INSTROSPEKSI DI AKHIR TAHUN

Biasanya pada saat akan memasuki pergantian tahun, orang melakukan evaluasi terhadap kinerja selama satu tahun  yang telah dialami untuk meudian dijadikan landasan dalam melangkah pada tahun berikutnya.  Tentu  secara umum sesuai dengan bidang kerja  atau sesuatu yang ditekuni.  Itu semua dimaksudkan agar pada tahun berikutnya akan dapat memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil  yang dicapai pada tahun sebelumnya atau tahun berjalan.  Itu merupakan sebuah kewajaran, terutama bagi mereka yang memang menginginkan kemajuan dalam karir dan kehidupannya.

Secara  ajaran islam juga  hal tersebut sejalan dan sangat dianjurkan, mengingat adanya sebuah riwayat yang kita terima bahwa orang yang beruntung ialah orang yang hari esoknya lebih baik  dari pada hari ini, dan hari ini  lebih baik ketimbang kemarin.  Bagi mereka yang hari kemarin dan kini sama saja,maka ia termasuk orang yang rugi, sedangkan bagi mereka yang hari ini lebih jelek ketimbang hari kemarin adalah orang yang celaka.  Nah, tentunya kita akan  berusaha mewujudkan dan memilih adanya sebuah peningkatan, sehingga  hari ini akanlebih baik ketimbang kemarin dan esok  akan lebih baik daripada saat ini.

Dalam kaitannya dengan dunia  pendidikan secara umum, kita berharap bahwa  pendidikan di negara kita  akan mengalami peningkatan yang  signifikan sehubungan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, baik dari sisi pendanaan, kuantitas dan juga kualitasnya.  Artinya saat ini upaya untuk meningkatkan pendidikan dingeri ini sudah cukup maksimal, yakni melalui kebijakan perubahan atas UUD kita yang memberikan kewajiban kepada pengeloola negara atau pemerintah untuk mengalokasikan  APBN minimal 20% diperuntukkkan  bagi pendidikan.

Hanya saja kedepannya yang harus terus diupayakan ialah bagaimana  anggaran yang besar tersebut dapat digunakan secara tepat dan maksimal,  sehingga  gaung peningkatan pendidikan kita  dapat dirasakan oleh semua masyarakat dan warga negara.  Nah, saat ini meskipun anggaran yang 20% dari total APBN sudah dilaksanakan, tetapi  praktek di lapangan masih ada ketimpangan, sehingga masih banyak warga  bangsa yang belum mendapatkan bagian dari anggaran yang sangat besar tersebut.

Artinya masih  banyak ditemukan  fasilitas sekolah yang sangat tidak standard, seprti gedung sekolah yang tidak layak, laboratorium yang belum tersedia, guru yang juga masih  belum standar dan lainnya.  Bahkan  masih ada juga  diantara anak bangsa yang tidak dapat bersekolah disebabkan tidak mampu  atau miskin dan lainnya.  Memang kita tahu bahwa kebijakan secara umumnya sudah bagus, yakni  semua anak usia sekolah wajib sekolah dan negara berkewajiban untuk membiayainya, tetapi sekali lagi praktek di lapangan ternyata tidak sama dengan  kebijakan baik tersebut.

Untuk itu memang harus ada kemauan  besar dari semua pihak agar persoalan tersebut menjadi prioritas kita, tanpa  harus mengorbankan kepentingan lainnya.  Kalau  anggaran pendidikan  tersebut dikucurfkan secara tepat dan mengenai sasaran prioritas yang memang harus segera ditangani, niscaya akan sangat terasa bagi masyarakat.  Tetapi sayangnya memang hanya di beberapa daerah yang sudah relatif mau saja yang  selalu dijadikan percontohan, padahal kita sangat menyadari bahwa wilayah Indonesia itu sangat luas dan termasuk mereka yang berada di pedalaman dan terpencil.

Kita tahu bahwa  banyak program yang  sudah dan sdang terus dilaksanakan dalam upaya peninghkatan pendidikan di negeri kita ini,  seperti pelaksanaan sertifikaso guru.  Tetapi sekali lagi kita patut merenungkan kembali pelaksanaan sertifikasi guru tersebut, karena ternyata dari beberapa survey yang dialakukan ternyata banyak guru yang sudah tersertifikasi dan mendapatkan  sebuatn sebagai guru profesional serta mendapatkan tunjangan profesi, kinerjanya sama dengan sebelumnya.

Bahkan yang sangat mengejutkan kita semua ialah pada saat  pemerintah  akan melakukan  evaluasi menyangkut test kompetensi guru, semua guru menolaknya secara ramai ramai.  Ini sungguh merupakan kenyataan yang perlu di sadari bahwa memang kondisi guru guru kita sangat memprihatinkan, baik dari sisi penguasaan metode pembelajarannya maupun dari sisi penguasaan terhadap materinya.  Sudah seharusnya sebagai guru profesional, mereka akan selalu siapa kapanpun  dilakukan test terhadap kompetensi mereka.

Saat ini sudah ratusan ribu guru yang tersertifikat dan negara harus  mengeluarkan trilyunan rupiah untuk memberikan tunjangan kepada mereka, karena itu sangat wajar apabila negara dalam hal ini pemerintah  mengevaluasi kinerja mereka,  dengan maksud agar mereka masih tetap dalam koridor yang benar dalam melakukan  pekerjaan profesinya tersebut, sehingga anak anak bangsa  dapat mengeyam pendidikan yang satandar dan  kelak mengantarkan mereka untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Kita memang kekurangan vguru yang benar benar menghayati posisinya yang sebagai pendidik, dan kita masih menyaksikan banyak guru yang melaksanakan tugasnya sebagai sambilan semata, karena jiwanya memang bukan sebagai pendidik.  Akibatnya  anak anak didiklah yang akan merasakan bagaimana mereka tidak  mendapatkan perlakukan semestinya.  Kalau kemudian ada  guru yang sama sekali tidak perhatian terhadap perkembangan anak didiknya, terhadap kondisi sikap sertaa kelakuannya, itu merupakan akibat dari hal ttersebut.

Karena itu kita tidak heran, kalau kemudian  anak didik yang masih kecil  terseret kepada  kehidupan yang sanagt tidak wajar, seprtyi merokok, tawuran, minum mnuman keras dan sejenisnya.  Persoalannya apakah kita akan membiarkan hal tersebjut terus berlangsung dan tidak ada upaya untuk menghentikannya?.  Tentu kita semua sepakat untuk  memberantasnya dan menghentikannya.  Tetapi bagaimana caranya?.  Satu satunya jalan ialah dengan melakukan evaluasi kinerja  guru dan melakukan pengawasan yang terus menerus.  Kalau kemudian ditemukan ada sebagian guru yang memang tidak layak menjadi pendidik, ya harus dipindahkan kepada tenaga non pendidik.

Kita tidak boleh mengorbankan anak didik, karena merekalah yang akan kita harapkan menjadi pemimpin masa depan bangsa.  Kita boleh memberhentikan seorang guru yang memang tidak cakap dalam mendidik, tetapi kita tidak boleh membiarkan anak didik dididik oleh mereka yang sama sekali tidak berjiwa pendidik.  Untuk itu kita memang harus serempak melakukan evaluasi tersebut, meskipun agak terlambat, tetapi akan lebih baik, ketimbang sama sekali tidak melakukannya.

Sementara itu pelaksanaan sertifikasi guru  juga dapat dijadikan arena untuk melakukan evaluasi tersebut, karena itu semua ZLPTK yang menyenggarakan sertifikas guru tersebut harus benar benar menyadari hal ini, dan tidak lagi melakukan hal hal yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan terhadap proses ini.  Artinya jangan ada lagi  perlakuan  kepada  peserta sertifikasi guru  yang semata mata didasarkan atas belas kasihan  atau sejenisnya.  Maksudnaya ialah kalau memang mereka tidak cakap dan tidak layak untuk diloloskan, maka harus dinyatakan tidak lolos, meskipun mereka sudah berusia  tua, karena  kita memang tidak boleh bermain main dalam persoalan pendidikan tersebut.

Kemajuan  dan keterpurukan pendidikan sesungguhnya berada di tangan kita, dan kita dapat melakukannya melalui jalur yang kita punya.  Salah satu diantaranya ialah dengan melakukan pengawsan ketat, melakukan evaluasi secara berkala kepada selurh guru profesional, dan melalui pelaksanaan  pensertifikasian atau melalui PLPG atau PPG. Kita berharap bahwa kesadaran  di akhir tahun seperti ini akan mampu meluluhkan  seluruh hati dan pikiran yang masih belum sadar dari posisinya sebagai pihak yang berkecimpung  di dunai pendidikan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.