ASAIHL 2013

Konference internasional yang diselenggarakan oleh ASAIHL atau the Association of Southeast Asian Institutions of Higher Learning ke 13 kali ini diselenggarakan di Colombo.  Sebagai penyelenggaranya ialah Kolaborasi antara  University Grants Commision dengan  Universitu of  Kelaniya dan  University of Colombo Sri Lanka.  Thema konference kali ini ialah  Education for All; Prospects and Challenges.  Thema ini dianggap penting  dan telah diputuskan sejak satu tahun lalu  pada konference ke 12 di manila.  Pada saat ini juga sudah diputuskan untuk konference ke 14 yang rencanya akan digelar di Sngapura pada tahun depan.

Organisasi ASAIHL itu sendiri sesungguhnya muncul sebagai organisasi non pemerintah  dan  digagas  serta diputuskan  pada pertemuan di bangkok pada tahun  1956.  Seagai para pendirinya ialah  para pimpinan  universitas di kawasan Asia Tenggara.  Mereka itu ialah Sir Nicholas Attygalle dari university of Ceylon, Air Marshal Muni M. Vejyant Rangshrisht, dari  Chulalongkorn university,  Dr. Lindsay Ride, dari University of Hong Kong,  Prof. Bahder Djohan, dari university of Indonesia, Sir Sydney Caine, dari university of Malaya,  Dr. Vidal A Tan, dari university of Philippines, Dr. Htin Aung, dari university of Rangoon, dan Prof. Nguyen Quang Trinh, dari National uniersity of Vietnam.

Pada saat ini presiden ASAIHL dipegang oleh rektor universitas Hasanuddin Makasar Indonesia, Prof Dr. Idrus Patturusi, dan sekjennya dipegang oleh Dr Ninnat Olanvoravuth, dari Thailand.  Asaihl sesungguhnya sangat penting keberadaannya di dunia perguruan tinggi, kaena disamping dapat dijadkan arena untuk pengembangan dan penguatan institusi perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara, juga sekalgus  dapat dijadikan sebagai wahana untuk memberikan sumbangsih bagi pengembangan  manusia dalam segala aspeknya.

Berbagai topik sudah dibahas dalam konferenci yang selalu diselenggarakan setiap tahunnya, dan semua hasil dari pembahasan  dalam pertemuan ilmiah tersebut dapat disumbangkan bagi pengembangan manusia dan keselamatan merka dalam mengolah dunia.  Thema yang dibahas tidak saja yang terkait langsung dengan persoalan pendidikan, melainkan juga  termasuk persoalan yang menyangkut kemanusiaan dan kedamaian, seperti persoalan nuklir,  energi, lingkungan dan lainnya.

Pertemuan ilmiah tersebut juga sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjajagi kemungkinan bekerjasama antar perguruan tinggi dalam berbagai sektor yang memungkinkan, karena  para peserta dapat berkomunikasi di sela sela pelaksanaan  seminar tersebut.  Hanya saja semua itu tergantung kepada  para pimpinan perguruan tinggi sendiri, apakah memang  menghendaki untuk memperkuat jalinan kerjasama dengan berbagai pihak atau tidak.  Tentu kalau memang ada minat seperti itu, nantinya dapat ditindak lanjuti melalui komunikasi, baik langsung maupun melaui email untuk merencanakan kerjasama yang lebih kongkrit.

Hanya sayangnya memang belumbanyak perguruan tinggi yang mengikuti  konference yang diselengarakan oleh ASAIHL tersebut.  Boleh jadi  karena persoalan pembiayaan atau  informasi yang belum menyebar  kepada perguruan tinggi di tanah air.  Saya sendiri baru pertama kali ini mengikuti ASAIHL dan  merasakan banyak manfaat yang dapat dipetik.  Selain pengalaman pribadi dapat bertemu dengan berbagai pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara, juga sekaligus dapat menjajagi kemungkinan  menjalin kerjasama dengan mereka.

Saat ini di Indonesia, perguruan tingi negeri jumlahnya lebih dari seratus, baik yang bernaung di bawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun yang bernaung di bawah kementerian Agama, namun yang mengikuti acara ASAIHL kali ini kurang dari dua puluh perguruan tinggi.  Barangkali ke depannya  sangat perlu dianjurkan kepada perguruan tinggi negeri untuk dapat berpartisipasi dalam  konferenci seperti ini.  Kita tentu akan bangga kalau banyak perguruan tinggi kita yang terlibat dalam kegiatan internasional  seperti ASAIHL ini.

Kembali kepada konferensi yang diselenggaraklan oleh ASAIHL, bahwa saat ini konferenci masih berjalan dan sedang memasuki pembahasan sub tema yang secara garis besar dibagi dalam 4 kelompok ditambah dengan satu kelompok khusus pembahasan oleh mahasiswa.  Kelompok pertama dengan sub thema; Mulimode-Delivery System in Education: Country Case Studies, sub Thme kedua, Cross – Border Education: Student Academic Mobility, sub thema ketiga, Empowerment of Women through  Education, dan sub thema keeempat ialah Career Development in a Knowledge Based Economy.

Menurut saya thema dan sub tema yang dibahas dalam seminar kali ini merupakan topik yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, meskipun  sesunguhnya masih banyak lagitema yang relevan, tetapi pembahasan kali ini  akan  sangat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan, teruama dalam hal pendidikan yang menjadi persoalan bagi banyak negara, termasuk negara kita.  Kita tentu sangat berharap bahwa  tema tema yang dibahas dalam seminar ini nantinya akan mampu disosialisasikan kepada seluruh perguruan tinggi  untuk dijadikan sebagai reerenci dan sekaligus  diharapkan akan menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan dan pemerataan pendidikan.

Sesungguhnya kita memang tidak dapatmenyalahkan atau bahkan memaksakan kehendak kepada seluruh perguruan tinggi negeri untuk mengikuti  ASAIHL tersebut, karena disamping memang asaihl didesain bukan sebagai  organisasi yang harus diikuti oleh seluruh perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara, juga  keangotaannya mempunyai beberapa persyaratan.  Dan  di Negera kita baru beberapa saja yang sudah menjadi anggotanya.  Salah satu sayarat menjadi angota asaihl ialah harus mendapatkan rekomendasi dari perguruan tinggi anggota dari tiga negara.

Tentu untuk mendapatkan rekomendasi tersebut, sebuah perguruan tinggi harus  sudah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi pemberi rekomendasi, sehingga  secara faktual pemberi rekomendasi memang benar benar telah mengenal dan tahu perguruan tinggi tersebut.  Nah,inilah barangkali yang menjadi salah satu sebab belum anyak perguruan tinggi yang menjadi anggota.  Namun dengan mengikuti acara ASAIHL kita dapat berkomunikasi dengan beberapa perguruan tingi anggota dan kemudian ditindak lanjuti dengan bekerjasama dengan mereka.

Namun demikian sebagaimana disebutkan di atas bahwa  kurangnya minat perguruan tinggi mengikuti acara yang diselenggarakan oleh asaihl tersebut, disebabkan sudah cukup banyak acara seminar internasional yang diselenggarakan, baik yang  laksanakan oleh sebuah perguruan tinggi atau oleh beberapa perguruan tinggi secara bersama sama, atau bahkan yang diselenggarakan oleh sebuah asosiasi.  Nah, dengan begitu sesungguhnya untuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan ilmiah bertaraf internasional adalah sebuah pilihan dan disesuaikan dengan kemampuan dan minat masing masing perguruan tinggi.

Hanya saja yang terpenting ialah bahwa sebuah perguruan tinggi memang harus terus menerus  mengikuti perkembangan, terutama pertemuan keilmuan.  Karena dengan begitu berrarti kegiatan penelitian akan terus berlangsung dan hasilnya dapat dipublikasikan kepada masyarakat secara luas.  Harus diakui bahwa  masih ada  dan bahkan  banyak perguruan tinggi di negra kita yang belum tertarik untuk mengikut sertakanpara  staf akademiknya untuk mengikuti berbagai kegiatan  ilmiah, terutama yang  bertaraf internasional.  Untuk itulah kiranya sangat perlu untuk dicermati mengenai  persoalan ini, terutama oleh kementerian.  Artinya agar seluruh perguruan tingi dipacu untuk meningkatkan kiprahnya di bidang keilmuan melalui penelitian yang hasilnya disampaikan dalam berbagai konferensi yang diselenggarakan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.