NIAT TULUS

Semua orang sudah barang pasti mempunyai keinginan atau cita cita atau niat, tetapi terkadang niat seseorang tidak dibarengi dengan usaha untuk mencapainya, sehingga niat tersebut hanya tinggal niat saja tanpa  dapat diwujudkan.  Memang terkadang ada sebagian orang yang  mempertanyakan mengenai niat seseorang yang tidak realistis, yakni sebuah niat yang mengawang awang dan tidak tahu bagaimana cara menggapainya, karena niat tersebut memang tidak didasarkan kepada sebuah keinginan yang sungguh sungguh, melainkan hanya sekedar mimpi belaka.  Tetapi sebagian orang lainnya tidak mempemasalahkannya, karena  setiap orang memang harus mempunyai keinginan dan niat yang tinggi.

Sesungguhnya  diantara niat dan keinginan dan cita cita tersebut dapat dibedakan sedeikian rupa sehingga tidak menjadi rancu.  Artinya kalau sebuah keinginan atau cita cita, bisa saja setinggi langit dan sama sekali tidak mempertibagkan bagaimana caranya  dapat mencapai keinginan tersebut.  Cita cita dan keinginan tersebut hanya dijadikan sebagai sebuah pemicu agar seseorang tidak  mempunyai tujuan. Hanya saja  keinginan dan cita cita tersebut kemudian akan menjadisebuah harapan yang dapat diraih, manakala sudah diberi label niat.  Dengan begitu niat sesungguhnya merupakan awal dari sebuah usaha untuk meraih  cita cita tersebut.

Jadi tidak ada  usaha untuk meraih cita cita, kalau tidak ada niat.  Barangkali seseorang  mempunyai  keinginan untuk menjadi presiden dan hal tersebut tidak ada larangan dan wajar wajar saja, bahkan keinginan tersebut dapat diucapkan semenjak masih kecil.  Namun keingnan tersebut belumlah didasari oleh seuah kesadaran bagaimana  presiden tersebut dapat diraih dan bahkan sama sekali belum memikirkan untuk meraihnya.  Nah, ketika waktu berjalan dan kondisi memungkinkan serta ada sebuah jalan untuk menuju ke tangga presiden tersebut, semisal yang bersangkutan  sudah menjadi  terkenal, mempunyai sesuatu yang diandalkan, apakah itu kemampuan yang sudah diketahui oleh publik, ataukah menjadi  pimpinan sebuah partai politik, dan lainnya, maka saat itulah  kemudian timbul niat untuk menjadi presiden.

Proasesnya tentu  harus dilakukan dengan sadar dan usaha keras untuk  menuju ke sana.  Sejak menetapkan keinginan yang sungguh sungguh itulah dimulainya sebuah niat, meskipun demikian bukan berarti semua niat itu tulus, karena ternyata banyak iat yang tuidal lurus dan menyesatkan.  Kalau niat untuk menjadi seorang presiden tersebut didasarkan atas keinginan untuk membangun dan mengabdikan diri kepada negara dan bangsa, sudah barang pasti niat tersebut dapat dikatakan sebagainniat yang tulus, termasuk misalnya ada sedikit niat untuk berkuasa dan menjadi orang ternama.

Namun manakala  niat untuk menjadi presidena tersebut didasarkan untuk mendapatkan kekuasaan dan  mendapatkan keuntungan bagi diri dan keluarga serta para pengikut setianya saja, maka sudah barang tentu niat tersebut tidak dapat dibenarkan, apalagi kalau kemudian dalam perjalannnya disertai dengan usaha usaha yang tidak benar, seperti melakukan praktek korupsi, atau sejenisnya, baik secara terang terangan maupun secara tersembunyi.  Demikian juga  misalnya  dengan mempraktekkan  kolusi dengan mengangkat da memberkan jabatan strategis kepada  famili dan kerabatnya serta teman dekat yang  memberikan dukungan, meskipun yang bersangkutan tidak cakap.

Niat tulus  sesunguhnya merupakan sebuah awal dari pengabdian yang baik dan  dalam perjalanannya akan terus dikawal oleh sebuah keinginan untuk mengabdi dan tidak pernah terlintas dalam benak atau hatinya untuk melakukan sesuatu yang menyimpang ataupun yang merugikan pihaklain dan juga negara.  Contoh niat untuk menjadi presiden tersebut hanyalah sebuah misal yang tentu  dapat dkembangkan kepada niat lainnya, termasuk untuk menjadi pejabat atau pimpinan sebuah organisasi yang paling kecil sekalipun.

Namun demikian bukan berarti niat tersebut hanya berhubungan dengan  sebuah keudkan atau jabatan tertentu, kaena semua perbuatan yang kita lakukan hakekatnya harus dilakukan dengan sebuah niat yang tulus atau ikhlas.  Saat ini kita sedang menghadapi pemilu presiden, tentu sebagai rakyat biasa akan mempunyai hak untuk memilih.  Nah, dalam menentukan pilihan tersebut seharusnya disertai dengan niat yang tulus untuk mendapatkan pemimpin yang baik yang akan dapat membawa kesejahteraan bagai seluruh rakyat Indonesia.  Niat tersebut tentu harus didasarkan kepada pengamatan yang cermat terhadap calon yang ada sehingga akan dapat memprediksi  ke depannya.

Demikian juga saat ini kita sedang menghadapi bulan suci Ramadlan,  sebuah bulan yang penuh dengan pahala yang disediakan oleh Tuhan untuk umat yang taat dan mau menjalankan ibadah di dalamnya.  Bayangkan saja  di dalam Ramadlan  umat muslim dapat menjalankan ibadah puasa di siang hari dan sekaligus dapat menjalankan ibadah malam seperti shalat tarawih  dan tahajjud di malam hari serta bersedekah kepada kaum papa  dengan imbalan pahalayang berlipat ganda.  Aura Ramadalan juga sangat memungkinkan umat mukmni melaksanakan banyak hal positif dan tertutup untuk menjalankan kemaksiatan.

Sangat wajar bilamana Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa pada bulan Ramadalan tersebut  pintu surga dibuka lebar lebar, pntu neraka ditutup rapat rapat dan seluruh  setan dan iblis dirantai sehingga umat akan  dengan mudah melaksanakan ibadah.  Pernyataan tersebut tentunya hanyalah sebuah kata metafor saja yang tidak dalam arti sesungguhnya.  Buktinya memang pada bulan Ramadlan orang sangat mudah melaksanakan ibadah, seperti shalat berjamaah, tadarrus al-Quran dan lainnya, yang pada selain Ramadlan biasanya akan sulit dilaksanakan oleh mereka.

Nah,  saat itulah seorang beriman dituntut untuk menancapkan niat suci untuk melaksanakan ibadah di dalam bulan suci tersebut, yakni niat untuk melaksanakan perintah Tuhan berupa puasa selama satu bulan penuh dengan keikhlasan yang penuh pula.  Faktor niat tersebut menjadi sangat penting, sebab kalau seseorang dalam menghadapi puasa yang satu bulan tersebut sedikit ragu atau ada sedikit rasa tidak nyaman atas perintah tersebut, tentu akan menjadi lain ceritanya, karena kekurang nyamanan dalam menjalankan peritah akan mengurangi kadar pahala yang akan diterimanya.

Jadi faktor niat tersebut menduduki posisi sentral dalam pelaksanaan ibadah, karena Tuhan akan mempertimbangkan setiap niat.  Artinya kalau niat menjalankan ibadah puasa disertai dengan  niat lain selain  lillahi ta’ala, tentu akan  dicatat sebagai amal yang  lain, seperti misalnya berpuasa karena malu dengan teman atau malu dengan atasan, atau menjalankan jamaah shalat dhuhur d masjid kantor, karena terpaksa disebabkan yang lainya  menjalankannya, maka semua itu akan mempengaruhi kadar ahala yang akan diterimanya, bahkan dapat mungkin  pahalanya akan terhapus leh niat yang tidak benar tersebut.

Oleh karena itu  manurut saya  sudah saatnya kita sealu ingat agar menata niat dengan baik, yakni meluruskan niat semua perbuatan yang kita jalani dengan tulus lillahi ta’ala dan menjauhkan sama sekali dari naiatan  yang lain.  Lebih lebih ini menghadapi bulan suci, bulan penuh berkah dan rahmah serta bulan penuh dengan pahala yang berlimpah.  Kita akan sangat rugi, bilamana kita melewatkan bulan tersebut tana mendapatkan  pahala dan bahkan sama sekali tidak dapat menseving pahala untuk keperluan kita di akhirat nanti.  Semoga kita senantiasa diingatkan oleh Tuhan dalam persoalan ini dan kita akan menjadi manusia yang beruntung. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.