saat mereka akan mampu memberikan pujian dan  pembelaan yang sangat luar biasa kepada  pihak tertentu, seperti anggotanya, tetapi pada saat yang lain mereka juga dapat marah dan menghujat pihak tertentu tersebut.

Terkadang kita juga dapat menyaksikan betapa mereka  melakukan sesuatu yang diluar ketentuan  organisasinya sendiri, dan melangkah di luar kesepakatan yang telah dibuat.  Kasus ketua umum PPP yang melakukan maneuver mendukung Prabowo dan ikut dalam kampanye partai Gerindra, merupakan salah satu kasus yang tidak masuk akal, tetapi terjadi, sehingga  ketum tersbut digugat kadernya sendiri.  Setelah itu ada upaya saling melengserkan dan mencopot pihak pihak tertentu dari jabatannya. Dengan alasan  yang dicari dan anehnya  hal tersebut dilakukan oleh kedua pihak yang berseberangan.  Meskipun akhirnya dapat didamaikan oleh sesepuh tetapi bekasnya akan terus membekas.

Kasus di partai lain juga terjadi sesuatu yang tidak masuk akal tetapi dapat terjadi, seperti ketetapan partai Demokrat yang bersikap netral, sehingga kemudian para kadernya  berinisiatif secara pribadi mendukung salah satu pasangan caprs cawapres.  Sampai di situ  masih dapat masuk akal, tetapi kemudian  secar ramai ramai para anggota legislatifnya mendeklarasikan mendukung Prabowo Hatta, tentu hal tersebut tidak dapat dipahami, katanya netral tetapi dengan mengatas namakan fraksi malah mendukung, bahkan sebelumnya  mengundang Prabowo untuk menyampaikan visi dan misinya.

Ditambah lagi  jauh sebelumnya  Prabowo yang terus menyuarakan nasionalisasi asset asset  dan juga mengklaim UU desa sebagai upayanya, lalu dikritik secara tegas oleh ketua umum PD dan bahkan mengancam untuk menyerukan kepada siapapun untuk tidak memilih partai yang seperti itu, tetapi dengan mudah Prabowo menghilangkan misi tersebut dan menyampaikan visinya di hadapan para pengurus PD, dengan serta merta mereka  mengatakan visi misinya sejalan dengan PD, dan menyerukan agar anggota PD memilih Prabowo hatta.  Ini sungguh tidak masuk akal, tetapi sekali lagi dalam p[olitik hal itu dapat terjadi.

Bahkan  ketika kemudian ada salah satu kader PD yang juga jubir PD, yakni di Poltak Ruhut Sitompul merapat ke Jokowi Jk, justru dikecam sebagai keluar dari keputusan partai.  Ini tentunya semakin tidak dapat dipahami bahwa  satu kelompok mendukung Prabowo Hatta dikatakan tidak melanggar partai yang bersikap netral, tetapi ketika ada  kader lainnya merapat dan mendukung calon lainnya  dikatakan sebagai membangkang ketentuan partai.  Logikanya ialah kalau partai netral, semua anggota PD seharusnya netral dan tidak ada dukungan secara resmi dan vulgar kepada salah satu pasang calon.  Kalaupun ada dukungan itu dilakukan secara tertutup, karena secara resmi mereka netral.

Lain lagi dengan kisruh di partai Golkar, partai lama yang  tetap mendapatkan kepercayaan rakyat nomor dua dalam pileg kemarin. Akan sangat tidak masuk akal, ketika ada salah seorang kadernya menjadi salah satu calon, tetapi kemudian  PG sendiri malah  mendukung orang lain, dengan sebuah janji yang hanya menguntungkan  salah satu atau beberapa pengurus saja.  Sudah begitu ketika ada sebagian kader yang justru mengingatkan  untuk mendukung kadernya sendiri, malah dicemooh tidak loyal dan pada akhirnya didepak dari partai.

Keanehan yang terjadi ialah mendukung kader justru dianggap bersalah dan bahkan dihukum dengan pecat, sementara itu lebih aneh lagi ketika ada kader yang mendukung pasangan selain yang didukung partai, tetapi tidak di apapakan.  Hal seperti itu dalam partai politik ternyata sangat biasa dan wajar, tetapi sesungguhnya sulit untuk dinalar dengan nalar biasa.  Karena dalam partai politik yang terjadi ialah siapa yang berkuasa itulah yang menentukan arah  dan memberlakukan aturan partai.  Namun dalam politik pula pada saatnya juga akan berlaku kebalikannya, yakni ketika kekuasaan beralih ketangan lawannya, maka dengan mudah orang orang yang dipecat tersebut akan naik panggung.

Kita masih ingat saat PG mendukung calon hasil kovensinya da nada sebagian kader yang mendukung calon lain yang juga kadernya sendiri, dan para pendukung tersebut kemudian dipecat, tetapi setelah pilpres selesai dan ternyata  calon yang diusung partai tidak terpilih, dan kemudian justru kader yang terpilih tersebut, yakni Yusuf kalla kemudian memanangkan pertarungan ketua umum, maka segala sesuatunya segera berubah.  Artinya mereka yang dahulu pernah dipecat kemudian dipulihkan kembali dan bahkan mendapatkan jabatan strategis di pemerintahan.

Akankah sejarah tersebut berlaku lagi pada pilpres  kali ini, dimana ada  tiga setidaknya kader golkar yang sudah dipecat disebabkan mendukung kadernya sendiri, tetapi berbeda dengan pilihan partai, pada saatnya justru akan memenangkan panggung berikutnya.  Sejarahlah yang akan mencatat, dan kita  hanya sebagai saksi, meskipun tidak terlalu penting, karena  semuanya itu dalam dunia politik yang memang sangat sulit dinalar.

Kesulitan memahami politik juga  dalam sector individual yang kemudian masuk di dalamnya.  Sebagai contoh ialah  beberapa  akademisi dan intelektual yang kemudian masuk politik praktis, dan akhirnya  juga susah untuk dipahami argumentasinya.  Seorang mahfuh MD misalnya, sebagai seorang intelektual yang manta ketua MK  sata masuk politik praktis dengan digadang sebagai calon presiden oleh PKB sampai akhirnya  karena PKB tidak dapat mengusungnya secara mandiri, maka harus melakukan koalisi, dan  tibalah koalisi dengan PDIP.

Nah, sebagi capres, mahfudh kemudian  mau turun harga hanya menjadi cawaopres bagi capres yang diusung PDIP, yakni Joko Widodo, bahkan hingga hamper selesai waktu  pendaftaran, dimana  Jokowi belum menntukan wakilnya, mahfudh masih percaya dan menunggu pengumuman dari Jokowi.  Nah, saat sudah resmi ada pengumuman dan yang dipilih bukan Mahfudh, melainkan Jusuf kalla, secara  rasional, mahfudh tentu sangat kecewa.  Nah, dalam kekecwaannya tersebut pihak Prabowo Hatta, kemudian menawarinya dengan menjadi ketua tim sukses.

Secara nalar, bagi seorang  akademisi yang mempunyai  prinsip dan idealism, tentu  tidak akan mau menjadi  timses pihak yang tadinya menjadi lawan dari Jokowi, tetapi anehnya  Mahfudh  dengan senang hati mau dan m asih mengatakan bahwa  posisinya tersebut adalah ingin meraih idealismenya.  Lantas siapa yang dapat memahami langkah tersebut sebagai sebuah ikhtiyar untuk sebuah idealism?.  Rasionalnya ialah karena kecewa, lalu kekecewaan tersebut disalurkan melalui menjadi  lawan tanding dengan mempertaruhkan  segala hal.  Bakan logika awam akan menyimpulkan bahwa keberadaannya di situ adalah untuk sebuah  jabatan yang diincarnya.

Itulah politik yang memang sangat sulit untuk dicerna dan dipahami, tetapi menjadi sangat wajar bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya.  Tentu masih banyak lagi contoh dalam dunia politik yang  tidak masuk di akal, dan  semua saja dipersilahkan untuk mengangkat contoh sendiri sendiri dan kemudian direnungkan.  Lantas kesimpulannya ialah apakah kita akan ikut larut dalam dunia yang tidak masuk akal tersebut, padahal kita adalah orang orang yangberakal dan mengedepankan akal sehat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.