KISRUH PENERIMAAN CPNS

Ternyata  menjadi seorang PNS masih sangat dirindukan oleh kebanyakan orang Indonesia, karena  pengertian lama masih saja melekat dalam benak  masyarakat, yakni mendapatkan gaji tetap dan setelah purna tugas akan mendapatkan pensiun.  Sementara kerjanya  cukup santai  serta sangat mudah untuk mengelabuhi atasan dan lain sebagainya.  Karena itu saat ada  penerimaan CPNS, sangat banyak masyarakat yang antusias mengikutinya, walaupun harus berjibaku dan bersaing dengan beribu bahkan puluhan ribu lainnya.

Lebih jauh lagi banyak orang rela untuk mengabdikan diri menjadi tenaga honorer dengan gaji yang sangat minim dan  bahkan ada yang tidfak manusiawi, hanya  untuk berharap dapat menjadi PNS.  Nah, sehubungan dengan banyaknya tenaga honorer tersebut, kemudian pemrintah mengelompokkan mereka ke dalam 2 kelompok yakni mereka yang   dibayar dengan uang APBN dimasukkan ke dalam  K1, sedangkan  mereka yang dibayar dengan  selain APBN dimasukkan  dalam K2.

Pada kenyataannya  hal tersebut tidak menyelesaikan persoalan, karena  mereka yang masuk dalam K1, pada gilirannya  terus dikurangi dan bahkan  tidak sedikit yang kemudian hilang berkasnya, meskipun sudah pernah diumumkan dalam situs atau web resmi pemerintah.  Memang mereka yang masuk dalam daftar honorer sangatlah lemah.  Artinya  mereka yang sebelumnya masuk dalam K1  dan setelah itu hilang, ternyata tidak dapat menemukan kembali berkasnya, meskipun sudah diurus sampai ke kementerian PAN RB dan pihak terkait.

Kita tidak berburuk sangka kepada pihak manapun, tetapi dalam kenyataannya, ada beberapa nama yang tadinya sudah masuk K1, kemudian lenyap begitu saja  bak ditelan bumi.  Sebaliknya ada nama  barru, terutama yang menghuni K2 yang sebelumnya tidak pernah muncul.  Rupanya  di situ ada mafia untuk memalsukan beberapa dopkumen, sehingga beberapa pihak dapat masuk dalam daftar K2, meskipun sesungguhnya tdaik memenuhi syarat.  Namun protes yang dilakukan oleh beberapa pihak yang lemah tersebut, tidak mendapatkan tanggapan semestinya, sehingga  sampai saatnya tes CPNS K2 dilaksanakan tetap mulus.

Hanya saja saat ini telah dilakukan upaya untuk menelusuri beberapa  nama mencurigakan, tetapi  justru malah dapat mengikuti ujian CPNS dan saat ini sudah diumumkan  masuk  dan diterima sebagai CPNS.  Hasilnya sangat fantastis, karena  cukup banyak  para calon yang tidak memenuhi syarat dan tetap lolos, dan akhirnya diterima sebagai CPNS.  Nah, penemuan ini harus ditindak lanjuti secara serius oleh pihak yang berkepentingan, serta diusut sampai tuntas, dimana letak kesalahannya.  Apakah memang sengaja ada pihak yang memalsukan dokumen atau tidak.

Kita tahu bahwa mereka yang telah dideteksi tersebut memang  tidak memenuhi persyaratan, terutama dalam hal pengabdian mereka di instansi pemerintah.   Secara riil banyak dinatara mereka yang baru mengabdi 2 tahun dan juga 3 tahun, padahal persyaratan untuk dapat masuk kategori K2 haruslah sudah mengabdi minimal 5 tahun.  Menurut saya ini sangat penting untuk diusut sampai tuntas agar ke depannya tidak ada lagi pihak yang bermain dalam pemalsuan dokumen dan juga merugikan pihak lain.

Kisruh seputar penerimaan CPNS kali ini memang relative cukup terkendali, karena  ketegasan dari panitia serta pengawasan yang dilakuakn secara ketat oleh piahk terkait, termasuk kepala daerah yang turun langsung  ikut mengawasi jalannya  ujian K2.  Meskipun demikian bukan berarti tidak ada persoalan, karena  dugaan manipulative dan juga pemalsuan beberap dokumen pendukung sangat santer disuarakan oleh masyarakat dan juga LSM.  Jadi buykan berarti saat ini tidak terjadi persoalan, justru persoalannya  hingga saat ini masih sangat urgen utnuk dipersoalkan dan diusut, meskipun sulit.

Saya sendiri merasakan betapa  sulitnya masalah ini, karena ternyata ada  pegawai honorer K1 dari IAIN waliksongo sejumlah 7 orang yang semula sudah dianggap memenuhi persyaratan setelah dilakukan verifikasi dan telah diupload  di web resmi, tetapi kemudian dinyatakan tidak ada.  Bahkan masuk ke dalam K2 pun tidak.  Nah, dalam kondisi seperti itu kita sudah upayakan melacaknya hingga kementerian PAN RB dan pihak pihak terkait, tetapi tetap saja menemui jalan buntu.

Kita sangat berharap bahwa  dengan pengusutan atas beberapa K2 yang nongol kemudian dan kemudian malah diterima sebagai CPNS, akan tuntas dan diketahui siapa yang bermain serta dikembalikan hak hak mereka yang masuk dalam K1 untuk langsung pemberkasan sebagaimana informasi semula.

Ada memang jalan keluar yang disampaikan agar para honorer yang tidak diterima atau yang hilang berkasnya, untuk ditampung sebagai pegawai kontrak dan sejenisnya.  Kalau solusi seperti itu tidak perlu dihimbau, karena sesungguhnya mereka itu sudah  berstatus sebagai pegawai kontrak yang honornya sangat minim.  Menurut saya  pemerintah harus mencarikan solusi terbaik bagi mereka, karena mereka sudah  begitu lama mengabdi kepada  Negara melalui peran masing masing dan pemerintah selama ini hanya memberikan gaji yang sangat minim dan cenderung tidak masuk akal.

Persoalan bangsa ini  sudah cukup banyak, sementara para pemimpinnya, baik yang dieksekutif, legislative dan juga yudikatif, masih banyak oknum yang  tidak mempedulikan masyarakat umum seperti para honoreer tersebut, justru malahan asyik dengan urusan diri mereka sendiri, termasuk dalam hal memperkaya  diri dan golongan.  Nah, karena itu sudah saatnya  pemerintah memikirkan persoalan ini secara serius dan mencarikan jalan keluar yang memuaskan semua pihak.  Mereka hanya menunut satu, yakni diangkat menjadi PNS setelah sekian lama mengabdi.

Kita tentunya dapat memahami kondisi Negara yang tidak memunghkinkan untuk mengangkat mereka secara keseluruhan, melainkan harus secara bertahap.  Sementara kebutuhan mendesak dari berbagai instansi pemerintah  mengharuskan merekrut tenaga yang masih fres dan mempunyai keahlian tertentu yang tidak dipunyai ol;eh para honorer tersebut.  Untuk itu solusi bijaknya ialah harus ada kebijakan yang memungkinkan semua pihak dapat menerimanya, yakni pemerintah harus memprogramkan untuk mengangkat para honorer tersebut secara berangsur sesuai dengan  tingkat pengabdian mereka.

Sedangkan kebutuhan untuk tenaga fress tersebut harus tetap dialokasikan juga, sehingga dalam penerimaan pegawai negeri setiap tahunnya ada yang  pengangkatan tenaga honorer dan ada yang rekrutmen baru sesuai dengan kebutuhan dan keahlian.  Dengan solusi seperti itu para tenaga honorer yang sampai saat ini belum diterima sebagai PNS tetap ada harapan untuk diangkat menjadi PNS, meskipun harus antri sesuai dengan tingkat pengabdian yang mereka telah lakukan.

Demikian juga dengan solusi tersebut, kita juga tidak akan diributkan dengan persoalan honorer yang terus  muncul.  Biarlah salah satu persoalan bangsa dan berskala nasional tersebut dapat diatasi, dan kemudian dapat berkonsentrasi menangani persoalan bangsa lainnya yang masih cukup banyak.  Berbagai persoalan yang menjadi PR bagi pemimpin  ke depan ialah persoalan pendidikan yang masih belum merata, meskipun  biayanya cukup tinggi, persoalan penegakan hokum dan moralitas para pemimpin di negeri ini. Belum lagi persoalan kemiskinan di masyarakat perdesaan  yang  belum tuntas, walaupun laporannya  sangat manis untuk didengarkan.

Semua itu menghendaki uluran tangan kita untuk menyentuhnya dengan sentuhan kasih  dan sayang, bukan sentuhan tangan besi.  Kita berharap bahwa  pemerintah saat ini dapat menyelesaikan persoalan honorer, walaupun  dalam hal solusinya saja, dan berharap pemerintah  ke depan akan mampu menyelesaikan persoalan lainnya, sehingga bangsa ini akan mampu merasakan betapa indah dan manisnya  hidup dengan damai dan sejahtera.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.