NATAL

Bagi umat kristiani, natal adalah hari raya yang diperingati secara  besar besaran.  Kalau dibandingkan, kita dapat menyebutkan dengan hari raya Idul Fitri bagi umat muslim.  Hanya saja memang tentu berbeda, karena natal itu memperingati  kelahiran nabi Isa yang biasanya dalam keyakinan kristen disebut sebagai Yesus.  Peringatan natal biasnya juga dikaitkan dengan penyambutan datangnya tahun baru Miladiyyah,  sehingga bagi masyarakat, termasuk yang bukan  umat kristen, juga memanfaatkan  kondisi tersebut untuk berlibur panjang.

Sebagai umat beragama yang hidup di negeri Indonesia, kita harus mau dan mampu menghormati siapapun yang merayakan hari besar sesuai dengan keyakinan mereka, baik itu  para penganut agama Islam, katolik, Kristen, Hindu, Budha dan juga Kong Hucu. Bahkan seharusnya kita juga  dapat emnghormati hari besar agama apapun, termasuk yang saat ini belum ada di negeri kita.  Menghormati mereka yang merayakan hari besar mereka, merupakan sebuah keharusan bagi masyarakat kita, karena kita sudah sepakat hidup berdampingan dengan pemeluk dan penganut kepercayaan yang tidak sama dengan keyakinan kita.

Kesepakatan untuk hidup rukun dan damai bersama  di negeri ini, meniscayakan openghormatan juga terhadap apapun yang dilakukan mereka sesuai dengan ajaran agama  mereka. Tentu kita sudah sangat yakin bahwa tidak ada ajaran agama apapun yang menganjurkan berbuat maksiat atau kejahatan.  Yang harus kita pelihara dan pegang earat ialah keyakinan kita masing masing, karena hal tersebut merupakan  hal yang tidak bisa ditawar.  Sedangkan kalau menghormati mereka itu sebagai hal yang tidak terkait dengan sebuah keyakinan,  melainkan hanya sebatas pergaulan hidup di dunia yang memang harus  kita lakukan.

Kita tentu ingat bahwa nabi kita Muhammad saw juga mau menghormati dan menghargai umat lain, padahal beliau sendiri sebagai pembawa ajaran agama Islam.  Karena itu sebagai umatnya, kita harus dapat mempraktekkan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi, yakni mau hidup berdampingan dan damai dengan umat lain dalam sebuah negara yang sama.  Pergaulan hidup harus tetap dipelihara dengan baik, sedangkan untuk keyakinan, kita harus  pertahankan sendiri sendiri.  Artinya umat lain tidak perlu mengikuti shalat yang dilakuka oleh umat Islam, begitu juga umat lain tidak perlu mengikutikebaktian yang dilakukan oleh umat kristiani, dan seterusnya.

Persoalannya ialah bagaimana kalau kita  hanya mengucapkan selamat buat mereka yang sedang merayakan hari besar mereka, apakah hal tersebut dapat diterima atau dbenarkan atau tidak?.  Untuk persoalan ini diantara umat  Islam sendiri terjadi perbedaan pendapat;  sebagiannya ada yang tidak mempermasalahkan atau membolehkan, dan sebagiannya  mengharamkan.  Tentu mereka  membuat argumentasi masing masing.

Kita sudah sering mendapatkan ucapan selamat dari umat lain, pada saat kita merayakan Idul Fitri misalnya, atau Idul Kurban dan lainnya.  Tetapi kalau kemudian kita dilarang  untuk sekedar mengucapkan  selamat kepada mereka yang merayakan hari natal misalnya apakah pantas dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, bukan dalam konteks beribadah.  Menurut saya mengucapkan selamat kepada mereka yang meraayakan natal  tidak mengapa, karena hal tersebut hanya merupakan  bahasa pergaulan dalam upaya untuk memperkokoh kebersamaan diantara masyarakat saja.

Ucapan selamat bukanlah termasuk dalam kategori ibadah yang dilarang, tetapi hanya sebagai wujud  kebersamaan  dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan bertetangga.  Tidak ada salahnya  kalau hanya  sekedar ucapan selamat dan tidak lebih. Artinya kalau kita sudah mengikuti misa atau kebaktian dalam  gereja dan mengikuti perilaku mereka, tentu hal tersebut yang dilarang, karena sudah memasuki wilayah kepercayaan dan pelaksanaan ibdah agama lain.

Tetpi bagi mereka yang tidak mau mengucapkan selamat kepada saudara kia yang sedang merayakan hari besar mereka, kita juga tidak usah mempermasalahkan, karena itu hak mereka, tetapi  kita juga menghimbau kepada mereka agar tidak mempermasalahkan dan bahkan menghukumi sesat kepada mereka yang  mengucapkan selamat kepada saudara kita yang lain  kepercayaan dan agama.

Kita memng harus lebih banyak belajar untuk  mengerti dan  hidup bersama dengan seluruh masyarakat yang mempunyai banyak keprcayaan, agama dan  kebiasaan.  Kebersamaan jangan hanya diukur dari diri sendiri, melainkan juga dari sisi lain.  Artinya  kita tidak boleh memberlakukan  dan mempraktekkan dominasi mayoritas dan tirani minoritas, yang mengukur segala sesuatu  dari pihak ita sendiri.  Tau dengan bahasa lain kita tidak boleh meberlakukan umat lain boleh dan harus hormat kepada kita, sementara kita tidak perlu hormat kepada umat lain.  Tentu hal tersebut tidak bijak dan  sangat tidak membuat  kondusif keadaan.

Kalau kita memang sudah sepakat untuk hidup bersama dengan seluruh pemuluk keyakinan dan agama dalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia, kita juga harus dapat menrima apapn yang dilakukan oleh mereka  dalam  melaksanakan perintah atau anjuran agama dan kepercayaannya tersebut.  Dalam hubungan  kemasyarakatan, kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan seluruh kebiasaan yang berlaku tanpa adanya  keterpaksaan atau bentuk lain yang tidak berkonotasi ketulusan.

Saat ini umat kristiani sedang menghadapi dan merayakan natal yang diranhgkai dengan tahun baru, dan kta sebagai umat muslim yang  baik, tentu kita harus dapat menghargai mereka dan tidak perlu melakukan hal hal yang kontra produktif, semisal mengadakan kegiatan yang dapat mengganggu kekhusukan iabadah mereka.  Bahkan akan sangat baik kalau kita juga ikut menjaga keamanan dan ketenangan kondisi sehingga saudara kita dapat melaksanakan ibadah dengan khusuk dan khidmah.  Hal tersebut sekaligus sesungguhnya juga sebagai bentuk solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat dan menjaga kedamaian yang  memang dianjurkan oleh agama kita.

Rupanya natal bagi bangsa Indonesia sudah seprrti kegiatan rutin saja, dan seolah juga sudah menjadi milik masyarakat, meskipun   selain umat kristen tidak akan melakuan kebaktian atau misa dan sejenisnya.  Tetapi perinatannya sendiri seolah sudah menjadi milik masyarakat, karena natal identik dengan libur panjang, karena selalu terkait dengan peringatan tahun baru.  Sama halnya peringatan hari raya Idul Fitri seolah sudah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia.  Bahkan rangkaian Idul Firi, yakni halal bihalal, saat ini sudah dilakukan juga oleh umat lain.

Memang adakalanya sebuah peringataan keagamaan yang berasal dari ajaran sebuah agama, kemudian  dapat berubah menjadi  kebiasaan dan adat yang dialakukan oleh seluruh umat dan bangsa.  Tentu hal tersebut disebabkan oleh benyaknya perhatian masyarakat terhadap  kegiatan atau peringatan tersebut dan selalu dilakukan setiap tahunnya.  Akibat dari itu kemudian  kebiasaan yang terus menerus tersebut menjadi kebiasaan yang tidak saja dilakukan dan diperingati leh umat tertentu saja, melainkan juga  dilaukan oleh masyarakat secara umum.  Tentu hal tersebut kita anggap sebagai sebuah proses pembudayaan sebuah ajaran  agama  ke dalam masyarakt.

Selama praktek tersebut baik dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, menurut saya tidak  mengapa untuk dilaksanakan  oleh bangsa, sebagai agian dari budaya bangsa, dan bukan lagi sebagai ajaran agama tertentu.  Dengan begitu kita tidak perlu mempermasalahkan lagi peringatan  ajaran agama apapun, asalkan kita tidak masuk dalam wilayah ibadahnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.