PERSOALAN PENGEMIS

Menjadi orang miskin memang tidak dikehendaki oleh  siapapun, tetapi pada kenyataannya cukup banyak orang miskin yang kita saksikan.  Akibatnya mereka memerlukan pertolongan kita dalam upaya menyambung hidup mereka dan juga keinginan untuk memperbaiki masa depan serta anak keturunan mereka.  Kondisi tersebut kemudian memberikan kewajiban kepada pemerintah untuk memikirkan jalan keluarnya, terutama  untuk masa depan anak anak mereka.  Untuk itukemudian dilakukan upaya untuk membuka  sekolah gratis bagi mereka yang tidak mampu, bahkan hingga mencapai sarjana.

Tetapi pada kenyatannya pula hal tersebut sangat sulit dan banyak kendala yang harus dihadapi, sehingga sampai saat ini belum ada jalan keluar yang jitu dalam mengatasi persoalan tersebut.  Akibatnya  di kota kota besar semakin marak para pengemis yang  mengandalkan belas kasihan dari orang orang yang  lalu lalang di kota tersebut.  Celakanya, kemudian  disebabkan “penghasilan” yang didapatkan oleh para pengemis tersebut sangat menggiurkan, maka hal tersebut dimanfaatkan oleh mereka yang malas bekerja dan berusaha untuk ikut mengemis dengan berpura pura  miskin.

Lebih parah lagi kondisi tersebut diperparah dengan  sikap masyarakat yang belum memahami upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi  persoalan orang miskin atau peminta minta tersebut, sehingga mereka masih saja memberikan uang receh mereka kepada para pengemis di jalanan atau di perempatan jalan, tentu dengan berbagai alasan yang disampaikan.  Di Jakarta sendiri  sesungguhnya sudah ada perda untuk menaggulangi pengemis tersebut, yakni dengan memberikan sanksi, baik kepada pengemis maupun pemberinya, yang  kalau dilakukan akan mencapai 20 juta rupiah bagi yang melanggar.

Hanya saja  peraturan tersebut hanya tinggal peraturan dan sama sekali belum diterapkan secara konsisten.  Mungkin sudah pernah dilakukan oleh  sebagian daerah di Jakarta, tetapi karena yang lainnya tidak melakukan, maka  akhirnya  tidak efektif.  Artinya  pada daerah yang  tadinya  akan menjalankan secara  tegas, pada akhirnya harus menyerah dengan kondisi yang ada.  Akibatnya, pengemis semakin hari semakin banyak, bukan saja dari warga Jakarta, melainkan juga dari daerah lain, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan lainnya.

Memang meskipun ada ancaman denda yang besar, tetapi kalau kemudian pelaksanaannya tidak tegas dan konsisten, maka akan banyak pihak yang berani melanggar.  Kita baru baru ini juga  mendengar bahwa  pelanggar jalan busway diberikan sanksi tegas dan berat, tetapi pada kenyataannya, tetap saja masih banyak yang melanggarnya, seolah  mereka sama sekali tidak memikirkan mengenai sanksi yang akan didapatkan.  Tetapi saya  sangat yakin kalau peraturan tersebut dilaksanakan dengan konsisten dan tegas, maka  akan ada perubahan signifikan untuk mentaati peraturan yang telah ditetapkan tersebut.

Jadi persoalan yang ada pada kita sesungguhnya ialah ketegasan dan konsistensi pelaksanaan aturan dan sanksnya.  Selama kita masih  bersikap seperti saat ini, selama itu pula tidak akan mampu mengatasi dan menyelesaikan persoalan,  bahkan persoalan sekecil apapun.  Persoalan besar kita saat ini, yakni masalah korupsi, juga salah satunya disebabkan adanya kekurang konsistenan  dalam memberikan sanksi hukuman bagi para koruptor, disamping memang peraturan  mengenai sanksi hukumannya terlalu ringan.

Kembali  pada persoalan pengemis tersebut, memang  kondisinya sudah menjadi sangat runyam.  Artinya bukan persoalan ekonomi yang memang sangat terbatas, melainkan juga persoalan mental masyarakat kita yang masih sangat memperihatinkan.  Seharusnya siapapun harus malu menjadi pengemis dan menadahkan tangan meminta minta kepada orang lain, tetapi saat ini  pada kenyataannya justru   malah semakin banyak muncul pengemis, padahal mereka   masih sangat mampu untuk mengatsi hidup mereka, baik melalui harta yang dimiliki maupun melalui tenaga yang dapat dimanfaatkan untuk berusaha.

Beberapa waktu lalu kita  dkejutkan dengan terrazianya  pengemis asal Subang Jawa Barat yang ternyata mempunyai  uang sangat banyak, bahkan hingga mencapai 25 juta rupiah yang dibawa bersama dengan gerobaknya.  Pengakuannya  juga sangat mengejutkan karena uang sebanyak itu bukan dari hasil mengemis saja melankan juga  dari hasil menjual sapi miliknya.  Artinya  dia  sesungguhnya mampu, karena mempunyai sapi.  Lantas kenapa  justru malah mengemis ke Jakarta dengan cara yang sangat tidak terpuji, yakni mengelabuhi orang lain.

Cerita yang dikorek darinya menunjukkan bahwa  dia  mengajak temannya yang disuruh pura pura  sakit dan bisu serta disorong di gerobak. Tentu dengan  kondisi seperti itu diharapkan banyak orang yang kasihan dan memberikan uang kepadanya.  Nah dengan terbongkarnya  modus yang dilakukan pengemis tersebut, kita  kemudian dapat menyimpulkan bahwa   masih banyak lagi para pengemis di jakarta dan di kota kota besar lainnya yang memang telah menjadikan “ngemis” tersebut sebagai pekerjaan mereka, dengan berbagai cara yang intinya  mengesankan kasihan kepada pihak lain yang menyaksikannya.

Apalagi kalau didengar pernyataan mereka bahwa  awal mula mereka tertarik menjadi pengemis ialah karena mereka menyaksikan para pengemis sebelum dirinyaternyata dengan sangat mudah mendapatkan uang, sementara diri mereka sangat susah mendapatkannya, yakni melalui menarik becak, menjadi buruh dan lainnya.  Rupanya disebabkan himpitan ekonomilah mereka kemudian merelakan harga diri yang sebelumnya dipertahankan, akhirnya jebol oleh sebuah pengaruh luar biasa kehidupan di kota besar.  Namun juga tidak semuanya disebabkan himpitan ekonomi, melainkan sebuah kerakusan hidup agar mudah mendapatkan uang dan bukan  sebuah keinginan mendapatkan uang dengan cara yang terhormat.

Kita masih sangat ingat dengan sebuah kampung di daerah Temanggung yang  hampir seluruh penduduknya  berprofesi sebagai pengems di beberapa kota.  Mereka sesungguhnya tergolong orang mampu, karena rumah mereka juga permanen dan bahkan mempunyai kendaraan segala.  Anehnya mereka sama sekali tidak merasa canggung atau malu menjalani profesi sebagai pengemis tersebut.  Seolah mereka sudah tidak mempunyai pikiran mengenai harga diri atau  sejenisnya, karena mereka   menyamakan mengemis seolah seperti bekerja layaknya mereka yang bekerja di pabrik, di sawah atau di tempat lainnya.

Dengan melihat kenyataan tersebut,  persoalan memberantas pengemis bukan  hanya merupakan persoalan ketegasan dalam memberikan sanksi kepada mereka, melainkan juga ada persoalan moral yang sudah parah di masyarakat.  Menurut saya persoalan moral tersebut justru sangat penting dibandingkan dengan sekedar persoalan sanksi, atau setidaknya harus disejajarkan dan  upayakan dilaksanakan secara bersama.  Artinya disamping memberikan sanksi bagi siapapun yang melakukan tindakan mengemis, juga  sekaligus diberikan pencearahan kepada masyarakat mengenai moralitas  dan sikap yang harus dimiliki oleh mereka, dalam kondisi apapun.

Pencerahan dan penyadaran kepada masyarakat  tersebut tidak cukup hanya  dilakukan oleh para petugas sosial ataupun pada ustadz semata, melainkan juga harus melibatkan seluruh masyarakat  lainnya melalui praktik di lapangan.  Artinya kalau seluruh masyarakat sudah menyadari bahwa untuk memberantas menjamurnya pengemis harus dilakukan upaya nyata dari mereka, yakni tidak akan memberikan uang receh kepada para pengemis di jalanan, dan sleuruh masyarakat  menghentikan pemberian tersebut, baik disebabkan oleh adanya sanksi tegas berupa denda yang banyak, maupun disebabkan sebuah kesadaran, maka  pengemis yang semakin hari semakin banyak tersebut akan dapat diberantas keberadaannya.

Memberantas pengemis bukan berarti membunuh mereka atau menyakiti mereka, melainkan hanya sekedar menyadarkan mereka bahwa mengemis itu merupakan perbuatan tidak terhormat dan nista.  Kalaupun mereka sangat renta dan tidak mempunyai penyangga ekonomi agi dirinya terkecuali harus mengemis, maka  pemerintah dan beberapa panti sosial tentu akan mengurusnya, sedangkan bagi mereka yang masih  kuat untuk bekerja atau berusaha, maka  dikondisikan untuk tetap berusaha apapun asalkan  terhormat.  Ini semua tentu akan  terealisasi kalau semua pihak bersama sama  melakukan uapaya tersebut, khususnya kita yang harus mempeloporinya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.