JUMATAN DI COLOMBO

Kebetulan hari jumat, acara International Conference yang diselenggarakan oleh ASAIHL masih berlangsung, dan pada saatnya, kami semua yang muslim dianar oleh panitia untuk menunaikan ibadah shalat jumat di sebuah masjid yang cukup megah dan bersandingan dengan sebuah gereja.  Nama masjid itu sendiri ialah masjid Syeh Utsman Waliyullah, sebuah nama yang barangkali diambil dari seorang nama sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Utsman bin Afan.  Hanya saja  setelah  mengikuti jumatan di masjid, kamai semua  merasa bahwa  jamaah masjid tersebut lebih menyukai membaca shalawat.

Memang dalil yang selalu dibaca ialah tentang ayat Allah yang menginformasikan bahwa Allah swt dan para malaikat-Nya senantiasa membacakan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, karena itu umat Islam disuruh untuk selalu membacakan shalawat dan salam untuk nabi Muhammad saw.  Dengan selalu membaca shalawat tersebut, seorang muslim dianggap telah melakukan perintah Tuhan dan sekaligus tidak bakhil.  Nabi  sendiri pernah mengatakan bahwa  orang yang paling bakhil ialah mereka yang mendengar nama Nabi Muhammad saw disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat kepadanya.

Pada awalnya kami semua  sempat heran, sebab setelah para hadirin jamaah jumat sudah datang dan siap,  tiba tiba seseorang tampil kedepan dan membaca ayat sebagaimana tersebut di atas dan kemudian mengajak seluruh hadirin untuk bersama sama membaca sahalawat. Setelah beberapa lama, kemudian tampil seorang khatib yang memberikan ceramah atau khutbahnya dengan berapi api dan cukup lama, bahkan menurut catatan saya hampir satu jam.   Awalnya saya menjadi heran karena  khutbah yang disampaikan tidak lazim dan tidak memenuhi syarat dan rukunnya khutbah.

Namun keheranan saya kemudian hilang, begitu mengetahui bahwa setelah khutbah tersebut selesai, barulah seseorang membaca shalawat lagi dan kemudian baru adzan, dan setelah adzan muadzin tersebut mempersilahkan kepada jamaah untuk melakukan shalat sunnah jumat.  Setelah selesai shalat sunnah, muadzin tersebut juga membaca shalawat kembali dan  mempersilahkan kepada khotib untuk menaiki mimbar untuk berkhutbah,  dan setelah membaca salam, muadzin tersebut beradzan sekali lagi.

Kutbah kemudian dilaksanakan sebagaimana lazimnya, tetapi hanya  memakai bahasa Arab dan sangat pendek,  sehingga  dua khutbah yang dibacakan oleh khatib tidak lebih dari 10 menit.  Tidak lupa sebelum muadzin beriqamah, ia  membaca shalawat terlebih dahulu, baru kemudian membaca iqamah.  Setelah melaksanakan shalat jumat pun kemudian bersama dengan seluruh jamaah, imam  membaca shalawat sebagai ganti istighfar yang biasa dibaca oleh kebanyakan umat Islam.

Itulah pengalaman saya mengikuiti jumatan di Colombo yang memang mempunyai cara tersendiri.  Saya memang menjadi paham dengan kondisi tersebut, sehingga eberapa pertanyaan  yang kemudian muncul diantara  para peserta konferensi kepada saya,  saya dapat menjawabnya dengan cukup memuaskan dan dapat dimengerti.  Artinya emang ada sebuah  keyakinan bahwa  seharusnya khutbah itu dibaca dalam bahasa Arab, karena  selama hidupnya, Nabi Muhammad saw selalu berkhutbah dengan memakai bahasa Arab.

Demikian juga selama hidup nabi Muhammad saw, beliau selalu berkhutbah tidak terlalu panjang, bahkan kemudian muncul istilah bahwa  orang yang pandai ialah mereka yang khutbahnya lebih pendek ketimbang shalatnya.  Walaupun  di negera kita saat ini sudah dibalik, yakni khubah yang dibacakan justru lebih panjang ketimbang shalatnya, tetapi di Colombo ternyata masih teta diikuti dengan cukup konsisten.

Nah, oleh karena  saat ini, khususnya di negara non Arab, hampir seluruh pendengarnya  tidak dapat memaham bahwa Arab, maka  sepertinya khutbah yang dilakukan setiap jumat, tidak akan memberikan manfaat kepada para jamaah.  Untuk itulah kemudian dilakukan usaha agar pesan jumat dari khatib dapat dimengerti dan dikerjakan leh para jamaah jumat,  yakni dengan  memberikan ceramah pendahuluan sebelum dilaksankaan  rangkaian shalat jumat.  Sedagkan rangkaian shalat jumat termasuk khutbahnya, tetap mengikuti sebagaimana yang dialkukan oleh nabi Muhammad saw.

Sedangkan mengenai persoalan pembacaan shalawat pada  rangkaian  pelaksanaan  shalat jumat sebagaimana  saya gambarkan tersebut d atas, sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan, karena memang tidak termasuk di dalam kategori bid’ah atau menyalahi pelaksanaan jumat itu sendiri.  Bahkan secara umum sebagaiamana disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa membaca shalawat dalam seluruh kesempatan adalah sangat baik dan dianjurkan kepada seluruh umat Islam.  Artinya kalau umat Islam  melakukan jumatan sebagaimana dipraktekkan oleh masyarakat Colombo tersebut, tidak menyalahi syariat Islam.

Tetapi bagi masyarakat muslim yang tidak menjalankan sebagaina tersebut, yakni seperti yang biasa kita saksikan  di negeri kita, meskipun  tidak sebagaimana yang dialkukan oleh Nabi Muhammad saw. juga tidak menjadi masalah.  Artinya ketika khutbah jumat dilakukan dengan bahasa Indonesia, dan bacaan wajib, seperti syahadat, shalawat, bacaan al-Quran dan doa dilakukan dengan memakai bahasa aslinya, yakni bahasa Arab.  Itu dilakukan dengan alasan bahwa pada saat  nabi Muhammad saw. ada, seluruh mustami’in atau para  jamaah jumat dapat memahami apa yang disampaikan oleh Nabi dalam khutbahnya, sedangkan kalau saat ini tetap dilakukan dengan bahasa Arab, maka  tidak ada yang dapat memahaminya atau setidaknya  tidak seluruh jamaah dapat menagkapnya.

Sebagaimana kita tahu bahwa maksud dilakukannya khutbah jumat ialah untuk memberikan penceraqhan kepada para jamaah jumat mengenai berbagai hal, sehingga mereka  akan tetap dapat menangkap kebaikan dan menjauhi larangan.  Lantas agaimana khutbah dapat ditangkap oleh jamaah, kalau disampaikan dengan bahasa  yang tidak dapat dimengerti oleh mereka.  Nah, dengan alasan seperti itulah kemudian  mayoritas  ulama kemudian  berpendapat bahwa  khutbah jumat dapat disampaikan dengan dibantu dengan bahasa lokal yang dapat dipahami oleh mayoritas  jamaah.

Demikian juga khutbah yang disampaikan biasanya cukup panjang, meskipun tidak terlalu panjang.  Dikatakan panjang tersebut, apabila dibandingkan dengan pelaksanaan shalatnya  itu sendiri.  Itu juga dengan  alasan bahwa para sahabat ada masa Nabi dahulu, sudah  banyak menerima ceramah dari Nabi, sehingga akalau khutbah dilakukan secara panjang, sangat dikhawatirkan mereka akan menjadi bosan dan tidak memperhatikannya.  Tentu hal tersebut akan sangat berbeda dengan di negara kita, sebab kebanyakan mereka yang  menjalankan ibadah shalat jumat, biasanya hanya dapat mendengarkan ceramaah keagamaan  pada saat mendatangi shalat jumat semata.  Sekranya khutbah dilakukan dengan  pendek, maka  dirasakan kurang dapat memanfaatkan waktu yang sangat bagus untuk membina masyarakat.

Namun menurut saya  kedua bentuk pelaksanaan shalat jumat sebagaimana yang saya sebutkan di atas sama sama mempunyai alasan yang masuk akal.  Artinya pelaksanaan rangkaian jumat sebagaimana dilakukan oleh masyarakat Colombo, yakni dengan mensiasati kondisi tersebut dengan memberikan ceramah diluar rangkaian shalat jumat, sehingga  khatib tetap  dapat memberikan pesan pesannya untuk melaksanakan  perintah Tuhan  dan menjauhi larangan, dan rangkaian jumatannyapun masih tetap dapat dijalankan sebagaimana dilaksanakan oleh Rasul.

Sedangkan pelaksanaan  rangkaian shalat jumat sebagaimana dilaksanakan di negera kita, yakni dengan memberikan terjemahan khutbah kedalam bahasa lokal sehingga  tujuan khutbah dapat tercapai, semuanya tetap sah dan tidak menyimpang dari tuntunan Rasul Muhammad saw.  Justru yang terpenting ialah bagaimana kita dapat menjalankan syariat Islam yang berupa pelaksanaan shalat jumat dan sekaligus dapat membina umat sehingga menjadi lebih baik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.