PARA CALEG RAMAI RAMAI KE KUBURAN

Satu bulan lebih sedikit lagi pesta demokrasi bakal digelar untuk menentukan siapa yang akan menduduki kursi yang saat ini sangat diidam idamkan oleh para calon anggota legislatif, sebagai wakil rakyat.  Karena itu setelah mereka  membuat dan memasang alat peraga yang berupa gambar masing masing dengan diberikan ajakan untuk memilih kepada mereka, saat ini mereka sudah sibuk dengan ritual masing masing.  Setidaknya  banyak diantara para calon yang tidak mencukupkan diri dengan memasang alat eraga dan berkampanye pada saatnya, tetapi mereka juga melakukan ritual lainnya yang dapat memantapkan dirinya untuk memenangkan pencalonan.

Ritual yang dilakukan memang ada yang rasional, tetapi ada juga yang dapat dilihat sepintas tidak rasional, seperti pergi ke dukun tertentu untuk meminta berkah atau meminta berkah kepada  tokoh masa lalu yang sudah meningal dengan cara mendatangi kuburannya dan sekaligus berdoa di sana.  Memang berziarah kubur dalam Islam  tidak dilarang, meskipun ernah dilarang oleh Nabi pada awal Islam, karena dikhawatirkan  umat Islam akan terpengaruh oleh memori Jahiliyyah mereka, sehingga mereka akan memuja  kuburan dan sejenisnya.

Namun setelah umat Islam dirasa sudah cukup kuat imannya dan tidak dikhawatirkan lagi akan kembali kepada kebiasaan Jahiliyyah, maka Nabi Muhammad saw kemudian memperbolehkannya, karena  ziarah kubur itu akan dapat membuat elakunya menyadari kehidupan akhirat.  Artinya dengan berziarah kubur tersebut seseorang akan teringat kepada kematian, yang  dengan itu diharapkan   akan menjadi lebih baik  untuk mempersiapkan kematian tersebut.

Nah dengan mengingat  sejarah perziarahan kubur tersebut, tentu kita dapat memberikan penilaian secara dhahir bahwa  perbuatan para caleg berziarah ke beberapa kuburan yang dianggap keramat tersebut, dan dilaksanakan menjelang pemilihan umum,  ada niat tertentu yang buan semata mata ziarah kubur sebagaimana dilakukan  umat umat Islam pada awalnya.  Artinya berziarah kubur yang biasa dilakukan oleh umat ialah dengan berdoa  kepada Tuhan dan mendoakan  mereka yang sudah menngal agar diterima amal baiknya dan diampuni segala dosanya.

Tetapi sebagaimana diakui sendiri oleh beberapa caleg yang berzsiarah kubur ialah dalam rangka untuk memohon restu kepada para wali keramat tersebut agar niatnya untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif da atau menjadi bupati, gubernur  dan pejabat lainnya terkabulkan dan menjadi kenyataan.  Kalau sudah seperti itu tentunya sudah salah arah dan  dapat digolongkan sebagai orang yang tdak percaya kepada dirinya sendiri.  Kesimpulannya ialah kalau dengan kemampuan dirinya sendiri saja tidak percaya,  bagaimana kalau kemudian mereka menjadi wakil rakyat?

Tentu masih banyak pertanyaan lainnya yang sangat substansial dan mendasar, terutama  saat mereka nantinya  duduk sebagai wakil rakyat yang harus memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat.  Jangan jangan kebanyakan diantara mereka yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif hanya ingin mendapatkan kedudukan yang  enak dan  ada kesempatan untuk mengemplang uang negara atau uang rakyat, sebagaimana yang sudah terjadi  saat ini.

Mungkin mereka saat berkampanye sangat banyak janji yang akan dilakukan  ketika telah menjadi  anggota dewan, mulai dari memikirkan dan membangun sarana infra struktur, hingga kesejahteraan lainnya, tetapi  pada saatnya justru mereka malah menghindar dari rakyat.  Jangankan memikirkan kepentingan rakyat, hanya untuk menghadiri rapat saja mereka sudah bermalas malasan, dan hanya kalau ada pembagian kue saja mereka berebut.

Saya teringat betul dengan perumpamaan yang disampaikan oleh seorang kiai mengenai kondisi dan kelakuan para anggota dewan kita, yakni  bahwa mereka itu berbeda dengan pil KB.  Tentu kalau tidak dijelaskan akan menimbulkan pertanyaan besar, yakni apa hubungannya antara para calon legislatif dengan pil KB.  Namun setelah dijelaskan semuanya akan memahaminya dengan cukup jelas. Penjelasannya ialah bahwa para calon legislatif kalau JADI mereka LUPA, tetapi kalau pil KB kalau LUPA justru akan JADI.  Artinya setelah menjadi anggota legislatif mereka luopa dengan janjinya saat kampanye, dan kalau seseorang memakai alat kontrasepsi pil kalau lupatidak meminumnya  akan  jadi anak.

Nah kembali kepada persoalan para caleg yang ramai ramai mendatangi makam yang diangap keramat, kita tentu harus hati hati dalam menilai mereka, sebab  diantara mereka memang ada yang sudah terbiasa dengan ziarah tersebut, sehingga meskipun saat ini sedang menghadapi pemilu, mereka masih tetap melaksanakan  kagiatan ziarah kubur, dan bagi mereka itu, kita justru patut memberikan apresiasi.  Maksudnya ialah  ketika nanti mereka  menjadi wakil rakyat diharapkan mereka masih tetap mau ziarah kubur dan mengingat kemaian.  Dengan begitu mereka tentu tidak akan berbuat yang aneh aneh dan dapat menyengsarakan dirinya  saat mati nanti.

Tetapi kalau  ziarah yang dilakukan tersebut hanya semata mata untuk meminta restu dan doa kepada para orang hebat yang sudah meninggal tersebut, dengan indikasi mereka berziarah hanya saat menjelang pemilu saja, tentu justru kita  harus prihatin, karena oranag seperti itu biasanya akan mampu melakukan apapun termasuk yang melanggar dan melawan aturan, demi  mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Beberapa cerita yang disampaikan oleh  banyak orang, termasuk para sopir taksi yang mengantarkan  para caleg ke beberapa kuburan keramat, sungguh meang menggugah  kita untuk  berbuat sesuatu.  Artinya dalam kenyataannya banyak diantara mereka, bahkan hampir seluruhnya adalah yang datang dengan tujuan tertentu dalam jangka pendek, yakni  memohon restu dan doa kepada kuburan keramat tersebut, atau setidaknya kepada penghuni kuburan tersebut agar niatnya untuk menjadi wakil rakyat tercapai.

Itulah gambaran kebanyakan para calon anggota legislatif kita, baik di tingkat pusat maupun daerah.  Lantas pertanyaannya ialah apa yang dapat diharapkan dari mereka?  Akankah penantian panjang masyarakat untuk menyaksikan  kondisi negara  Indonesia yang  baik akan berlanjut?  Bukankah kita sudah  sangat ingin mendapatkan  kondisi yang lebih baik dengan semakin cerdasnya masyarakat kita dalam menentukan pilihan?.  Lantas kalau yang akan dipilih tidak ada yang bagus, bagaimana akan mendapatkan  hasil yang bagus.

Tetapi semua itu hanyalah ngambaran umum semata yang belum tentu semua caleg seperti itu.  Kita harus yakin bahwa diantara sekian banyak caleg yang ada, tentu ada sebagiannya yang baik dan tulus untuk menjadi wakil rakyat yang akan memperjuangkan kepentingan rakyat.  Karena itu kecermatan dalam mengetahui rekam jejak mereka sangat diperlukan, tidak hanya sekedar pada saat kampanye atau  mendekati pemilu saat ini saja melainkan juga sejarah panjang hidupnya.

Mungkin akan sulit bagi masyarakat untuk memberikan penilaian semacam itu, tetapi setidaknya kita dapat memilih yang memang benar benar kita  kenal sepak terjangnya yang cukup baik dimasyarakat.  Sementara itu yang sama sekali belum kita kenal, janganlah berspekulasi, karena  pilihan tersebut akan menentukan masa depan kita sendiri dan bangsa ini ke depan.  Kita semua tentu sudah sepakat untuk memulai  hal baru yang lebih baik ketimbang masa sebelumnya.  Semoga melalui para wakil rakyat yang baik,  bersikap rasional dan benar benar berpihak pada kepentingan rakyat, harapan kita semua akan erwujud. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.