HARUS SIAP MENJADI WAKIL RAKYAT

Banyak persoalan yang hingga saat ini terus bermunculan di seputar anggota  dewan perwakilan rakyat yang terhormat.  Mulai dari persoalan korupsi, suap dan perempuan serta banyak lainnya.  Pertanyaannya kemudian ialah mengapa  para anggota DPR yang seharusnya menjadi teladan karena  telah dipercaya untuk menjadi wakil rakyat, justru mengingkari posisinya sebagainwakil rakyat.  Jangankan kemudian memikirkan  rakyat agar dapat menjadi sejahtera, tidak ngrusuhi saja sudah cukup bagus.  Rupanya masih banyak diantara para anggota  DPR yang belum sepenuhnya menyadari posisinya sebagai wakil rakyat.

Nah, berdasarkan  pertimbangan tersebut kiranya sangat bagus manakala untuk  pemilu legislatif yang akan datang, dilakukan seleksi yang cukup ketat oleh partai politik pengusungnya dan sekaligus ada semacam kontrak politik kepada masyarakat calon pemilih, sehingga pada saatnya nanti masyarakat akan  menjadi yakin dengan pilihan mereka.  Sudah saatnya masyarakat diikut sertakan dalam proses memilih  wakil mereka, bukan saja  hanya sekedar memilih dan tidak mempunyai cukup pengetahuan mengenai para calon yang akan dipilih, tetapi masyarakat harus disuguhi informasi yang cukup tentang para calon yang akan menjadi wakil ereka.

Dengan begitu diharapkan nantinya seluruh wakil rakyat  akan terkontrol dan memang benar benar mewakili rakyat, khususnya dalam hal mengupayakan kesejahteraan mereka.  Artinya para wakil rakyat memang mewakili rakyat dan memperlakukan  rakyat dengan wajar serta tidak melakukan tindakan yang justru merugikan masyarakat.  Ini sangat penting, sebab saat ini sebagian wakil rakyat justru bertindak aneh dan terkadang melukai perasaan rakyat yang diwakilinya.

Sudah sering kita dengar  adanya  anggota dewan yang melakukan pelecehan terhadap kaum perempuan, meskipun kemudian mereka ramai ramai mengingkarinya.  Bahkan terkadang juga korbannya menjadi ketakutan sendiri disebabkan  adanya semacam “ancaman” atau bentuk lainnya yang memang sudah lazim dilakukan oleh orang orang kuat dan beruang.  Tentu kita masih ingat dengan peristiwa yang menimpa seorang calon komisioner KPI yang bernama Aghata Lily yang sekarang sudah menjadi angota komisioner KPI pusat.  Ada 2 pimpinan komisi 1 dan dua anggotanya yang  dilaporkan oleh komnas perempuan kepada Badan Kehormatan DPR.

Memang kemudiana mereka yang dilaporkan  mengelak bahwa mereka melakukan pelecehan terhadap Lily.  Mereka memang mengakui bercanda  dengan Lily, karena  sudah akrab dan kenal sehingga guyonan tersebut sudah biasa dilakukan oleh mereka.  Dan konon mereka juga sudah  mengointak kepada Lily bahwa Lily juga tidak merasa dirinya dilecehkan dengan  kegenitan mereka.  Namun terlepas nantinya BK akan memanggil mereka dan memberikan peringatan atau sanksi kepada mereka, kelakuan mereka yang genit pada saat melakukan tugas  mengetes, tentu saja  sangat tidak terpuji. 

Mereka adalah anggota dewan yang sangat terhormat, dan karena itu tidak semestinya mereka melakukan hal hal  seperti itu, meskipun dengan sanggahan bahwa hal tersebut bukan merupakan pelecehan, tetapi sangat mengganggu yang bersangkutan maupun masyarakat luas.  Candaan dan kegenitan mereka seharusnya disimpan saja dan selama menjadi anggota dewan tidak boleh dimunculkan, apalagi dalam suasna resmi menjalankan tugas sebagai wakil rakyat yang melaksanakan fit and proper test kepada  calon anggota KPI.

Kita dapat menilainya bahwa candaan mereka memang tidak pantas diucapkan oleh para  dewan yang terhormat.  Beberapa  candaan yang sempat dilontarkan mereka diantaranya ialah: 1. Ibu kok halus sekali, lemah gemulai, apa nanti bisa tegas?,2. Sudah punya pacar belum? wah mesti tukeran nomor HP nih, 3. Ibu kok cantik? hari ini ke spa berapa kali?.  Pernyataan seperti itu hanya pantas dilakukan oleh orang jalanan dan bukan di gedung Dewan yang sangat dihormati.

Menurut saya  mereka yang dilaporkan sebaiknya segera meminta maaf kepada yang bersangkutan dan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah dilukai oleh tingkah mereka.  Buannya malah membenarkan tindakan mereka yang jelas jelas telah melukai perasaan masyarakat, terutama para perempuan.  Mungkin saja aghata Lily sungkan untuk mengatakan yang sesungguhnya, karena  mengingat kedudukan mereka dan kemungkinan yang bakal timbul jika dia mengatakan perasannya  yang sesungguhnya.  Jangankan yang langsung berhadapan dengan mereka, masyarakat saja yang tahu merasa terlecehkan.

Menjadi wakil rakyat memang harus berani berkorban, terutama dalam hal mengungkapkan perasaan, karena bagaimanapun masyarakat akan  merasa tersinggung dengan semua pernyataan da perbuatan mereka yang tidak benar dan tidak sopan.  Akan lain halnya kalau mereka bukan wakil rakyat yang digaji oleh uang rakyat.  Nah, karena mereka  menjadi wakil rakyat, maka  mereka harus dapat mengerti perasaan rakyat yang diwakilinya serta terus menerus  berusaha memikirkan nasib mereka.

Tampaknya saat ini hampir tidak ditemukan anggota dewan yang memang benar benar  melakukan tugasnya dengan baik.  Kebanyakan  dari mereka justru lebih merasa mewakili partainya ketimbang mewakili rakyat.  Bahkan yang palng ironis ialah mereka hanya membutuhkan dan memperlakukan  manis kepada rakyat kalau ada maunya, seperti saat menghadapi pemilihan umum, dan setelah itu mereka sama sekali tidak pernah memikirkan masyarakat yang memilih mereka.  Mereka juga sangat mudah mengumbar janji yang muluk muluk, tetapi tidak pernah diingat setelahnya, apalagi diusahakan untuk diwujudkan.

Sehubungan dengan janji janji yang tidak pernah dipenuhi setelah mereka menjadi anggota dewan tersebut, pernah dimunculkan sebuah  banyolan yang bernada mengkritik para anggota dewan, yakni ungkapan yang berbunyi: dalam pemilu,kalau jadi, maka lupa, sedangkan dalam hal keluarga berencana, khususnya  yang pakai pil KB, sebaliknya, yakni kalau lupa, malah jadi.  Pernyataan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, karena memang pada umumnya kondisinya seperti itu, dan  bahkan malahan tidak terbantahkan.

Persoalannya ialah bagaimana  kita sebagai warga masyarakat yang mempunyai hak untuk menentukan keterpilihan para wakil rakyat tersebut dapat merencanakan sebuah ikhtiyar agar para wakil rakyat yang akan dipilih pada tahun depan tidak seperti yang ada saat ini, terutama dalam hal kinerja dan kepedulian mereka.  Pertama yang harus kita upayakan ialah mendorong partai politik untuk mengkader para calon legislatif mereka melalui berbagai training terfokus dan pelatihan lainnya.  Harapannya ialah   bahwa mereka akan mendapatkan bekal yang cukup untuk berbuat sesuatu bagi masyarakatnya.

Demikian juga kita sangat berharap bahwa partai politik harus tegas dalam memberikan sanksi  kepada para kadernya yang jelas jelas atau telah terbukti melakukan perbuatan tidak terpuji, baik yang terkait dengan persoalan moral maupun persoalan hukum.  Kita berharap partai politik tidak membela  dengan membabi buta kadernya yang jelas salah dan menyimpang.  Komitmen partai politik yang demikian, tentu akan semakin mendapatkan simpati dan dukungan masyarakat.  Kita tentu akan menilai bahwa partai politik yang membela kadernya yang salah itu sam asaja membela kepada  kesalahan.

Selebihnya kita masing masing harus lebih cerdas dalam menentukan pilihan pada saatnya nanti.   Pilihan kita harus benar benar  orang yang amanah, dan konsisten dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak, serta bersih diri, tidak melakukan tindakan melawan hukum serta tidak melkukan hal hal yang iab secara norma dan etika.  Semoga  para wakil rakyat mendatang akan lebih baik dan berkualitas serta  lebih memperhatikan rakyat ketimbang  diri mereka sendiri dan partai mereka.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.