MENELADANI DAKWAH WALISONGO

Dinamika dakwah pada saat ini ternyata cukup memberikan keprihatinan bagi para pendakwah yang memang benar benar ingin meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, dari sisi substansi dan bukan dari sesuatu yang kulit.  Artinya saat ini  banyak dai yang justru hanya  ingin menjadi sosok yang sesungguhnya jauh dari Rasul dalam arti substansi, meskipun  sangat mungkin  bentuk fisiknya ingin  seperti Rasul, yakni dengan berpakaian ala Arab, berjubah, memakai surban dan sekaligus memelihara jenggota hingga sangat panjang.

Sebagaimana kita tahu bahwa Rasul memang dilahirkan di tanah Arab, dan karena itu beliau tentu akan mengikuti tradisi Arab dan memang dalam kenyataannya Rasul tidak membawa  pakaian khusus yang kemudian diperintahka kepada seluruh umatnya untuk mengikuti jejak belau dalam hal berpakaian.  Rasul ingin bahwa kehadirannya  sebagai Rasul masih tetap menghargai dan menghormati cara dan tradisi yang sudah ada dan tidak menghadirkan cara berpakaian yang lain.  Karena itu dakwah Rasul dalam waktu yang sangat singkat dapat sukses mengubah peradaban yang demikian hebat dan luar biasa.

Hal tersebut disebabkan ajaran yang dibawa oleh Rasul sungguh sangat sesuai dengan kemanusiaan, yakni menghormati dan menghargai martabat manusia dan sekaligus mengajak untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan umat manusia.  Ajaran beliau juga sangat rasional, karena  kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan tidak akan dapat menyelesaikan berbagai problem,  dan hanya di akhiratlah nanti manusia akan mendapatkan  keadilan yang sesungguhnya.  Nah, karena ajaran syariat Islam tersebut sangat cocok dan dibutuhkan leh manusia, maka  tanpa harus memaksa, banyak manusia yang menyadari kebenaran ajaran Islam dan akhirnya mereka masuk ke dalamnya.

Nah, para wali, yakni wali songo yang menyebarkan Islam di Jawa juga meneladani jejak Rasul dan tidak melakukan sesuatu yang justru  menyebabkan masyarakat menjadi takut dan lari.  Mereka justru tetap menghargai tradisi yang sudah ada dan dianut oleh masyarakat.  Hanya saja  para wali tersebut justru memerankan diri mereka sebagai teladan dalam erbagai hal, terutama  dalam kehidupan berbaur dengan masyarakat dan  menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat secara umum, termasuk problem sakit dan lainna.

Dengan  peran yang demikiantanpa harus mengajak secara keras kepada masyarakat untuk masuk Islam, masyarakatp dengan sendirinya akan tertarik dan kemudian berkeinginan untuk ikut  dalam Islam.  Para wali tersebut menunjukkan ajaran Islam yang sangat santun, damai, dan memberikan harapan yang  pasti atas segala perbuatan manusia  di dunia.  Tentu untuk pertama kalinya bukan perintah perintah yang disampaikan, melainkan justru akhlak dan budi pekerti baik yang  dikedepankan, sehingga masyarakat kemudian menjadi terterik.  Nah, setelah itu barulah secara sedikit demi sedikit mereka diajari untuk melakukan berbagai perintah Tuhan kepada manusia.

Kita tahu  misalnya betapa kanjeng Sunan Bonang melakukan tradisi slametan yang bentuknya mirip dengan tradisi yang dahulunya dilakukan oleh masyarakat Jawa pra Islam, hanya saja kemudian slametan tersebut didesain untuk menandingi  hal serupa yang dilakukan oleh para penggede sebelumnya yang justru merugikan masyarakat.  Sebelum slametan ala sunan Bonang diadakan, telah dilakukan semacam selamatan dengan membuat lingkaran yang dikelilingi oleh laki laki dan perempuan, dan makanan yang ada ditengah justru terdiri atas manusia yang disembelih untuk persembahan dan setelah itu mereka melampiaskan nafsu syahwat mereka dan seterusnya.

Nah, selamatan ala sunan Bonang justru sangat menarik masyarakat untuk megikutinya, karena  makanan yang disediakan ditengah lingkaran tersebut makanan sehari hari dan yang mengitari adalah laki laki seluruhnya, serta tidak ada manusia yang dikorbankan, melainkan makanan dan daging herwan yang diperbolehkan.  Tradisi yang dilakukan oleh sunan Bonang tersebut dengan cepat mendapatkan sambutan dari masyarakat dan menyebar hingga akhirnya selamatan yang model sebelumnya menjadi terdesak dan hilang dengan sendirinya.

Demikian uga dengan cara yang dilakukan oleh wali lainnya, semuanya tidak ada yang melakukan  dahwah dengan memberikan ancaman atas perbuatan yang dilakukan msayarakat selama ini, melainkan justru para wali tersebut mengajak kepada kebaikan yang manusrut tingkatan manusia awam  sangat  masuk akal dan sekaligus memberikan solusi atas berbagai persoalan yang ada.

Coba bandingkan dengan dakwah yang dilakukan oleh para dai saat ini yang hanya  pntar dalam ceramah tetapi tidak  pernah menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi masyarakat, karena mereka justru menjadi jauh dari umat, termasuk perilaku mereka yang sangat elitis dan tidak menyelesaikan  masalah.  Bahkan ada yang justru menipu masyarakat dengan kedok dakwah dan pengobatan, sehingga  hal tersebut hanya menyisakan problem yang lebih besar dalam berdakwah.

Banyak juga para dai yang justru membuat masyarakat menjadi lari dan  tidak peduli dengan  ajakan mereka, karena  para dai tersebut  malah menyalahkan dan mengancam masyarakat dengan mengatas namakan Tuhan.  Tentu masyarakat akan berlari menjauh dan tidak mendekat.  Mereka degan mudahnya menuduh syirik, atau sesat atas perbuatan masyarakat lainnya yang tidak sesuai dengan pengetahuan dan pandangan mereka.

Bahkan lebih tragis lagi ialah cara yang dulu pernah dilakukan oleh para wali dianggap sebagai sudah berlalu dan tidak perlu dimunculkan kembali, karena  zamannya sudah berbeda.  Ini tentu yang harus dicermati dan direnungkan.  Apakah cara yang  para dai saat ini lakukan  menjadi efektif, dan masyarakat menjadi lebih baik?.  Jawabannya  kita dapat melihatnya. Jangankan masyarakat lebih baik, para dainya saja mala menjadi materealistik serta memerankan diri mereka  sebagai makhluk rendah yang hanya bermuara kepada materi.

Tentu bukan seluruh dai saat ini merupakan dai yang materialistik, melainkan  banyak diantara mereka, terutama yang hanya bercokol di televisi dan tidak mau menceburkan diri pada kehidupan masyarakat yang belum mendapatkan  informasi  Islam secara lebih baik dan jernih.  Kita memang tidak dapat menyalahkan  mereka yang berdakwah hanya kepada  orang yang sudah beriman semata, karena  masih ada fungsi mengingatkan, tetapi kita sangat megharapkan bahwa ada sebagian masyarakat yang mau menjadi dai di pedalaman masyarakat yang belum megenal Islam.

Amun demikian bukan berarti dakwah untuk mengislamkan masyarakat dengan cara paksa atau hanya secara formal saja, melainkan  dilakukan dengan cara para wali saat menyebarkan Islam di tanah Jawa dahulu, yakni dengan menjadikan dirinya sebagai teladan di tengah tengah masyarakat, serta dapat menjadi solusi atas berbagai problem umat.  Dengan peran seperti itu tentu keberadaan mereka tersebut akan menjadi penyejuk dan penyelesai masalah dan bukan malah membuat masalah baru bagi masyarakat.

Dakwah itu megajak dengan cara yang  bijak dan menarik, bukan dengan memrintahkan masyarakat untuk melakukan sesuatu yang baik dan mengancam mereka  apabila tidak melakukan hal baik tersebut.  Artinya kalau masyarakat yang diajak untuk berbuat baik tersebut belum mau, seharusnya harus dlakukan dengan cara yang lebih baik dan sama sekali tidak menyinggung perasaan mereka.  Para dai harus terus  bersikap bjak dan sayang kepada seluruh masyarakat, sehingga pada saatnya  tidak ada agi masyarakat yang tidak  segan kepada mereka.  Pada saat itulah fungsi dakwah menjadi efektif.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.