MENCARI RADLO TUHAN

Motivasi melaksanakan sebuah ibadah sekalipun, seperti ibadah haji ataupun umroh, terkadang berbeda antara satu orang dengan orang lain.  Maksudanya ada sebagian diantara mereka yang  melaksanakan ibadah tersebut semata mata hanya sebuah gengsi karena status sosial di masyarakat, ada sebagian diantara mereka yang  bertujuan untuk membersihkan diri setelah melakukan kejahatan,  ada pula diantara mereka yang  melaksanakan ibadah tersebut dengan keinginan duniawi, seeprti jodoh, jabatan dan sejenisnya.  Namun yang jelas ada diantara mereka yang benar benar ingin mendapatkan ridlo dari Tuhan dan ampunan-Nya.

Motivasi yang muncul dari dalam diri mereka masing masing sesungguhnya mencerminkan seberapa tujuan yang ingin didapatkan oleh mereka dengan menjalankan ibadah tersebut.  Menurut sebuah hadis nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh banyak imam hadis, bahwa  perbuatan apapun, termasuk ibadah haji dan umroh  itu sangat tergantung kepada niat.  Artinya niat seseorang itu akan dapat mengantarkan seseorang tersebut kepada sesuatu yang dituju.  Kalau misalnya niatnya hanya sekedar gengsi disebabkan status sosial, atau karena ingin mendapatkan jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan jodoh dan sejenisnya, tentu paling banter hanya itu yang didapatkan.

Akan tetapi kalau niat seseorang dalam menjalankan ibadah tersebut ingin mendapatkan ridlo dan ampunan Tuhan, tentu harapannya akan dapat memperoleh sesuatu yang lebih banyak.  Alasannya ialah kalau Tuhan memang ridlo kepada kita, tentu apapun yang kita inginkan akan dapat terlaksana dan dapatkan.  Padahal kta tahu   semua yang ada  baik di dunia maupun yang d luar itu, semuanya milik Tuhan.  Jadi kalau kita anya menginginkan sesuatu seperti tersebut di atas, tentu itu hanyalah sesuatu yang sangat remeh dan kecil, dan tentu menurut kacamata syariat, kurang pas, meskipun bukan berarti tidak boleh.

Lalu apakah mereka yang menjalankan ibadah dengan motivasi duniawi tersebut masihtetap dianggap sah iabadah mereka?  Secara syariat, sebuah ibadah yang dilaksanakan sesuai dengan tata caranya, tentu akan dianggap sah, sedangkan substansi atau hakekatnya yangtahu hanyalah Tuhan sendiri.  Semisal kalau ada orang menjalankan ibadah shalat dan dilaksanakan sebagaimana rukun yang ada, maka akan dianggap sah menurut  syariat, meskipun kalau motivasinya karena sebuah urusan dunia, seperti ingin diangap sebagai muslim yang taat atau ingin dinilai baik untuk mendapatkan  sesuatu, maka Tuhanlah yang akan membalasnya sendiri.

Demikian juga kalau seseorang menjalankan ibadah umroh dan telah melakukan sesuai dengan manasiknya, tentu akan dianggap sebagai ibadah yang sah menurut syariat, meskipun untuk urusan niatnya hanya dia dan Tuhan yang tahu dan sekaligus Tuhanlah yang akan membalasnya.  Jadi urusan niat itu urusan batin, karena niat itu adanya di dalam hati dan tidak dapat dilihat, meskipun terkadang tanda tandanya  nampak.

Kita memang tidak perlu menilai sesorang termasuk ibadahnya, karena semua itu yang akan menilai dan memberikan balasan hanyalah Tuhan, karena itu seyogyanya kita memang melakukan evaluasi terhadap apapun yang kita lakukan, termasuk niat kita dalam melaksanakan ibadah.  Artinya dengan evaluasi tersebut kita dapat menyadari dan mengerti bahwa niat kita dan juga ibadah serta perbuatan lainnya yang kita kerjakan ternyata hanya bernilai rendah misalnya, atau kurang maksimal atau masih santgat kurang dan lainnya.  Nah, dengan mengetahui kadar apapun yang kita lakukan tersebut, diharapkan akan timbul sebuah keinginan untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Apalagi  kalau kita cermati lebih mendalam bahwa semua yang kita lakukan adalah merupakan bemntuk ibadah yang memang harus kita lakukan dengan benar dan memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.  Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa  manusia dan jin itu diciptakan oleh Tuhan hanya semata mata untuk beribadah kepada-Nya.  Karena itu semua  urusan dan perbuatan yang kita lakukan, seharusnya  menjadi  atau bernilai ibadah.  Hal tersebut dapat terjadi manakala kita mengetahuinya dan sekaligus mengerjakannya, yakni  memberikan niat untuk semua yang kita kerjakan.

Nah, kalau seluruh aktifitas kita bernilai ibadah sudah barang tentu kita akan dapat berinvestasi banyak untuk kehidupan akhirat kita.  Dengan banyak melakukan ibadah, termasuk ibadah yang tidak mahdlah atau ibdah murni tersebut, pengendalian kita terhadap hal hal maksiat tentu akan lebih kuat dan sekaligus keinginan kita untuk tetap berada dalam jalur yang benar akan semakin termotivasi.  Itulah barangkali yang dimaksud dengan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seorang alim satu itu sesungguhnya  amat sangat berat bagi iblis atau setan untuk menggodanya dibandingkan dengan seribu ahli ibadah tetapi bodoh bodoh.

Alangkah  mujurnya kita yang menyadari hal tersebut dan terus konsisten melakukan niat dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.  Tentu bukan hanya sekedar niat lalu pekerjaannya kita lakukan dengan kelesuan dan ketidak cocokan dengan aturan main yang ada.  Justru karena kita memberikan label niat ibadah dalam pekerjaan tersebut akan mengharuskan kita serius dan sungguh sungguh dalam melaksanakannya, buykan saja  akan menghasilkan nilai ibadah di akhirat nanti, melainkan juga sekaligus bernilai positif terhadap kehidupan manusia di dunia ini.

Ibadah yang kita lakukan, khususnya ibadah mahdlah, seperti melaksanakan umroh yang saat ini  digemari oleh masyarakat muslim dunia, termasuk Indonesia, seharusnya memang didasari oleh sebuah niat baik, yakni ingin mendapatkan ampunan dan ridlo dari Tuhan.  Namun demikian bukan berarti segala macam dosa  akan dapat dihapus dengan melaksanakan umroh tersebut.  Ada beberapa dosa yang terkait dengan  hak adam yang hanya dapat diampuni oleh Tuhan jika sudah mendapatkan maaf dari  orang yang bersangkutan.  Artinya kalau ada seorang yang mempunyai kesalahan terhadap sesame manusia, lalu hanya memohon  ampunan kepada Tuhan, pasti Tuhan tidak akan memaafkannya, sebelum dia meminta maaf jkepada orang yang disalahinya.

Demikian juga kalau sekiranya ada orang yang melakukan kejahatan terhadap Negara, seperti melakukan korupsi, lalu hanya meminta ampunan kepada Tuhan, tentu  tidak akan diberikan ampunan, karena hal tersebut menyangkut kepentingan banyak orang atau rakyat.  Jadi janga berharap bahwa dengan ibdah umroh dan memohon kepada Tuhan di tempat tempat yang  mustajab sekalipun, orang tidak akan  dapat menghapuskan kesalahan yang  berupa hak adami apalgi kesalahan dan kejahatan kepada Negara.

Namun demikian semua manusia memang dihimbau untuk senantiasa meminta  ampunan kepada Tuhan atas segala dosa dan kesalahannya, sebab  tidak ada manusia yang terbebas dari salah dan dosa, terkecuali rasul Muhammad saw, yang memang selalu akan otomatis diampuni oleh Tuhan atau dijaga oleh Tuhan dari segala macam dosa.  Manusia memang tempatnya salah dan lalai, karena itu akan sangat terhormat dan  bijaksana  apabila setiap saat manusia selalu bermohon ampun kepada Tuhan.

Tentu akan lebih bagus manakala sesekali, jika memungkinkan, melaksanakan ibadah hai atau setidaknya umroh ke tanah suci untuk focus  beribadah dan mengevaluasi seluruh perjalanan hidup yang telah dijalani.  Dengan begitu diharapkan nantinya akan terus berada dalam jalan yang benar dan diridloi oleh Tuhan.  Kita memang harus terus mencari ridlo-Nya dan ampunan-Nya.  Semoga kita akan menjadi salah satu uamt  dan hamba Tuhan yang terbaik dan mendapatkan balasan surge-Nya di akhirat nanti.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.