MENINGGALKAN TUGAS UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI

Rupanya sudaha menjadi sangat lumprah bagi masyarakat Indonesia, setiap menjelang dilaksanakannya pesta demokrasi untuk memilih para wakil rakyat, semua  persoalan  yang terkait dengan kepentingan masyarakat menjadi terabaikan.  Artinya para politisi yang saat ini menduduki jabatan sebagai wakil rakyat sangat sibuk mengurus kepentingan mereka sendiri dan melupakan tugas yang seharusnya dilakukan.  Bahkan hanya sekedar untuk menghadiri rapat  dalam  menetapkan sesuatu yang penting bagi rakyat saja mereka ramai ramai meninggalkannya.

Kondisi tersebut selalu terjadi dan rakyat  seolah menjadi maklum dengan perilaku mereka, padahal hal tersebut merupakan sebuah pengingkaran terhadap kepercayaan yang diberikan oleh rakayat.  Atau setiap tahunnya, terutama pada akhir tahun seperti saat sekarang ini, hampir seluruh anggota dewan ramai ramai ke daerah lain  dengan alasan studi banding dan lainnya, padahal yang sangat jelas ialah dalam rangka menghabiskan anggaran saja.  Hal tersebut juga diakui oleh beberapa anggota dewan yang kebetulan bercerita kepada saya.  Sungguh merupakan sikap dan perbuatan yang sangat tidak etis dilakukan oleh para wakil rakyat yang sangat terhormat.

Apalagi menjelang pemilu legislatif seperti saat ini, mereka  ramai ramai melakukan pendekatan kepada masyarakat calon pemilih dengan meninggalkan tugas utama mereka sebagai wakil rakyat.  Mereka sangat rajin mendatangi masyarakat dan memberikan janji yang sangat muluk muluk serta tidak lupa sedikit memberikan bantuan.  Namun sebagaimana pada waktu yang lalu, janji mereka pada umumnya hanyal;ah pepesan kosong yang sama sekali tidak dilaksanakan.  Jangankan dilaksanakan, untuk dipikirkan dan dibahas saja  tidak pernah.

Sudah saatnya masyarakat cerdas dan menilai kinerja para anggota dewan yang saat ini  sudah menduduki kursi sebagai dewan perwakilan rakyat.  Kalau saat ini mereka  keluyuran terus dan meningggalkan tugas utamanya, maka harus kita perlakukan sebagai calon yan g tidak akan kita pilih.  Sebaliknya yang sampai akhir masa jabatannya sebagai anggota dewan selalu sibuk melakukan upaya perbaikan masyarakat, meskipun tidak sempat berkampanye untuk dirinya, maka itulah calon yang sebaiknya kita pilih kembali.  Kampanye baginya ialah dengan menjalankan tugas sebagai dewan dengan baik, jujur dan bersih.

Saat ini  di jalan jalan sudah banyak terpampang  gambbar para calon anggota legislatif dengan ukuran yang bervariasi, dan tidak lupa dituliskan nama serta partai yang mengusungnya.  Hanya sayangnya memang tidak disertai dengan program yang jelas  apa yang akan dilakukan nanti setelah mereka benar benar menjadi anggota dewan, sehingga seolah mereka hanya pamer wajah semata, bukan pamer program.  Pada umumnya masyarakat juga belum mengenal siapa mereka itu, mulai dari sepak terjangnya dalam  beraktifitas sosial kemasyarakatan,  seperrti kiprah mereka dalam membangtu masyarakat, dan lainnya.

Rupanya banyak diantara mereka para calon yang hanya mengandalkan pada kedekatan dengan partai dan  modal kauangan yang cukup.  Nah, justru karena itu masyarakat harus berhati hati dalam menentukana pilihan mereka, sebab boleh jadi mereka yang hanya mengandalkan uang, akan sangat berbahaya bila telah menjadi dewan, karena boleh jadi  mereka yang hanya mengandalkan modal uang tersebut justru malah tidak akan memikirkan rakyat, bahkan malahan hanya akan mengecewakan dan menyakiti hati rakyat, dengan sikap dan perbuatan mereka, seperti melakukan korupsi dan  sejenisnya.

Atau setidaknya  hanya mementingkan diri mereka sendiri dan sama sekali tidak memikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat yang diwakilinya.  Salah satu tanda nahwa mereka tidak memikirkan rakyat ialah kalau mereka sering  tidak mengikuti rapat dan sidang resmi, baik di komisi maupun paripurna, serta tidak pernah menanggapi keluhan masyarakat, sehubungan dengan kebijakan yang kurang menguntungkan rakyat. Bahkan seolah mereka itu adalah orang yang harus dilayani oleh rakyat, bukan sebaliknya.

Kebanyakan mereka lupa  setelah mendapatkan berbagai fasilitas dan banyak harta, lalu memandang remeh kepada masyarakat.  Bahkan mereka  meminta harus dilayani sedemikian rupa, termasuk harus mendapatkan fasilitas yang lebih dalam berbagai hal.  Padahal seharusnya mereka harus berperilaku santun dan mengutamakan rakyat ketimbang dirinya sendiri, seta selalu ringan tangan untuk membantu rakyat.  Rupanya mereka hanya ingat kepada rakyat saat menjelang pemilihan umum saja dan seolah bersikap baik dan membela rakyat, padahal semua itu hanyalah sebuah tipuan belaka.

Apakah memang  seperti itu wujud dewan perwakilan rakyat kita, bukankah mereka statusnya  sebagai wakil yang seharusnya  status tersebut selalu melekat di dalam diri mereka, sehingga mereka akan selalu mendengar keluhan  dan berbagai problem yang terjadi di masyarakat, kemudian mencarikan solusinya serta selalu beruhana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum.  Rupanya memang sangat dipelukan sebuah  perubahan mendasar bagi para wakil rakyat tersebut, yakni dengan disusujnnya sebuah  aturan yang memberikan pembatasan bagi mereka, teruatama dalam  hal mereka melalikan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai anggota legislatif.

Aturan tersebut harus jelas memberikan sanksi yang berat, bahkan hingga kepada pemecatan, manakala ditemukan kesalahan fatal bagi mereka, seperti melakukan kecurangan dalam tugas, melakukan hal hal yang dapat merusak citra dewan, yakni  semisal melakukan praktek asusila atau kekerasan kepada pihak lain dan sejenisnya.  Memang id internal dewan sudah ada dewan kehormatan, tetapi sering kali kita dibuat keceea dengan keputusan yang dibuat, karena ternyata tidak mencerminkan keadilan bagi rakyat.

Kalau misalnya budaya masyarakat kita, termasuk para anggota dewan sudah demikian bagus  teruitama dalam hal sikap kesatria dan tanggung jawab moral kepada masyarakat, sudah tinggi, maka aturan seperti itu tentunya  tidak diperlukan lagi, seperti  kondisi di beberapa negara lain.  Artinya  kalau budaya baik tersebut sudah meresap dalam diri seluruh anggota dewan dan para pejabat kita, maka apabila mereka terjerumus  atau terpeleset melakukan hal yang dapat menurunkan kredibilitas mereka kemudian dengan kesadaran dirinya mengundurkan diri.

Kita tentunya  sudah mendengar banyak berita tentang seorang pejabat yang tersandung skandal seksual dengan seseorang, maka  dengan legowo, dia kemudian mengundurkan diri dan  tidak lupa meminta maaf secara umum kepada seluruh rakyat.  Kita juga mengetahui  adanya seorang pejabat yang ketahuan melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan tabu dan mendapatkan kritikan banyak masyarakat, kemudian yang bersangkutan meminta maaf dan mengundurkan diri.

Tentu akan lain ceritanya dengan  para pejabat di negeri kita yang lebih mencintai jabatannya, meskipun sudah  dikritik banyak oleh masyarakat.  Biasanya mereka berdalih dan mencari alasan untuk tidak  mengundurkan diri.  Kalau itu seorang menteri, maka ia akan mengatakan ya terserah kepada presiden, karena saya  pembantunya dan diangkat olehnya, maka untuk melengserkan saya juga mestinya  dilakukan oleh presiden.  Kalau ia seorang anggota legislatif, maka ia akan mencari alasan bahwa selama belum ada keputusan yangb tetap maka  ia masih berhak untuk menduduki jabatannya, dan begitu seterusnya.  Intinya mereka sama sekali tidak  memperhatikan aspirasi masyarakat, tetapi inginmempertahankan kedudukannya, meskipun sudah sangat tidak layak.

Intinya bahwa kita sudah harus  dapat melakukan perubahan dalam hal menentukan pilihan kita terutama kepada para calon anggota legislatif.  Berikan pilihan kepada mereka yang memang benar benar memikirkan kepentingan rakyat, bukan mereka yang mempunyai banyak uang.  Nasib rakyat harus mereka pikul untuk kemudian diusahakan  agar men jadi sejahtera dan nyaman dalam menjalani kehidupan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.