PEMBINAAN MAHASISWA MELALUI MA’HAD

Akhir akhir ini banyak perbincangan di masyarakat yang seolah menyayangkan sikap dan akhlak sebagian mahasiswa, termasuk yang berada di peruruan tinggi agama Islam.  Sebab utamanya ialah  adanya perilaku yang kurang mencerminkan sikap Islami yang ditunjukkan oleh mereka, bahkan secara ektrim,  diantara mereka yang mengaku beragama  tetapi justru mengembangkan hal hal yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.  Tidak hanya dalam hal perilaku, tetapi juga dalam hal berpakaian, sikapnya terhadap kawan sesama mahasisswa, terutama mahasiswa putri, sikap mereka terhadap dosen dan masyarakat secara umum.

Nah, kondisi seperti itu kemudian memunculkan  semacam kesimpulan bahwa  kuliah di perguruan tinggi tidak akan menjamin seseorang akan menjadi lebih baik dalam hal budi pekertinya.  Untuk itu  kemudian muncul pemikiran dari sebagian orang untuk lebih baik mengirim mereka ke pondok pesantren salaf saja ketimbang harus menguliahkan anak anak mereka yang pada akhirnya justru akan menyulitkan mereka sendiri.

Tentu kesimpulan seperti itu harus dijauhkan dari masyarakat secara umum, karena bagaimanapun perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi Islam,  akan membina mahasiswa  secara lebih fokus dan terencana.  Lebih lebih kalau kemudian  ada ma’had di dalamnya yang justru akan memberikan nuansa yang lebih.  Artinya di samping pembinaan dalam arti kecerdasan dengan menganalisa berbagai hal, juga sekaligus dididik dengan lansung praktek dalam hal kebaikan sesuai dengan ajaran  agama.

Ma’had bukan saja  mempunyai misi dalam mencerdasakan  santri mahasiswa, melainkan juga sekaligus membiasakan mereka untuk menjalankan kebaikan sebagaimana diajarkan oleh syariat Islam.  Pelaksanaan  shalat secara berjamaah dan juga shalat tahajjud, tentu menjadi kebiasaan yang  selalu diterapkan oleh mereka.  Demikian juga dalam hal hal yang terkait dengan kehidupan bersama dengan sesama dan lainnya.  Inilah  bentuk pendidikan karakter yang nyata dan tidak terbantahkan.

Hanya saja memang harus kita akui ada sebagian dantara para mahasisswa yang tidak atau belum tertampung dalam ma’had tersebut, dan kemudiana bergaul dengan masyarakat yang beranka ragam wataknya, sehingga kalau kemudian ada diantara mahasiswa yang  sedikit menyimpang dari perilaku yang seharusnya, itu bukan alasan untuk menghindar dari perguruan tinggi.  Karena bagaimana pun sewseorang yang mempunyai ilmu penetahuan yang lebih, tentu  akan lebih bermanfaat bagi masyarakat, asalkan mereka tidak sangat jauh melanggar aturan yang berlaku.

Dengan kata lain, mereka yang berpendidikan lebih tinggi tentu akan lebih baik dan  lebih mudah untuk menerima hal hal positif, dibandingkan dengan mereka yan berpendidikan rendah.  Tentu hal ini merupakan kesimpulan umum, sedangkan kalau ada  satu dua yan tidak sama dengan kesimpulan ini, harus dimaknai sebagai sesuatu yang berbeda dan itu sah sah saja.  Artinya ada orang yang berpendidikian rendah tetapi justru lebih baik dan lebih taat terhadap aturan  yang ada dan berlaku.

Sikap mengirim anak ke pesantren salaf memang tidak salah, tetapi akan lebih bagus manakala disamping mereka mengkaji  persoalan syariat secara mendalam di pesantren juga sekaligus dibarengi dengan  memperoleh pengalaman yang lebih luas, sehinga pemahamannya terhadap ajaran  agama akan lebih matang dan tidak harfiyah.

Nah, untuk mendapatkan  pengetahuan yang  lebih dan sekaligus  dalam dalam memahami ajaran agama, ma’had lah jawaban yang dapat diberikan.  Artinya dengan mengikuti kuliah di perguruan tinggi  dan kemudian dipadukan dengan  kegiatan ma’had yang terencana dengan bagus, tentu  secara teori, keinginan untuk  menjadikan anak lebih  baik dalam hal pemahamannya terhadap ajaran agama dan sekaligus tidak tertinggal dalam kehidupan yang sangat konpetetif ini, akan dapat diraih.

Memang semuanya masih tergantung kepada masing masing orang, karena bagaimana pun baiknya sebuah sistem, akan masih  juga ditentukan oleh orang yang menjalaninya.  Namun demikian kalau sebuah sistem baik dijalankan dan  diikuti, meskipun pada awalnya  diikuti dengan terpaksa, tetap akan lebih baik dibandingkan dengan  kalau tanpa sistem.  Itulah makanya persoalan ma’had, terutama dalam kampus menjadi sangat vital dan  sudah saatnya digalakkan oleh semua pihak.

Untuk itu harus ada  keinginan besar dari seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk merencanakan dan mewujudkan ma’had tersebut di dalam kampus dan sekaligus memngelolanya dengan baik dengan cara  mempercayakan urusan pembinaan di ma’had tersebut kepada mereka yang memang dapat melakukannya dan mempunyai pegalaman yang cukup.  Di samping itu ketika sarana yang diharapkan  tidak memungkinkan, maka peran kementerian perumahan rakyat menjadi vital, melalui pendirian rusunawanya.

Memang sebagaimana kita ketahui bahwa kemenpera dalam programnya tidak hanya ditujuka kepada umat tertentu dan tidak pula  dimaksudkan untuk menjadi sebuah ma’had, melainkan semata mata untuk kepentingan perumahan rakyat secara umum.  Program rusunawa atau rumah susun sewa tersebut diamskdukan untuk meringankan beban masyarakat dalam hal perumahan, karena  rakyat tinggal menyewa dengan harga yang relatif terjangkau.

Nah, program rusunawa tersebut kemudian dapat merambah pada dunia pendidikan dan dibangun di kampus kampus dan juga pesantrean, di samping di masyarakat secara luas.  Nah, karena pembangunan rusunawa tersebut, kemudian kita dapat memanfaatkannya secara lebih baik dan bermanfaat dalam pembinaan mahasiswa,yakni tidak sekedar hanya digunakan untuk tempat meninap mahasiswa atau sebaai asrama semata, melainkan juga difungsikan sebagai ma’had yang di dalamnya dilakukan berbagai pembinaan, yang muaranya ialah pendidikan karakter.

Dengan difungsikannya  rusunawa dalam kampus sebagai tempat pembinaan mahasiswa, diharapkan para mahasiswa akan  lebih fokus dalam  pelajaran dan juga  hal hal lain yang menjadi kewajiban mereka sebagai makhluk Tuhan, seperti beribadah kepada Tuhan dan juga berbuat baik kepada sesama umat manusia dan makhluk Tuhann lainnya.  Tentu sekali lagi para pimpinan ma’had harus  mendesain kurikulumnya sedemikian rupa dan sekalius seara konsisten dilaksanakan.

Bahkan akan sangat bagus jkalau kemudian diadakan semacam forum para pengelola ma’had tersebut untuk saling memberikan informasi mengenai hal hal yang dilakukan dalam upaya pembinaaan mahasiswa santri.  Artinya kalau ada program bagus dan dilaksanakan oleh salah satu ma’had, maka hal tersebut juga dapat dilakukan di ma’had lannya,  sehingga  dengan komunikasi yang intensif, para pengelola ma’had akan  dapat saling bertukar fikiran dan informasi yang sangat bermanfaat bagi pembinaan santri mahasiswa yang dibina.

Dengan dibentuknya sebuah forum bagi para  pengelola ma’had tersebut diharapkan pada saatnya nanti para santri ma’had akan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan  para mahssiswa pada umumnya.  Tentu karena kurikuum yang didesain dan diterapkan di dalam ma’hat akan mampu memberikan dorongan yang kuta kepada para santri untuk melakukan dan meraih sesuatu yang diinginkan.  Setidaknya mereka akan terbiasa dengan berbahasa asing, yakni Inggris dan Arab, karena  dengan penguasaan bahasa tersebut para satri mahasiswa akan mampu  membaca dan meneratahui berbagai informasi penting yang ditulis dengan menggunakan bahasa asung tersebut.

Pada saatnya juga  dengan forum tersebut diharapkan  akan dilaksanakan sebuah festifal atau musabawah dalam  berbaai ilmu dan ketrmapla yan diajarkan di ma’had.  Dengan begitu kita memang dapat berharap banyak bahwa dengan ma’had rusunawa tersebut memang enar benar memberikan sumbangan yan sangat signifikan bagi perkembangan kampus dalam upaya mewujudkan manusia manusia yang handal dan berakhlak karimah.  Semoga.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.