KONTROVERSI HADIAH MOBIL UNTUK SHALAT

Saat ini kita diberikan informasi yang tidak biasa, yakni adanya seorang walikota di Bengkulu yang tergerak hatinya untuk  menjadikan wilayahnya sebagai wilayah yang baik dan  para warganya  rajin menjalankan ibadah shalat.  Tentu niat tersebut sangat bagus dan harus didukung oleh siapapun, utamanya  umat muslim.  Argumentasi yang disampaikan juga  cukup bagus, meskipun  masih diperlukan  penerapan yang tepat sehingga tidak akan menimbulkan kontroversi, seperti  saat ini.  Artinyanya bahwa niat untuk menjadikan wilayah  yang menjadi tangung jawabnya tersebut sebagai wilayah yang baik, masyarakatnya taat menjalankan ibadah dan  tercipta rasa aman dan damai.

Walikoa Bengkulu tersebut melihat bahwa untuk menggerakkan masyarakat agar rajin  ke masjid untuk menjalankan shalat, diperlukan iming iming hadiah agar mereka mau menghadiri jamaah di masjid.  Dia mengibaratkan bahwa  pada awalnya  memang dapat saja mereka melaksanakan shalat dengan niat untuk mendapatkan hadiah tersebut, tetapi lama kelamaan mereka akan terbiasa dengan shalat tersebut, meskipun nantinya hadiah tersebut sudah tidak ada lagi.  Dia menganalogkan dengan keberadaan dirinya sendiri bahwa  pada saat kecil dia akan diberikan hadiah oleh ayahnya jika rajin shalat dan mengaji.

Bahkan dia juga menjelaskan bahwa para sahabat Rasul suka sekali megeluarkan uang untuk besedekah, Nah dia  juga  berniat untuk sedekah tetapi dengan cara  diberika kepada orang yang memenuhi persyaratan dalam menjalankan shalat berjamaah sebagaimana yang telah dia luncurkan.  Rupanya niat baik saja ternyata tidak cukup, karena  kalau niat tersebut diterapkan dalam  persoalan ibadah seperti shalat, tentu akan ada resiko tertentu pula.

Artinya kalau ada seseorang  mempunyai harta lebih dan berniat untuk mensedekahkan kepada masyarakat, terutama mereka yang miskin, tentu hal tersebut merupakan perbuatan bagus dan  harus didukung, karena itu adalah anjuran ajaran agama.  Tetapi kalau kemudian  harta tersebut digunakan untuk memberikan hadiah kepada  siapun yang menjalankan shalat jamaah 42 kali setiap hari Rabu dan atau 52 kali setiap rabu, maka hal tersebut dapat membelokkan niat jamaah dari lillahi taala menjadi karena mobil atau karena umrah dan sebagainya.

Barangkali niat baik tersebut sangat perlu dicarikan cara agar keinginan untuk menjadikan  wilayah di Bengkulu tersebut menjadi labih bagus dan rakyatnya lebih taat dalam menjalankan ibdahnya.  Saat ini  pemberian hadiah untuk shalat tersebut sudah diluncurkan, tetapi menuai protes dari beberapa ulama dan warga Bengkul sendir, apalagi ternyata  hadiah tersebut diambilkan dari  APBD, hal tersebut disebabkan oleh adanya kemungkinan pembelokan arah niat dalam menjalankan ibadah shalat.  Tentu kalau pemberian hadiah tersebut untuk anak kecil dalam upaya  membiasakan dan pembentukan karakter agar terbiasa menjalankan ibadah, dapat ditolerir, karena  hal tersebut dapat dimasukkan dalam kategori edukasi.  Itupun uangnya harus dari pribadi bukan uang  APBD.

Tetapi kalau hal tersebut diterapkan pada masyarakat secara luas, tentu kekhawatiran untuk berubahnya niat dalam menjalankan shalat.  Bahayanya lagi ialah kalau ada orang berniat shalat bukan karena Tuhan, tentu tidak dapat dibenarkan, bahkan dalam  ranah tertentu dapat dikatakan  mengandung kesyirikan.  Memang ada alasan yang disampaikan oleh wali kota bahwa  niatnya tersebut lebih banyak ditujukan untuk mereka yang saat ini belum menjalankan shalat agar mereka tergugah dalam menjalankan shalat.  Harapannya ialah bahwa masyarakat tersebut pada akhirnya akan niat menjalankan shalat, meskipun  nantinya hadiah mobil sudah tidak ada.

Hanya saja pertanyaannya, siapakah yang dapat menjamin bahwa  yang berniat mendapatkan hadiah mobil dan haji serta umrah tersebut hanya mereka yang sebelumnya  enggan menjalankan shalat?.  Dapatkah dijamin bahwa mereka yang  selama ini sudah menjalankan ibadah shalat kemudian sama sekali tidak ada perubahan niat dari lillahi taatla menjadi karena hadiah? Dan tentu masih banyak lagi pertanyaan mendasar yang terkait dengan persoalan ini.

Memang  walinkota Bengkulu sempat sinis dalam menanggapi kritik atas programnya yang aneh tersebut, yakni dengan menyatakan bahwa  kenapa masyarakat kok ribut ketika ada orang berkeingian untuk berbuat baik, sementara  ketika banyak masyarakat yang berbuat maksiat, masyarakat terdiam saja.  Pernyataan tersebut tidak salah dan kita mendukung perbuatan baik yang dilakukan oleh siapapun, tetapi kalau hanya baik niatnya  saja, tanpa dibarengai dengan cara yang baik pula  justru akan dapat menjerumuskan umat.

Coba kita dapat melihat bagaimana hari pertama kemarin saat diluncurkan program ini,  hamper seluruh pegawai di pemerintah kota Bengkulu berbondong bonding mendatangi masjid al-Taqwa yang memang ditunjuk untuk pelaksanaan shalat berhadiah tersebut.  Suasana umumnya sangat bagus, yakni  masyarakat memedati masjid pada saat shalat dhuhur, tetapi tidak demikian ketika  shalat Ashar.  Bahkan pada saat shalat dhuhur saja ada yang tersibukkan bukan untuk urusan shalat dan persiap[annya, melainkan justru sangat sibuk  mengisi bio data dan sibuk memfoto copy KTP untuk persyaratan mendapatkan hadiah.

Nah dilihat dari niat yang lahir saja  program ini sudah  menjadikan orang yang seharusnya konsentrasi untuk menjalankan shalat, malah sibuk ngurusi persyaratan  mendapatkan hadiah.  Tentu kalau diteruskan, jangan jangan nantgi shalat yang dijalankannya hanya shalat Dhuhur setiap hari Rabu saja, sedangkan  empat waktu shalat lainnya menjadi bolong.Memang hal paling merisaukan bagi kita ialah kalau kemudian program tersebut justru akan dapat membelokkan niat  mereka yang sebelumnya sudah rutin menjalankan shalat termasuk shalat dhuhur secara berjamaah dari  murni karena Tuhan menjadi karena hadiah.

Secara jujur dengan membludaknya jamaah pada hari Rabu siang, kita memang  merasa bangga, bahwa masyarakat muslim  menjalankan  kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan, tetapi setelah direnungkan, apalagi kalau kemudian kita bandingkan dengan selain  hari Rabu siang, kita menjadi  sangat prihatin.  Keprihatinan tersebut semakin muncul setelah  melihat kenyataan bahwa  ternyata masyarakat bukannya secara tulus menjalankan ibadah shalat, melainkan semata hanya ingin mendapatkan hadiah.

Praktek yang dianggap baik oleh wali kota Bengkulu tersebut harus segera dikaji ulang, dan majlis Ulama Indonesai harus segera  turun tangan sebelum  terjadi kemudlaratan yang lebih banyak, terutama  tentang  pembelokan niat menjalankan shalat  kepada  keinginan untuk mendapatkan hadiah.  Masih ada cara lain yang dianggap tetap mendidik dan tidak membebani APBD, seperti himbauan wali kota kepada seluruh pegawai yang muslim untuk melaksanakan jamaah shalat wajib, terutama  shalat dhuhur dan Asar, karena waktu tersebut para pegawai masih di kantor.

Kalau misalnya hibauan tersebut masih belum  mempan untuk menggerakkan  para pegawai untuk melaksanakan shalat,  tentu  ada cara lainnya seperti instruksi menjalankan shalat jamaah bagi para pegawai di lingkungan Pemda Bengkulu, terutama bagi pegawai yang muslim, dan hal tersebut kemudian  diikuti oleh sebuah penilaian dalam rangkaian kinerja.  Namun demikian  himbauan  melalui ceramah keagamaan  seminggu sekali dalam kesempatan setelah pelaksanaan shalat dhuhur misalnya untuk tetap menjaga ketulusan dalam beramal, sangat diperlukan.  Tujuannya agar  seluruh perbuatan yang dilakukan semata mata hanya untuk Tuhan dan bukan karena yang lainnya.

Kesimpulannya ialah bahwa  niat baik saja tidaklah cukup, tetapi harus diterapkan  dengan cara yang baik pula, karena niat baik kalau tidak disertai  cara yang baik, terkadang justru akan menyesatkan dan  menjerumuskan puhak lain.  Semoga  persoalan ini cepat selesai dan semua pihak mendapatkan kepuasan serta ridlo dari Tuhan.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.