FEBI TELAH LAHIR

Mungkin ada yang belum  mengetahui bahwa FEBI tersebut merupakan singkatan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang saat ini sudah hadir  di lingkungan perguruan tinggi Agama Islam di tanah air.  Fakultas tersebut merupakan pengembangan dari program studi yang awalnya berkaitan dengan persoalan ekonomi syariah.  Saat ini sudah banyak prigram studi yang terkait dengan ekonomi syaria, seperti menejemen keuangan syariah, perbankan syariah,  akuntansi syariah,  hukum isnis syariah dan lainnya.

Pada awalnya semua program studi tersebut ditempelkan pada fakultas tertentu, seperti fakultas Syariah dan juga ke fakultas ekonomi.  Naun seiring dengan perkembangan program program studi yang sangat cepat, dan munculnya banyak prodi baru di seputar ekonomi Islam, maka  mau tidak mau harus ada  sebuah fakultas tersendiri yang mewadahinya.  Dan  setelah  didiskusikan secara intensif dengan menghadirkan berbagai  argumentasi, maka  usulan untuk membuat atau membuka fakultas  tersebut akhirnya dilakukan di kemudian juga langsung disetujui oleh pihak kementrian  Pendayagunaan  Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Kemunculan fakultas ekonomi dan bisnis Islam tersebut sesungguhnya bukanlah sebuah kejutan, karena memang kehadiriannya sudah sangat dinantikan oleh kalangan yang memfokuskan diri  dalam bidang  ekonomi syariah.  Namun setelah benar benar hadir dan hari ini rencananya akan diresmikan oleh menteri Agama secara serentak di  Universitas Islam Negeri Alauddin Makasar, tentu kita semua patut mensyukurinya dan harus bersiap untuk melakukan ebrbagai hal untuk  mengembangkan fakultas baru tersebut, termasuk melengkapinya dengan beberapa program studi baru.

Sementara untuk persoalan yang terkait dengan mahasiswa, tentu tidak menjadi persoalan, karena selama ini  minat para calon mahasiswa untuk memasuki proram studi ekonomi Islam dan  lainnya yang masih  sealiran, cukup banyak dan bahkan dapat dibilang booming.  Hanya saja beberapa kelengkapan lainnya harus segera dilakukan, seperti para pengelola, mulai dari dekan, dan para wakilnya, dan juga pejabat di fakultas, kantor, tempat kuliah, lainnya.  Meskipun tetap masih dapat dilakukan, karena  sementara ini sudah ada prodinya dan juga beberapa fasilitas lainnya.

Justru yang lebih penting dari itu semua ialah bagaimana mengatur berbagai hal yang selama ini menjadi “milik” fakultas Syariah yang didalamnya ada prodi ekonomi Islam dan sejenisnya.  Artinya harus ada kesadaran penuh dari semua pihak, terutama  warga fakulas Syariah ntuk berbagi, baik dosennya,  dan fasilitas lainnya,  sehingga nantinya tidak akan menimbulkan persoalan.  Walaupun kita tentu menyadari bahwa hal semacam itu akan sangat sulit, dan sudah barang pasti akan muncul sedikit persoalan, tetapi kalau semua pihak saling menyadari, maka persoala tersebut akan dapat diminimalisasi atau bahkan dihindarkan.

Persoalan lainnya yang segera akan  dihadapi ialah bagaimana sesegera mungkin pengelola mempersiapkan diri dalam usaha mengembangkan fakultas, seperti  pemenuhan SDM dan fasilitas lainnya, terutama dalam waktu dekat.  Kita sama sama menyadari bahwa  saat ini sudah mendekati masa penerimaan calon mahasiswa baru, yang tentu memerlukan persiapan yang serius. Untuk itu harus segera dilakukan berbagai pembenahan dan pembicaraan mengenai pengelolaan fakultas baru tersebut.  Untuk menghindarkan  dari kemungkinan yang tidak diingnkan, tentu nantinya  akan dimunculkan  semacam surat edaran dari kementerian mengenai bagaimana dan seperti apa wujud dari fakultas baru tersebut.

Untuk itu kita mendorong agar  surat edaran tersebut segera diluncurkan dan tidak perlu ditunda tunda lagi.  Emakin cepat tentu akan semakin baik, karena akan dapat di hilangkan kemungkinan  kasak kusuk yang  tentunya tidak akan nyaman bagi seluruh penghuni kampus.  Bagaimanapun secara  keseluruhan kita harus bersyukur dengan bertambahnya satu fakutas lagi di perguruan tinggi kita, Cuma untuk mengelolanya kita harus tetap mempertimbangkan segala sesuatunya sehingga semuanya akan tetap berjalan dengan baik.

Untuk pertama kalinya fakultas baru tersebut hanya hanya dibuka di beberapa perguruan tinggi  agama Islam negeri saja, karena  pertimbangan jumlah peminat prodi ekonomi Islam yang selama ini ada.  Beberapa perguruan tinggi tersebut ialah IAIN Sumatra Utara Medan, IAIN Raden Fatah Palembang, UIN sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Surakarta, IAIN Walisongo Semarang, dan UIN Alauddin Ujung Pandang.  Tentu  pada waktu yang tidak terlalu lama juga akan dibuka lagi beberapa fakultas sejenis di beberapa perguruan tinggi gama Islam negeri lainnya.

Walaupun saat ini jumlah peminat proram studi ekonomi Islam dan sejenisnya tersebut sudah merata di hampir seluruh perguruan tinggi, termasuk di beberapa perguruan tinggi swasta, tetapi memang harus  dipertimbangkan  dari berbagai aspek, terutama  untuk perguruan tinggi negeri.  Karena  setiap membuka  fakultas baru, secara otomatis akan  memerlukan  pejabat baru yang harus ditanggung oleh negara.  Padahal kita semua tahu bahwa  beban negara untuk persoalan tersebut sangat terbatas dan memang sedang dibatasi.  Untuk itu agar semuanya dapat berjalan dengan normal dan tidak terganggu, harus dilakukan dengan cukup cermat.

Dengan munculnya fakutas baru yang bernama FEBI tersebut kita  tentunya berharap banyak bahwa pada saatnya nanti perguruan tinggi agama Islam yang saat ini  sepertinya kurang diminati oleh calon mahasiswa, akan  lebih  memberikan nuansa baru  dan menarik untuk dimasuki oleh masyarakat.  Kita  tentunya juga tahu, meskipun masyarakat banyak belum tentu tahu bahwa  kebutuhan tenaga   yang terkait dengan ekonomi Islam, atau lebih khusus lagi tenaga akuntansi dan perbankan syariah sangat kurang, sehingga  sangat dibutuhkan tenaga trampil yang dapat memenuhi harapan masyarakat perbankan syariah tersebut.

Bahkan secara nasional setiap tahunnya masih dibutuhkan tenaga puluhan ribu lagi.  Untuk kasus di Jawa Tengah saja menurut pernyataan dari pihakperbankan syariat masih diperlukan sekitar seribu tenaga pertahunnya. Nah,  konsisi seperti itu seharusnya disosialisasikan kepada masyarakat, terutama mereka yang masih ada di bangku sekolah, agar mereka kemudian meliriknya dan kemudian secara sungguh sungguh menekuninya.  Barangkali dengan memboomingnya para pendaftar ke prodi ekonomi Islam tersebut juga disebabkan leh adanya informasi tersebut, atau barangkali hanya sekedar menyahuti program studi yang berkonotasi langsung dengan persoalan keduniaan.

Sebagaimana kita tahu bahwa banyak prodi di lingkungan perguruan  tinggi  agama Islam yang seolah hanya berkaitan dengan masalah akhirat, dan tidak lagi berhubungan dengan persoalan dunia.  Dilihat daroi penamaan fakulasnya saja  sudah megesankan bahwa  prodi yang ada di dalamnya  lebih cenderung membicarakan atau mengkaji persoalan agaa dan akhirat, padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini ialah  yangbterkait dengan dunia nyata.

Sebagai misal kita dapat contohnya  fakultas yang ada sekarang ini terdiri dari ungkapan Arab, seperti Dakwah, meskipun saat ini sudah ditambahi dengan komunikasi, Syariah, Tarbiayah, dan sudah ditambah dengan keguruan, serta Ushuluddin.  Dan saat ini hanya fakultas Ekonomi dan Bisnis  Islam saja yang  dengan memakai bahasa Indonesia.  Seharusnya kementerian  memikirkan hal ini dan  kemudian membuat keputusan yang menguntungkan bagi perkembangan  pendidikan di lingkungan kementerian agama.

Kalau sekiranya  nama  atau nomenkaltur fakultas diterjemahkan dan disesuaikan dengan kondisi saat ini, semisal fakultas Dakwah hanya di sebuta sebagai fakultas ilmu kuminikasi saja, fakultas Syariah disebut dengan fakultas Hukum saja, fakultas Tarbiyah disebut dengan ilmu keguruan saja, dan fakultas Ushuluddin disebut sebagai fakultas  Teologi, tentu akan  memudahkan ssosialisasi serta memahamkan kepada masyarakat bahwa  di perguruan tinggi Islam tesebut memang dikaji persoalan yang bersentuhan langsung dengan persoalan dunia, bukan hanya semata mata persoalan agama dan akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.