AL-TAHRIM

Surat ini merupakan surat yang ke 66 dari 114 surat yangb terdapat di dalam al-Quran.  Surat ini termasuk surat Madaniyyah yang pendek, dan ayatnya hanya terdiri atas 12 ayat saja.  Meskipun demikian surat ini mengandung ajaran yang sangat dalam dan luas.  Penamaan surat ini dengan al-Tahrim disebabkan pada awal ayat ini disebutkan kata yang berasal dari kata tahrim yang berarti mengharamkan.  Surat ini memang lebih banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga, dan pada awalnya  rumah tangga yang dijalani oleh Nabi Muhammad saw.  namun pada dasarnya ialah pelajaran yang diberikan leh Tuhan kepada semua orang.

Kandungannya berisi masalah  keimanan, hukum dan lainnya.  Pada intinya manusia diperintahkan untuk sesegera mungkin melakukan pertaubatan dan hal tersebut kesempatannya hanya ada di dunia, sebab di akhirat sama sekali tidak ada kesempatan untuk bertaubat.  Dan segala amal perbuatan manusia itu akan dibalas oleh Tuhan pada saat di akhirat nanti.  Tuhan juga  melarang kepada umat manusia untuk mengharamkan dirinya atas apa saja yang dihalalkan oleh Tuhan.  Contoh yang diangkat di surat ini ialah pada saat nabi  Muhammad sqaw mengharamkan dirinya untuk menikah lagi atau berpoligami semata mata hanya untuk menyenangkan harti isterinya.

Namun hal tersebut justru diingatkan oleh Tuhan bahwa  perbuatan tersebut tidak benar dan harus segera  membebaskan diri dari  pengharaman tersebut.  kalau pengharaman tersebut diletakkan dalam kerangka sumpah, maka ia harus membatalkannya dengan membayar kafarat atau denda.  Artinya kalau sesuatu oleh Tuhan dihalalkan, maka kita harus tetap menganggapnya sebagai sebuah kehalalan, meskipun kita tidak menjalankannya dengan berbagai alasan.  Sebab dengan mengharamkan sesuatu yang  dihalalkan oleh Tuhan, sama  artinya dengan menentang Tuhan atau menentang ketentuan Tuhan.

Tentu akan lain menganggap sesuatu yang halal sebagai sebuah keharaman dengan tetap menganggap sesuatu tersebut tetap halal dan  seseorang tidak melaksanakannya.  Karena kalau menganggap haram tentu bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, sedangkan kalau seseorang tidak melakukan sesuatu yang halal itu ada kalanya disebabkan oleh sebuah kondisi  dan pertimbangan kemaslahatan seseorang, sehingga menurut pertimbangannya  akan lebih baik tidak menjalankannya, meskipun diperbolehkan.

Surat ini juga menganjurkan kepada seluruh umat beriman untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari api neraka, yakni melalui aktifitas menjalankan seluruh perintah Tuhan dengan tylus dan sekaligus dalam waktu yang bersamaan terus berusaha menghindari seluruh perbuatan maksiat yang dilarang oleh Tuhan.  Kewajiban untuk menyelamatkan diri dan keluarga tersebut tentu harus diperhatikan dan  dilaksanakan, karena  sebagai orang beriman  sudah barang pasti menginginkan diri dan seluruh keluarganya  selamat dan bersama  masuk surga di akhirat nanti.

Memang dalam kehidupan rumah tangga terkadang terjadi perbedaan antara suami isteri dan  anak, tetapi semua  p[erbedaan tersebut selayaknya dapat diselesaikan, sehingga tidak meningkat kepada persoalan  hakiki, seperti persoalan keimanan dan sejenisnya.  Untuk menyelamatkan diri dan keluarga memang tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus eluruh keluarga  mau menyadari dan menjalankan semua perintah Tuhan.  Bagaimanapun  shalihnya seseorang, tetapi dia tidak akan mampu menolong keluarganya, kalau misalnya keluarganya tersebut bermaksiat kepada Tuhan

Banyak dicontohkan dalam kehidupan nyata para Nabi terdahulu.  Kita tentu tahu cerita para nabi, dimana sebagian diantara mereka mempunyai keluarga yang maksiat dan menentang Tuhan dan pada akhirnya mereka  dimusnahkan oleh adzab Tuhan, dan Nabi  tidak mampu berbuat apa apa. Isteri nabi Nuh yang durhaka kepada nabi Nuh dengan tetap membangkang  untuk menuruti perintah Tuhan dan mempercayai syariat yang dibawa olehnya, akhirnya  mati tenggelam oleh bajir dahsyat yang terjadi pada saat itu.  Demikian juga isteri nabi Luth yang justru mendukung umat Nabi Luth yang menentang ajaran Nabi Luth tersebut, pada akhirnya  mati beserta kaumnya setelah  adzab diturunkan oleh Tuhan.

Sebaliknya ada juga contoh sebaliknya, dimana kalau seseorang tetap memelihara keimanan, meskipun harus berada di lingkungan orang orang yang menentang Tuhan, mereka akan tetap mendapatkan perlindungan Tuhan dan pada  hari akhr nanti akan mendapatkan balasan surga dari Tuhan.  Contoh kongkritnya ialah isteri firaun yang meskipun berada dalam lingkungan Firaun dan pengikutnya yang kafir, tetapi  asyiyah tetaplah  perempuan yang beriman.  Nah, karena itu Tuhan tetap memeliharanya dan memasukkannya ke dalam surga.  Demnikian juga dengan maryam yang tetap tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan.

Kandungan lainnya dalam bidang hukum ialah tentang kewajiban umat muslim untuk bersikap tegas dan keras kepada orang orang kafir pada saat peperangan, dan sekaligus memerangi mereka.  Hanya saja kalau mereka memang ingin hidup damai, kita harus memperlakukannya secara baik dan membiarkan mereka tetap menjalankan  keyakinan yang mereka pegangi.  Kita tidak diperbolehkan untuk memaksakan kehendak kepada siapapun, tetapi hanya  diperbolehkan menyampaikan kebenaran.  Kalau kemudian mereka tertarik dan  meyakininya ajaran yang kita sampaikan, maka itu merupakan sebuah  kebaikan, tetapi kalau mereka tidak tertarik dan tetap dalam pendirian mereka, kita tetap menghormatinya.

Disamping itu surat ini juga mengandung ajaran yang sangat baik bagi kehidupan rumah tangga, yakni ajaran agar kita saling menghormati dan menghargai satu sama lain, termasuk hal hal yang rahasia sifatnya tidak  diungkap kepada  yang lain.   Tegurran  Tuhan kepada isteri Nabi Muhammad saw. sangat jelas, yakni ketika Nabi menceritakan sesuatu kepada salah satu isterinya, yakni Hafsah, lalu secara sembunyi hal tersebut diceritakan kepada isteri Nabi yang lainnya, yakni Aisyah.  Nah, mereka mengira Nabi tidak mengetahuinya, padahal Tuhan telah memberitahukannya mengenai hal tersebut, lalu  Hafshah bertanya kepada Nabi  tentang siapakah yang telah memberitahukan  hal tersebut kepada Nabi, lalu Nabi menjawab bahwa Allahlah yang telah memberitahu Nabi.

Lalu sebagaimana tertera dalam ayat yang ke 4 dalam surat ini, Nabi, melalui wahyu menyatakan bahwa kalau kalian berdua, maksudnya ialah Hafshah dan Aisyah bertobat kepada Allah, maka sesunggu8hnya hati kalian telah condong kepada  kebaikan, dan sebaliknya jika kalian berdua saling membantu untuk menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindung, dan juga Jibril, para malaikat dan juga orang orang beriman yang baik.  Bahkan kemudian juga semacam ada ancaan dari Tuhan melalui pernyatan bahwa kalau mereka memang tidak mau bertobat, maka  Tuhan akan mengganti kedudukan mereka dengan perempuan lain yang lebih baik, yang taat dan tunduk serta  mengerjakan ibadah, baik merka itu janda maupun perawan.

Namun sebagaimana kita tahu bahwa  para isteri nabi tersebut tentu memilih untuk bertaubat dan tidak akan sekali kali menyusahkan Nabi.  Karena itu ancaman tersebut tidak bewrlaku dan hanya merupakan sebuah  pelajaran berharga bagi kita. Jadi dalam kehidupan rumah tangga memang harus ada keterbukaan diantara suami isteri dan  anak, tetapi tetap saja  ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sebagian diantara anggorta keluarga, karena kalau hal tersebut sampai diketahui, akan  menjadikan  susah salah satu pihak.  Dan  hal sewperti itu  adalah merupakan awal dari keretakan dan kerusakan rumah tangga.

Surat ini juga  lebih menekankan bahwa pembalasan atas seluruh amal itu  ada pada  saat di akhirat.  Pada saat itulah Tuhan  kemudian  menyakan kepada orang orang kafir agar pada saat itu, yakni di akhirat mereka  tidak membuat alasan apapun, karena mereka hanya dapat menrima pembalasan atas amal yang dilakukannya saat di dunia.  Karena itu sebelum mereka meninggalkan dunia, mereka selalu dihimbau untuk berttobat dengan sebenar benarnya, agar Tuhan mengampuni segala dosa dan kejelekan yang pernah mereka jalani serta nantinya memasukkan mereka ke dalam surga yang dipenuhi dengan nikmat yang tiada tara.

Semoga kita semua dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan harmonis dan tyidak ada persoalan sedikitpun yang menjadikan salah satu diantara anggota keluarga menderita.  Karena  kehiduoan rumah tangga yang demikian merupakan dambaan setiap orang beriman,  dan pada akhirnya nanti seluruh keluarga akan selamat dan bwersama sama masuk ke dalam surga Tuhan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.