KESADARAN MEMBAYAR PAJAK

Sudah menjadi watak manusia bahwa  mereka  sangat mencintai harta dan ingin terus mengumpulan dan menumpuk harta sebanyak banyaknya, bahkan terkadang harus melanggar aturan yang sudah ditetapkan.  Kesenangan manusia terhadap harta tersebut memungkinkan  manusia enggan berbagi harta yang merupakan karunia Tuhan tersebut dengan manusia lainnya.  Bahkan terkadang juga hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban saja terkadang harus berpikir panjang dan akhirnya tidak jadi memenuhi kewajiban tersebut, seperti kewajiban zakat dan juga pajak.

Untungnya untuk beberaqpa  hal pajak dikaitkan dengan  hal lainnya, sehingga manusia terpaksa  membayar pajak tersebut, sedangkan untuk zakat, karena tidak ada kaitannya dengan persoalan di dunia ini, maka biasanya ditinggalkan.  Kalau pajak, misalkan kendaraan bermotor, disebabkan akan ada persoalan lain di kemudian hari kalau tidak membayarnya, maka dengan keterpakasaan kebanyakan manusia  membayarnya, demikian uga dengan pajak penghasilan yang langsung dipotong oleh pemungut atau bendaharawan, maka  mau tidak mau juga harus  menerimanya.

Sedangkan kalau ntuk pajak PBB misalnya, meskipun nantinya akan ada persoalan, tetapi persoalannya tidak langsung, maka terkadang banyak manusia yang enggan membayarnya, bahkan banyak yang menumpuk hingga beberapa tahun.  Itulah kenyataan  hidup yang dapat kita saksikan  sehubungan dengan  lah dan kebiasaan umat manusia.  Namun demikian bukan berarti tidak ada  yang dengan kesadaran penuh meu membayar  pajak,  ternyata masih ada yang tulus  membayarnya, karena menyadari  benar kepentingan pajak tersebut bai negara dan rakyat.

Sementara itu untuk persoalan kewajiban zakat harta bagi  umat muslim, rupanya juga mengalami hal serupa, yakni banyak yang enggan membayarnya, bukan karena tidak tahu, melainkan  semaa semata disebabkan tidak ada  akbat apapun ketika mereka tidak membayarnya, terkecuali akibat nanti di akhirat.  Nah, untuk urusan akhirat tersebut meskipun secara umum umat muslim mempercayainya, tetapi terkadang juga tetap diabaikan.  Barangkali ini  merupakan akibat dari keimanan yang masih kurang atau sangat tipis atau sejenisnya.

Mungkin  manusia memang memerlukan  sesuatu yang dipaksa terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu kebaikan sekalipun.  Dalam kasus pembayaran pajak, meskipun sudah diwajibkan dan akan ada akibat tertentu bagi yang tidak memenuhi kewajiban tersebut, tetapi masih saja  manusia berusaha agar pajak ersebut tidak dibayar penuh, sehingga mereka seolah akan menjadi lebih banyak menguasai harta, sedangkan negara harus dirugikan dengan ulah mereka tersebut.

Kasus kasus yang  terkait dengan pengelapan pajak dan juga kong kalikong antara petuas pajak dengan  pangusaha nakal, selalu saja terjadi, meskipun sudah dilakukan upaya untuk menyeret pelakunya ke penjara, namun karena harta  itu selalu menarik bagaikan gadis  cantik menawan, maka  akan terus muncul jenis manusia yang akan berusaha  mengemplangnya dari hak negara atau rakyat.  Padahal kita sangat tahu bahwa  pajak tersebut merupakan masukan  terhadap negara yang cukup besar dan manfaatnya juga sangat  menentukan  kondisi negara dan rakyat.

Karena itu sudah saatnya  kita semua  menggiatkan sadar  membayar pajak, tentu dengan dibarengi dengan  penelolaan pajak yang  transparan dan  dapat dilihat secara kasat mata oleh rakyat.  Nah, kalau kemudian masih saja terjadi kebocoran yane basar dalam  pajak tersebut,  sangat dikhawatirkan justru  rakyat akan enggan membayar pajak, terutama  para pengusaha yang seharusnya memberikan kontribusi pajak cukup besar.

Demikian juga gerakan kesadaran  membayar pajak tersebut juga harus dicontohkan oleh para pemimpin dan pejabat serta para pengusaha, sebab dengan  contoh tersebut, masyarakat secara umum akan juga  tertarik untuk ikut membayar pajak serta mereka akan  dengan ketulusan membayarnya.

Nah, persoalannya  saat ini ialah bagi umat Islam yang disamping harus membayar pajak, juga sekaligus harus membayar zakat terhadap harta mereka.  Kondisi ini kalau tidak disadari dan dimengerti dengan baik, bisa bisa justru akan menimbulkan ketidak nyamanan dalam diri mereka.  Artinya kewajiban ganda tersebut  akan diangap sebaai sebuah hal yang memberatkan.  Karena itu mereka kemudian  lebih memilih untuk tidak membayar zakat, karena toh tidak akan ada akibat langsung yang dideritanya, khususnya saat masih di dunia.

Memang harus ada  pencerahan kepada masyarakat yang merasa keberatan dengan kewajiban ganda tersebut.  Memang saat ini masih ada  perbedaan pendapat mengenai  kewajiban ganda tersebut.  Satu pihak berpendapat bahwa bagi muslim yang  sudah membayar pajak, hakekatnya  sudah membayar zakat.  Tetapi pada pihak lain berpendapat bahwa meskipun seseorang sudah membayar pajak, tetapi dia masih tetap membayar zakat hartanya, karena  antara keduanya  berbeda, apalagi  kita hidup di negara  yang bukan  didasarkan atas  syariat Islam.  Hanya saja  mereka yaqn sudah membayar zakat, akan dikurangkan dalam hal membayar pajak.

Kita memang hidup di negara Indonesia yang berdasar kepada Pancasila.  Nah, pajak yang dikumpulkan oleh negara berasal dari berbagai macam pajak, termasuk pajak dari sesuatu ang menurut hukum Islam diharamkan,  sehingga kalau pajak tersebut  diangap sekalus juga zakat, maka akan ada persoalan dalam hal percampurannya dengan pajak dari yang bukan  hal halal tersebut.  Jadi memang keduanya berbeda dan masing masing  ada kewajiban tersendiri.

Melihat kenyataan tersebut seharusnya kita memang harus berusaha memberikan pencerahan kepada masyarakat muslim agar mereka tetap memperhatikan persoalan yang terkait dengan syariat Islam dan sekalius kebutuan duniawi.  Kita harus dapat meyakinkan bahwa kalau kita empermudah sebuah urusan kepada siapapun, tentu Tuhan akan mempermudah kita dalam urusan apapun.  Jadi kalau kita mau secara tulus membayar pajak dan juga zakat sekaligus, tentu Tuhan  akan memudahkan rizki kepada kita.

Ini bukan hanya sekdar teori, melainkan sebuah kenyataan dengan syarat kalau kita mempercayainya secara penuh dan juga menjalaninya dengan  rasa ikhlas yang sebenarnya.  Persoalan zakat yang saat ini maqsih menjadi sebuah beban bagi sebagian masyarakat muslim, sudah saatnya  dijadikan sebagai sebuah kebutuhan, tridak saja  dengan harapan balasan di akhirat nanti, melankan juga  insya allah di dunia akan ada efeknya yang nyata.  Demikian juga  mengenai persoalan pajak yang masih terus diupayakan untuk diakali oleh sebagian pengusaha, sudah saatnya semua pihak menyadari pentingnya pajak bagi kemajuan bangsa.

Para pengelola dan petugas pemungut pajak juga harus berbenah diri dalam arti lebih sungguh sungg dan amanah dalam mengelola pajak, sehingga negara tidak akan mengalami kerugian.  Dengan kesadaran semua pihak tersebut, kiranya semua urusan akan menjadi lancar dan  kenyamanan dalam hidup bernegara dan bermasyarakat akan dapat dinikmati bersama.  Mungkin ini hanyalah harapan kosong, melaihat kenyataan saat ini yang  masih amburadul, etapi kita harus optimis bahwa kalau kita mau tentu ada jalan lapang yang dapat kita lali.

Hal terpenting dari semua ini ialah keteladanan kita semua, sebagai orang yang mempunyai kedudukan  di mata masyarakat.  Artinya semua pegawai pemerintah yang mendapatkan  gaji dan honor, tentunya harus  memebrikan contoh nyata  terkait dengan pembayaran pajak dan tepat waktu.  Demikian juga mengenai laporannya, atau yang biasa dikenal dengan laporan SPT yang berakhir pada bulan Maret ini.  Dengan keteladanan tersebut diharapkan masyarakat akan  dapat menyaksikan sebuah pemandangan yan indah dalam hal ketaatan  membayar pajak.  Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.