MEMAKMURKAN MASJID

Terkadang kita harus menghela nafas panjang, karena  sudah banyak diantara pemuda kita yang lebih suka ke mall ketimbang ke masjid, apalagi kalau disuruh memilih antara menyaksikan konser musik dengan mendengarkan tausiyah pengajian atau shalat berjamaah di masjid.  Maksud saya bukannya  menyaksikan atau menonton konser musik itu tidak baik, bukan seperti itu, melainkan hanya sekedar megingatkan bahwa  sebagai seorang muslim, sudah seharusnya menjalankan shalat, terkadang juga mendengarkan  pengajian, dan sebisa mungkin  shalat berjamaah di masjid bersama dengan masyarakat.

Masjid saat ini rupanya hanya sebagai tempat singah sementara bagi para musafir untuk numpang istirahat dan  shalat, bahkan sebagiannya malah menggunakannya sebagai tempat tidur gratis.  Coba bandingkan dengan fungsi masjid pada zaman Rasulullah saw.  Pada saat itu menurut riwayat yang benar bahwa masjid merupakan  tempat berkumpulnya  umat Islam untuk membicarakan dana melakukan banyak hal.  Bahkan masjid merupakan central kegiatan umat Islam.  Dari masjidlah kemudian umat dapat melakukan berbagai aktifitas positif dan bermanfaat bagi  masyarakat.

Saat ini sesungguhnya juga sudah banyak orang yang menyadari perlunya fungsi masjid dikermbalikan sebagaimana pada zaman Nabi, bahkan ada yang berpidato berapi api mengenai perlunya menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat Islam. Tetapi hal tersebut tidak mendapatkan dukungan maksimal dari umat Islam. Hasilnya ialah bahwa  masjid masih berfungsi sebagai tempat ibadah lima waktu saja, dan setelah itu menjadi sepi.  Kondisi seperti itu sesungguhnya masih untuk, karena di beberapa masjid di kota, biasanya malah menjadi  tujuan dari para perantau yang tidak cukup bekal untuk menyewa hotel untuk beristirahat.

Namun masih untung bahwa  fungsi utama masjid yakni sebagai tempat ibadah, masih terus berjalan, meskipun tidak maksimal.  Artinya ada sebagian masjid yang hanya digunakan untuk menjalankan shalat tiga waktu, bukan lima waktu, yakni maghrib, isya’ dan subuh.  Sementara untuk shalat dhuhur dan Ashar dijalankan ditempat kerja dan rumah masing masing.  Barangkali hanya pada saat saat tertentu saja masjid menjadi maksimal digunakan fungsinya, yakni pada event peringatan hari besar Islam atau pada saat Ramadlan.

Kondeisi seperti itu seperti sudah dimaklumi oleh masyarakat kita, sehingga ketika kita mempertanyakan para pemuda lebih suka nongkrong di mall ketimbang pergi ke masjid, menjadi tidak relevan.  Sudah seharusnya kita sebagai orang yang menyadari pentingnya pembinaan para remaja menjadikan diri kita sebagai teladan bagi anak anak dan pemuda kita. Artinya kita tidak boleh hanya menuntut, sementara diri kita tidak melakukan apapun  sebagaimana yang kita tuntut pada  anak anak dan remaja tersebut.  Barangkali inilah satu pendidikan karakter yang terlupakan, meskipun kita sadar sepenuhnya bahwa hal tersebut sangat perlu dan penting.

Anak anak tentu akan terbiasa dengan kondisi yang selalu dilihatnya dan dialaminya setiap hari.  Artinya kalau kita dan seluruh masyarakat muslim mau melakukan  hal hal positif, seperti menjalankan shalat berjamaah di masjid atau mushalla setiap saat, dan juga sering berkomunikasi dengan masyarakat melalui kegiatan di masjid, dan tidak lupa mengajak pula anak anak, tentu mereka akan juga terbiasa mengunjungi masjid.  Pembiasaan  terhadap sesuatu kepada anak, tentu akan menjadi sebuah pendidikan yang  sangat bagus, terutama dalam hal yang positif dan bermanfaat.

Kalau saat ini kita sudah mnyadari pentingnya masjid, kiranya belum terlambat untuk memberikan pendidikan karakter kepada anak anak kita, khususnya dalam menjalankan aktifitas di masjid, yakni menjalankan  shalat lima waktu secara berjamaah, mengkaji ajaran Islam, dan juga berkumpul secara rutin untuk berbagai aktifitas positif dalam upaya membangun moral masyarakat.  Kalaupun apa yang kita lakukan belum dapat maksimal sebagaimana  diidealkan, maka hal tersebut sudah cukup baik dan  akan mampu memberikan nuansa baru bagi anak dan pemuda kita.

Memakmurkan masjid untuk zaman sekarang tentu tidak harus seragam ukurannya, karena memang  faktor yang  melatar belakangi dan mempengaruhi sangat bervariasi.  Kalau kita berada di lingkungan pesantren, tentu memakmurkan masjid  dapat dilakukan secara total, karena memang masjid difungsikan  selama 24 jam, terutama oleh para santri dan ustadz serta kiai yang selalu  melaksanakan kajian buku keislaman dan juga aktifitas ibadah.  Akan tetapikalau kita berada dalam lingkungan masyarakat pekerja, dimana mereka kebanyakan berangkat pagi hari dan pulang sore hari, maka wujud  memakmurkan masjid akan berbeda sama sekali.

Artinya kalau memang dalam lingkungan tersebut masih ada sebagian orang yang  berada atau bekerja di dekat rumah atau masjid, tersebut, tentunya  pada saat waktu shalat, harus  ada kegiatan jamaah dalam masjid tersebut, tetapi kalau memang seluruh masyarakatnya tidak di rumah dan hanya sore hari  mereka berada di rumah, maka memakmurkan masjid dimulai shalat maghrib berjamaah dan seterusnya. Maksudnya ialah harus ada aktifitas mengaji bagi anak anak setelah shalat maghrib sampai masuk Isya’ dan beristirahat setelah menjalankan shalat Isya’ berjamaah.

Memang kita harus menyadari bahwa tidak semua orang itu sama dalam sikap dan perilakunya.  Sebab ada sebagian umat Islam yang sama sekali tidak peduli dengan masjid.  Mereka beranggapan bahwa yang terpenting ialah menjalankan shalat, apakah di masjid atau di rumah, bahkan ada sebagian umat Islam yang mulai gerah dengan kegiatan masjid yang dilakukan, seperti  kegiatan anak anak membaca al-Quran atau sejarah Nabi melalui pengeras suara.  Mereka merasa terganggu dengan pengeras suara tersebut, dan menyarankan agar pengeras suara hanya digunakan sebagai  adzan saja.

Ini memang menjadi persoalan tersendiri, saat masyarakat kita  menjadi majmuk dan bervariasi tingkat kedalaman keimanan mereka dan pengetahuan mereka mengenai ajaran syariat Islam. Untuk itu  memang sudah saatnya dilakukan  pencerahan kepada seluruh umat dengan pendekatan yang memungkinkan mereka  menjadi sadar tanpa tekanan atas nama apapun, sehingga berbagai aktifitas masyarakat muslim tidak akan menjadi ganjalan ataupun gangguan bagi mereka.

Kita sangat tahu bahwa  setelah maraknya  kebabasan dalam alam demokrasi di negara kita dan naiknya HAM  sebagai panglima, seolah semuanya harus dikoreksi dan  disesuaikan dengan kondisi tersebut.  Memang tidak salah ketika kita menyesuaikan hal hal lama dengan kondisi baru, namun harus dilakuka secara selektif.  Artinya kalau hal hal prinsip dalam keyakinan kita, tentu kita harus mempertahankannya sedemikian rupa, tidak peduli apakah dikatakan  kolot atau lainnya, tetapi untuk hal hal lain yang sifatnya pilihan atau sejenisnya, tentu tidak menjadi masalah disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Dalam hubungannya dengan memakmurkan masjid, maka  melaksanakan shalat berjamaah di masjid tentu harus tetap dilanjutkan bahkan terus diupayakan  penambahan kualitasnya, sedangkan untuk  hal yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, hubungan antara warga dan lainnya, tentu bleh disesuaikan dengan keadaan.  Yang terpenting ialah hal hal prinsip yang menjadi keyakinan kita, sama sekali tidak boleh ada perbahan dari ketentuan yang telah digariskan oleh syariat yang tidak berubah.

Kita berharap mudah mudahan  banyak umat Islam menyadari posisi ini dan kemudian  mau melakukan upaya upayan memaqkmurkan masjid dengan melibatkan diri secara lagsung, sekaligus sebagai bentuk pembelajaran karakter kepada anak anak dan generasi muda.  Kita sangat yakin bahwa dengan pembelajaran melalui keteladanan yang kita lakukan tersebut, akan menghasilkan sesuatu yang sangat positif.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.