PENTINGNYA MANASIK

Ada sebuah ungkapan yang sangat dikenal di kalangan ahli fiqh bahwa dalam hal ibadah segala sesuatunya itu asalnya dilarang, terkecuali yang diperintahkan, sedangkan dalam hal selain ibadah, segala sesuatu itu asalnya halal, terkecuali yang diharamkan.  Ungkpan tersebut sesungguhnya cukup untuk memberikan pengertian kepada umat bahwa  tidak ada bentuk ibadahpun yang tidak diperintahkan oleh Tuhan melalui Nabi atau utusan-Nya, sehingga tidak dibenarkan melaksanakan ibdah dengan mengarang atau berkreasi tersendiri dalam hal substansinya.  Begitu juga  dalam hal selain ibadah, umat diberikan keleluasaan yang sangat besar untuk melakukan kreasi asalkan tidak menentang sesuatu yang jelas diharamkan.

Dengan begitu seharusnya umat Islam dapat melakukan hal hal penting dalam kehidupan mereka demi mengembangkan kreatifitas dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, baik dirinya, keluarganya, maupun bagi masyarakat secara umum.  Dalam waktu yang  sama  manusia juga tidak akan merepotkan diri untuk mencari jenis dan bentuk ibdah lain selain yang telah diajarkan oleh syariat, sebagaimana  dipraktekkan oleh rasul dan para sahabatnya.

Sudah cukup banyak  bentuk dan jenis ibadah yang diperkenalkan dan diwajibkan oleh syariat yang masing masing ada tata caranya tersendiri, seperti  ibdaha sahalat, ibadah zakat, ibadah puasa, ibadah hajji dan lainnya.  Ibadah ibdah tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dan penjelasan Nabi Muhammad saw dan kita tidak diperbolehkan melaksanakannya dengan kreasi kita sendiri.  Sebagai misal, kita tentu tidak diperbolehkan melaksanakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan atau melaksanakannya dengan menambah atau pengurani jumlah rakaat atau rukun lainnya.

Demikian juga kita harus tunduk dan mengikuti tata cara melaksanakan zakat, tata cara berpuasa dan juga berhajji.  Sehingga dengan demikian kita tidak mungkin dibenarkan melaksanakan puasa di malam hari misalnya atau mengubah nisahatau waktu  yang telah ditentukan dan juga tidak boleh menyesuaikan haji dengan kehendaknya sendiri, termasuk mengenai soal waktu pelaksanaannya dan juga bentuk ibdahnya.  Karena kalau ibdah dibuat model dan disesuaikan dengan keinginan kita, maka akan rusak tatanan yang telah didesain oleh Tuhan.

Khusus dalam pelaksanaan hajji, Tuhan telah menentukan waktu waktunya dan tidak sembarang waktu dapat dilaksanakan ibadah haji, tempatnyapun juga telah ditentukan.  Nah, ada ibadah yang mirip dengan hajji yang juga  telah diajarkan oleh Rasul, yakni ibadah umroh.  Umroh tersebut dapat dilaksanakan sepanjang waktu, meskipun temptnya  tetap ditunjuk sesuai dengan petunjuk Nabi dan tidak boleh diubah disesuaikan dengan selera kita.  Artinya ada  tata cara tertentu yang harus ditaati dalam menjalankan ibadah umroh tersebut sebagai manasiknya.

Itulah mengapa setiap orang yang akan menjalankan ibadah umroh dan juha hajji, mesti mengetahui manasiknya atau tata caranya, sehingga diharapkan pelaksanaannya akan sesuai dengan syariat yang telah digariskan oleh Rasul.  Dengan manasik tersebut harapan lebih jaunya ialah bahwa ibadah tersebut akan diterima oleh Tuhan dan mendapatkan pahala serta ridlo dari-Nya.  Pentingnya manasik tersebut, mengharuskan seseorang  serius dalam mempelajarinya dan bahkan  mempraktekkannya melalui latihan latihan, dan  diperlukan juga  pembimbing dalam menjalankan ibadah yang sesungguhnya.

Perlu dijelaskan bahwa ibadah hajji dan juga umroh itu termasuk  salah satu ibdah yang menekankan kepada perbuatan, meskipun unsur ucapan juga diperlukan dan dipentingkan.  Artinya secara syariat bahwa kalau seseorang tidak mampu mengucapkan doa doa yang diajarkan oleh Rasul dalam pelaksanaan ibadah hajji dan umroh tersebut, tetapi dapat menjalankan tata caranya, seperti thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran di mulai dihajar aswad atau garis lurusnya dan diakhiri di hajar aswad atau garus lurusnya, kemudian juga  dapat menjalankan Sa’i dari Shofa  ke Marwa sebanyak tujuh kali diawali  dari Shofa dan berakhir di Marwa, serta pelaksanaan haji atau umroh lainnya, seperti memakai  Ihram, tentu umrohnya diangggap sah.

Sementara itu kalau menjalankan ibadah haji ditambah dengan melaksanakan wukuf di Arafah secara fisik pada  saat tertentu  yang telah ditentukan, bermabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah, dilanjutkan dengan thawaf ifadhah dan sa’i, tentu hajinya juga dianggap sah.  Hanya saja   ibadah umroh dan hajji tersebut akan lebih sempurna jikalau dilengkapi dengan bacaan bacaan  yang diajarkan oleh Rasul.

Pendeknya ibadah umroh termasuk ahji harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dan praktek yang pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw yang disebut dengan manasik.  Nah, untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan umroh tersebut, kiranya  berikut ini perlu disampaikan gambaran yang sederhana tetapi  diharapkan akan mampu memberikan pengetahuan yang cukup bagi para pelaku ibadah umroh tersebut.

Sebaiknya para calon jamaah umroh meluruskan niatnya untuk beribadah dan mendapatkan ridlo dari Tuhan dan bukan meniatkan lainnya yang sangat remeh, seperti ingin sukses karir, ingin mendapatkan pasangan hidup, dan ingin sesuatu yang sifatnya duniawi.  Niat tersebut akan dapat mempengaruhi seluruh pelaksanaan ibadah, karena  nabi Muhammad saw telah pernah bersabda bahwa segala sesuatu itu akan ditentukan atau bergantung pada niatnya.  Kalau niat seseorang yang akan umroh hanya karena Tuhan dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya, tetapi kalau niatnya untuk urusan dunia atau karena perempuan, maka itulah yang akan didapatkannya.

Kemudian hal penting yang harus dilakukan ialah melakukan persiapan bekal secukupnya, termasuk bekal manasik dan keperluan keseharian, dan  juga bekal kain ihram.   Setelah sampai pada tempat yang ditentukan atau miqat untuk memulai ihram, dianjurkan melaksanakan shalat dua rakaat dan kemudian memulai niat untuk menjalankan umroh.  Tentu dianjurkan juga sebelumnya untuk mandi besar dengan niat untuk umroh dan memakai kain ihram.  Setelah niat tersebut maka harus dapat menjaga diri dari melakukan hal hal yang dilarang sampai selesai melaksanakan umroh, yakni tahallul.

Sepanjang perjalanan semenjak dari miqat dengan pakaian ihrom tersebut dianjurkan untuk selalu membaca talbiayah : labbaika allahumma labbaik, labbaika la syaraika laka labbaik innal hamda wan nikmata  wal mulk la syarika lak.  Setelah nanti sampai di Makkah dan kemudian memasuki masjid al-Haram, kemudian memulai melakukan thawaf dari hajar Aswad atau garis lurusnya dengan niat thawaf.  Dalam berthawaf  mengelilingi Ka’bah tersebut harus dijaga agar keberadaan Ka’bah selalu disisi kirinya dan tidak dibenarkan mengubah posisi seperyi itu hingga  selesai tujuh putaran.  Dalam pelaksanaan thawaf tersebut dianjurkan untuk membaca doa doa yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad saw.  atau kalau tidak mampu, diperbolehkan membaca doa doa yang mampu diucapkan.

Setelah selesai dianjurkan untuk melaksanakan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim, lalu minum air Zam zam, dan dilanjutkan dengan melaksanakan Sa’i yaitu berjalan antara shafa hingga Marwa sampai tujuh kali.  Tetapi perjalanan antara Shawa  sampai marwa dihitung satu kali dan dari marwa sampai shafa juga dihitung satu kali sehingga dengan demikian sa’i yang dimulai dari Shafa, akan berakhir dan Marwa.  Tentu akan lebih bagus dan sempurna jikalau disertai dengan bacaan doa doa sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul, tetapi kalau tidak mampu, juga diperbolehkan membaca doa semampunya.

Nah, setelah semua itu selesai, kemudian dapat bertahallul, yakni memotong rambut minimal tuga helai rambut dan dianjurkan bagi laki laki  untuk  mencukur seluruh rambut kepalanya, sedangkan bagi perempuan hanya dianjurkan untuk memotong sebagiannya saja.  Demikian usailah pelaksanaan umroh sesuai dengan syariat Islam.  Semoga  semua yang melaksanakan ibadah umroh dengan niat suci dan sesuai dengan manasik akan mendapatkan ampunan dari Tuhan.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.