BISMILLAH NYOBLOS

Hari ini merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena pemilu legislative dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia untuk menentukan para wakil rakyat, baik di DPRD kabupaten /kota, DPRD propinsi, DPRRI dan DPD.  Hanya saja kalau melihat  minat masyarakat untuk dating ke TPS sepertinya belum begitu antusias.  Mungkin mereka tidak ingin lagi berramai ramai, yang penting nyoblos ata7u ada kemungkinan lain, karena  kandidatnya banyak yang tidak dikenal.  Mungkin pemilu yang akan dating, dimana pileg dan pilpres dibersamakan, akan menjadi semakin antusias masyarakat  untuk mendatangi TPS.

Banyak pengamat  memberikan pandangan bahwa jumlah atau prosesntasi masyarakat yang mengikuti p[ileg jauh lebih sedikit dibandingkan  saat pemilu presiden dan wakilnya.  Alasan yang paling mudah ialah karena para kandidat atau calonnya sudah sangat jelas, termasuk program, rekam jejak, dan juga  tingkat keamanahan mereka.  Dengan tingkat pengetahuan yang relative tinggi tersebut akan membuat masyarakat ingin berpartisipasi  memilih calon presidennya dengan harapan masa depan bangsa dan Negara ini akan semakin  lebih baik.

Saya sendiri juga tidak mengenal banyak terhadap para caleg yang sangat banyak jumlahnya tersebut, dan hanya beberapa saja yang sudah saya kenal, sehingga dengan segala permohonan maaf kepada para caleg yang sesungguhnya sangat bagus, tetapi karena tidak dikenal atau setidaknya belum saya kenal, tentu saya tidak akan memilih mereka.  Artinya  masyarakat yang lain pun juga kemungkinan mempunyai sikap yang relative sama dengan saya, sehingga hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para caleg untuk aktif lagi turun ke masyarakat memperkenalkan diri dan programnya.

Saya hanya berharap agar pelaksanaan pemilu kali ini tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan oleh bangsa ini, dan juga akan dapat dipilih mereka yang memang  amanah, mau memikirkan nasib masyarakat dan tidak tergiur dengan uang rakyat.  Wakil rakyat yang jujur dan bekerja keras tersebut tentu disamping akan selamat sampai akhir tugas, juga sekaligus akan mendapatkan kepercayaan  masyarakat dan tentu pahala dari Tuhan.

Menurut keputusan Mahkamah  Konstitusi, bahwa penghitungan cepat diperbolehkan untuk dirilis setelah pemilu selesai, untuk itu ada kemungkinan hal tersebut menjadi sumber persoalan, kalau semua pihak tidak  mempunyai pengertian yang sama.  Artinya bisa saja dalam hitungan cepat, seseorang dikatakan sebagai pemenang, meskipun hanya terpaut sedikit saja.  Nah, kalau hal tersebut kemudian dibawa dan diyakini sedemikian rupa, padahal dalam hitungan yang dilakukan oleh KPU ternyata sebaliknya, maka kegaduhan akan muncul.

Kita tahu bahwa hitung cepat tersebut hanya didasarkan atas sampel dan sudah barang pasti ada margin erornya.  Nah, ada kemungkinan dalam hitung cepat tersebut dianggap unggul tipis, tetapi dalam hitungan manual oleh KPu menjadi kalah tipis.  Untuk itu meskipun rilis hitung cepat diperbolehkan, tetapi tidak boleh dibuat pegangan  seratus persen, apalagi kalau kemudian dijadikan sebagai dasar untuk menggugat KPU.  Hitung cepat tersebut boleh digunakan secara mandiri untuk mengetahui tingkat keterpilihan, meskipun belum pasti kebenarannya.  Hitungan resmi oleh KPU lah yang akan dianggap sah, dan bukan hitungan selainnya.

Pemerintah memang meliburkan hari ini hanya untuk memberikan kesempatan bagi seluruh warga negara untuk dapat menggunakan hak pilihnya dengan mendatangi TPS yang telah ditentukan dan nyoblos.  Artinya dorongan dan dukungan untuk suksesnya pemilu legislatif kali ini sungguh sangat besar, tetapi kalau kenyataannya masih banyak diantara masyarakat yang tetap enggan pergir ke TPS, tentu ada alasan tersendiri yang masing masing orang tidak dilarang.

Himbauan agar masyarakat mau berpartisipasi dalam pemilu dengan memberikan hak suaranya kepada salah satu calon, terus dikumandangkan, baik oleh tokoh politik maupun oleh tokoh non politik.  Tujuannya  relatif sama ialah  untuk menentukan wakil rakyat yang akan duduk di dewan  dengan harapan mereka nantinya dapat menyalurkan aspirasi masyarakat dan mewujudkan  kondisi yang lebih baik.

Pada umumnya masyarakat sudah mempunyai pilihan mereka terwsendiri, meskipun diyakini masih banyak pula yang belum menentukan pilihan.  Bagi mereka yang sudah mempunyai pilihan sekalipun masih rawan untuk beralih kepada  siapa yang  memberikan sesuatu, apalagi bagi mereka yang belum mempunyai pilihan sama sekali, akan sangat mudah dibelokkan kepada kepentingan caleg tertentu yang berani  memberikan imbalan.  Masyarakat, khususnya masyarakat perdesaan,  pada umumnya tidak berpikir panjang dan masa depan, karena  siapapun yang  memberikan sesuatu secara praktis, mereka akan  dipilih, tanpa memikirkan akibat yang lebih buruk.

Mereka yang mengeluarkan modal besar tentu akan mencari penggantinya pada saat mereka sudah menjadi wakli rakyat.  Nah, kalay demikian maka  anggaran yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat, menjadi bancaan mereka  dan rakyat sama sekali tidak mengetahuinya, karena selama ini memang seperti itulah kondisinya.

Beberapa informasi termasuk yang dirilis oleh surat kabar, ternyata masih banyak caleg yang menyukai serangan fajar, yakni sebuah  usaha  untuk mempengaruhi masyarakat dengan cara memberikan uang sejumlah tertentu pada hari H sebelum mereka beraqngkat ke TPS.  Bahkan agar tidak mudah dideteksi dan ditemukan oleh pengawas pemilu, mereka  menyewa  pihak lain yang tidak termasuk tim sukses.  Ini sebab gerakan tim sukses terus diawasi oleh pengawas pemilu.  Kabarnya  diantara mereka ada yang sudah menyediakan amunisi sejumlah milyaran rupiah.

Bagi caleg incumben mereka dengan mudah menggunakan dana aspirasi untuk mempengaruhi masyarakat agar memilihnya, sebab dengan dana aspirasi, yang sesungguhnya memang hakl rakyat tersebut, para caleg dapat tawar mebnawar dengan masyarakat.  Modusnya ialah jani akan dipenuhi beberapa fasilitas, seperti  jalan diperbaiki, saluran diperbaiki, bantuanfasilitas umum dan sejenisnya.  Mereka memang mengakui terus terang dengan dana aspirasi  tersebut, tetapi sebagaimana lazimnya mereka berdalih mengusahakan, sehinggamereka meminta balas jasa suara.

Bahkan ada yang berani membuat janji agar sebuah kampung atau RT setidaknya 60 % memilihnya, dean kalau masyarakat menyetujuinya, maka bantuan melalui dana aspirasi tersebut akan dikucurkan.  Nah, penyalah gunaan dana bantuan sosial tersebut sudah berjalan cukup lama  seolah dihalalkan begitu saja.  Tentu hal tersebut akan  menjadi preseden tidak bagus bagi pendidikan  politik masyarakat.  Para tokoh yang seharusnya menjadi panutan dalam mencerdaskan masyarakat, justru malah membodohi masyarakat, serta mempurukkan mereka sampai tidak akan mampu bangkit lagi.

Bagi masyarakat yang sudah paham biasanya mereka justru mengukur sejauh mana kejujuran para caleg yang menggunakan dana aspirasi tersebut untuk kepentingannya sendiri.  Artinya mereka  biasanya mau menerima persyaratan caleg tertentu, tetapi hanya sebatas dalam lisan saja dan mereka sama sekali tidak mau  dalam bentuk tulisan.    Dan pada kenyataannya  saat mencoblos, mereka tidak terikat dengan  seorang caleg tersebut. Bahkan diantara masyarakat juga ada yang berani menantang caleg untuk hal tersebut, dengan  kecurangan dan pelanggaran pemilu.

Nah, dalam  kondisi seperti itu biasanya seorang caleg menjadi tersudut dan  mengikuti apa  maunya masyarakat tersebut.  Artinya  kalau  ada  salah satu masyarakat yang berani tersebut dengan mengancam caleg untuk dipersoalakan, maka masyarakat akan meminta dana aspirasi tersebut dengan tanpa syarat, dan kalau tidak dipenuhi, justru caleg tersebut akan menjadi korban pelaporan pelanggaran.  Itulah serba serbi pileg kali ini yang belum dapat beranjak dari hal hal buruk seperti itu.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.