PERUBAHAN RADIKAL TERHADAP PENDIDIKAN

Mungkin dilihat sepintas pendidikan kita sudah cukup bagus dan maju, karena  para lulusannya  secara umum  mendapatkan nilai bagus pada ujian akhir atau dalam yudisium yang diperleh.  Namun sesungguhnya nilai ujian akhir ataupun yudisium, tidak dapat dijadikan sebuah ukuran tunggal keberhasilan sebuah pendidikan.  Memang kaita harus mengakui bahwa salah satu instrumen penilaian terhadap keberhasilan pendidikan ialah melalui nilai dan hasil akhir, tetapi sekali lagi itu bukan satu satunya ukuran, karena masih banyak ukuran lainnya yang dibutuhkan untuk dapat menyimplkan bahwa   sebuah pendidikan disebut berhasil.

Kalau kita mengacu kepada undang undang sisdiknas, pendidikan kita itu  bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara   demokratis serta bertanggung jawab.  Lantas pertanyaannya ialah apakah mereka yang  sudah lulus dan mendapatkan nilai bagus tersebut, sekaligus sudah menjadi manusia sebagaimana disebutkan dalam undang undang tersebut?.  Kalaupun dijawab, tentu jawabannya adalah sangat relatif, karena ukurannya sangat tidak jelas, bagaimana menjadi manusia yang  bertaqwa kepada Tuhan YME tersebut.

Dapat juga disebutkan bahwa  mereka itu ialah yang selalu taat dan menjalankan perintah agama serta seluruh peraturan yang berlaku dalam  negara dan lingkungannya.  Sedangkan ukuran untuk disebut sebagai berkahlak mulia, ialah kalau seseorang dapat menghormati pihak pihak yangharus dihormati, semisal orang tua, guru, dan lainnya  serta  dapat menempatkan diri sesuai dengan adat istiadat dan norma agama.  Sementara itu pengertia sehat ialah mereka yang menyadari sepenuhnya bahwa  hidupnya harus dijaga jangan sampai terjerumus kepada obat obatan terlarang dan segala hal yang dapat membuat dirinya menjadi sakit.

Pengertian berilmu, juga dapat dijelaskan bahwa seseorang  itu  mempunyai pemahaman yang dalam  pada sebuah bidang ilmu yang ditekuni, sehingga diangap cukup  mumpuni dalam keilmuan tersebut.  Sementara itu kecakapan sendiri menuntut pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai sehinga seseorang akan mampu melakukan  sesuatu yang masuk dalam idang yang dikuasai.  Nah,  untuk menjadi  kreatif, seseorangtidak hanya cukup mempunyai ilmu dala bidang tertentu, melainkan juga dapat mengaplikasikannya dalam berbagai bidang lainnya. Atau dalam bahasa lainnya  seseorang yang kreatif akan mampu melalukan apapun dan akan selalu tertarik untuk mengembangkan dan berbuat sesuatu yang belum diketahuinya.

Sedangkan kata kata mandiri tentu akan mebutuhkan sebuah kondisi di mana seseorang tidak tergantung eadfa phak lainnya, apakah dalam bidang ekonomi, atau bidang lainnya.  Kemandirian tersebut  akan didapatkan melalui latihan yang bterus menerus dan usaha yang tidak mengenal lelah, sehingga mentalnya  terlati untuk percaya kepada dirinya sendiri.  Capaian pendidikan  dlaa tuan terakhir ialah mampu menjadi warga negara yang demokratis dan sekaligus bertanggung jawab.  Apa artinya?, ialah  setelah mereka berkecimpung di masyarakat, dia mampu  menjadi warga negara yang baik dan tidak apologis serta sempit pandangan, melainkan  berlaku arif dan bijak dalam memerankan dirinya ditangah tengah masyarakat yang majemuk.

Terakhir setiap apa pun yang dilakukannya, dia selalu empertimbangkan akibat akibatnya, sehingga dia tidak akan mungkin berbuat sesuatu tanpa perimbagan.Ia merasa hars mempertanggung jawabkan seluruh  aktifitasnya, baik secara hukum di dunia maupun kepada Tuhan di akhirat nanti.  Nah, kalau tujuan pendidikan seperti yanag tertuang dalam undag undang sistem penddikan nasional tersebut  menjadi goal dari semua  pendidikan yang ada dinegeri ini, sudah barang tentu pendidikan kuta akan sangat bagus dan terarah, dan sekaligus akan dapat memberikan sumbangan yang maksimal bagi bangsa ini ke depannya.

Kalau ukuran kita ialah undang undang sistem pendidikan nasional sebagaimana yang saya sebutkan di atas, tent kita akan dapat menyimpulaknawa pendidikan kita sesunguhnya masih harus diperbaki, karena belum mencapai sasaran yang ditetapkan.  Artinya meskipun seseorang sudah dinyatakan sebagai lulus dari sebuah  satuan pendidikan dan perguruan tinggi misalnya,  dan mendapatkan nilai atau yudisium sangat bagus, tetapi ternyata dalam perlakunya   sangat  memperihatinkan, maka  itu sama dengan pendidikannya tidak berhasil.

Melihat dan mempertimbangkan  hal hal sebagaiamana disebutkan tadi, kiranya sangat diperlukan  perubahan  mendasar  atas pendidikan kita yang selama ini  kita klaim sebagai pendidikan yang sudah cukup bagus dan berhasil.  Memang  pada salah satu segi, pendidikan kita cukup baik, tetapi kaea krierianya cukup banyak, maka  idealnya semua kriteria tersebut harus juga dicapai, utamanya dalam hal akhlak mulia dan budi pekerti.  Cerdas saja memang belum cukup, karena  kecerdasan yang tidakdiimbangi dengan akhlak yang baik, justru akan  dapat mencelakakan umat manusia termasuk diri orang yang mempunyaiilmu itu sendiri. Sudah banyak contoh dalam alam kehidupan ini, yakni mereka yang pandai dan kemudian menduduki jabatan strategis, kemudian ternyata tidak tahan godaan dan  berakhir tragis, masuk penjara.

Demikian juga cerdas saja  tidak akan mampu eberikan jaminan kepada  pemiliknya untuk dapat menggapai kebahagiaan yangndiharapkanya.  Di samping  dibarengi dengan akhlak mulia kiranya juga sangat penting untuk disertai pla dengan sikap kritis dan kreatif yang ters  dkembagkannya, sehingga  dia akan mampu menciptakan banyak kreasi dan menghasilkan banyak hal yang dapat dimanfaatka, baik leh manusia secara umum maupun oleh dirinya sendiri secara khusus. Jadi kecerdasan tanpa diimbangi dengan kresatifitas tetap  saja tidak akan mampu melahirkan banyak hal yang dapat memberikan kesejahteraan baginya.

Idealnya memang semua kriteria yang disebutkan dalam undang undang tersebut dapat dirah dalam proses pendidikan, namun kalaupun sekiranya idak mampu diwujudan seluruhnya, tetapi ada hal penting yang tidak boleh dilupakan yakni  berilmu, kreatif, berakhlak dan berbudi pekerti baik, serta  bertanggung jawab atas kesejahteraan umat manusia.  Dengan capaian  kriteria tersebut sesunguhnya secara otimatis akan  dapat mengapa kriteria lainnya, tertama apabila capaian krieia tersebut  maksimal dan  mendapatkan  pencerahan yang lebih banyak.

Untuk itu seperti yang saya sebutkan di atas, harus ada perubahan  dalam pendidikan kita di semua jenjangnya.  Artinya harus  ada kepedulian pemerintah dan pengelola endidikan untuk lebih mementingkan persoalan akhlak dan budi pekerti dalam proses pendidikan.  Idealnya juga proses penciptaan akhlak dan budi pekrti tersebut ialah pada saat usia dini dan dasar,  sehingga peserta didik akan mampu menyerap dengan bagus dan  awet.  Percuma kalau pendidikan akhlak ersebut hanya diberikan pada  tingkatan lanjutan, sementara  pada tingkat dasar sama sekali tidak diberkan.

Maksudnya  pemberian  pendidikan akhlak dan sekaligus prakteknya diberikan secara  lebih banyak di sekola asar, dan tetap diberikan juga di sekolah lanjutan dan bahkan di perguruaqn tinggi.  Sementara  untuk persoalan kreatifitas  itu akan sangat masuk bilamana diberikan pada saat berada di sekolah lanjutan, sekaligus diberikan beberapa praktek sebagai rangsangan dan stimulan. Demikian juga  p[endidikan mengenai bertanggung jawab atas  semua perbuatannya, harus dimulai semenjak masih berada di sekolah dasar, dan bukan hanya di sekolah lanjuan.

Hal hal yang terkait dengan akhlak dan  budi pekerti serta  bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dilakukan, tersebut sesungguhnya masuk dalam wilayah pendidikan karakter  sebagiaman yang dimaksud oleh kita saat ini.  Pendidikan karakter tersebut memang mememerlukan waktu panjang dan pembiasaan yang terus menerus, dan bukan hanya secara teori dan sekejab saja.  Pertanyaannya ialah apakah pemerintah yang akan datang  memikirkan persoalan ini?  Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.