PEDULI BANJIR

Sampai awal Pebruari ini hujan masih terus mengguyur bumi di beberapa daerah, bahkan boleh dikatakan merata di semua daerah, sehingga  bencana banjir menjadi semakin meluas.  Ada sebagian masyarakat kita yang sudah harus meninggalkan rumah mereka  selama dua pekan dan ada yang lebih, serta rumah mereka masih terendam.  Tentu kita tidak dapat membayangkan apa yang masih tersisa dari harta mereka, kecuali sesuatu yang dapat dibawa saat mengungsi.  Kita juga  masih  mengerti kalau kebanyakan masyarakat perdesaan kita jarang yang mengenal  tabungan dan bank, sehingga kondisi tersebut semakin menyuramkan  masa depan mereka.

Saat ini kita masih menyaksikan  ribuan pengungsi yang tidak dapat kembali ke rumah mereka, dan kehidupan  sehari hari mereka harus ditanggung oleh masyarakat lainnya melalui dapur umum yang setiap harinya menghabiskan berkwintal kwintal beras.  Sebagai contohnya ialah banjir yang terjadi di wilayah Kudus saja, di sana  dihidupkan dapur umum yang setiap harinya  harus memasak sekitar 7 kwintal beras, belum  lauk dan lainnya.  Kemudian kalau kemudian kita juga menengok beberapa daerah yang kena banjir di Jepara dan juga Pati, Grobogan dan lainnya, tentu akan dapat membayangkan betapa banyak masyarakat kita yang membutuhkan uluran tangan kita.

Artinya bagi kita yang kebetulan tidak terkena bencana banjir, tentu harus tersentuh nuani kita untuk membantu mereka sesuai dengan kemampuan dan juga kebutuhan mereka.   Cobalah kita sekali kali membayangkan bagaimana kalau yang terkena musibah tersebut adalah kita dan keluarga, lalu  bagaimana sikap kita dan nasib serta penderitaan kita.  Itulah yang kemudian  dapat membangkitkan  hasrat dan ghirah untuk berbagi kepada mereka.

Secara  pribadi maupun melalui lembaga dimana kita berada atau  yang memberikan kesempatan kepada kita untuk menyalurkan bantuan, haruslah kita  dukung untuk tergerak membantu dan berbagi.  Kalau semua lembaga, termasuk lembaga pendidikan dengan mengerahkan  siswa atau mahasiswa untuk pedui membantu, tentu akan  terkumpul sejumlah bantuan yang dapat membuat sedikit membantu  meringankan beban mereka.

Sebagai langkah kongkrit dan sekaligus sebagai sarana untuk memberikan motivasi dan keteladanan kepada  semua pihak, IAIN Walisongo Semarang merasa tergerak untuk memberikan bantuan kepada mereka yang terkena musibah banjir di ketiga wilayah terdekat dengan Semarang, yakni Jepara, Kudus, dan Pati.  Tentu bantuan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan, melainkan hanya sebagai bentuk kepedulian  terhadap musibah yang sedang terjadi.  Disamping itu IAIN Walisongo juga akan menerjunkan sejumlah mahasiswanya untuk ikut membantu meringankan penderitaan masyarakat di empat kejadian.

Semua itu dilakukan dalam upaya untuk memberikan bakti nyata kampus terhadap masyarakat, yang hakekatnya adalah merupakan  aplikasi dari salah satu tri dharma perguruan tingi, yakni dharma pengabdian masyarakat.  Harapannya tentu agar langkah nyata tersebut kemudian memberikan inspirasi bagi seluruh lembaga, terutama lembaga sejenis  untuk ikut serta memberikan bantuan melalui apapun yang dapat dilakukan.  Dengan begitu maksud dan tujuan  membantu mereka yang sedanag membutuhkan  secara substansial akan terwujud.

Bukankah kita  sanat hafal dengan anjuran  ajaran syariat agama kita, yakni melalui himbauan Nabi Muhammad saw, bahwa  sebaik baik manusia ialah mereka yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.  Nah,  perwujudan dari menjadi manusia yang paling memberikan manfaat tersebut saat ini sangat terbuka, yakni melalui membanu meringankan beban yang sedang dipikul oleh saudara  saudara kita yang terkena musibah banjir.

Masih secara  agamawi bahwa  membantu dan menolong pihak lain yang membutuhkan  apabila  dilakukan dengan penuh keikhlasan dan  semata mata karena Tuhan, tentu akan menghasilkan pahala yang banyak.  Setidaknya akan memperoleh balasan sepuluh kali lipat atau bahkan sampai tujuh puluh atau tuju ratus kali lipat dan bahkan bisa lebih, atau bahkan dapat sebakiknya bantuan tersebut akan musnah terbakar pahalanya, kalau dilakukan  dengan niat riyak atau pamer dan tujuan lainnya..  Semuanya tergantung kepada tujuan dan niat kita.

Dalam kondisi seperti ini kita tentu masih banyak dalil yang dapat memberikan motivasi untuk berbuat baik dan berharap mendapatkan balasan dari Tuhan semata, seperti  menjadikan sandaran  pada sebuah hadis Nabi yang berbunyi “tangan yang di atas itu lebih baik dan lebih disukai oleh Tuhan ketimbang tangan yang di bawah”.  Artinya bahwa orang yang memberi itu lebih baik dan disukai oleh Tuhan ketimbang mereka yang menerima.  Tetapi bukan berarti mereka yang menerima bantuan tersebut menjadi tidak baik, tetapi hal tersebut semata mata hanya untuk memberikan  dorongan kepada masyarakat secara mum agar mau mambantu mereka yang sedaqng  dan sangat membutuhkan.

Kembali lagi kepada ersoalan banjir tersebut bahwa kalau kita uga mengingat bahwa  masyarakat yang terkena musibah tersebut tidak saja mereka yang masih kuat dan muda, melainkan diantara mereka terdapat orang yang sudah renta, atau  juga ada diantara mereka yang masih bayi dan anak anak di bawah usia lima tahun, yang semuanya membutuhkan berbagai kelengkapan untuk sekedar  memberikan kenyamanan dan harapan  hidup yang sedikit lebih baik.

Karena itu dengan melihat latar belakangn dan kondisi yang demikian, kiranya kita dapat memberikan kesimpulan bahwa siapapun yang tidak tergerak hatinya  untuk memberikan bantuan setelah menyaksikan betapa menderitanya mereka,  adalah mereka yang hatinya sudah benar benar  keras bagaikan batu atau bahkan lebih keras lagi.  Kita selalu memohon kepada Tuhan agar kita tidak termasuk orang orang seperti itu serta  berharap agar Tuhan senantiasa menerangi pikiran dan hati kita untuk dapat menyaksikan betapa penderitaan orang lain, sehingga kita akan  tergerak dan  dengan antusias membantu mereka.

Kita tentunya juga dapat membayangkan bagaimana nasib mereka setalah banjir mereda dan mereka dapat kembali ke rumah masing masing.  Tentu sebagian mereka ada yang kehilangan segala galanya, termasuk rumah yang roboh atau setidaknya rusak berat serta perabitan yang dipunyai juga rusak dan hars diganti.  Nah, persoalan pasca banjir juga tidak kalah  tragisnya dengan bencana saat banjir itu sendiri.  Persoalannya ialah pada saat anjir kemungknan  akan ada pihaklain yang peduli da ikut memikirkan, tetapi setelah banjir mereda, tentu akan lebi sedikit mereka yang peduli, padahal kesulitan yang dihadapi justru lebih berat.

Untuk itulah kita juga harus memikirkan bagaimana kita dapat membantu mereka dalam mengatasi masalah pasca banjir tersebut.  Keperluan pokok makan dan sandang tentu menempati  urutan prioritas pertama yang kemudian disusul dengan pakaian, terutama pakaian anak anak sekolah dan juga buku buku yang tentunya hancur bersama dengan lumpur banjir yang menimpa mereka.  Justru yang terpenting kita lakukan ialah memberikan pencerahan kepada  mereka bahwa  masih ada harapan  bagi mereka untuk bangkit dan mendapatkan kesuksesan kembali.

Semangat dan  daya juang serta kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut sesungguhnya  jauh lebih penting ketimbang dari sekedar memberikan bantuan materi dan logistik yang hanya  sesaat dan akan habis pakai.  Untuk itulah kita berharap akan ada pihak pihak yang memberikan semua kepbutuhan tersebut, demi kelangsungan hidup mereka dan harapan  terhadap masa depan mereka, terutama anak anak yang saat ini menjadi korban keganasan banjir.  Semoga  mereka tetap bersemangat dan  mempunyai harapan untuk masa depan mereka.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.