MEMPERKUAT LEMBAGA

Lembaga pendidikan di Negara kita memang sudah sangat banyak, baik yang ditingkat dasar, menengah maupun tingkat tinggi.  Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya sekolah bahkan yang pra sekolah atau yang dikenal dengan pendidikan usia dini dan juga Tk atau RA hingga perguruan tinggi.  Hanya saja kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Negara kita masih belum sebanding.  Utamanya  kalau dilihat dari lembaga pendidikan tingginya, karena hanya sekitar 17 % saja perguruan tinggi mampu menampung lulusan SLTA setiap tahunnya.

Dengan gambaran tersebut sudah seharusnya dan secara teori, setiap kampus tentu akan selalu menolak calon mahasiswa yang dating ingin bergabung dengan perguruan tinggi tersebut,  tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian.  Artinya masih banyak kampus yang kesulitan mendapatkan calon mahasiswa.  Lantas pertanyaannya ialah kemana para lulusan SLTA yang jumlahnya  masih 80 an persen lebih tersebut?.

Kenyataan tersebut harus dianalisis oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia perguruan tinggi, utamanya lagi  perguruan tinggi yang minim mahasiswa.  Jangan jangan ada factor lain yang menyebabkan  calon mahasiswa atau masyarakat enggan untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut, atau karena  sebagian besar mereka lebih memilih langsung terjun ke dunia kerja, atau karena factor lainnya.  Semua itu memang harus ditemukan jawabannya oleh para pengelola pendidikan tinggi tersebut.

Nah, kalau pertanyaan tersebut sudah terjawab, tentu akan dapat dilakukan langkah langkah strategis dalam menyongsong mereka.  Namun sangat mungkin yang terjadi ialah bukan disebabkan  mayoritas lulusan SLTA kepengin kerja, dan tidak berminat untuk studi lanjut di perguruan tinggi, melainkan semata mata disebabkan oleh  kepercayaan mereka kepada perguruan tinggi yang ada.  Artinya kalau dilihat dari minat para calon mahasiswa masuk ke perguruan tinggi negeri, yang dianggap kualitasnya lebih bagus, ternyata sangat tinggi, bahkan hamper mencapai angka satu juta  orang.

Sementara daya tampung di perguruan tinggi negeri hanya  tidak sampai sperempatnya, tetapi kenapa setelah itu seolah mereka menghilang dan tidak mendekat kepada perguruan tinggi swasta.  Memang tidak semua perguruan tinggi swasta  kekurangan calon mahasiswa, karena ternyata  masih banyak perguruan tinggi swasta yang diserbu calon mahasiswa.  Nah, fenomena ini tentu  akan sangat ditebak apa sebabnya.  Hal paling  mudah untuk menjawab persoalan tersebut ialah tentang kualitas perguruan tinggi tersebut.

Kalau sebuah perguruan tinggi swasta berkualitas tinggi dan dikelola dengan professional, tentu akan  diminati oleh banyak calon mahasiswa, dan hal tersebut terbukti  di beberapa perguruan tinggi yang sudah mempunyai nama.  Nah, mengapa ada sebagian perguruan tinggi khususnya swasta yang kekurangan mahasiswa? Jawabannya sangat mudah, yakni  karena perguruan tinggi tersebut belum menunjukkan kualitas yang meyakinkan atau  sangat mungkin tidak dikelola dengan professional.

Bahkan  saat ini ada sebagian perguruan tinggi negeri yang juga kurang mendapatkan minat  banyak dari calon mahasiswa.  Dengan begitu sesunguhnya masyarakat saat ini bukan semata mata melihat perguruan tinggi hanya dari sisi negeri dan tidaknya, karena terbukti ada perguruan tinggi negeri yang kekurangan mahasiswa, tetapi sebaliknya  banyak perguruan tinggi swasata yang justru  banyak peminatnya.  Bahkan  sekalipun harus membayar  cukup tinggi sekalipun.  Masyarakat sekarang akan lebih memilih perguruan tinggi berkualitas dan memberikan palayanan serta fasiltas yang bagus dibandingkan dengan perguruan tinggi yang emberikan tawaran murah, tetapi kualitas tidak terjamin.

Untuk itu seluruh pengelola  lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasata harus mulai berpikir untuk memperbaiki kualitas  dengan melakukan berbagai perubahan, baik  dari aspek fasilitas penujang pembelajaran, maupun dari aspek SDM.  Tanpa  menyadari hal tersebut, pada saatnya perguruan tinggi tersebut lambat laun akan ditingggalkan oleh masyarakat.

Salah satu hal yang harus  diperhatikan dalam pengelolaan perguruan tinggi ialah bagaimana  mengelola data secara benar dan  baik.  Artinya sampai saat ini masih ada sebagian pengelola pendidikan tinggi yang masih menganggap remeh terhadap persoalan data, dan tidak mengelolanya dengan baik.  Bahkan hanya untuk sekedar laporan jumlah mahasiswa, karyawan, dosen saja tidak pernah beres.  Apalagi  kalau ditanya mengenai laporan administrasi keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi dan lainnya.  Tentu tidak akan pernah  selesai.

Nah, bermula dari tercecernya data data penting tersebut, pengelolaan  perguruan tinggi secara umum  menjadi  sangat jelek.  Jangankan untuk  administrasi akademik yang  detail, seperti kurikulum,  silabi dan SAP dari masing masing dosen, dan juga  soal soal ujian dari seluruh dosen untuk bahan evaluasi dan kepentingan pengembangan akademik, untuk sekedar  presensi mahasiswa dan dosen saja terkadang dianggap tidak penting.

Kelemahan mendasar dan umum dilakukan oleh banyak pihak ialah  pengabaian terhadap data, apapun wujudnya.  Padahal seharusnya kalau peraturan mengenai perguruan tinggi, dosen dan  hal hal lain yang terkait dengan pengelolaan perguruan tinggi ditaati dengan konsisten,  semua hal termasuk perhatian terhadap data, akan dengan sendirinya menjadi penting dan harus dikelola dengan kesungguhan. Kesehatan pengelolaan sebuah lembaga, termasuk lembaga perguruan tinggi, bermula dari kerapian dan ketertiban data.

Nah, untuk keperluan tersebutlah dilaksanakan  workshop pengelolaan data oleh perguruan tinggi di lingkungan perguruan tinggi agama Islam swasta di jawa tengah.  Harapannya  pada saatnya nanti seluruh perguruan tinggi agama Islam di kopertais wilayah X jawa tengah akan menjadi bagus dan sehat, dan pada gilirannya  akan diminati banyak calon mahasiswa.  Kita berharap bahwa jawa tengah memang dapat menjadi pelopor dalam  hal pengelolaan perguruan tinggi  secara professional.

Untuk itu seluruh PTAIS di Jateng memang harus berbenah dan  harus ada keberanian untuk  berubah menjadi lebih baik dan memperhatikan aspek profesionalitas.  Masih banyaknya dosen yang tidak  memenuhi standar kualifikasi minimal, akan semakin membuat PTAIS  terpuruk dan susah bangkit.  Semakin  digunakannya ukuran perasaan, maka akan semakin jauh dari harapan ideal.  Sebaliknya kalau  ada kemauan dan keberanian dan bertindak sesuai dengan kaidah profesionalitas, tentu akan  semakin menjadikan PTAIS  berkualitas dan  tentu akan dicari oleh para calon mahasiswa.

Memang banyaknya mahasiswa tidak  serta merta menjadi jaminan bahwa perguruan tinggi tersebut berkualitas, karena banyak ukuran kualitas  sebuah perguruan tinggi.  Namun harus diakui bahwa dengan banyaknya mahasiswa yang berminat, tentu ada sesuatu yang dibanggakan dari PT tersebut.  Karena itu memang tidak sepenuhnya salah kalau sebuah perguruan tinggi banyak mahasiswanya, tentu akan  dinilai lebih bagus ketimbang  perguruan tinggi yang sepi peminat.

Karena itu menurut saya harus diupayakan keduanya, yakni terus  membenahi pengelolaan perguruan tinggi dengan menerapkan menejemen tang benar dan sekaligus berupaya untuk  menarik minat calon mahasiswa dengan berbagai cara yang memungkinkan.  Pembenahan dengan menerpakan memenjemen  dengan benar dan sekaligus  “open”  atau peduli terhadap data data yang terkait dengan sebuah perguruan tinggi, harus dimulai dan dilaksanakan dengan kesungguhan.  Sedangkan untuk menarik minat para calon mahasiswa, dapat dilakuakn dengan melakukan berbagai sosialisasi kegiatan yang dilakukan oleh kampus kepada masyarakat secara umum, tentu harus didasari oleh sebuah  amanah yang  benar dan bukan membohongi masyarakat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.