DPR MENEMPATI RANGKING PERTAMA KORUPSI 4 TAHUN TERAKHIR

Sungguh luar biasa bagi Indonesia, karena ternyata persoalan korupsi masih cukup banyak dan menurut penilaian dari sisi indeks persepsi korupsi, masih tetap sama dengan tahun lalu, alias tidak ada kemajuan, meskipun sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi.  Namun yang paling memperihatinkan ialah rangking paling banyaknya  justru dilaukan oleh kalangan anggota  dewan, baik di pusat maupun di daerah.  Itulah pernyataan wakil ketua KPK dnan Pandu Praja dalam sebuah kesempatan pemberian  penghargaan kepada pemenang vestifal film anti korupsi.

Bagi sebagian orang, pernyataan tersebut sama sekali tidak mengagetkan, karena memang kenyataannya seperti itu.  Maksudnya ialah bahwa bagi orang yang selalu mengikuti perkembangan hukum dalam persoalan korupsi, berita seperti itu memang sudah menjadi  hal biasa, tetapi bagi mereka yang tidak terbiasa mendengar pernyataan  tersebut, tentunya  sedikit terperanjat.  Apalagi  yang banyak melakukannya ialah para anggota dewan yang terhormat.  Bahkan hingga kini  kondisi seeprti itu tidak pernah terjadi di negara lain di manapun.  Inilah yang membuat kita semua  sangat perihatin, mengapa para wakil rakyat yang seharusnya memikirkan rakyat, justru malah mengingkarinya.

Persoalan korupsi memang tidak hanya terjadi di negara kita saja, melainkan juga terjadi di seluruh negara di dunia ini, tetapi kadarnya saja yang berbeda.  Bagi negera kita, yang mayoritas warganya beragama, atau bahkan dapat dikatakan tidak ada yang tidak beragama, tetapi rupanya agama belum dapat mengendalikan seorang pemeluknya untuk menjadi  baik dan mengikuti ajarannya secara  baik pula.  Kita yakin bahwa seluruh agama mengajarkan  ajaran yang sangat baik, santun dan anti korupsi, tetapi pada prakteknya ada orang yang nampaknya taat menjalankan perintah agama, tetapi masih saja melakukan praktek korupsi.

Seharusnya  orang yang taat menjalankan ajaran agama, akan semakin arif dan  berpikir positif bahwa perbuatan korupsi itu sangat tercela, karena  dapat merugikan orang dan negara, sedangkan ajaran agama selalu mengajarkan  sesuatu yang baik, seeperti suka membantu pihak lain, tidak merusak, tidak merugikan pihak lain, dan justru akan selalu memberikan manfaat bagi orang lain.  Lantas kalau dalam kenyataannya seperti itu, dimana letak kesalahannya?  Pertanyaan tersebut sesungguhnya sudah sering muncul dan jawabannya pun juga sudah banyak disampaikan, tetapi kesadaran para penganut agama tersebut ternyata masih belum dimunculkan.

Rupanya  tidak ada korelasi positif antara  pelaksanaan sebuah ajaran agama dengan perilaku korupsi, meskipun secara teoritik seharusnya  ada.  Taruhlah  ada seorang muslim yang mengerjakan ibadah shalat, dan bahkan juga haji.  Secara teoritik, orang tersebut akan  menjadikan dirinya sebagai seseoranag yang menghindari semua perbuatan maksiat dan menjalankan semua ajaran baik agama Islam,  tetapi karena adanya dorongan nafsu dalam dirinya yang kuat, sedangkan pengendalian diri sangat raapuh, maka yang terjadi ialah  korupsi jalan dan ibadah juga jalan.  Dengan begitu maka  teori tersebut menjadi mentah dalam persoalan ini.

Rupanya ajaran nabi Muhammad saw yang sementara ini dikategorikan sebagai  masuk dalam tasawwuf, yakni ajaran yang memasukkan pernyataan Hubb al- dun ya wa karahiayat al maut, sebagai bagian dari penyakit yang harus dijauhi oleh semua  umat Islam agar menjadi baik dan beruntung, baik di dunia maupun di akhirat, belum sepenuhnya dijalankan oleh umat.  Persoalan  cinta yang terlalu kepada dunia dan  sangat benci serta enggan mengingat kematian, memang merupakan hal yang sangat berpengaruh kepada kehidupan seseorang.

Dapat dikatakan bahwa aspek utama kenapa seseorang melakukan korupsi ialah karena  cintanya kepada dunia yang sangat besar, tetapi juga ditunjang dengan aspek lainnya sehingga mampu membuat seseorang berani untuk melanggar aturan yang berlaku, termasuk resiko yang akan diterimanya.  Kalau misalnya hanya  cinta dunia saja, dan memang semua orang pasti cinta kepada dunia, tetapi masih ada aspek lain yang dapat membentengi dirinya dari berbuat melawan hukum, maka kecintaan tersebut akan diwujudkan dengan bekerja keras untuk mendapatkannya, bukan dengan  jalan pintas melakukan korupsi atai sejenisnya.

Demikian juga aspek enggan untuk mengingat kematian atau menghindarinya,  akan membuat seseorang lupa bahwa dirinya nanti akan mati dan meninggalkan seluruh yang dia punyai di dunia ini.  Bahkan lupa pula bahwa  apa yang dilakukan di dunia  akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.  Kita sangat yakin jikalau seseorang selalu ingat kepada kematian, sudah barang pasti ia akan  berhati hati dalam melangkahkan kakinya dan  dalam melakukan apapun yang mempunyai resik berat dan berbahaya.  Nah, dengan begitu orang pasti akan takut melakukan korupsi atau sejenisnya, karena tanggung jawabnya akan sangat berat, terutama di akhirat.

Kalau pada tahun depan, merupakan tahun terakhir masa DPR sekarang ini, maka seharusnya pembenahan harus dilakukan, terutama oleh partai politik yang mengusungnya. Artinya harus ada seleksi ketat dan melhat trek record para calonnya, dan tidak asal memasang nama calon dengan hanya pertimbangan kemampuan dala bidang keuangan semata.  Sebab tanpa seleksi yang  baik dan ketat, Indnesia tidak akan beranjak maju dan bahkan kemungkinan rangking korupsi DPR akan  semakin tinggi.

Saat ini kita sudah melihat gelagat yang kurang baik, setelah beberapa gambar calon bermunculan di jalan jalan tanpa ada program yang disertakan.  Bahkan kita juga megenal sebagian diantara mereka justru sama sekali tidak dikenal, alis tidak pernah melakukan kerja sosial atau yang sejenis.  Lantas kita dapat membayangkan, bagaimana kalau sekiranya mereka  yang seperti itu kemudian menjadi wakil rakyat, apa yang dapat dlakukan oleh mereka?  Jangankan memikirkan kepentingan rakyat, untuk diam saja tanpa  merugikan rakyat dan negara akan terasa sangat sulit.

Tujuan utama mereka yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat bukan lagi untuk memperbaiki kondisi rakyat menuju  kesejahteraan,melainkan  semata mata untuk mencari pekerjaan, sehingga akan menguntungkan dirinya sendiri.  Hal tersebut terungkap pada saat  sebagian diantara calon melakukan pendekatan untuk meminta dukungan kepada masyarakat, yang dengan teganya mengutarakan bahwa keinginan untuk menjadi wakil rakyat ialah agar cicilan hutang mobilnya dapat dilunasi.  Sungguh keterlaluan oknum tersebut.  Bagaimana mungkin seorang calon wakil rakyat dapat mengatakan bahwa  keinginannya menjadi wakil rakyat hanya ingin dapat melunasi hutangnya.

Nah, kalau sudah seperti itu dimana  partai politik juga  sepertinya tidak peduli dengan masa depan rakyatnya, maka rakyat sendirilah yang harus memikirkannya, yakni melalui seleksi ketat terhadap  calon yang nantinya akan dipilih dalam pemilu legislatif April mendatang.  Bagaimana caranya?  Tentu kita dapat menyeleksnya melalui  orang yang mencalonkan diri, selama kita mengenal baik calon, itulah yang akan kita pilih, meskipun kita tidak pernah dimintai  dukungan oleh yang bersangkutan.  Sebaliknya juga kita tidak akan memilih calon yang kita ketahui trak recordnya jelek, meskipun mereka mendatangi kita untuk meminta dukungan atau bahkan meskipun berusha untk memberikan bantuan apapun.

Itulah yang dapat kita lakukan untuk harapan masa depan rakyat Indonesia, dan negara tidak akan lagi digerogoti oleh para korupstor yang berdasi, dan menampakan diri dibalik topeng kesalihan.  Semoga  hal seperti ini akan dapat dipahami dan dlakukan oleh  mayoritas  masyarakat kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.