SELAMAT UNTUK KEMENTERIAN AGAMA DAN KITA SEMUA

Tanggal 3 januari kemarin, genap sudah 68 tahun kemenrterian agama berdiri dan berki9prah dalam melayani kehidupan  Bergama masyarakat Indonesia.  Tentu banyak suka dan duka yang telah dialami selama itu, namun dengan keyakinan tinggi serta disukung oleh seluruh aparatur kementerian agama yang solid,  hingga saat ini kementerian yang mengurusi persoalan agama di negeir ini tetap eksis dan dibutuhkan kehadirannya.  Banyaknya konflik yang berlatar belakang agama dalam kurun waktu tertentu, menandatakan bahwa  masalah agama di negeri ini memang membutuhkan sentuhan tangan kemenenterian agama  yang santun dan ikhlas.

Artinya kalau selama ini persoalan tersebut sudah diupayakan dengan sangat bagus, saja masih ada potensi konflik yang muncul, apalagi kalau Negara kemudian membiarkannya sedemikian rupa, tentu akan semakin tidak terkendali dan bahkan sangat mungkin akan  berubah menjadi konflik terbuka yang akan merugikan kita semua.Sesungguhnya sudah cukup banyak peran yang telah dimainkan oleh kementerian  dengan satker terbesar ini, meskipun  seperti biasanya, semakin banyak peran yang dilakukan, maka akan semakin   banyak muncul kritik yang bermunculan.

Ibaratnya kalau kita sedang menkaji persoalan hadis Nabi yang diyakini benar benar dari nabi, meskipun tentu  ada sebagiannya yang tidak autentik.  Nah, ketika  kita  antusias dan menemukan  metode penelusuran serta  menetapkan prosedur penelitian hadis yang diharapkan akan mampu menyeleksi hadis hadis yang benar, maka akan semakin banyak pihak yang mengkritiknya sedemikian rupa.  Padahal kita  juga tahu bahwa  pada sisi lain ada riwayat yang bahkan tanpa sanad atau  persambungan penerimaan riwayat, tetapi dengan begitu saja diyakini sebagai benar.

Ambil contoh misalnya  beberapa pernyataan  filsafat yang disambungkan atau disandarkan kepada Plato atau Socrates yang kita tidak tahu benar tidaknya bahwa hal tersebut memang benar benar dari mereka, tetapi kita telah dibentuk untuk mempercayainya, tanpa ada kritik sedikitpun.  Demikian juga dengan kiotab suci  agam tertentu yang kita  tidak memperoleh riwayat yang otentik dari sumber pertamanya, tetapi kita semacam diwajibkan untuk mempercayainya.

Itulah kenyataan yang harus kita hadapi.  Untuk itu bagi kita warga besar kementerian agama RI, harus tetap percaya diri bahwa kita  dapat melakukan khidmah kepada bangsa ini melalui tugas dan fungsi kita masing masing.  Kita sangat percaya bahwa  negera dan masyarakat tetap membutuhkan kehdarian kita dan peran kita dalam memberikan pelayanan kepada user dalam bidang bidang yang memang menjadi  garapan kementerian agama.

Sebagaimana kita tahu bahwa bidang garapan kementerian agama sangat banyak, dan diantaranya yang sangat menonjol ialah:

  1. Bidang pendidikan agama dan keagamaan.  Bidang ini sungguh sangat amat mulia, karena  dari aspek sejarahnya, bangsa ini tidak dapat melepaskan diri dari pendidikan agama dan keagamaan tersebut, baik melalui sekolah formal maupun pondok pesantren dan  sejenisnya.  Demikian juga  dengan agama lain yang mempunyai variasi pendidikan keagamaan tersebut.  Dalam bidang ini, kementerian agam sungguh telah banyak bebuat untuk bangsa ini, karena  secara formal tyel;ah mengelola dan membina   pendidikan formal sejak Raudlatul athfal hingga perguruan tinggi.  Sedangkan untuk pendidikan non formal tidak terhitung jumlah lembaga pendidikan  yang dikelola  masyarakat dan dilindungi serta dibina oleh kementerian agama ini.  Bahkan saat ini para lulusannya telah memberikan pengabdian yang besar bagi bangsa ini, baik yang berada di pemeriintahan, legislative, maupun Yidikatif dan  lembaga serta instansi lainnya.

Nah, peran  kementerian agama dalam bidang ini sungguh telah membuat bangsa ini  tetap mampu mempertahankan diri sebagai bangsa yang majemuk dan akan terus menjaganya  sedemikian rupa serta menjauhkan dari konflik yang kemungkinanbesar akan tetap berpotensi muncul.  Hanya dengan pendidikanlah  bangsa ini dapat maju dan  damai serta jauh darui pertikaian yang berakibat menyengsarakan masyarakat secara umum.

  1. Bidang Penyelenggaraan haji dan umrah.  Sebagaimana kita tahu semenjak kelahirannya, kementerian ini telah  menangani persoalan ibadah bagi umat Islam, khususnya  ibadah haji.  Dan pelayanan yang selalu diupayakan peningkatannya setiap tahunnya ini juga  tidak sepi dari kritik yang yang dillontarkan oleh mereka yang justru seharusnya dapat berpikir dan mengerti betapa sulitnya menangani persoalan tersebut,  Mulai dari  membicarakan masalah kuota kepada pemerintah Arab Saudi dan juga pemondokan serta pelayanan  selam di tanah suci, serta  perjalan atau transportasi.  Memang kita harus akau bahwa sudah pasti masih banyak kekurangan.  Bahkan ada usaha usaha yang akan  mengeluarkan persoalan haji tersebut dari kementerian ini dan melemparkannya kepada public.  Tentu kita tidak dapat membayangkannya, betapa sulitnya  masalah tersebut kalau dilempar ke public, karena  pesaingan harga dan banyak masalah sudah barang pasti akan muncul dan sulit untuk dikendalikan.
  2. Bidang bimbingan, pelayanan dan ibadah kepada masyarakat.  Kita juga tahu bahwa kebutuihan umat terhadap persoalan yang diatur oleh agama masih sangat signifikan, seperti pelaksanaan nikah bagi umat Islam misalnya, dan juga umat lainnya.  Persoalan nikah saat ini  sedang  menghangat sehubungan dengan persoalan yang dituduhkan kepada para pegawai pencatat nikah yang dianggap sebagai menerima gratifikasi saat melaksanakan tugasnya mencatat pernikahan masyarakat.  Bahkan  tidak tanggung tanggu  inspektur jenderalnya sendiri yang terus mempersoalkan hal tersebut.  Tentu kemudian para pegawai  tersebut menjadi rishi dan kemudian sepakat untuk melakukan “mogok kerja”, terkecuali  pada hari dan jam kerja.  Betapa kita dapat menyaksikan reaksi masyarakat, ketika hal tersebut dilaksanakan.  Kita sesungguhnya  dapat mengertio persoalan tersebut, dan  para pemimpin kementerian ini seharusnya tidak hanya melontarkan maslaah dan kritik saja, melainkan juga mencarikan solusinya agar persoalan tersebut menjadi bagus dan tidak berkepanjangan.

Kita tahu bahwa  masyarakat tentu tidak akan setuju, jika pernikahan harus dilaksanakan di kantor uruisan agama dan pada hari serta jam kantor.  Persoalannya sangat kompleks, dan biasanya  mereka justru menghendaki pernikahan tersebut justru dilaksanakan pada hari libur dan dilaksanakan di tempat yang dianggap sacral, seperti masjid atau hotel dan lainnya, dan yang pasti bukan di KUA.  Nah, dengan begitu sudah seharusnya ada  jalan keluar untuk masalah ini.  Artinya masyarakat diberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan nikah di luar hari dan jam kerja, tetapi para petugas nikah juga  ada kompensasinya.  Apalagi kalau kita ingat daerah di negeri kita sangat bervariasi.  Mungkin ada yang  untuk mendatangi tempat pelaksanaan akad nikah, seorang petugas harus menempuh perjalanan berpulh kilo meter dan  harus menggunakan transportasi udara atau air dan lainnya.

  1. Tentu masih banyak lagi bidang garapan kementerian agama lainnya, seperti usaha untuk memajukan pelayanan dengan melakukan penelitian dan pengembangan, serta  usaha untuk tetap menjaga  hubungan intern dan antar umat Bergama yang sangat variatif, dan  tugas pelayana  lainnya.

Itulah  hal hal yang terkait dengan kementerian kita, sehingga  dengan  pemikiran tersebut, sangat tidak mungkin kementrian ini digantikan  atau bahkan dilikuidasi.  Hanya  saja dalam hari jadinya yang ke 68 kali ini kita memang harus melakukan self evaluation  untuk   kemudian dijadikan pijakan dalam  upaya meingkatkan kualitas kinerja kita dan pengabdian kita kepada ibu pertiwi.  Semoga kita selalu diberikan taufiq dan hidayah oleh Tuhan untuk tetap  mencintai dan tetap tulus bertada dui  kementerian agama ini. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.