9 TAHUN TSUNAMI ACEH

Barangkali bagi warga luar Aceh  sudah ada yang melupakan peristiwa memilukan pada pagi tanggal 26 Desember 9 tahun lalu tersebut.  Tetapi tidak dengan masyarakat Aceh yang mengalaminya secara langsung, kejadian tersebut seolah masih ada di hadapan mata mereka.  Trauma masih terus menggelayuti sebagian besar masyarakat Aceh.  Diantara mereka yang selamat di tengah  tsunami tersebut tentu sangat pedih kalau harus melewati tanggal 26 Desember, karena mereka harus kehilangan orang orang yang sangat mereka cintai, baik itu isteri, suami, anak, dan keluarga lainnya.

Kita yang berada di luar Aceh saja dapat merasakan betapa pedihnya mereka  yang kehilangan keluarga dihantam oleh tsunami yang sangat dahsyat tersebut.  Meskipun hanya menyaksikan  dari beberapa video amatir yang diputar oleh beberapa stasiun televisi, kita dapat menyaksikan betapa hebat dan dahsyatnya tsunami tersebut.  tanpa ampun melabrak seluruh apa yang ada dan tidak menyisakan apapun.  Ratusan ribu nyawa  hanyut bersama dengan dengan air bah yang dalam waktu  singkat, sekitar kurang dari satu hari telah meluluh lantakkan Aceh dengan seluruh isinya.

Tentu dalam peristiwa tersebut banyak cerita mengenai kemaha-kekuasaan Tuhan.  Betapa tidak, dalam ukuran akal biasa, tentu kita tidak dapat membayangkan adanya manusia yang dapat selamat dari tsunami tersebut, tetapi atas kuasa Tuhan, ternyata cukup banyak hamba Tuhan yang diselamatkan dengan berbagai cara yang sangat unik.  Salah satunya ialah cerita tentang kapal yang kemudian singgah di atap sebuah rumah berlantai2 yang hingga saat ini masih diabadikan.  Kapal tersebut telah berjasa menyelamatkan sekitar 56 orang, sehingga banyak orang kemudian menyebutnya sebagai kapal nabi Nuh.

Ketika kita berkunjung ke tempat tersebut, kita dapat menyaksikan  betapa kapal sebesar itu dapat berlabuh diatas rumah, setelah berjalan sekitar 1 km dari tempatnya semula.  Cerita tersebut dapat dilihat dari tulisan yang ditempel di tempat tersebut, dan bahkan saat ini sudah ditulis sebuah buku saku praktis yang memberikan informasi seputar kesakaisan  10 orang yang  diselamatkan oleh kapal tersebut.  Sunguh Maha  kuasa Tuhan yang telah menentukan dan menetapkan keputusan-Nya.

Disamping cerita kapal tersebut juga ada cerita lainnya yang juga ajaib, yakni terapungnya seorang bayi bersama dengan tempat tidurnya hingga membawanya ke tempat jauh bersama dengan air bah tersebut dan akhirnya singgah di sebuah tempat tinggi atau gunung dan  selamatlah bayi tersebut.  Itu tentu merupakan kuasa Tuhan yang tidak terbantahkan. Sebab kalau Tuhan  berkehendak, maka Tuhan hanya akan menyatakan “kun” maka  apa yang dikehendaki akan terwujud.

Saat ini meskipun masih banyak orang hilang tidak ditemukan jasadnya, tetapi kikta masih dapat mengenangnya di sebuah tempat yang dijadikan sebagaiu kuburan massal bagi korban tsunami 9 tahun silam.  Setiap kali kita  melewati dan mengunjungi tempat tersebut, kita diingatkan akan sebuah  kejadian yang sangat luar biasa tersebut.  Positifnya, kita kemudian dapat mengevaluasi diri bahwa hidup kita itu sangat tergantung atas keputusan Tuhan.  Kita sama sekali tidak akan mengetahui di mana dan kapan kita akan dipanggil oleh Tuhan untuk menghadap-Nya.

Nah, karena itulah sudah semestinya kita mempersiapkan diri selalu dalam  mengarungi hidup ini, agar sewaktu waktu Tuhan  memutuskan untuk memanggil kita, kita sudah siap dalam menghadapi kehidupan akhirat yang kekal dengan bekal yang cukup.  Kita tidak boleh men unda nunda berbuat baik dan sekaligus kikta juga tidak boleh  membiarkan diri kita berbuat maksiat, karena  setiap saat maut dapat saja  menemukan kita, kapan dan di manapun kita berada.

Kini setelah 9 tahun tsunami berlalu, derita sebagian masyarakat Aceh  memang masih tetap ada, karena mereka yang masih anak anak dan kehilangan orang tua, tentu tidak dapat mengeyang kebahagiaan sebagaimana kalau mereka bersama dengan orang tua.   Tetapi dengan dipeliharanya mereka oleh keluarga baik baik, tentu kita merasa optimis bahwa kehidupan mereka di masa mendatang  tetap akan  cerah, karena pendidikan mereka yang saat ini masih mereka tempuh akan menentukan masa depan  bagi mereka.  Kita berdoa, semoga mereka pada saatnya akan mendapatkan kebahagiaan yang sempat hilang.

Peristiwa tsunami di Aceh tersebut juga seharusnya dapat  menjadikan diri kita mawas diri, meskipun kita berada jauh dari tanah rencong tersebut.  Artinya   peristiwa tragis tersebut harus kita jadikan sebagai sebuah peringatan  Tuhan kepada seluruh umat manusia, bahwa di dunia ini tidak ada yang  benar benar berkuasa dan menengtukan apapun yang diinginkan, melainkan seluruhnya berada di tangan Tuhan, dan karena itu kita harus tetap berusaha  mendekatkan diri kepada Tuhan agar kasih dan Sayang Tuhan senantiasa  diberikan kepada kita, dan kita selalu berada dalam  kebenaran serta patuh kepad semua perintah-Nya.

Kita sebagai bangsa besar sudah seharusnya mau menjadikan peristiwa tsunami gtersebut sebagai tragedi nasional yang selalu diingat, bukan untuk terus disesali dan diratapi, melainkan untuk dijadikan  penyemangat untuk klehidupan kita selanjutnya.  Setipa peristiwa apapun, termasuk peristiwa yang paling mengerikan sekalipun, pasti di sana ada hikmah yang dikandungnya.  Hikmah tersebut harus kita gali sendiri setelah memperhatikan dan mencermatinya secara mendalam.  Peristiwa tsunami tersebut dapat kita temukan hikmah yang sangat banyak untuk kita semua.

Diantara hikmah tsunami tersebut ialah bahwa Tuhan telah memperingatkan kepada kita semua bahwa  kita memang harus introspeksi diri secara total atas semua aktifitas yang telah kita lakukan, semisal keseharian kita, apakah kita telah berbuat baik  sesuai dengan  aturan agama atau atuiran yang dibuat untuk kebaikan  bersam ataukah tidak.  Sudahkan kita secara tylus menjalankan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-Nya.  Dalam hal ini termasuk perintah Tuhan untuk berbuat baik kepada manusia dan alam lingkungan serta memeliharanya.

Hikmah lainnya ialah agar kita tetap mempercayai bahwa  kekuasaan Tuhanlah yang akan menentukan segala galanya, sehingga kita harus tetap tunduk dan patuh  kepada setiap titah-Nya.  Usaha apapun yang kita lalkukan hanyalah sebagai usaha yang kita lakukan dan kita tidak dapat memastikannya.  Hanya Tuhanlah penentu  semua yang terjadi, karena seluruh bumi dan isinya ini milik-Nya, dan kita hanya dipinjami sementara saja.  Nah, karena itu kita tidak boleh serakah untuk menguasai seluruh isi dunia dan tidak mau berbagi dengan yang lain.

Hal lain yang dapat kita petik dari peristiwa tsunami tersebut ialah kita harus berbagi dengan mereka yang sedang mengalami musibah, apapun bentuknya, karena sesungguhnya keberadaan kita di dunia ini adalah untuk saling menolong dan membantu, terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan  uluran tangan kita.  Kalau hati dan pikiran kita tidak tergerak oleh kejadian tragis  seperti tsunami tersebut, maka sesungguhnya hati kita telah mati dan  pada saatnya nanti kita juga tidak akan dibantu oleh pihak lain, pada saat kita menemukan penderitaan.

Semoga peristiwa 9 tahun lalu yang merenggut ratusan ribu nyawa tersebut dapat menggerakkan jiwa kita untuk mau berbagi dengan yang lain, termasuk  memberikan harapan yang lebih cerah  pada anak anak terlantar yang tidak mempunya  orang tua, dan orang orang miskin yang menghiasi sudut sudut jalanan.  Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.