REBO PUNGKASAN

Barangkali bagi masyarakat saat ini tidak mengenal dan mengerti apa makna dari pernyataan Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan, karena saat ini  hal tersebut sudah hampir punah seiring dengan kemajuan zaman dan kesibukan masyarakat dalam mengarungi kehidupan  dunianya.  Tetapi bukannya sudah menghilang sama sekali, karena pada masyarakat kita, terutama di perdesaan, pernyataan tersebut masih sangat diingat dan bahkan menjadi sebuah keyakinan tersendiri.  Kita juga tidak tahu entah sampai kapan kepercayaan tersebut akan terus berada dalam pikiran masyarakat kita.

Saya sendiri juga tidak tahu  asal muasal keyakinan tersebut, sangat mungkin bahwa hal tersebut muncul dari kalangan masyarakat atau ulama yang  berkaitan erat dengan persoalan mistik, dan kemudian dituliskan dalam sebuah buku yang kemudian diyakini oleh masyarakat yang membacanya dan terus turun temurun hingga saat ini.  Dalam referensi keislaman yang saya baca, memang saya belum menemukan persoalan tersebut, tetapi sangat mungkin bahwa referensi saya masih sangat jauh dan kurang, sehingga saya sendiri tidak menemukannya.

Pernyataan Rebo Pungkasan tersebut dihubungkan dengan bulan Sofar dan hari Rabu terakhir pada bulan tersebut.  Dalam keyakinan tersebut bahwa  pada hari itu Tuhan menurunkan bala’ atau penyakit dan sejenisnya yang sangat banyak sekali ke dunia dan akan menimpa kepada  umat manusia,  sehingga menurut keyakinan tersebut umat harus berusaha untuk menghindarinya dengan melakukan beberapa hal, seperti melaksanakan shalat tolak bala’ dan membuat tulisan tertentu yang disebut dengan rajah untuk diletakkan pada air yang biasa kita pakai.

Bahkan ada sebagian yang kemudian meyakininya sebagai air zam zam dan akan  dapat menghindarkan para pemakainya dari bala’ yang diturunkan oleh Tuhan tersebut.  Tetapi  rasanya kita tidak patutlah bersuudzdzan kepada Tuhan yang hari ini akan menurunkan bala’ atau bencana yang banyak untuk ditimpakan kepada umat manusia.  Tuhan memang Maha Kuasa dan sudah menentukan apapun di dunia ini melalui hukum alam  atau sunnatullah yang diciptakan-Nya.

Kalau kita mencermati keyakinan tersebut, memang tidak sepenuhnya  keluar dari dasar keislaman, karena masih mengaitkannya dengan bentuk ibadah seperti shalat.  Hanya saja kita juga tidak tahu dari mana asalnya  tata cara shalat yang dimaksud, karena menurut keyakinan tersebut shalat tersebut dilaksanakan  sebanyak 4 rakaat dengan dua salam.  Setiap rakaatnya setelah membaca  al-Fatihah seseorang yang menjalankannya  kemudian membaca surat al-kautsar sebanyak 19 kali, surat al-Ikhlas 3 kali dan surat al-Falaq serta al-Nas masing masing satu kali dalam setiap rakaatnya.

Menjalankan shalat tentu sangat bagus, karena  utulah  bentuk yang memang dianjurkan  oleh syariat dalam berkomunikasi dan bermunajat kepada Tuhan.  Kalaupun misalnya Nabi tidak pernah melakukannya dengan khusus seperti itu, aka sesungguhnya secara umum perintah menjalankan shalat dalam upaya memohon kepada Tuhan itu dapat dibenarkan, asalkan tidak menyalahi ketentuan yang dibenarkan oleh syariat.  Artinya kalaupun ada kaidah yang menyatakan bahwa “asal mula dalam beribadah itu dilarang, kecuali yang diperintahkan saja”, maka  shalat tersebut tidak termasuk ibadah yang dilarang secara umum.

Kita juga mengenal shalat lainnya yang dimodifikasi oleh manusia sendiri, seperti shalat hajat atau shalat untuk memohon kepada Tuhan  agar kita diberikan sesuatu yang kita inginkan.  Jadi memang shalat itu merupakan bentuk doa atau permohonan seorang hamba kepada Tuhan yang secara umum  sangat baik.  Sedangkan bentuk lainnya yang memang tidak ada dasarnya, seperti menyediakan sajian dan upacara  tertentu yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasul, maka hal tersebutlah yang termasuk dilarang.

Tetapi memang kita harus yakin seratus persen bahwa Tuhan itu tidak akan menyengsarakan hamba-Nya, manakala  hamba tersebut sangat taat menjalankan perintah dan menjauh dari larangan, serta senentiasa tidak pernah lelah untuk berusaha dan bermohon.  Semua hal memang hanya Tuhan yang kuasa dan menentukan, sedangkan kita hanya memohon dan berusaha  dengan kekuatan yang ada.

Tuhanlah yang menciptakan penyakit dan juga obatnya sekaligus, tetapi itu tentu berlaku secara umum dan sudah sejak dulu diciptakan oleh Tuhan.  Manusia hanya diberikan peringatan agar  berhati hati dan melakukan segala sesuatu dengan perhitungan yang matang, sehingga perjalanan hidupnya akan  selamat dan mendapatkan kebahagiaan.  Siapapun yang tidak hati hati, misalnya dalam mengendarai kendaraan di jalan raya, maka ia akan dapat celaka, bahkan sangat mungkin harus menghembuskan nyawanya.

Demikian juga ketika seseorang tidak memelihara kesehatannya dan  bahkan malah  mengkonsumsi sestau yang menurut ahlinya justru sangat berbahaya, maka ia juga akan mengalami kesengsaraan dan  kena penyakit yang sangat menyengsarakannya.  Tuhan tentu akan  melindungi para hamba-Nya yang mau berusaha dan memohon lindungan kepada-Nya.  Tetapi memang kita tidak dapat mengendalikan Tuhan, karena itu semua yang kita usahakan tersebut hanyalah sebuah usaha, dan kalau kemudian Tuhan menentukan lain, maka hal tersebut harus diterima dengan tulus.  Itulah sikap yang harus kita lakukan, dan bukannya berpaling dan kemudian menjauh dari Tuhan.

Melakukan usaha untuk menghindari segala kemungkinan terjelek memang  sangat baik dan dianjurkan, tetapi bersuudzdzan kepada Tuhan tentu tidak baik.  Untuk itulah kita tidak perlu risau dengan keyakinan tersebut dan tetap percaya kepada Tuhan bahwa Tuhan akan  menolong umat yang mau berusaha dan taat kepada-Nya serta terus menerus memohon perlindungan-Nya.  Kita harus tetap optimis  dalam menatap masa depan yang terhampar di hadapan kita.  Lebih lebih saat ini kita sedang akan memasuki tahun baru 2014,  kita harus tetap berpikiran baik dan mengharapkan  pertolongan Tuhan agar memasuki tahun depan itu kita lebih baik dan sukses.

Kemalangan dan malapetaka memang  dapat menimpa siapapun, karena kalau Tuhan sudah menetapkan sesuatu maka tidak ada  kekuatan apapun yang dapat mencegah atau mengehentikannya.  Tetapi kita harus yakin bahwa kalau kita  berhati hati dalam melakukan apapun dan terus menerus memohon dan berdoa untuk  mendapatgkan keselamatan dan kebahagiaan, insyaallah Tuhan akan  memberikan pertolongan kepada kita untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Rebo Pungkasan memang sudha menjadi keyakinan sebagian umat kita, bahkan sudah menjadi semacam hal yang lumprah jikalau mereka kemudian melakukan usaha untuk mencegah dan menolak bala’ tersebut.  Cuma jangan sampai hal tersebut kemudian menjadikan kita  tidak bersemangat untuk mencari dan mendapatkan karunia Tuhan.  Adanya penyakit dan bala’ itu  sudah pasti, dan bukan hanya pada hari tertentu saja, melainkan memang sudah menjadi sunnatullah bahwa di dunia ini sudah diciptakan  penyakit dan juga obat.  Manusialah yang harus berusaha untuk menyikapi hal tersebut.

Tentu  harus selalu berdoa kepada Tuhan agar  kita  dan seluruh keluarga dihindarkan dari segala hal yang sangat buruk dan sebaliknya selalu diberikan kebahagiaan dan keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.  Bukankah kita selalu berdoa dengan memohon agar diberikan kebahagiaan di dunia  dan juga di akhirat nanti serta dijauhkan dari siksa api neraka?.  Itulah yang harus kita pegangi, semoga Tuhan  mengabulkan doa dan permohonan kita, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.