UMROH DI TANAH SUCI

Sebagaimana kita ketahui bahwa  melaksanakan hajji itu merupakan sebuah kewajiban bagi setiap umat Islam dengan syarat syarat tertentu, seperti ada kemampuan, baik secara fisik maupun finansial dan aman dalam menjalankan serta dalam perjalanan, bahkan bukan saja  sekedar wajib melainkan menjadi rukun Islam.  Namun karena keyakinan mayoritas umat Islam bahwa haji itu hanya pada beberapa hari di bulan Dzul Hijjah, maka sudah barang pasti kalau seluruh muslim yang memenuhi syarat tersebut melaksanakannya, akan tidak mungkin, disebabkan keterbatasan ruang dan tempat.

Kita tahu bahwa berhajji itu dilaksanakan di tanah suci, yakni di Makkah dan sekitarnya.  Artinya ada beberapa amalan yang harus dilaksanakan di Makkah atau di masjid al-Haram, yakni  melaksanakan thawaf mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali dan sekaligus dilanjutkan dengan sa’i, yakni melakukan perjalanan antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali dengan ketentuan bahwa antara Shafa dan Marwa dihitung sekali dan sebaliknya antara Marwa  dan Shawa juga dihitung sekali, sehingga Sa’i tersebut dimulai di Shafa dan akan berakhir di Marwa.

Sedangkan tempat di sekitar makkah yang dimaksud tersebut ialah melaksanakan wukuf yang menjadi inti dari pelaksanaan hajji yang dilaksanakan di Arafah.  Demikian juga ada mabit atau secara harfiah harus menginap di Muzdalifah.  Untuk mabit tersebut kemudian diterjemahkan bukan menginap melainkan hanya sekedar berhenti sejenak di muzdalifah pada tengah malam, lalu meneruskan perjalanan ke Mina untuk melempar jumrah.

Nah, dalam kondisi hajji yang demikian, maka  bagi muslim, khususnya yang  di Indonesia harus antri untuk  dapat melaksnaakan hajji tersebut. Bahkan untuk saat ini kalau ada minat untuk berhaji, harus bersabar menunggu sekitar sepuluh tahun lagi atau bahkan bisa lebih.  Itu disebabkan oleh kenyataan bahwa umatIslam di dunia yang  antusias melaksanakan hajji ternyata sangat banyak, sehingga harus diatur secara bergiliran.  Lebih lebih lagi pada saat ini masjid Haram sedang dilakukan perbaikan, sehingga kuota untuk melaksanakan haji tersebut terpaksa harus dikurangi lagi, mengingat kapasitas masjid yang masih dalam taraf renovasi.

Nah, dengan melihat dan mendasarkan atas kenyataan sebagaimana tersebut, umat Islam, termasuk yang ada di Indonesia lebih memilih melaksanakan umrah yang keberangkatannya relatif cepat, karena tidak terbatas pada waktu waktu tertentu, yakni dapat dilaksanakan sepanjang tahun.  Umrah tersebut sesungguhnya  hamour sama dengan hajji dan bahkan menurut sebagian ulama dianggap sebagai hajji kecil.  Bedanya dengan haji hanyalah terletak pada pelaksanaan  wukuf dan thawaf Ifadlah, yakni kalau haji harus ada wukuf dan thawaf Ifadlah, sedangkan untuk umrah tidak ada wukuf dan juga tidak ada thawaf Ifadlah.

Saat ini kita dapat menyaksikan  umat Islam dari berbagai negara dan khusus  umat islam di Indonesia yang datang dari berbagai daerah di nusantara selalu ada saja yang melaksanakan umrah setiap harinya.  Tentu sebagai umat Islam kita harus bangga bahwa  secara dhahir umat Islam taat dalam menjalankan ibadah mereka, termasuk ibadah yang harus dilaksanakan di tanah suci.  Dengan kondisi seperti itu kita juga berharap bahwa dengan semakin banyaknya umat Islam yang menyadari pentingnya ibadah tersebut, juga diringi dengan kesadaran mereka dalam menjalankan ketentuan yang berlaku di negara kita.

Artinya ada korelasi antara banyaknya umat Islam yang menjalankan ibadah umrah dengan kesadaran masyarakat dalam menjalankan  perintah agama yang lainnya, seperti suka bersedekah, membantu  yang susah, menghargai dan menghormati sesama, menjaga kebersihan dan lingkungan, serta selalu berbuat baik kepada  siapapun dan di manapun.  Kalau hal tersebut terwujud, maka  kebanggan kita akan semakin bertambah, karena sumbangan umat Islam dalam  mengembangkan negara kita sungguh luar biasa.

Namun harapan tersebut ternyata belum seluruhnya terwujud, karena masih banyak umat Islam yang menjalankan ibadah umrah tersebut, ternayata belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap perilaku yang lebih baik sebagaimana  diungkapkan di atas.  Artinya masih banyak umat Islam yang meskipun menjalankan ibadah umrah tetapi kebiasaan buruk yang sudah berjalan bertahun tahun masih tetap saja dipraktekkan,  sehingga dapat disimpulkan  bahwa tidak ada korelasi antara semangat untuk berumrah dengan perubahan sikap dan perilaku untuk lebih baik sesuai dengan ajaran syariat.

Meskipun demikian kita tetap harus bangga  dengan kondisi semangat umat untuk berumrah tersebut, sebab setidaknya mereka taat dalam menjalankan ibadah mahdlah.  Namun memang harus ditekankan kepada para pembimbing, terutama pada penyelenggara umrah agar senantiasa memberikan tausiah agar para umat yang menjalankan umrah tersebut juga suka berderma untuk menyempurnakan ibadah mereka.

Disamping itu ada hal penting lain yang harus disampaikan kepada seluruh jamaah umrah agar mereka  benar dalam menjalankan ibadah umrah, terutama  dalam hal manasiknya, dan terutama lagi bagi kaum perempuan yang biasanya rentan pelanggaran.  Dalam pelaksanaan umrah tersebut seseorang harus memulai memakai kain ihram semenjak dari miqat atau batas yang ditentukan untuk meulai perjalanan dan melaksanakan umrah.  Nah, sejak memakai kain ihram tersebut seseorang sesungguhnya sudah tidak diperkenankan lagi melakukan hal hal tertentu yang menjadi larangan, seperti menggunjing, membunuh hewan tanah Haram, membuka anggota tubuh bagi perempuan, meskipun  dengan sesama perempuan, dan lainnya.

Artinya masih banyak diantara jamaah umrah yang belum mengetahui secara persis bagaimana seharusnya  seseorang yang sudah memakai kain ihram tersebut, meskipun kalau hal tersebut disampaikan dengan baik, akan sangat mudah melaksanakannya.  Hanya saja  kebanyakan diantara mereka justru tidak mengetahuinya.  Sebagai misal seseorang yang bermiqat di Bir Ali karena perjalanan dari Madinah, kemudian melakukan perjalanan yang cukup jauh, dan setelah sampai di Makkah kemudian Chek in di hotel dan istirahat sebelum melaksanakan Thawaf dan sa’i.

Hanya saja  karena  melaqksanakan thawaf dan sa’i tersebut dipersyaratkan harus suci, maka mereka  berwudlu.  Nah, dalam melaksanakan wudlu tersebut terkadang mereka kemudian membuka pakaian ihramnya, seperti melingkis lengan baju dan celana serta kerudung atau jilbab, meskipun dilaksanakan di dalam kamar bersama dengan perempuan lainnya. Perbuatan seperti itu jelas melanggar ketentuan ihram, karena mereka belum tahallul.  Sebaiknya para pembimbing  berhati harti dan cermat dalam memberikan bimbingan manasik tersebut sehingga mereka paham betul tentang tata cara memakai kain ihram.

Kalau membuka  kain ihram tersebut di dalam kamar mandi dan sendirian, lalu ketika keluar  dan bertemu dengan orang lain sudah dalam keadaan pakaian ihram lengkap, maka hal tersebut tidak mengapa, tetapi kalau  mereka masih telanjang kepala, melingkis kain baju dan  atau celana dan sudah keluar kamar mandi sehingga dapat dilihat oleh orang lain, termasuk sesama perempuan, maka itulah pelanggaran.

Belum lagi ketika melaksanakan thawaf di Baitullah, masih banyak yang tidak mentaati aturannya, seperti tidak menjadikan Ka’bah berada di sebelah kirinya terus hingga selesai.  Ada sebagian  diantara mereka yang berusaha untuk mendekat hajar Aswad,  dalam proses menjalankan thawaf tersebut, akibatnya mereka  harus  berjibaku dengan yang lain, dan tidak dapat mempertahankan posisinya dengan baik, yakni tetap menjadikan keberadaan Ka’bah di arah hirinya.  Ini juga sangat penting untuk diingatkan kepada jamaah umrah.

Pendeknya menjadi kewajiban bagi penyelenggara umrah untuk memberikan bimbingan yang benar dan cermat kepada para jamaahnya, karena mereka telah berusaha dengan baik, tetapi kalau tidak mengerti tata caranya dengan benar, bisa saja mereka akan merugi dan tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.  Semoga niat umrah umat Islam akan benar benar diimbangi dengan pelaksanaan  manasiknya yang benar pula sehingga mereka akan mendapatkan pahala dan dampak positif dari pelaksanaan umrah tersebut.  amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.