SALING SERANG PARA CALON

Saat ini memang  sedang musim kampanye, tetapi kebiasaan saling serang antar calon dan partai seharusnya  sudah dihindari, karena hal tersebut akan menjauhkan kita dari kesejahteraan dan ketenteraman.  Bagaimana mungkin orang yang sangat mudah marah dan  kebakaran jenggot, menjanjikan sebuah tatanan negara yang baik dan rakyatnya menjadi sejahtera.  Kita menjadi tidak mengerti kenapa setiap ada pemilu yang dianggap sebagai pesta demokrasi, selalu saja muncul kampanye hitam atau kampanye yang menjelek jelekkan pihak lawan.  Tujuannya ialah agar masyarakat tidak memilih calon yang dikecam tersebut.

Tetapi rupanya mereka  yang masih melakukan kampanye hitam tersebut tidak belajar dari sejarah bahwa justru mereka yaan terus menerus dikritik dan diserang, akan mendapatkan simpatik dari masyarakat, karena  kesan yang muncul justru sebaliknya, yakni bahwa tokoh yang dikecam terus menerus tersebut sedang didhalimi dan tidak dihargai jasa serta perannya.  Apalagi tokoh yang dipojokkan tersebut mempunyai reputasi yang baus di mata masyarakat.  Artinya berkampanye hitam sesunguhnya hanya akan merugikan diri sendiri, karena masyarakat aan menangapnya sebagai tukang fitnah dan memaksakan sesuatu, sehinga tidak pantas untuk dipilih.

Kita tentu masih ingat ketika  pemilihan presiden pada waktu yang lalu, dimana SBY  saat itu terkesan didhalimi oleh lawan politiknya, sehingga  beliau malah mendapatkan simpatik dari  masyarakat secara luas.  Sebagian masyarakat yang tadinya masih ragu atau bahkan yang tdanya tidak akan memilih dia,  berbalik memilihnya. Karena itu  sehrusnya pengalaman tersebut dijadikan  pelajaran  bagi siapapun yang menginginkan terpilih menjadi sosok yang diininkan, termasuk menjadi presiden.

Saat ini yan paling mencolok ialah capres tertentu yang seolah  tersaingi leh toko lain yang muncul belakangan, sehinga tokoh tersebut harus dimusnahkan dengan cara dicaci, dikritik, dan dijatuhkan.  Tetapiuntuk melakukan hal tersebut sungguh sesuatu yang sangat sulit, karena dengan cara vulgar seperti yang saat ini dilakukan, justru akan berbalik menjadi senjata makan tuan.  Semua calon seharusnya menjadi sangat yakin dengan dirinya dan selalu berusaha berbuat, berpenampilan, berperilaku dan bersikap serta berbicara yang  santun, bukan emosional dan terkesan marah dan membabi buta.

Semua oran tentu mempunyai kelemahan yang tidak perlu selalu ditunjuk, karena masyarakat  akan mengetahuinya dengan sendirinya.  Para tokoh yang menjadi calon itu akan selalau dikabarkan oleh media, sehingga masyarakat tentu akan mengetahuinya dengan jelas, jenis dan macam apa calon yang ditawarkan kepada masyarakat untuk menjadi pimpinan mereka. Karena itu sebaiknya mereka menyadari dan  sejauh mungkin menghindari kelemahan kelemahan tersebut, terutama  pada saat saat yang menentukan.

Ketegasan dan juga komitment dalam memberantas korupsi dan penyakit masyarakat lainnya, tentu sangat dibutuhkan.  Tetapi bukan hanya sekedar ngomong dan tidak dibarengi dengan perilaku yang menunjukkan bahwa  dirinya memang sedang  melaksanakan program pokok yang ditawarkan tersebut.  Sebab kalau tidak konsisten antara pernyataan dengan perbuatannya, tentu masyarakat akan  menilainya sebagai bohong belaka, dan kalau demikian jangan berharap masyarakat akan mau memilihnya.

Kalau seorang calon diangap sebagai mempunyai dosa tertentu dalam kehidupan  di masa lalu, meskipun tidak terbukti dan tidak ada proses hukum yang dijalaninya, tetapi pengetahua masyarakat telah terbentuk bahwa  dirinya memang berdosa, tentu harus bekerja keras untuk menghilangkan kesan tersebut dengan cara yang apik dan simpatik, bukan dengan cara  menantang  dan seolah memang tidak mempunyai dosa apapun, karena kalau ini yang dilakukan, tentu masyarakat tidak akan percaya, dan bahkan malahan akan semakin yakin dengan opini yang selama ini didapatkan.

Demikian juga calon yang seolah  nantinya kalau jadi, hanya akan menjadi boneka atau akan disetir oleh seseorang atau partai, tentu juga harus membatasi diri  dari ha hal yang dapat membuat masyarakat berkesimpulan bahwa benar  dia itu tidak mempunyai kekuatan sedikitpun, dan  akan berada di bawah ketiak seseorang atau partai.  Nah, kesan tersebut btentu akan  membuat masyarakat berpikir ulang untuk memilihnya sebagai pimpinan tertinggi di negeri ini.

Artinya kalau  pimpinan yang tidak dapat mandiri dan  disetir oleh sebuah partai, terus bagaimana nantinya negara yang dipimpin, karena negara bukanlah sebuah partai melainkan  sebuah wadah bagi seluruh  anak bangsa yang berbeda beda partainya dan  jga keinginannya.  Demikian juga  bagi calon yang dikesankan seolah  melakukan perbuatan  yang bertentangan dengan etika kesopanan dan lainnya, juga harus berusaha keras untuk  menjalani kehidupan ini dengan menunjukkan  kebaikan dan tidak perlu terlalu menjawab berlebihan terhadap kesan dan tuduhan tersebut.  Dengan begitu masyarakat akan dapat menilainya sendiri dan memutuskan untuk  memilih atau tdak terhadap dirinya.

Kita sesungguhnya menginginkan  kondisi  seperti itu, yakni tidak ada serangan tertentu  dari calon kepada calon lainnya, tetapi justru yang kita saksikan ialah perlombaan untuk sebuah kebaikan bagi masyarakat dengan  contoh nyata yang dapat memberikan harapan baru bagi masyarakat secara uumum.  Pertunjukan saling seran yang saat ini kita saksikan justru akan menenggelamkan  keinginan masyarakat untuk sebuah perubahan menuju kesejahteraan dan kedamaian.  Masyarakat akan berkesimpulan bahwa  para calon yang baru menjadi caln saja sudah bisa melakukan kekerasan dalam arti luas, termasuk menghabisi lawan, apalagi kalau nanti benar benar menjadi pemimpin nomor satu, sudah pasti akan  dengan mudah membinasakan siapapun yang berani bertentangan dengannya.

tTerkadang kita juga dibuat bingung oleh para politisi yang tidak mampu mencerna sejarah dan kemudian menjadikannya sebagai pelajaran yang sangat berharga baginya.  Terbukti bahwa para politisi masih saja tetap bersikukuh dengan apa yang telah terlanjur dilaukan oleh pemimpin artainya, meskipun jels  jelas  dapat dinilai sebagai sebuah kesalahan.  Tentu sikap dan perilaku politisi tersebut akan sangat merugikan partainya, karena masyarakat akan menjaditahu  bagaimana sesungguhnya partai politik tersebut, yang ternyata  bukan memperjuangan kebenaran dan keadilan, melainkan memperjuangkan  partai dan organnya, meskipun merugikan masyarakat.

Masyarakat kita meskipun masih dianggap sebagai masyarakat yang belum cerdas benar, tetapi mereka sesunguhnya titen dan akan  niteni  partai politik yang baik dan yang tidak.  Meskipun  masih ada diantara mereka yang  mau memilih kalau diongkosi, tetapi kita yakin masih lebih banyak  yang sudah menyadari betapa pentingnya sebuah pemilu, sehingga mereka tidak akan mau hanya sekedar dibayar dengan  rupiah tertentu saja. Bakan saat ini kita berharap masyarakat yang demikian kritis tersebut akan berani melaporkan setiap kecurangan para calon, termasuk kecurangan dalam hal money politic.

Karena itu ada saran baik bagi semua calon, apakah calon angota legislatif maupun  calon presiden dan wakil presiden agar  melakukan kampanye simpatik dan hanya  melakukan hal hal positif yang dapat mengesankan masyarakat bahwa kedepannya  kondisi akan lebih baik, dan tidak melakukan hal hal konyol, seperti menyerang lawan politik, yang justru akan berbalik menyerang kepada dirinya sendiri.  Itulah sedikit saran yang insyaallah  jitu dan akan megantarkan seorang calon menuju cita  cita dan keinginannya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.