JANGAN MUDAH MENYALAHKAN PIHAK LAIN

Pada umumnya orang hanya mengetahui sesuatu dari kulitnya saja, sehingga terkadang cepat memberikan penilaian bahwa sesuatu tersebut tidak baik, bahkan bertentangan dengan ajaran agama.  Padahal kalau kemudian diketahui alasannya, sesuatu tersebut sangat baik dan bahkan  sangat sesuai dengan perintah agama.  Pertanyaannya kok bisa begitu?.  Ya lantaran sesuatu yang Nampak tanpa ada penjelasan  terkadang memang dapat dipahami dan ditafsirkan  secara berbeda  oleh banyak orang, tetapi ketika alas an yang menyertai sesuatu tersebut dijelaskan, maka tafsir terhadap sesuatu tersebut sudah sangat terbatas dan jelas.

Banyak hal yang dapat kita ketahui dari contoh semacam itu, semisal orang memberikan sesuatu sumbangan untuk pembangunan masjid atau sarana pendidikkan misalnya, dengan disebutkan nama dan jumlah pemberiannya tersebut.  Orang lain tentu akan  memberikan penafsiran yang berbeda, semisal pamer, ada kepentingan di balik pemberian sumbangan tersebut, atau kesan lainnya.  Alasan penilaian yang berbeda tersebut ialah adanya perintah dalam ajaran agama yang menganjurkan agar pemberian seperti itu dirahasiakan dan  bahkan digambarkan seperti kalau tangan kanan memberi jangan sampai tangan kiri memngetahuinya. Padahal pemberian seperti itu sangat mungkin dengan niat baik.

Apa alasannya pemberian dengan diberitahukan seperti itu dapat diartikan sebagai tujuan baik?.  Mungkin kita lupa bahwa masyarakat kita sekarang ini tidak hanya butuh ceramah dan anjuran semata, melainkan sangat membutuhkan  keteladanan.  Nah, kalau pemberian tersebut diniatklan agar dapat ditiru oleh masyarakat dan sekaligus menjauhkan  fitnah yang akan membuat masalah batu saja, maka tentu pemberian dengan disebutkan tersebut menjadi baik, asalkan diri orang yang memberi tersebut memang mempunyai niat baik sperti itu dan bukan untuk pamer atau ria.

Demikian juga dengan sikap khusnudzdzan yang menurut ajaran agama harus terus dipraktekkan dan dikembangkan dalam diri setiap orang.  Namun dalam kasus kasus tertentu justru sikap khusnudzdzan tersebut akan menyulitkan diri seseorang.  Tetapi bukannya kemudian dikembangkan sikap sebaliknya atau su’udzdzan, merlainkan  dilakukan sikap hati hati dan cermat.  Artinya bilamana  seseorang terlalu berbaik sangka dan kemudian  mudah melakukan sesuatu hanya didasarkan atas  nait baik semata, terkadang malah dapat membahayakan dirinya sendiri, namun kalau sikap cermat dan hati hati tanpa harus berburuk sangka, tentu hal tersebut akan sangat membantu seseorang dalam  hidupnya.

Sikap hatio hati dan cermat tersebut juga dapat dibaca dan dipahami sebagai sikap  buruk sangka oleh orang lain, karena setiap apa yang  dilakukan senantiasa memeriksanya dengan teliti, seiolah tidak percaya kepada orang lain.  Dalam kasus kepala dan staf juga dapat dicontohkan, yakni kalau seorang kepala langsung saja menyetujui apapun yang disiapkan oleh staf, maka  dapat saja  ketua tersebut terjebak dalam  persoalan rumit yang mungkin akan dialaminya.  Tetyapi kalau cermat dalam pengambilan keputusan, meskipun sudah disiapkan oleh staf, maka hal tersebut jauh  lebih baik dan aman.

Hal penting yang juga harus  diketahui oleh banyak orang ialah jangan sampai kita  gampang menilai seseorang dari penilaian tunggal kita  hanya didasarkan kepada sesuatu yang nampak Dari luar saja, sebagaimana yang diungkapkan di atas, karena hal tersebut justru akan dapat menjadi salah satu sebab rusaknya hubungan diantara umat manusia.

Saat ini dimana umat Islam akan  menunaikan ibadah puasa, banyak himbauan dari beberapa pihak tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertindak.  Ada yang menyarankan agar tidak ada kegiatan sahur di jalanan, akrena hal terebut justru akan semakin menambah banyaknya pengemis jalanan.  Ada pula himbauan agar semua pihak tidak melakukan  swiping kwepada tempat tempat hiburan malam, terutama oleh ormas yang sering melakukan hal tersebut.  Semua himbauan tersebut tentu mempunyai makna dan maksud yang baik, hanya saja terkadang masih saja disalah pahami sebagai hal yang  bertentangan dengan agama dan lainnya.

Saya sendiri sudah sejak lama,  mungkin lebih dari lima tahun yang lalu, menghimbau kepada semua orang Islam, baik pada bulan suci Ramadalan maupun di bulan lainnya, agar tidak memberikan uang berapapun jumlahnya kepada para pengemis di jalanan atau dilampu merah. Bukannya saya  mengajkak kepada umat untuk berbuat kikir atau sejenisnya, melainkan semata mata untuk  mendidik kepada umat agar mereka itu mau berusaha  dalam bidang apapun, sehingga tidak mengganggu jalan atau orang lain.

Alasan saya sangat rasional dan jelas, yakni kalau semua orang tidak mau memberikan uang receh kepada para pengemis di jalanan, maka mereka dengan sendirinya akan habis dan menyingkir.  Apa mungkin mereka  terus bertahan, sementara  tidak ada orang yang mau memberinya.  Hal tersebut juga sekaligus  membantu bidang siosial dalam menangani para gepeng di jalanan yang hingga saat ini sangat sulit dihilangkan.

Persoalannya ialah masih banyak orang yang beralasan sederhana tanpa melihat keseluruhan  tautan  antara satu hal dengan tujuan secara umum, sehingga mereka  dapat mengatakan kasihan mereka, masak hanya memberikan uang lima ratus hingga eribu saja tidak boleh atau enggan.  Nah, di sinilah letak persoalannya.  Bukan   mengenai pemberian uang tersebut yang  menjadi persoalan, karena kita tetap menghimbau bahwa masyarakat agar mau membantu mereka yang miskin, tetapi melalui mekanisme yang benar, misalnya melalui lembaga yang menangani masalah itu.

Penyebab utama semakin maraknya pengemis di jalanan, terutama menjelang dan saat Ramadaln serta menjelang Idul Fithri ialah karena mereka  merasa sangat mudah mendapatkan simpati dan pemberian uang dari masyarakat banyak,  hanya dengan menadahkan tangan saja  dalam satu hari mereka akan mamp;u mengumpulkan uang puluhan ribu rupiah.  Bukan saja anak dan  ssaudaranya yang kemudian diajak rame rame  mengemis di jalanan, melainkan juga tetatngga mereka.  Jadi  kalau saat ini jumlah pengemis sangat banyak, kita tidak heran.

Himbauan seperti yang  lakukan tentu tidak akan mempan dan bahkan ada sebagian orang yang menganggap  salah kepada saya.  Namun demikian saya akan terus menyuarakan hal tersebut, karena saya peduli terhadap mereka dan ingin  agar mereka dapat menyadari bahwa di samping mengemis tersebut dapat merendahkan derajat mereka, juga dapat membuat masalah bagi masyarakat.  Untuk itulah  kiranya  sudah waktunya bagi pemerintah untuk menindak lanjuti himbauan saya tersebut dan juga pihak lain yang sepaham dalam sebuah peraturan daerah ataupun bentuk lainnya.

Di Ibu kota Negara pernah dibuat perturan yang melarang memberikan  sesuatu kepada para pengemis di jalanan, bahkan kalau hal tersebut tetap dilakukan, akan ada denda berat yang mengirinnya.  Barangkali pada awalnya hal tersebut masih dianggap  janggal, tetapi kalau sudah berjalan dan kemudian dapat dirasakan hasilnya, saya kira akan banyak yang mendukung dan menjadi baik dan terbiasa.

Kali ini merupakan momentum yang sangat tepat abgi kita untuk menrapkan ketentuan seperti itu, utamanya karena dipridiksi akan semakin banyak pengemis di jalanan menjelang dan dalam bulan suci Ramadlan nanti.  Namun semuanya tergantung dan terserah kepada pemerintah  untuk tetap membiarkan bertambahnya pengemis jalanan atau ingin menghilangkannya.  Semuanya sangat jelas, dan jalannyapun sudah sangat jelas.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.