ASTAGHFIRULLOH, KOK MASIH SAJA ADA KAMPANYE HITAM DAN FITNAH

Kita tidak tahu maksud sebenarnya dari penyebaran fitnah kepada pihak pihak tertentu, tetapi karena saat ini sedang musim kampanye calon prsiden dan wakil presidean, tentunya kemudian  dapat ditarik kesimpulan, ada hubungannya dengan persoalan tersebut.  Lantas maksud sebenarnya apa, kok dimunculkan fitnah, apakah mereka tidfak meliohat bahwa salah satu diantara dua pasang calon tersebut pasti ada yang menang dan menjadi presiden.  Lantas kalau  mereka yang difitnah tersebut  dipilih oleh rakyat, apakah kemudian  mereka tidak mikir bahwa presidennya sendiri telah difitnah dengan keji oleh warganya sendiri?.

Tentu masih banyak deretan panjang pertenyaan terkait dengan persoalan tersebut, yang pasti sebagai bangsa kita sudah menjadi rendah di mata  banyak pihak.  Mungkinkah mereka itu tidak berpikir  rasional dan hanya mementingkan  kepentingan sesaat dengan mengorbankan bangsa ini ke depan?.  Kalau memang seperti itu sayang sekali, karena  mereka ternyata orang orang yang memiliki posisi penting di partai dan juga masyarakat.  Kanapa tidak bisa melakukan kampanye yang bermartabat sebagaimana yng sudah dideklarasikan bersama, sehingga pemilupresiden kali ini  akan menjadi momentum sejarah yang bagus untuk dikenal oleh generasi mendatang.

Sejarah telah membuktikan bahwa fitnah fitnah seperti itu sudah pasti akan ketahuan dan dibantah oleh banyak pihak, dan ujung ujungnya justru akan merugikan diri sendiri dan pasangan yang didukung.  Dan secara otomatis akan menguntungkan pasangan yang difitnah.  Pada tahun 2009 juga sempat muncul fitnah seperti itu dan menimpa presiden SBY dan pada akhirnya bukannya masyarakat percaya dengan fitnah tersebut, malahan bersimpatik kepadanya dan kemudian memilihnya menjadi presiden.

Tetapi rupanya  sejarah tersebut belum memberikan  kepercayaan yang penuh kepada pihak piohak tertentu, sehingga mereka masih berusaha untuk mempengaruhi masyarakat melalui fitnah keji dan terus dilancarkan.  Memang kemudian ada juga  fitnah balaan yang dilontarkan oleh pihak lain, meskipun sesungguhnya bukan lagi fitnah melainkan mengangkat  kasus lama yang sempat terpendam.  Dan itupun sesungguhnya tidak patut dalam suasana  pertandingan yang fair dan lebih  mementingkan  memberikan kepercayaan masyarakat melalui program dan janji.

Sebagai bangsa yang beradab dan beragama, tentu sangat tidak patut melakukan fitnah kepada sesame  anak bangsa, apalagi yang difitnah adalah tokoh yang menjadi calon pemimpin negera Indonesia.  Barangkali sudah saatnya aparat keamanan  bertindak cepat dan tegas kepada semua p[ihak yang telah membuat fitnah kepada siapapun dan diberikan hukuman yang sangat berat.  Hal tersebut tidak perlu dikaitkan dengan pilpres segala, melainkan semata mata untuk menghentikan praktek saling fitnah di ranah Indonesia.

Memang munculnya firtnah tersebut tidak dapat dilepaskan dengan pilpres tetapi tindakan aparat tidak perlu dikaitkan dengannya, melainkan murni dalam upaya menjadikan bangsa dan Negara ini berwibawa dan anak bangsanya tidak saling fitnah dalam konteks apapun.  Mungkin dalam lingkup yang lebih kecil, seperti saat pemilihan gubernur atau bupati/ wali kota juga terjadi saling fitnah seperti itu, sehingga rakyat kemudian menjadi  terkondisikan dengan masalah seperti itu dan tidak jarang kemudian terjadi konflik horizontal yang sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketegasan  aparat dalam menindak dan juga sekedar memberikan peringatan kepada pihak yang sudah  nyerempet nyerempet fitnah atau  kampanye hitam, akan memberikan efek jera kepada  siapapun.  Tetapi kalau  hal seperti itu dibiarkan liar dan terus terjadi, maka akan semakin banyak pihak yang berani untuk membuat fitnah, hanya untuk keopentingan sendiri atau sekedar untuk iseng dan tujuan lainnya.  Kita tentunya tidak rela kalau masyarakat kita  pecah dan saling  bermusuhan hanya disebabkan oleh kepentingan pihak pihak tertentu.

Meskipun rakyat sudah kebal dengan suguhan fitnah seperti itu, tetapi tetap saja hal tersebut  tidak nyaman untuk disaksikan dan didengarkan. Apakah para tokoh yang menjadi tim sukses masing masing calon tidak dapat berbuat yang lebih baik dan santun  dalam berkampanye?  Bukankah mereka itu terpelajar dan berpendidikan, lantas  kenapa “membiarkan” sesame tim sukses atau simpatisannya membuat fitnah kepada calon lainnya.  Seharusnya kalau mereka peduli dengan kampanye yang bermartabat, mereka segera mengingatkan dan memberikan worning kepada pihaknya yang membuat fitnah tersebut dan memerintahkan untuk emncabut dan meminta maaf kepada rakyat serta tidak mengulangi lagi.

Bukan dalam arti secara formal saja yang tidak memberikan ketegasan dalam peringatan, melainkan dalam tidakan nyata.  Kalau hanya menghimbau semata, itu sama saja masih tetap membiarkan dan mungkin malah merasa terbantu dengan  adanya kampanye hitam tersebut.  Kalau misalnya  sikapnya seperti itu, maka  kita dapat mempertanyakan komitmen mereka terhadap  proses demokrasi yang katanya ingin dibangun di negeri ini.  Rupanya  politik praktis dan kepentingan ternyata dapat mengubah sikap dan pikiran orang.

Artinya kalau seseorang sudah  masuk dalam syahwat politik dan kepentingan jabatan tertentu,  pikirannya sudah tidah  dapat dibuat pegangan karena sudah tidak dapat berpikir rasional dan  mementingkan kepentingan Negara dan bangsa ke depan, tetapi pikirannya ialah bagaimana kepentingannya tersebut dapat terwujud, meskipun tindakannya sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.  Omong kosong kalau  tim ses masing masing  hanya memetingkan  kepentingan bangsa dan demokrasi, karena  secara nalar, siapapun yang  menjadi presiden dan dipilih rakyat, sudah pasti salah satunya.

Nah, apakah kalau  demi kepentingan bangsa, mereka harus rela mencemooh dan menjelekkan pihak lainnya?.  Justru yang dapat dipandang sebagai  memperjuangkan kepentingan bangsa ialah mereka yang netral dan selalu menyerukan untuk  berdamai dan melaksakanan tahapan pemilu dengan menghormati norma yang ada.  Ketika berkampanye dilakukan dengan baik dan menghormati pihak lainnya.   Kampanye hanya untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang program dan visi serta misinya dalam membangun Indonesia.

Tetapi kalau dalam berkampanye  sekaligus juga berusaha menjatuhkan pihak lawan, itu bukan lagi ingin mengembangkan demokrasi dan  membela bangsa, melainkan  memang demi kepentingannya sendiri. Apa pun alasan yang mereka lakukan, kita sudah tahu bahwa  keopentingannyalah yang  pasti menjadi sentral perjuangannya, dan bukan kepentingan bangsa.  Namun demikian sesungguhnya  mereka yang masuk dalam dunia politik praktis dan mempunyai keinginan dan tujuan jabatan, tidak salah dan tidak pula berdosa. Hanya saja  bagi mereka yang berasal dari kalangan intelektual seharusnya memberikan teladan bagaimana berpolitik yang santun, bukan malah laruit dalam kondisi yang semrawut seperti saat ini.

Pada awalnya kita sangat berharap dan  percaya bahwa  dengan deklarasi kampanye damai dan bermartabat, akan benar benar dilaksanakan dengan konsisten.  Kepercayaan tersebut didasari oleh kenyataan bahwa  di tim sukses masing masing calon terdapat orang orang yang sebelumnya dianggap sebagai orang bijak dan hanya mementingkan kepentingan bangsa.  Ada kaun intelektual di sana, tetapi dalam kenyataannya, kampanye hitam masih saja terjadi dan bahkan semakin hari semakin keterlaluan.  Percuma saja keberadaan mereka dalam tim sukses, kalau tidak dapat mengendalikan timnya yang tetap menyebarkan fitnah dan sama sekali tidak memberikan pendidikan yang baik bagi bangsa.

Masyarakat akhirnya hanya dapat menghela nafas dan  paling banter mengucapkan astaghfirulloh kok ya tega teganya memfitnah seama  bangsa sendiri  bahkan  calon pemimpin lagi.  Lantas kelau mereka kemudian diberikan kepercayaan oleh masyarakat, lantas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?.  Semoga mereka yang sealalu membuat fitnah segera disdarkan oleh Tuhan dan kemudian  bertaubat dan memperbaiki diri. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.