KARTINI MASA KINI

Kita masih ingat bahwa dahulu peringatan  hari Kartini  selalu dikaitkan dengan pakaian kebaya dan sanggul.  Namun seiring dengan waktu pakaian tersebut sesungguhnya hanya dipakai pada saat saat tertentu, semisal dalam resepsi atau acara resmi, karena kalau pakaian tersebut dipakai sebagai pakaian sehari hari, apalagi untuk melaksanakana kerja, tentu akan sedikit merepotkan.  Pertanyaannya, apakah warisan kartini adalah tentang pakaian kebaya tersebut? ataukah ada nilai yang lebih umum, sehingga akan mampu diterapkan pada segala zaman?.

Nah, kalau kemudian ada jawaban bahwa tinggalan Kertini dan ajaran yang disaampaiakan kepada gegerasi sekarang bukanlah tentrang pakaian kebaya dengan sanggulnya, lantas apakah pada waktu yang lalau, dimana  selalau ditonjolkan pakaian tersebut dalam setiap memperingati hari Kartini, salah?.  Seharusnya kita memang tidak perlu saling menilai salah atau benarnya, melainkan justru lebih menitik beratkan  kepada persoalan kesesuaian disebabkan tuntutan zaman.

Sangat mungkin  bahwa tentang pakaian kebaya tersebut masih tetap relevan untuk disampaiakan, karena hal tersebut merupaka ciri khas dan kebanggan bagi wanita Indonesia, tetapi bukan merupakan satu satunya yang diwariskan oleh Kartini.  Kita tentu paham juga bahwa  masalah pakaian pada saat ini juga menjadi persoalan yang penting, mengingat dari pakaian tersebut, akan  dapat menjadi sumber masalah, seperti pakaian yang super mini, yang dapat mengundang nafsu birahi  pada laki laki yang mamandangnya.

Ditnjau dari sisi agama  pakaian juga menjadi penting untuk diperhatikan, apalagi kalau kemudian  modelnya justru bertentangan dengan ajaran agama dan bahkan cenderung dapat merendahkan martabat wanita itu sendiri.  Namun  harus diakui bahwa  khusus mengenai pakaian kebaya untuk saat ini dianggap tidak cocok untuk segala kondisi, karena  ada hal hal yang jusgtru menghalangi keleluasaan seorang perempuan untuk melaksanakan aktifitasnya.  Jadi persoalan pakaian memang penting, meskipun tidak harus berupa kebaya sebagaimana yang dipakai oleh Kartini.

Justru yang harus kita ambil dari pakaian ala Kartini ialah bagaimana seorang perempuan dapat menjaga dirinya dan martabatnya sebagai seorang wanita yang terhormat.  Bentuknya tentu dapat berupa aneka macam model sesuai dengan selera masing masing, hanya saja catatannya ialah pakaian tersebut tidak  menggoda pihak lawan jenis dan cenderung mengundang bahaya.  Dalam pengertian agama, pakaian yang demikian dapat dikategorikan sebagai pakaian yang menutup aurat.

Disamping itu ajaran yang inti dari Kartini jsutru terletak pada peran perempuan dalam kehidupan nyata yang lebih besar.  Kita ingat bahwa pada saat  atau zaman Kartini, peran perempuan sangat minim, bahkan sama sekali tidak ada, terkecuali hanya sebagai seorang isbtri dan memask untuk suami dan anak anaknya.  Sementara itu peran mereka di luar rumah sama sekali tidak ada.  Nah, kondisi tersebut akhirnya mengantarkan perempuan  hanya cukup tahu dan taat kepada suami saja.  Artinya tidak ada gunanya perempuan sekolah dan menggapai pengetahuan tinggi, karena toh akhirnya hanya di dapur.

Kita juga ingat  bahwa pada saat itu  perempuan hanya  sebagai koco wingking tyang seolah tidak ada harganya, meskipun sekedar diajak musyawarah  untuk kepentingan keluarganya sekaipun.  Maksudnya, perempuan sama sekali tidak dihargai sebagai seorang manusia yang mempunyai perasaan dan juga pikiran serta hak yang relatif sama dengan makhluk laki laki.  Kondisi seperti itulah yang melatar belakangi Kartini memberontak kepada keadaan  zamannya, dan mempelopori gerakan emansipasi  wanita.

Tujuan utamanya ialah mengangkat derajat perempuan  agar dihargai sebagiamana mestinya dan tidak lagi dianggap sebagai konco wingking semata.  Karena itulah Kartini menggugah perempuan agar mau bangkit dan mencari ilmu setinggi tingginya untuk  keperluan dirinya dan keperluan mengembangkan dan memajukan bangsa dan negaranya.  Perempuan sesungguhnya dapat berbuat lebih banyak sebagaimana laki laki dan tidak hanya sebagai pelengkap kehidupan semata.

Nmun  demikian  juga jangan sampai disalah artikan bahwa emansipasi yang diajarkan oleh kartini  seolah ingin menandingi laki laki dan atau menjadikan perempuan berani kepada laki laki.  Emansipasi yang dimaksudkan oleh Kartini ialah bagaimana seorang perempuan  tidak hanya  pasif dan menunggu nasibnya di dapur, melainkan justru  perempuan diharapkan dapat menyongsong nasibnya sendiri melalui  usaha yang keras.  Demikian juga emansipasi bukanlah diartikan sebagai usaha untuk membendung kuasa laki laki, melainkan justru  usaha sama sama  yang  dilakukan secara bersama antara laki laki dan perempuan.

Artinya emansip[asi tersebut tidak akan berhasil, manakala hanya pihak perempuan saja yang mengusahakannya, melainkan  laki laki harus juga menyadari dan terlibat langsung dalam mewujudkannya.  Artinya laki laki harus juga menyadari harkat dan martabat perempuan sebagai makhluk cptaan Tuhan sebagaimana laki laki.  Karena itu mereka harus diberikan kesempatan yang sama untuk memperjuangkan nasib mereka dalam meraih cita cita dan keterlibatan mereka dalam membangun bangsa dan negaranya.

Kombinasi seperti itulah yang akan mempercepat terealisasinya  emansipasi yang sesungguhnya dan dicita citakan oleh Kartini.  Artinya pihak perempuan tetap memperjuangkan  kesamaan hak hak tertentu dan sekaligus pihak laki laki dengan kesadaran penuh mau mengerti dan memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk meraih sukses.  Soal kenyataannya di lapangan itu tergantung kepada usaha masing masing.

Artinya kalau kaum perempuan sudah diberikan kesempatan untuk sama sama meraih kesuksesan, namun dalam kenyataannya belum dapat mewujudkannya, hal tersebukan berarti emansipasi  tidak terwujud, melainkan  hanya soal nasib yang diusahakan oleh masing masing orang.  Jadi kalau  emansipasi sudah dibuka dengan pntu sangat luas, maka sudah bukan zamannya lagi kita melihat segala sesuatu dari aspek gender atau laki laki atau perempuannya, melainkan sejauh mana usaha yang telah mereka lakukan.  Buktinya  saat ini kita dapat menyaksikan banyak perempuan yang dapat meraih sukses tinggi, dan  ada sebagiannya yang belum mampu.

Nah, persoalannya sekarang ialah bagaiamana kita memperingati hari kartini tersebut tidak semata mata  hanya menekankan bagaimana berkebaya dan bersanggul,  melainkan justru kita  menanampkan bagaimana  Kartini berusaha memajukan kaumnhya dari penindasan yang dahulu dilakukan oleh sejarah.  Lantas bagaimana bentuknya?.  Jawabannya ialah berada dalam kreatifitas kita semua. Boleh jadi ada sebagian yang memperingati kartini dengan sebuah  ceramah tentang perjuangan Kartini, tetapi hal tersebut mungkin kurang efektif untuk anak anak kecil.

Boleh jadi juga diantara  kita ada yang lebih menitik beratkan kepada  permaianan atau cerita yang dibungkus dengan permainan, sehingga akan lebih dapat dimengerti dan diresapi oleh anak anak kecil.  Hal terpenting dari cerita tersebut ialah bagaiamana anak anak  mendapatkan keaan bahwa ibu kartini ialah seorang yang berjasa  dan sekaligus  membangkitkan semangat kaum perempuan untuk lebih maju dan  berperan dalam kehidupan duniawi ini.

Namun demikian juga tidak menutup kemungkinan  ada yang memperingati hari kartini dalam bentuk lainnya, hanya saja  harus ditekankan bahwa hal terpenting dalam peringata tersebut ialah ada pelajaran yang dapat dipetik bahwa kartini telah berjasa besar dalam membebaskan kaum perempuan dari belenggu  dan mengantarkan kaum perempuan  mendapatkan kesmpatan yang sama dalam meraih keinginan dan cita cita mereka sebagai makhluk Tuhan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.