KRITIK ATAU TAKUT?

Sejak Joko Widodo di deklarasikan sebagai calon presiden dalam pemilu presiden tahun 2014 mendatang, sudah menuai banyak kritik, termasuk yang  menyudutkan dan tidak masuk akal sehat.  Untung Jokowi sendiri orangnya slow dan tidak mudah tersinggung dengan berbagai hujatan yang dilontarkan, dan bahkan malah mengatakan sudah biasa, dan biarkan mereka berkata apa, yang penting di manapun dia berada, tetap akan mengabdi untuk rakyat dan negara.  Sunguh sebuah pernyataan sikap yang cukup  bagus, sehubungan dengan  mengalirnya kritik terhadap dirinya.

Barangkali mengacu kepada  berbagai hasil survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey bahwa Jokowi memang selalu unggul dibandingka dengan para kandidat lainnya, lalu mereka yang telah mendukung calon tertentu dan berharap tidak Jokowi yang dideklarasikan, kemudian merasa kecewa, karena  calonnya  akan mudah tengelam, dan hampir tidak mempunyai harapan lagi. Nah, dengan munculnya Jokowi sebagai capres maka  mereka kemudian berusaha untuk memberikan kesan bahwa Jokowi adalah sosok yang tidak cocok sebagai pemimpin dan mengharapkan masyarakat tidak memilihnya.

Rupanya mereka  tidak menyadari bahwa masyarakat saat ini sudah cukup ceras untuk diarah arahkan kepada tokoh tertentu.  Masyarakat sudah cukup pandai untuk memilih  siapa yang akan menjadi presiden di tahun 2014 ini.  Memang seharusnya semua pihak bersikap  netral dan legowo  dengan semua dinamika yang terjadi, terutama  dalam dunia politik.  Tidak usah panik dengan munculnya  figur yang diperkirakan dapat mengalahkan calonnya.

Sesungguhnya untuk pemilu presiden dan wakil presiden masih jauh dan semuanya dapat terjadi.  Jokowi yang menurut survey diunggulkan, juga belum pasti bisa menjadi presiden, karena  semuanya belum terjadi, dan semua orang dapat berusaha untuk merebut hati rakyat.  Para calon presiden yang saat ini sudah ada dan didukung oleh partainya, juga harus percaya diri untuk menghadapi pemilu presiden tersebut, dan  tidak perlu membuat pernyataan yang justru akan dapat mengurangi simpati masyarakat kepadanya, termasuk para pendukungnya.

Khusus untuk Jokowi yang saat ini  menjadi pemberitaan besar sehubungan dengan dicapreskannya untuk pilpres mendatang,  juga  tidak boleh terlalu percaya diri sehingga lupa untuk menyampaikan program yang akan menyejahterakan rakyat.  Hasil survey memang mengunggulkannya, tetapi kalau silau dengan survey, bisa bisa justru akan menjadi bumerang pada dirinya.  Artinya justru dengan hasil survey tersebut seharusnya  Jokowi dan timnya harus lebih giat lagi dalam melakukan perbaikan  dan kerja.  Memang semua calon harus percaya diri, etapi terlalu percaya diri  justru akan dapat mebahayakan.

Biarlah  ada pihak pihak tertentu yang terus menyerang dengan berbagai sudut, termasuk serangan  ingkar janji, tidak konsisten, dan lainnya, tetapi kalau Jokowi tetap tegar dan  tetap bekerja sebagaimana biasanya, tentu masyarakat akan menilai dia sebagai seorang pekerja dan itu kiranya  yang saat ini dikehendaki oleh  sebagian besar masyarakat Indonesia.  Tentu masyarakat berharap banyak kepada tokoh yang bersih, mau bekerja sungguh sungguh untuk kepentingan rakyat, dan sama sekali tidak tersangkut dan terhubung dengan persoalan hukum utamanya persoalan korupsi.

 Kita juga tetap menghimbau bahwa para pendukung Jokowi tidak terlalu memproteksinya sedemikian rupa, seolah tidak boleh ada yang menyentuhnya atau tidak ada yang boleh mengkritiknya.  Justru dengan proteksi seperti itu akan menjatuhkan Jokowi sendiri, yang nantinya dianggap tidak dengan rakyat dan sebagainya.  Biarlah Jokowi berjalaqn apa adanya sebagaimana  yang sudah biasa ditunjukkannya sebelum ditetapkan sebagai capres.  Sedangkan bagi para pihak lain yang tidak mendukunnya, sebaiknya tetap dingin dan tenang, serta mempersiapkan jagonya untuk mendapatkan simpati masyarakat.

Kita menginginkan bahwa pemilihan pemimpin nasional tersebut akan berjalan mulus dan tidak terjadi kekerasan, pembohongan dan kecurangan.  Siapapun yang nantinya dipilih oleh rakyat, sudah seharusnya didukung bersama untuk membangun  bangsa.  Jangan sampai kepentingan masyarakat diabaikan dan lebih mementinkan kepentingan sendiri sendiri.  Hal tersebut harus dimulai semenjak saat ini, yakni  dengan tetap enciptakan suasana yang kondusif dan tidak  saling menyerang serta menjatuhkan lawan politik.

Sudah saatnya politik, kita jalani dengan santun, tidak  keras dan penuh dengan intrik dan fitnah.  Kita harus  menghentikan semua bentuk kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun ucapan. Jangan beranggapan bahwa ulah dan perilaku para politisi yang cenderung arogan tidak didengar dan dicatat oleh masyarakat.  Mereka semua telah muak dan bosan dengan segala perilaku yang tidak pantas, termasuk bersuara keras dan ngotot saat berbicara dan seolah lawan bicaranya tidak boleh ngomong.  Semua itu sungguh merupakan hal yang sangat tidak seharusya dilakukan oleh mereka yang dianggap sebagai pemimpin dan wakil rakyat.

Kritik kepada siapapun tentu tidak diharamkan, bahkan  dalam  sebuah  kesempatan menjaqdi kewajiban, termasuk kepada para pemimpin atau calon pemimpin, hanya saja kritik juga harus ada aturannya yang tetap santun dan diharapkan akan mampu mengubah yang dikritik dari hal yang tidak baik menjadi lebih baik.  Kalau kritik ditujukan untuk membunuh karakter seseorang itu sesunguhnya bukanlah kritik, kritik itu seharusnya ditujukan untuk sebuah perubahan menuju  kebaikan.  Artinya kalau ada kebijakan atau perbuaan  dari seorang pemimpin yang tidak berpihak  kepada kepentingan rakyat misalnya, kemudian dilakukan kritik agar kebijakan tersebut dibah  menjadi pro rakyat.

Apa yang terjadi saat ini, terutama setelah Jokowi  dideklarasikan oleh PDIP untuk menjadi calon presiden mendatang, sungguh sangat tidak elok untuk sebuah bangsa yang berbudi luhur.  Hujaman kritik yang tidak pantas disebut kritik, dan  lebih pantas disebut sebagai usaha “pembunuhan”, begitu terasa, dan juga merendahkan, bahkan  termasuk  mereka yang bersikap netral sekalipun.  Bahkan bisa jadi orang yang tadinyatidak simpatik dengan sosok okowi, malah justgru simpatik.  Tuduhan yang  sangat kejam, seperti tidak pantas menjadi presiden, lari dari tanggung jawab, membohongi rakyat dan lainnya, terus dilontarkan  oleh pihak yang berseberangan dengan Jokowi.

Kita menjadi bingung karena kalau disebut kritik mengapa baru dilontarkan  saat ini, yakni saat  Jokowi dideklarasikan sebagai calon presiden, dan bukan  masa yang lalu.  Kalau kemudian jawabannya ialah ya, karena dengan pencapresan tersebut, Jokowi otomatis akan meninggalkan  jabatannya sebagai gubernur yang baru setengah jalan, dan dengan demikian dia belum mewujudkan janjinya kepada masyarakat untuk menangani DKI sampai tuntas, dan seterusnya.  Mungkin jawaban  tersebut tampak beralasan dan benar,tetapi kalau ditelaah secara cermat, maka keberadaan Jokowi, kalau nanti benar benar menjadi presiden, justru akan lebih mudah untuk menangani Jakarta.

Justru kalau Jokowi menolak untuk menjadi capres, berati Jokowi bukanlah negarawan yang lebih mementingkan  daerah ketimbang  mementingkan Indonesia secara keseluruhan.  Ibaratnya Indonesia sedang membutuhkan Jokowi, dan  sudah seharusnya dia menyahutinya.  Hanya saja Jokowi memang tidak boleh  bergantung kepada partainya, terutama setelah nanti menjadi presiden.  Artinya  partai tidak bleh menyetir Jokowi untuk melakukan atau tidak melakukan hal hal yang tersangkut dengan persoalan partai.

Barangkali kritik yang saat ini bayak dilontarkan oleh paihak pihak tertentu, hanyalah bentuk kepanikan, karena takut yang luar biasa, bahwa Jokowi akan memenangkan plpres mendatang.  Setidaknya itu  terbaca dari berbagai hasil survey yang dilakukan. Saran  saya, janganlah bersikap pesimistis, tetapi tegarlah bahwa kesempatan masih sangat terbuka dan bersikaplah santun agar masyarakat bersimpati dan tidak malah lari.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.