KOMUNIKASI

Banyak muncul berbagai persoalan yang dihadapi  oleh orang hanya disebabkan oleh macetnya komunikasi, dan sebaliknya juga banyak persoalan yang  cepat cair disebabkan komunikasi.  Artinya komunikasi  ternyata memegang peranan sangat penting dalam hal apapun.  Munculnya prasangka atau  salah pengertian dan sejenisnya, pada awalnya hanya disebabkan oleh tidak lancarnya komunikasi, lalu  kalau tidak segera diatasi, akan dapat menjadi persoalan yang sangat besar dan sulit dipecahkan.  Mampetnya sebuah komunikasi terkadang juga akan dapat menyebabkan  terjadinya permusuhan dan antipasti yang tidak kunjung selesai.

Biasanya kemacetan komunikasi  disebabkan oleh gengsi yang terlalu besar, sehingga hanya untuk sekedar menyapa saja dianggap akan menurunkan gengsi.  Jadilah diantara pihak pihak yang ada tidak saling mengetahui secara pasti keinginan masing masing.  Nah, celakanya, kalau kemudian ada “pembisik” yang justru memanas manasi  dan membuat keruh suasana, dan masing masing sangat percaya kepada pembisik tersebut.  Akibat lebih jauhnya ialah akan terjadi mis komunikasi dan  saling curiga yang pada akhirnya  menjadi sebuah permusuhan.

Bahkan  diantara orang orang yang secara fiksik dekat saja terkadang menjadi sangat jauh, hanya karena tidak ada komunikasi yang dibangun.  Keretakan keluarga atau antara suami dan istri juga  dapat dipicu oleh tersendatnya komunikasi, dan terpengaruh oleh isyu yang berkembang di luar.  Bahkan kalau hal  seperti itu dibiarkan tanpa ada penyelesaian lewat bengunan komunikasi, akan dapat bubrah dan permusuhan yang berakhir dengan perceraian.

Untuk itulah dalam syariat Islam ditetapkan bahwa kalau diantara  suami dan istri terdapat persoalan, termasuk buntunya komunikasi, harus ada upaya untuk mengangkat penengah yang akan menghubungkan antara keduanya.  Seorang penengah atau yang dalam istilah aslinya disebut dengan hakam atau arbritator bertugas untuk menjadi komunikator, mencairkan suasana dan  saling memberikan informasi yang sesungguhnya, sehingga dengan begitu diharapkan keduanya akan dpat saling memahami dan mengerti, dan akhirnya dapat rukun kembali sebagimana diharapkan.

Andaikata kemudian antara suami isteri tersebut  masih saja tidak  dapat menyambung, walaupun sudah diupayakan oleh hakam tersebut, maka keputusan untuk bercerai akan diambil, tetapi dengan kesadaran dan pertimbangan yang masak dan didasarkan atas informasi dan data yang benar.  Dengan begitu meskipun pada akhirnya suami dan istri tersebut berpisah, tetapi silaturahmi akan tetap dapat dijalankan, karena komunikasi dapat dilaksanakan dengan baik.  Lebih lebih kalau perceraian tersebut masih menyisakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, seperti anak.

Demikian juga  dalam persoalan lainnya, seperti dalam organisasi,  tentu juga akan mengalami  hal serupa, jikalau kuminkasi tidak dijaga dan dibangun dengan baik.  Banyak anggota sebuah  organisasi, termasuk organisasi politik yang selalu ribut dan saling benturan, hanya disebabkan leh mis komunikasi, dan tentu kepentingan.  Memang semua orang dalam partai politik mempunyai kepentingan masing masing, tetapi biasanya kalau komunikasi jalan, persaingan sehebat apapun, masih dapat ditutupi dengan rasa solidaritas keorganisasian.  Tetapi ketika komunikasi macet, maka perang terbuka diantara sesama anggota sebuah parpol akan mengemuka dan semakin tajam.

Kita dapat menyaksikan beberapa oknum anggota partai politik yang justru saling membantai, dan tidak dapat dilerai oleh pimpnan organisasinya.  Kalaupun kemudian  dapat diredam untuk sementara demi kepentingan bersama yang lebih besar, tetapi tetap saja permusuhan tersebut akan terus berlanjut dan pada saatnya  akan meletus dan menjadi bom waktu yang tidak terelakkan.  Karena itu peran pimpinan organisasi tentu sangat vital dalam upaya  mengkomunikasikan diantara pihak pihak tersebut, sampai  masing masing menyadari kepentingan organisasi yang lebih besar.

Itulah letak pentingnya komunikasi tersebut, sehingga saat ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan sangat perlu diketahui oleh siapapun.  Persoalannnya ialah bagaimana komunikasi tersebut dapat dijalankan dengan baik.  Untuk persoalan ini sesungguhnya diperlukan sebuah tekat atau keinginan kuat yang dpadu dengan teori atau ilmu yang cukup, bahkan faktor pengalaman juga  sangat menentukan.  Namun sesungguhnya hal tersebut terkait juga dengan seni bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya dengan berbagai cara yang muaranya ialah membuat pihak lain tertarik untuk berkomunikasi dengannya.

Bentuk bentuk komunikasi yang sangat beragam juga  akan dapat dipilih untuk disesuaikan dengan kondisi.  Artinya ada beberapa hal yang tidak dapat dikomunikasikan  secara terbuka dan dalam sebuah forum misalnya, meskipun ada juga hal hal yang dapat dilakukan  dengan cara terbuka dan bersama dengan banyak orang.  Sebagai misalnya ialah bagaimana seorang pemimpin dalam sebuah organisasi ketika memberikan bekal atau pesan pesan yang terkait dengan organisasi atau tentang sikap dan kebijakan organisasintersebut agar seluruh anggota dapat menjalankan peran masing masing, tentu akan dilakukan secara terbuka dalam sebuah  rapat atau dalam sebuah even tertentu.

Namun kalau hal tersebut terkait dengan persoalan yang  tidak mungkin disampaikan secara terbuka, disebabkan sifatnya atau dalam upaya untuk memberikan pesan khusus kepada seseorang, tentu akan dlakukan  secara tersendiri.  Bahkan banyak hal yang hanya dapat disampaikan dalam sebuah acara makan secara santai dan dalam suasana tidak formal,  sehingga  diharapkan maksud yang akan disampaikan dan dikomunikasikan tersebut justru akan dapat tersalurkan dengan.  Terkadang cara tersebut justru malah dapat melahirkan sebuah hasil yang sangat besar.

Demikian juga sebuah kritik membangun yang disampaikan kepada seorang pimpinan misalnya, tentu tidak akan efektif dan  mengena kelau disampaikan dalam sebuah forum besar dan massal.  Bahkan terkadang malah salah paham dan  memantik antipati yang sangat keras.  Kritik seperti itu hanya akan mempan jika dilakukan dalam suasana santai dan dalam pembicaraan yang tidak terlalu serius, tetapi tetap harus dengan bahasa komunikasi yang tidak sampai menyinggung hal hal yang sifatnya pribadi dan menjatuhkan.

Bagaimanapun kalau seorang pemimpin sebuah organisasi, apalagi organisasi besar, kemudian dikritik dihadapan umum seluruh anggota dengan kritika yang tajam dan menghujam, maka ia akan menjadi sangat tidak nyaman dan tentu akan memburuk hubungan selanjutnya dengan pengkritik tersebut.  Tetapi kalau kritik tersebut memang membangun dan disertai niat baik untuk membperbaiki kondisi,  seharusnya disampakan dalam waktu yang tepat dan dalam susana yang santai.  Hal ini terutama  jikalau terjadi dalam sebuah partai politik atau bahkan pemerintahan.

Walaupun sesunguhnya bagaimana pun pedasnya sebuah kritik itu harus diterima dengan hati dan pikiran dingin, sehingga akan dapat dievaluasi dengan benar, apakah kritik tersebut memang benar benar ingin memperbaiki kondisi atau justru sebaliknya hanya ingin merusak suasana saja dengan melontarkan sebuah “fitnah” yang sengaa dibuat.  Hanya saja pimpinan organisasi yang dapat bersikap dan menerima kritik di hadapan banyak orang seperti itu, rasanya hanya segelintir saja, dan selebihnya  tidak tahan kritik.

Karena itu harus diperhatikan masalah komunikasi tersebut.  Artinya kalau  komunikasi dapat djalankan dengan baik, termasuk cara yang ditempuh, maka  ibarat pepatah ikannya dapat dan iarnya tetap jernih dan tidak keruh.  Tujuan memberikan kritik untuk sebuah perubahan aka tercapai, tetapi tidak ada pihak manapun yang merasa tersingging.  Saya berharap  bahwa  masalah komunikasi yang tentu masih luas lagidari pada yang saya sampaikan  ini dapat disadari oleh semua orang sehingga, setiap masalah akan dapat diselesaikan dengan mulus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.