BANDARA AHMAD YANI

Barangkali menjadi satu satunya  bandar udara warga Semarang atau jateng yang saat ini kondisinya sudah tidak memadahi lagi, kalau tidak boleh dibilang tidak layak lagi.  Di Surakarta memang ada  bandara Adi Sumarmo yang kondisinya jauh lebih baik, karena disamping untuk  embarkasi dan debarkasi Haji, juga sudah mengalami perbaikan dan rehab, sehingga  tampak  bagus dan layak untuk dibanggakan.  Sementara  bandara Ahmad yani yang jauh lebih tua, ternyata kondisinya masih tetap seperti yang dulu.  Tentu saja dengan perkembangan semarang dan jateng saat ini, bandara tersebut sudah  tidak layak lagi.

Rencana untuk mengembangkan bandara Ahmad yani memang sudah terdengar sejak lama, dan bahkan rencananya akan dialiohkan lebih ke utara yang mempunyai lahan lebih luas, tetapi grengsengnya hingga saat ini masih belum terdengar.  Dahulu bahkan sudah membebaskan beberapa lahan tambak hingga sampai ke daerah Tugu yang rencananya untuk menambah dan memperluas  bandara, tetapi lagi lagi setelah itu  sepi lagi.

Terlepas dari persoalan yang  berkaitan dengan pembebasan tanah atau lahan dan lainnya, kita  saat ini memang sudah tidak nyaman lagi ketika harus bepergian melalui bandara Ahmad yani, terutama masalah parker dan kemacetan yang begitu mengular.  Bayangkan saja ketika keluar dari bandara, baik naik taksi maupun  kendaraan pribadi, harus menghabiskan waktu setitar setengah jam untuk bisa keluar dari  lampu hijau di kali banteng.  Apalagi sejak senin kemarin wali kota Semarang sudah meresmikan berpperasinya  Bus trans Semarang jurusan Mijen bandara, tentu akan semakin membuat ruwet dan macet yang luar biasa.

Sesungguhnya akan sedikit teratasi kalau misalnya jembatan laying kali banteng  sudah dioperasikan kembali, dan  lampu pengatur lalu litas dari arah bandara  nyala hijaunya lebih diperlama sedikit, sehingga  kendaraan tidak menumpuk terlalu banyak dan macet. Tetapi secara umum, kondisi bandara memang sudah cukup memprihatinkan dan tidak layak bagi Semarang atau jawa tengah.  Di beberapa daerah di Indonesia, hamper seluruh bandara sudah mengalami perbaikan dan diperluas, bahkan kemudian sudah banyak yang memasang garbarata, tetapi  Ahmad Yani masih saja tetap seperti kondisinya yang lama.

Parkir mobil yang ada saat ini sudah  sampai ke luar bandaran, bahkan hingga jembatan dekat rel kereta api, sedangkan  yang lainnya harus rela kembali tidak mendapatkan lahan parker di sekitar bandara.  Kesemrawutan begitu kentara sekali, teruatam  pada jam jam padat, baik pagi, siang maupun malam.  Disamping itu sudah selayaknya rute Jakarta  Semarang, dibuka penerbangan malam hari, karena  aktifitas masyarakat Semarang dan sekitarnya  sudah menuntut jam malam, setidaknya hingga  pukul 12 malam.  Sementara ini penerbangan malam hanya sampai jam 20.00, bahkan secara riil hanya sampai maksimal jam 19.30 an saja.

Sebagai warga Semarang dan jateng tentu kita sangat prihatin bahkan malu saat kita berkunjung ke beberapa daerah yang justru bandaranya lebih baik, padahal  daerah tersebut masih di bawah jateng dan Semarang.  Bahkan mungkin dpat dikatakan bahwa  perkembangan sebuah daerah akan dapat dilihat dari sejauh mana daerah tersebut menyediaan infra struktur yang lebih baik dan nyaman bagi para pengunjung daerah tersebut.

Nah, kalau Semarang sebagai gerbangnya Jawa Tengah, dan bandaranya  sangat kecil dan tidak layak, maka kita tidak akan mungkin mempromosikan berbagai kegiatan yang sifatnya nasional apalagi yang bertaraf internasional kepada  pihak pihak lain.  Akibat lebih jauhnya lagi ialah kita akan sangat kesulitan untuk memajukan Semarang dan jateng secara umum.  Memang bandara bukan satu satunya factor yang menentukan kemajuan sebuah daerah, tetapi harus disadari bahwa transportasi yang saat ini mudah dan terjangkau serta  cepat ialah  pesawat terbang.   Karena itu bandara tetaplah menjadi factor sangat penting untuk memajukan sebuah daerah.

Saya sangat yakin bahwa melihat perkembangan masyarakat Semarang dan sekitarnya saat ini, akan banyak investor yang akan berlomba menanamkan modal untuk investasi pembangunan bandara Ahmad Yani.  Persoalannya sekarang ialah bagaimana pemerintah mengorganisasikan dan merencanakannya dengan baik dan kemudian menawarkannya kepada para investor.   Kalau niatnya  hanya akan dibiayai sendiri melalui APBN, maka  akan terasa sangat sulit dan membutuhkan waktun yang cukup lama dan sangat mungkin  ada beberapa  kegiatan lainnya yang terpaksa harus ditunda, dikarenakan untuk dikonsentrasikan ke bandara.

Kita memang tidak mempunyai kewenangan untuk memutuskan masalah tersebut, hanya saja kita  saat ini sangat butuh bandara yang lebih  baik dan memenuhi keinginan masyarakat, yakni bandara yang besar dengan lahan parkir yang memadahi serta  penawaran penerbangan yang tidak terhenti hanya siang hari saja.  Untuk itu kita hanya dapat mendorong dan menghimbau kepada pemerintah untuk sesegera mungkin menangani bandara tersebut secepatnya.  Bahkan kalau memang lahan di sekitar bandara saat ini tidak memungkinkan untuk dikembangkan,  kita tentu dapat menyetujui kalau bandara dialihkan ke daerah lain di sekitar Semarang.

Kita juga tidak tahu mengapa saat ini dimana  di sekitar bandara sangat paday dan sesak oleh kendaraan, tetapi wali kota Semarang justru malah menambahnya dengan mengoperasikan bus trans Semarang  jalur ke bandara.  Barangkali kita   memahami  bahwa  diperlukan alat transportasi lain selain taksi yang saat ini sudah ada, yakni bis yang harganya  tentu lebhi murah, tetapi  dengan menyaksikan betapa padatnya jalan menuju  bandara dan bahkan  macet sudah tidak dapat diohindarkan, seharusnya pengoperasian bus trans semarang  tersebut  dapat ditunda pelaksanaannya.

Artinya harus ada koordinasi Antara semua pihak agar  pelayanan yang ada  dapat dilaukan secara baik dan menyenangkan.  Koordinasi tersebut Antara pemerintah, kepolisian lalu lintas, angkasa pura dan  pihak lain  yang terkait.  Dengan koordinasi tersebut diharapkan kondisi bandara tidak akan semakin ruwet dan macet, tetapi sebaliknya akan mendapatkan solusi terbaik, meskipun bandara baru yang kita inginkan belum dapat diwujudkan.

Barangkali untuk keperluan ini, diperlukan adanya sebuah survey untuk menjajaki apakah memang bandara  Ahmad yani sangat perlu segera diperlebar dan diperbaiki, apakah akses untuk menuju bandara saat ini sudah memadahi, apakah diperlukan penerbangan hingga malam hari, apakah diperlukan perngoperasian bus trans Semarang  untuk  para penumpang pesawat, sebagaimana di Jakarta dan beberapa daerah lainnya, dan  beberapa pertanyaan lainnya.

Artinya dengan hasil jajak pendapat tersebut pemerintah akan semakin yakin bahwa  pembenahan dan perluasan bandara kebanggan warga  Semarang dan Jateng ini memang mendesak untuk dilakukan.  Saya tentu tidak menganggap bahwa perbaikan bandara  menjadi prioritas nomor satu, tetapi betapapun perluasan bandara  saat ini memang sangat penting, mengingat kondisinya yang sudah tidak memadahi lagi.  Saya juga menyadari bahwa tugas pemerintah sangat banyak dan  semuanya memerlukan penanganan yang cepat, karena itu  sebagaimana disebutkan di atas, kiranya akan sangat bijak, manakala perbaikan dan renovasi bandara diserahkan kepada pihak ketiga atau pihak swasta dengan  beberapa perjanjian yang saling menguntungkan.  Semoga  semuanya akan segera terwujud.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.