NASIONALITAS

Sering orang berbicara mengenai nasionalis yang dikaitkan dengan sebuah perilaku atau seseorang secara sederhana, seperti  apakah ia menghargai dan menggunakan  budaya lokalnya sendiri atau bukan dan sejenisnya.  Tetapi tidak membicarakannya secara substansial apa itu nasional dan bagaimana ukurannya.  Meskipun demikian  seolah seluruh manusia di negeri ini sudah paham dengan istilah tersebut.  Jadi ukurannya sangat sederrhana, yakni mengakui dan menggunakan sesuatu yang berasal dari manusia Indonesia atau bangga dengan semua yang ada dan diproduksi oleh bangsa Indonesia.  Itu setidaknya yang menjadi ukuran bagi bangsa ini, dan tentu akan lain kalau nasionalis tersebut diukur dari bangsa lain.

Memang tidak salah menilai nasionalis kepada seseorang dari sikap dan tingkah lakunya.  Sebagai contoh, kalau seseorang  lebih mementingkan  produksi dalam negeri yang dihasilkan oleh bangsa sendiri ketimbang  produk asal luar negeri, maka ia sudah dikatakan sebagai nasionalis.  Atau kalau seseorang lebih menghargai budaya masyarakat local daerahnya ketimbang budaya asing, maka ia juga sudah disebut sebagai nasionalis, dan serterusnya.  Namun pengertian tersebut tentu aka nada  resiko dan kritik terhadapnya, karena  orang yang melakukan hal hal tersebut ternyata bukan  dilakukan secara sadar sebagai bentuk perilaku nasionalis, tetapi hanya disebabkan keterpaksaan semata.

Meskipun begitu  memang tidak salah kalau kita bersikap bangga dengan apa yang dimiliki oleh Indonesia, seperti mata uang rupiah, bendera  Merah putih, dan lainnya.  Kenapa saya mengatakan demikian, karena saya menyaksikan sendiri betapa ada  sebuah Negara dimana warganya tidak menghargai mata uangnya sendiri, bahkan malahn lebih mengutamakan mata uang milik Negara lain.  Tentu melihat kondisi tersebut, saya  merasa bangga dengan rupiah milik kita, meskipun nilainya terus merosot dimata internasional.

Saya menyaksikan dan mengalami adanya sebuah Negara yang mayoritas warganya tidak mau menggunakan mata uang negeranya sendiri, yakni pada saat saya di Colombo.  Memang masih ada yang mau bertranssaksi dengan menggunakan uang rupee yang dimiliki, tetapi kebanyakan mereka lebih suka manakala  bertransaksi dengan mata uang  dollar Amerika.  Bahkan di tem,pat tempat tertentu, seperti di bandara, malah sama sekali tidak mau menerima uang negera mereka sendiri dan harus berupa dollar Amerika.

Semua jenis barang yang dijual dilabeli dengan harga dollar Amerika.  Sungguh gila  menurut pendapat saya, karena  mata uangnya sendiri sama sekali tidak dihargai, yang seharusnya siapapun yangmmasuk ke Negara tersebut harus menyesuaikan diri dengan mata uang mereka.  Lebih tragis lagi ialah Negara Male, sebuah Negara kepulauan yang terkletak di sbelah  barat Daya Colombo, dimana Negara tersebut  memp[unyai 1200 pulau yang dihuni konon hanya 200 saja tetapi sangat kecil.  Nah, di negera tersebut justru penggunaan mata uang dollar Amerika menjadi lebih dominan, karena  mata uang mereka ruffee malah tidak di gunakan oleh warganya sendiri.

Hamper sama dengan Colombo,  semua hotel dan  barang yang dijual di Negara kepulauan tersebut menggunakan dollar Amerika, meskipun  ada sebagian kecil yang mau menggunakan uang mereka tetapi dengan dikurskan  dollar dan dihargai sangat kecil.  Saya memang tidak tahu  tentang persoalan lainnya yang dapat dihubungkan dengan nasionalis mereka, tetapi dengan melihat kenyataan tersebut, tentunya kita masih cukup bisa berbangga dengan komitmen  warga bangsa ini yang tetap menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran.  Kalaupun ada sebagian yang memperbolehkan membayar memakai dollar Amerika, itupun harus dikurskan dengan rupiah, dan semua barang dilabeli dengan harga rupiah.

Namun demikian bukan berrarti  nasionalis  itu sama sekali tidak boleh menggunakan sesuatu yang dari luar, karena bagaimanapun kita tetap harus berkomunikasi dengan orang di luar negera kita.  Sebagai contoh, mengenai bahasa, kita memang harus menggunakan bahasa kita dalam berkomunikasi seharu hari, tetapi bukan berarti sama sekali kita menggunakan bahasa lain, seperrti bahasa mandarin, bahasa Arab, Inggris dan lainnya.  Cuma dalam acara resmi yang diselenggarakan yang sifatnya nasional memang seharusnya memakai bahasa kebanggaan kita bahasa Indonesia.

Bahkan tentang makananpun sebagai orang nasionalis, seharusnya tetap mengutamakan  makanan yang diproduksi oleh bangsa sendiri.  Toh bangsa kita sangat kaya  aneka macam kuliner yang sangat cocok dengan lidah kita.  Walaupun demikian  kita juga diperbolehkan untuk makan makanan luar, seperti pizza, spaghetti dan lainnya.  Dan yang terpenting sikap dan periolaku kita tetap menghargai dan berusaha untuk melestarikan sesuatu yang dihasilkan oleh bangsa ini. Itulah sikap nasionalis yang seharusnya tetap ditunjukkan, bukan mereka yang terpaksa melakukan sesuatu produk Indonesia, tetapi hatinya selalu menginginkan  adanya pemusnahan semua yang produksi dalam negeri.

Bangga menjadi  warga bangsa Indonesia juga merupakan salah satu aspek penting dalam  nasionalis tersebut.  Bagaimana mungkin orang dapat dikatakan nasionalis, kalau ada orang  yang lebih bangga menceritakan  luar negeri ketimbang yang dimiliki oleh bangsanya sendiri.Semua yang dimiliki oleh Indonesia, termasuk alamnya,  hasil produksinya, lambang lambang nasionalnya, dan juga berbagai kesepakatan nasional yang telah ditetapkan bersama.

Jadi  aspek nasionalis itu cukup banyak, dan  kalau hal hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran, tentu kita dapat menyebutnya sebagai sebuah sikap nasionalis.  Artinya kalau ada orang yang mau melakukan apa saja termasuk pengorbanan untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia, terutama  apabila dikaitkan dengan upaya pihak asing yang ingin menguasai apapun, tentu kita dapat menyebutnya sebagai nasionalis.  Tetapi kalau ada anggota atau pengurus sebuah partai politik yang berbasiskan nasionalis, tetapi  sikap dan perilakunya tidak mencerminkan  berbgai hal yang dapat disebut nasionalis, maka orang tersebut sama sekali tidak disebut sebagai nasionalis.

Jadi nasionalis ataupun bukan, sejatinya bukan terletak pada keanggotaan seseorang pada sebuah partai politik atau orgnaisasi yang berasaskan nasionalis, melainkan terletak pada sikap dan perilakunya yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan nasionalis. Atau dengan kata lain bahwa nasionalis tersebut  tidak perlu digembar gemborkan, tetapi cukup dibuktikan dengan tindakan untuk mencintai segala produk dan segala sesuatu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Kenapa  saya harus mengatakan tentang nasionaltas ini, semata mata karena saya merasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang kaya  perbedaan tetapi dalam bersatu menjadi sebuah bangsa yang besar, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang memerlukan uluran tangan kita.  Kebanggan saya tersebut bilamana  disandingkan dengan kenyataan sebagaimana saya sebutkan di atas, yakni adanya  warga bangsa yang tidak menghargai mata uangnya sendiri dan justru malah lebih membanggakan mata uang milik bangsa lain.

Untungnya bangsa kita dalam persoalan ini masih sangat bagus, yakni  mau menghargai rupiah, meskipun saat ini sedang terpuruk.  Justru menjadi tugas pemerintahlah untuk memperbaiki nilai mata uang kita, sehingg akan dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga bangsa  yang tetap setia memegang  rupiah sebagai mata uang resmi.  Menurut saya ini merupakan salah satu bukti bahwa bangsa ini sesungguhnya  masih mempunyai sikap nasionalis yang sangat baik, kerena itu perlu dilestarikan, bukannya disingkirkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.