MORATORIUM OSPEK

Rupanya  banyak pihak baru  menyadari bahwa ospek atau orientasi pengenalan kampus yang selama ini dilaksanakan oleh sebagian perguruan tinggi, ternyata  disertai dengan kekerasan atau semacam balas dendam terhadap para senior mereka dan dilampiaskan kepada yunior.  Walaupun sesungguhnya sudah banyak kejadian serupa, yakni peristiwa melayangnya nyawa disebabkan oleh perpeloncoan yang dilakukan di kampus.  Sungguh memang ironi, karena kampus merupakan tempat para  intelektual yang lebih mengedepankan rasio ketimbang emosi dan nafsu.

Seharusnya hal tersebut memang sudah lama disadari dan kemudian dicarikan solusi terbaik, agar peristiwa memalukan dunia kampus tersebut tidak terulang.  Akan tetapi peristiwa demi peristiwa seolah berlalu begitu saja, dan  baru pada saat ini, dimana  banyak pihak mencari perhatian untuk mendapatkan simpati masyarakat, kasus kematian mahasiswa di malang yang diakibatkan oleh ospek atau lebih tepatnya  penganiayaan  seniornya, menjadi perhatian dan kemudian menumbuhkan kesadaran.  Nah, kesadaran tersebut kemudian diwujudkan dengan  berbagai diskusi yang salah satunya diusulkan agar ospek dihentikan.

Moratorium atau penghentian sementara sebagaimana yang diusulkan oleh beberapa pihak sesungguhnya bukan merupakan  jalan keluar terbaik, karena di sana masih banyak hal yang harus dipertimbangkan.  Artinya kepentingan pengenalan kampus oleh para mahasiswa baru dirasakan sangat urgen.  Kita semua tahu bahwa dunia kampus akan sangat berbeda dengan dunia sekolah, sehingga para mahasiswa baru sangat membutuhkan informasi yang memadahi tentang dunia yang akan dimasukinya, sehingga mereka akan dapat at home dan sekaligus dapat mengembangkan dirinya lebih baik.

Kita harus  adil dalam melihat pelaksanaan ospek atau nama lain yang  substansinya  sama, bahwa masih banyak ospek yang dilaksanakan dengan  baik dan hanya  didasarkan atas pendekatan akademik murni, yakni  pemberian informasi seputar kampus dan apa yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa baru tersebut agar dapat menyesuaikan diri dengan dunianya yang baru.  Termasuk di dalamnya ialah  bagaimana mereka  mengikuti kuliah, belajar, memanfaatkan laboratorium, perpustakaan dan lainnya.  Termasuk pula  dalam upaya mengembangkan diri mereka dalam berbagai bakat dan minat, melalui beberapa lembaga kemahasiswaan yang ada.

Memang ada beberapa  kampus yang pelaksanaan ospeknya masih diwarnai dengan kekerasan, tetapi itu merupakan sebuah penyimpangan yang sangat jelas  dari tujuan ospek itu sendiri, sehingga ospek seperti itulah yang seharusnya dibenahi dan diarahkan agar pelaksanannya  menjadi santun dan  menghargai  kemanusiaan.  Termasuk yang harus dibenahi ialah pelaksanaan ospek yang bergeser kepada  pemberian doktrin tertentu yang membelenggu mahasiswa.  Demikian juga  ospek yang dijadikan arena untuk men ggiring kepada mahasiswa agar  dapat berdemonstrasi di jalanan dan lainnya.

Para mahasiswa adalah  calon pemimpin dan  merupakan bagian dari masyarakat akademik, karena itu sudah sewajarnya kalau seluruh tindakan mereka didasarkan atas kepentingan akademik tersebut.  Memang mahasiswa  juga mempunyai  peran kontrol sosial, terutama  dalam upaya untuk  memperbaiki kondisi dan mencegah adanya penyeleweangan yang dilakukan oleh  beberapa pihak, tetapi itu bukan tugas utama, melainkan tugas  sekunder.  Sedangkan tugas utama mereka ialah belajar dan menggali ilmu pengetahuan dan teknologi setinggi mungkin untuk bekal kehiduan mereka di  masa  mendatang.

Kita semua tentu tidak sepakat dengan praktek ospek yang diwarnai dengan kekerasan, kafrena itu bukan sifat mahasiswa, melainkan sifat preman.  Tetapi bukan berarti   kemudian ospek yang sangat penting tersebut  dihentikan, karena cara tersebut sangat tidak bijak.  Hanya beberapa perguruan tinggi saja yang melakukan kekerasan, kenapa seluruh ospek harus dilarang?.  Pembenahan dan perbaikan cara dan praktek ospek di beberapa perguruan tinggi yang melakukan kekerasan, adalah cara yang  tepat untuk menghentikan kekerasan  dalam ospek tersebut.

Tentu pimpinan perguruan tinggi harus mengambil peran aktif dalam hal tersebut, dan tidak boleh membiarkannya berlarut, sehingga akan banyak korban yang berjatuhan.  Demikian juga para pelaku kekerasan yang  menewaskan  mahasiswa tersebut juga harus diusut dan diberikan  hukuman sebagaimana mestinya.  Hal tersebut juga sekaligus dalam upaya untuk  memberikan aspek jera kepada  mahasiswa lainnya agar mereka tidak mempraktekkan kekerasan tersebut.

Kalau kemudian ternyata  di beberapa kampus masih saja  melakukan praktek kekerasan dalam ospeknya, maka  kita akan setuju jikalau di kampus bersanghkutan diberikan sanksi , termasuk  moratorium ospeknya.  Namun bukan berarti seluruh ospek di perguruan tinggi harus diberlakukan sama, yakni dihentikan sementara.

Kalau ditilik dari nama yang diberikan, yakni orientasi pengenalan kampus, tentu yang diperkenalkan ialah berbagai hal yang terkait dengan kampus.  Berbagai hal tersebut  menyangkut bagaimana para mahasiswa  belajar di perguruan tinggi, bagaimana mereka harus bersikap dan berpikir yang lebih sistematis, bagaimana mereka memanfaatkan waktu yang tersedia, dan lainnya.  Termasuk pula penting untuk diinformasikan mengenai sistem belajar di kampus dan berbagai fasilitas yang  dapat dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa  dalam upaya menunjang dan mempercepat kuliah mereka, seperti laboratorium, perpustakaan, unit unit kegiatan mahasiswa dan lainnya.

Akan sangat menyimpang kalau kemudian yang  disampaikan di dalam ospek tersebut ternyata persoalan lain yang  sangat jauh dari  akademis, seperti membentak bentak, melakukan kekerasan, menyuruh untuk melakukan hal hal yang  tidak terkait dengan dunia akademik dan lainnya.  Praktek menyimpang dari tujuan ospek itulah yang harus dievaluasi dan kemudian dilarang dilakukan, dengan pemberian sanksi tegas dan berat bagi siapapun yang melakukannya.

Rasanya memang kita  sangat menyesalkan ketika pemberitaan di berbagai media diekpose sedemikian rupa mengenai kematian  seorang mahasiswa akibat dianiaya  oleh seniornya pada saat pelaksanaan ospek.  Bahkan tidak hanya cukup penyesalan, melainkan juga  perihatain dengan perilaku sebagian mahasiswa yang seperti preman jalanan.  Mengapa mereka dapat melakukan kekerasan kepada yunior yang sebelumnya mereka  sama sekali tidak pernah berhubungan.  Kenapa mereka tega melakukan pemukulan, menendang dan menyruh push up hingga berkali kali yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingan pengenalan  kampus.

Kampus itu tempatnya para intelektual yang lebih mengutamakan  sikap bijaksana dan menghormati martabat kemanusiaan, bukan  merupakan tempat melampiaskan dendam, permusuhan, kekerasan dan sejenisnya.  Kita harus bersatu dalam memurnikan kampus  dan menjauhkannya dari berbagai sikap dan perilaku yang sangat tidak pantas dilakukan di kampus.  Tentu ospek tetap harus dijalankan tetapi  dengan prkatek yang bersifat akademik, santun dan  mendidik.

Dengan begitu rencana atau usulan mengenai penhentian sementara atau moratorium ospek yang digagas beberapa pihak dalam menyikapi meninggalnya  mahasiswa baru  disebabkan ospek dengan kekerasan tersebut, tidak tepat dan merupakan usualn yang reaktif serta emosional.  Semua perguruaqn tinggi tentu perihatin dengan kejadian kekerasan tersebut, tetapi bukan lantas kegiatan ospek dihentikan, melainkan kalau memang ada kekurangan dan penyimpangan, maka kekurangan dan penyimpangan itulah yang harus dibenahi dan dilakukan perombakan dan perubahan.

Intinya harus ada kesadaran bersama, terutama masyarakat kampus untuk mengembalikan kampus pada  khittahnya semula, yakni sebagai tempat untuk studi, mengembangkan diri menjadi intelektual, serta tempat produksi keilmuan yang didasarkan atas penelitian dan kajian mendalam pada berbagai disiplin ilmu.  Kita harus membersihkan kampus dari unsur yang dapat mengotorinya serta menjatuhkan wibawa kampus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.