APA KATA PENGAMAT

Saat ini cukup banyak pengamat yang menyatakana tentaang berbagai hal, terutama mengenai politik dan peta koalisi ke depan.  Sebagian diantara mereka ada yang memprediksi bahwa kalau partai partai Islam berkoalisi  dengan mengusung capres tersendiri, maka akan menjadi kekuatan yang cukup bisa  mengimbangi kekuatan capres yang sudah ada.  Bahkan ada yang  optimis dengan gabungan partai Islam tersebut hingga mencapai sekitar 31% suara, akan dapat memenangkan pemilu presiden nanti.  Sementara  pengamat lainnya justru mengandaikan bahwa  partai partai Islam akan menjadi solid ketika mereka merapat ke Gerindra untuk mengegolkan capresnya, Prabowo, dan masih banyak lagi.

Namun kenyataannya sangat mungkin lain sama sekali, karena kecenderungan partai partai politik saat ini ialah bagaimana secara pragmatis mereka dapat ambil bagian dalam kekuasaan, dan setidaknya mendapatkan jatah menteri.  Demikian pula kalau diingat bahwa  pemilu presiden tidak identik dengan pemilu legislatif, karena pilres lebih kepada figur seseorang calon, ketimbang perolehan kursi di parlemen.  Pengalaman tahun  2004 yang lalu, sebuah partai baru yang hanya meraup kursi 7 % saja akhirnya  dapat mengsung capres dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Nah, parpol saat ini tentu sudah mempunyai kalkulasi dan perhitungan tersendiri.  Berbagai survey yang dirilis ke media menunjukkan bahwa ada figur figur yang sudah muncul dan  mendapatkan dukungan darai masyarakat secara luas.  Nah,  sangat mungkin bahwa partai partai politik akan merapat kepada parpol yang mengusung capres yang diprediksi akan dipilih rakyat.  Mereka tentu tidak akan berspekulasi untuk bergabung dengan partai yang diperkirakan hanya akan  sebagai penggembira saja dalam pilpres.

Atau bahkan membangun koalisi tersendiri yang tentu sangat tidak dipertimbangkan.  Artinya prediksi para pengamat yang memperkirakan akan ada gabungan partai partai Islam, sungguh sangat jauh dari pikiran parpol yang ada.  Mereka  lebih memilih aman dan bergabung dengan paratai yang mempunyai capres  populer dan diperkirakan akan memenangkan pilpres.  Nah, kalau melihat gelagatnya, tentu hanya akan ada dua parpol yang akan didekati oleh partai partai menengah tersebut, yakni PDIP dan Gerindra.

Sementara itu untuk partai Golkar, meskipun mendapatkan  prosentasi cukup banyak dalam pileg kemaarin tetapi capres yang diusung belum memberikan jaminan atau setidaknya harapan untuk memenangkan pilpres.  Bahkan di kalangan internal glkar sendiri masih cukup tinggi perdebatannya.  Secara praktis perkiraan, parpol yang merapat ke PDIP jauh  lebih banyak ketimbang yang ke selainnya, terkecuali PDIP berlaku “sombong” dan seolah tidak membutuhkan  koalisi setelah mendapatkan kepastian dari partai Nasdem.

Artinya kalau PDIP sudah  puas hanya dengana Nasdem dan kemudian menutup diri atau jual mahal dengan parpol lain, tentu mereka akan dengan kegigihan mereka berusaha untuk menumbangkan PDIP dalam pilpres  mendatang.  Meskipun demikian tentu masih harus juga  dilihat realitasnya di masyarakat, apakah capres gerindra, Prabowo Subianto masih akan mendapatkan kepercayaan masyarakat, setelah banyak  kritikan yang mengungkapkan masa lalunya, termasuk bubrahnya rumah tangga yang dibangun dan lain sebagainya.

Tetapi menurut saya  kedua capres yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih mempunyai kans untuk dipilih rakyat, karena keduanya mempunyai kekhususan masing masing, sebagai kekuatan dan juga kelemahan mereka.  Sedangkan  untuk  Abu Rizal Bakri nampaknya hingga saat ini masih berkutat dengan persoalan internal yang belum selesai, dan dikhawatirkan justru akan memperburuk elektabilitasnya.  Tentu terkecuali kalau ada keajaiban yang demikian dahsyat sehingga rakyat berbalik memilihnya  ketimbang dua calon lainnya.  Semuanya belum pasti dan masih  memungkinkan.

Kembali kepada persoalan kesimpulan  dari pernyataan para pengamat sebagimana disebutkan di atas, kita memang  terkadang berpikir, kenapa  mereka tidak mendasarkan pengamatannya dengan bukti bkti riil dan  setidaknya dengan mendasarkan kepada sejarah bangsa ini, dan bukan kalkulasi secara teori semat.  Artinya pengamatan yang didasarkan  pada keadaan riil parpol yang ada  di negeri ini, tentu  akan  pendapat dan pandangan mereka akan realistis, yakni tidak ada  satu parpol pun yang kepingin menjadi oposisi sejak awal.  Arinya kalaupun mereka  menjadi oposisi itu akan dilakukan  dengan kondisi keterpaksaan.

Mereka semua menghendaki berada dalam lingkaran kekuasaan sehingga akan dapat berperan lebih, dalam mengelola negara ini, termasuk adanya tujuan khusus yang kita semua hanya dapat menebaknya saja. Mereka akan merasa aman kelau kemudian menentukan pilihan bergabungnya dengan parpol yang lebih siap dalam menghadapi pilpres mandatang.  Perkiraan saya partai PKB misalnya meskipun agak malu malu, ia akan bergabung dengan PDIP dan bukan ke Gerindra, karena  mereka  melihat Jokowi akan lebih dapat diperkirakan memenangkan pilpres ketimbang Prabowo.

Sementara itu untuk PPP kemungkinan besar akan ke Gerindra, karena semenjak kampanye kemarin sudah terlihat mesra dan bahkan sudah kampanye bersama.  Meskipun internal PPP ada gugatan untuk mendongkel ketua umumnya, tetapi hal tersebut akan hilang dengan sendirinya seiring dengana berjalannya waktu.  Sementara itu PAN kemungkinannya juga akan bergabung dengan PDIP dan bukan ke Golkar atau ke Gerindra, namun rupanya PAN akan  menawarkan ketua umunya sebagai cawapres mendampingi Jokowi.

Menurut saya PAN juga harus realistis bahwa kalau tdak segera menentukan sikapnya, nanti akan rugi sendiri dan sangat mungkin malah tidak akan mendapatkan  apa yang diinginkannya.  Kalau dilihat dari gelagatnya PAN memang akan merapat ke PDIP meskipun demikian masih agak jual mahal.  Tetapi PDIP saat ini sudah  pasti akan didukung Nasdem yang  berarti sudah dapat mengusung capres tanpa bantuan  parpol lainnya.  Untuk itu  sudah selayaknya PAN segera bergabung dan menentukan pilihannya, apakah ke PDIP ataukah ke Gerindra.

Sangat mungkin PD justru yang akan  bingung untuk menentukan sikapnya, tetapi ada kecenderungan akan lebih memilih ke Gerindra mengingat beberapa waktu yang lalu sudah ada pendekatan yang cukup.  Lalu pakah golkar akan mampu menggandeng parpol lain, seperti PKS, Hanura datau partai yang tidak memenuhi syarat ambang batasyakni PBB dan PKPI. Hemat saya justru kemungkinan malahan golkar akan berkoalisi dengan PD dengan bargaining sebagai cawapres.

Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa partai golkar adalah partai yang sangat mudah untuk mengubah arah dalam berkoalisi.  Untuk sangat mungkin pada saat saat akhir nanti golkar akan bergabung dengan salah satu partai yang sudah mempunyai capres.  Setidaknya  kalau dalam pilpres nanti harus dilakukan dengan dua putaran, maka  kalau hasilnya dalam putaran kedua golkar tersingkir, dia pasti akan segera bergerak untuk bergabung dengan partai yang diperkirakan akan memenangkan pilpres.

Sepertinya golkar memang ditakdirkan untuk menjadi partai yang tidak tahan berada di luar kekuasaan, dan dalam politik semua tu dapat saja terjadi, dan golkar akan selalu memanfaatkan kesempatan sesempit apapun untuk menyelematkan diri tidak terlempar dari kekuasaan.  Namun demikian apapun nantinya yang terjadi, harapan masyarakat ialah tetap aman, damai dan pemerintah yang akan datang lebih baik dan lebih memperhatikan kepentingan masyarakat.  Koalisi boleh saja tetapi  para menterinya harus tetap yang profesional dan memperhatikan pekerjaan dan tanggung jawabnya ketimbang kepada partainya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.