LAQAD KHALAQNAL INSANA FI AHSANI TAQWIM

Terkadang diantara kita ada yang tidak merasa bersyukur bahwa Tuhan menciptakan  manusia, yakni kita ini dengan sebaik baik kejadian, sehingga masih banyak diantara kita yang justru melakukan hal sebaliknya, yakni menggerutu atau bahkan menggugat Tuhan.  Pada umumnya manusia  hanya  menuntut sebuah harapan bagus, tetapi tidak pernah memikirkan bahwa sesungguhnya  sudah terlalu banyak kebaikan yang telah kita terima dari Tuhan, baik itu berupa nikmat kesehatan, nikmat harta, nikmat keluarga dan lainnya.

Kalau sedikit saja kita mau memikirkan betapa  diantara makhluk Tuhan yang berada di dunia ini, hanya manusialah yang diberikan  kelebihan dibandingkan lainnya, tentu kita akan  menjadi  manusia yang  selalu bersyukur dan tidak akan pernah mengumpat kepada Tuhan dan juga makhluk lainnya.  Manusia  dijadikan oleh Tuhan sebagai  makhluk paling baik dan sempurna.  Bentuknya melebihi makhluk lainnya, baik itu binatang, tetumbuhan, maupun alam semesata.  Sedangkan kelebihan lainnya ialah bahwa hanya manusialah yang diberikan akal oleh Tuhan, sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana  yang jelek.

Dengan  akal yang diberikan oleh Tuhan tersebut, manusia dapat melakukan apapun yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya.  Hanya saja  ada sebagian manusia yang tidak mau mengunakan akalnya untuk menyelamatkan dirinya dari  kemungkinan terburuk yang akan menimpanya.  Sehingga dengan demikian   masih cukup banyak manusia yang sengasara karena akibat perbuatannya sendiri, padahal  di dunia ini semuanya dapat diketahui dan diprediksi.

Kebaikan Tuhan kepada manusia juga bukan hanya memberikan akal saja, melainkan juga sekaligus memberikan  petunjuk mengenai hal hal baik yang kalau dilakukan oleh manusia, maka ia akan  memperoleh kesejahteraan, baik saat  hidup di dnia maupun pada saatnya nanti di akhirat, dan juga memberitahgukan kepada manusia hal hal jelek yang akan mengakibatkan  kesengsaraan bagi manusia di dunia dan di akhirat.

Nah, dengan begitu manusia sesungguhnya  merupakan makhluk yang sangat disayangi oleh Tuhan.  Hanya saja manusia  itu sendiri terkadang tidak mau menerima anjuran baik yang telah Tuhan sampaikan.  Itulah manusia yang memang cenderung memilih kesengsaraan ketimbang kebahagiaan.  Justru dengan aklnya, manusia malahan memilih tantangan untuk mendapatka kesengsaraan dan bukannya lebih memilih menyelamatkan dirinya dari segala hal yang dapat mencederainya.

Kita dapat mencontohkan betapa masih ada manusia yang lebih memilih makanan atau minuman yang jelas jelas akan  menjadikan dirinya sakit dan menderita, ketimbang  mengkonsumsi makanann dan minuman yang menyehatkan.  Demikian  juga betapa  manusia justru lebih memilih jalan yang membahayakan dan dapat menyebabkan dirinya  tidak nyaman dan bahkan malahan  akan menjadikan dirinya  kenderita, seperti melakukan penipuan, mencuri, korupsi dan sejenisnya yang jelas jelas dilarang, baik leh ajaran agama maupun oleh hukum yang berlaku, ketimbang  memilih jalan yang baik dan  memberkan jaminan keselamatan dan kedamaian.  Dan begitu  masih banyak lagi kelakuan manusia yang tidak mau mempergunakan akalnya untuk kebaikan dirinya.

Sudah banyak pula kita saksikan betapa manusia kemudian menjadi menyesal setelah sebelumnya nekat melakukan hal hal terlarang.  Tetapi sesungguhnya manusia juga sudah tahu bahwa penyesalan sudah pasti datangnya di belakang dan  perjalanan waktu tidak akan  dapat berubah mundur, melainkan akan terus maju dan berlalu.

Kita memang tahu bahwa di dalam diri setiap manusia itu terkandung dua potensi dan kecenderungan yang saling bertentangan, yakni potensi dan kecenderungan untuk berbuat baik dan potensi dan kesecenderngan untuk berbuat jelek atau jahat.  Nah,  semuanya tergantung kepada manusianya sendiri untuk memanangkan potensi yang mana.  Kalau manusia mau menggunakan akal sehatnya, tentu ia akan memupuk subur potensi dan kecenderungan untuk berbuat baik, karena itulah yang akan memberikan kesejahteraan dan keamanan  pada dirinya.

Sebalikya kalau manusia  tidak mau menggunakan pertimbangan akal sehatnya, maka  kekuatan lain yakni iblis dan setanlah yang akan terus membimbingnya ke jalan yang sesat dan pada akhirnya potendi dan kecenderungan untuk melakukan kejahatanlah yang akan menguasai manusia.  Sedangkan akal sehatnya akan selalu tersisihkan dalam  pertimbangan apapun.  Celakanya manusia tidak mau dan tidak mampu bangkit dari keterpurukan dan tumpukan dosa dengan menggunakan akal  yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya.

Memang Tuhan telah menciptakan manusia  dengan bentuk yang paling baik dan paling mulia, dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya, namun  kita harus ingat bahwa kalau kemuliaan tersebut tidak mampu dijaga oleh manusia sendiri, maka  akan berbalik menjadi makhluk yang paling hina  dan paling jelek.  Semua itu tergantung dan berpulang kep[ada kamauan manusia  sendiri, apakah ingin tetap mulia dan bermartabat sebagai makhluk Tuhan, ataukah ingin menjadi makhluk yang rendah, bahkan lebih rendah dari makhluk Tuhan yang tidak berakal.

Tentu ukurannya ialah bagaimana manusia tersebut mampu menggunakan akalnya untuk melakukan hal hal positif dan memberikan manfaat bagi diri dan lingkungannya.  Dalam Bahasa agama, Tuhan sudah memberikan informasi sangat jelas, yakni mereka yang  mau percaya atau beriman kepada  Tuhan dan segala hal yang memang diwajibkan untuk diyakini keberadaan dan kebenarannya, seperti  keberadaan para malaikat Tuhan, para Nabi dan utusan Tuhan, dan juga tentang hari kebangkitan dan hari akhir yang menjadi tempat abadi manusia.

Tidak cukup hanya mempercayai Tuhan dan hari akhir serta hal hal yang diwajibkan untuk dipercaya, melainkan juga  mau melakukan perbuatan baik.  Nah, ukuran kebaikan yang dimaksud di sini tentunya  semua perbuatan yang diwajibkan oleh Tuhan dan Rasul serta  perbuatan yang dianjurkan, yakni seluruh perbuatan yang bernilai positif dan memberikan kebaikan kepada diri dan lingkungannya.  Dengan begitu ukuran berbuat bagik bukan diukur dari diri sendiri, melainkan  terstandar dengan jelas dan ukurannya bersifat umum.

Sementara itu bagi mereka yang menentang  syariat agama, sudah pasti akan  bernasib sebaliknya, yairtu akan menjadi manusia yang  hina, terutama nanti di akhirat.  Bahkan kalaupun manusia tersebut banyak melakukan kebaikan kepada sesame manusia, tetapi kalau  tidak mau mempercayai apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tentu akan  merugi di akhiratnya.

Hanya saja memang dalam pergaulan duniawi orang seperti itu masih dapat mulia dimata manusia lainnya, disebabkan kebaikannya tersebut.  Dalam kaitannya dengan persoalan ini tentu bukan semata mata pandangan dunia, melainkan juga  aspek keakhiratan sangat mempengaruhi.  Artinya kalau Tuhan sudah memberitahukan kepada manusia hal hal yang baik untuk dikerjakan dan akan membawanya kepada keberuntungan dan kesejahteraan, tentu manusia yang diberikan akal oleh Tuhan, akan mampu mempertimbangkannya sedemikian rupa sehingga tidak akan berani bermain untuk masa depannya, terutama di akhirat nanti.

Dengan demikian penggunaan akal pikiran pemberian Tuhan tersebut bukan semata mata  hanya untuk kesenangan duniawi, melainkan juga  diperuntukkan bagi kesenangannya di akhirat. Itu didasarkan atas kepercayaan bahwa alam akhirat adalah alam baka atau alam kelanggengan di mana manusia akan mengalaminya untuk selama lamanya.  Tentu tidak ada orang yang berani untuk  sengsara selama lamanya, kalau memang dapat diusahakan untuk kebahagiaan selamanya.  Itu semua terpulang kepada pertimbangan akal manusia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.