MAGHRIB DI MINANGKABAU

Sesungguhnya sudah terbiasa bagi saya maghrib ataupun Subuh dan waktu shalat lainnya di beberapa kota di Indonesia, disebabkan tugas dinas yang harus saya jalani.  Tetapi mengapa saya  harus menceritakan tentang Maghrib di Minangkabau kali ini.  Tentu  ada sebabnya dan merupakan pilihan saya untuk saya bagi dengan semua pembaca artikel ini.  Adalah merupakan hal  cukup biasa ketika menjelang Maghrib saya  menikmati acara televisi,terutama yang terkait dengan kegiatan keislaman.  Nah, pada saat saya  mencoba mencarinya, saya mendapatkan TV Padang yang kebetulan  menyiarkan  tausiah gubernur Sumatera Barat.

Memang sengaja saya mengikuti tausiah tersebut, meskipun setelah Magghrib rencananya  kami  para pimpinan PTAIN akan diterima dan dijamu makan malam oleh gubernur tersebut.  Tetapi menyimak  santapan rohani yang disampaikan saya menjadi  adem, walaupun dalil dalil yang disampaikan sesunguhnya sudah terbiasa disampaikan oleh orang lain atau ustadz lain.  Salah satu yang sitir adalah tentang keberadaan Nabi Muhammad saw yang sangat menghargai betapa pentingnya membina rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.

Soal materi ceramahnya sendiri menurut saya  biasa biasa saja namun  karena yang menyampaikan adalah seorang gubernur, maka  ceramah tersebut menjadiluar biasa.  Artinya kita semua memimpikan adanya para pimpinan wilayah, yakni para bupati, wali kota, dan juga gubernur, lebih lebih presiden dan pejabat tinggi lainnya yang dapat menyejukkan hati umat dengan siraman rohaninya, meskpun dilakukan sebulan sekali. Masyarakat kita sesungguhnya  sangat mudah di”rogoh” hatinya dan kemudian diajak berbuat baik dan membangun wilayahnya, asalkan dengan cara yang benar  dan tepat.

Memang tidak ada keterkaitan antara  pemimpin negara seperti Indonesia dengan persoalan pengajian,  apalagi secara legal formal juga tidak ada persyaratan bahwa seorang pemimpin harus dapat berceramah, akan tetapi kalau pemimpin dapat memberikan siraman rohani dan menyejukkan, tentu akan lebih luwes dalam memberikan  saran dan ajakan kepada masyarakatnya dalam hal keikut sertaan masyarakat dalam mensukseskan pembangunan.  Kita sangat yakin bahwa partisipasi seluruh masyarakat dalam membangun daerha  sangat dibutuhkan.

Dengan  membayangkan bahwa  seluruh atau sebagian besar pimpnan kita dapat ngaji sebagaimana gubernur Sumatera Barat, saya terus mengembarakan pikiran yang jauh sekali hingga tidak menyadari bahwa  waktu maghrib hampir habis.  Namun demikian tidaklah mengapa karena sudah saya niati untuk melakukan shalat jamak ta’khir.  Dalam pengembaraan pikiran saya tersebut, saya mengandaikan hal hal yang sesungguhnya sangat sulit terjadi di negeri kita, utamanya   terkait dengan  menjadikan negara kita sebagai negara yang adil, makmur, merata dan seluruh rakyat menjadi sejahtera.

Salah satu hal yang saya bayangkan ialah negeri kita  menjadi negeri yang aman, tentram, damai dan seluruh masyarakat tunduk dan taat terhadap seluruh peraturan yang ada, serta taat menjalankan ajaran agama masing masing.  Karena seluruh masyarakat taat aturan, maka  pihak aparat penegak hukum menjadi sangat ringan atau bahkan tidak ada persoalan yang harus dikerjakan.  KPK juga sangat mungkin dibubarkan seiring dengan tidak adannya orang yang melakukan korupsi di negeri ini.  Tetapi semua itu menjadi buyar seketika setalah saya menyentuh koran yang tergeletak di ssebelah saya dan mata saya menatap berita tentang korupsi, suap dan pencucian uang.

Begitulah pengembaraan pikiran saya secara garis besar dan ternyata hanya  beberapa menit saja, dan selanjutnya  sadar dengan sesadar sadarnya bahwa alam nyata sangatlah berbeda dengan alam khayalan.  Namun untuk kali ini saya tidak merasa menyesal dalam  berkhayal, karena khayalan saya dipicu oleh ceramah yang dilakukan oleh seorang gubernur yang sangat fasih membaca dalil dalil hadis dan juga al-Quran.  Kapankah kita dapat memiliki pemimpin seperti itu lebih bayak lagi?

Meskipun akhirnya saya tidak dapat bertemu secara langsung dengan gubernur, karena ternyata pada saat yang sama beliau sedang menjalankandinas di Bali, sehinga  acara ramah tamah dengan beliau diwakilkan kepada Asisten bidang SDM.  Tetapi tidak mengapa karena yang terpenting ialah bagaimana  gubernur mengagendakan untuk bertemu degan kami, pimpinan perguruan tinggi Islam negeri se Indonesia, yang kebetulan  bertepatan mengadakan pertemuan di Padang.

Kita juga tahu bahwa  tanah Minang merupakan tanah yang  identik dengan berbagai cerita, baik cerita sunguhan maupun cerita legenda.  Cerita hakikina antara lain mengenai seorang Hamka dan berbagai tokoh nasional lainnya yang berasal dari Padang atau Sumatera Barat dan sukses.  Salah satunya ialah Bung Hatta, sebagai seorang proklamator kita.  Sementara itu mengenai cerita legendanya tentu sangat banyak, dan sangat bagus untuk teladan dibalik cerita cerita tersebut.  Sebut saja misalnya cerita tentang Siti Nurbaya, cerita mengenai Malin Kundang dan lainnya.

Kita juga telah mengenal bahwa tanah minang tersebut hampir identik dengan Islam, disebabkan  hingga saat ini mayoritas masyarakatnya memeluk Islam sebagai agama dan keyakinan mereka. Sehingga tidak heran ketika maghrib tiba, suara adzan terdengar di mana mana.  Walaupu demikian kita sekaligus juga dapat cerita yang sama sekali lain, yang didasarkan atas adat setempat, terutama di daerah  Padang Pariaman, yakni tentang adat dalam meminang.  Biasanya  dalam masyarakat muslim, seorang laki lakilah yang meminang dan sekaligus nantinya memberikan mahar atau mas kawain, tetapi di Padang Pariaman, yang terjadi ialah sebaliknya, yakni pihak perempuanlah yang harus menyediakan mahar dan meminang pihak laki laki.

Hal paling tidak dapat kita lupakan ialah bagaimana orang  Minang sangatlah tekun dalam berusaha, terutama  terhadap makanan dengan masakan khas Padang, yang  tersebar di seluruh  nusantara.  Bahkan  di beberapa daerah justru menjadi  tujuan utama dalam  memanjakan lidah atau bahkan menjadi langganan para mahasiswa.  Masakan mereka sangat dikenal oleh semua orang dan bahkan sangat dirindukan.  Keberhasilan mereka itu diantaranya  dilakukan dengan mengumbar motto “kalau anda tidak puas beritahukan kepada kami, tetapi kalau anda puas beritahukan kepada yang lain”.

Pada akhirnya saya memang mengagumi orang Padang secara umum, karena keuletan mereka dalam berusaha, meskipun saya menyadari bahwa tidak semua orang Padang seperti itu.  Namun setidaknya secara umum  dikenal oleh masyarakat kita sebagai orang yang tahan uji dan ulet.  Kebanyakan mereka  akan merantau dalam megembangkan bisnis dan kreatifitas mereka, dan dalam hati mereka seolah mengatakan bahwa sebelum berhasil dalam usaha, mereka tidak akan balik ke kampung halaman.

Coba kalau mental seperti itu dimiliki oleh  masyarakat kita, terutama merka yang hingga saat ini masih mengandalkan cara tradisional dalam mengais rizki, tentu  mereka akan  makmur dan sejahtera.  Karena kita yakin bahwa siapapun yang mau berusaha dan tidak mudah menyerah, tentu  akan mendapatkan kesuksesan.  Dalam kaitannya dengan masalah ini orang Lamongan Jawa Timur telah membuktikannya dengan berjualan soto dan pecel lele dan sejenisnya yang saat ini juga sudah merambah ke seluruh nusantara.

Intinya keberadaan saya di Padang dan kebetulan pada saat maghrib tiba masih jeda dalam kegiatan dan sempat merenung dan mengkhayal tentang kehidupan yang lebih baik, bukan untuk saya pribadi, malahan untu masyarakat, tentu bukanlah hal yang stimewa.  Akan tetapi ada sedikit harapan ahwa masyarakat kita akan mendapatkan sedikit insprasi dari pengalaman saya tersebut, sehingga bermula dari mimpi tersebut diharapkan nantinya akan menjadi kenyataan. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.