SELAMAT UNTUK PAK ABU HAPSIN

Sejak kemarin pagi konferensi wilayah Nahdlatul Ulama telah digelar di Kampus Semesta Gunungpati Semarang, dan sebagaimana biasa  dalam setiap penyelenggaraan even seperti itu selalu saja banyak orang lebih tertarik membicarakan siapa calon pemimpin yang akan menahkodai jamiyyah Nahdlatul Ulama ke depan, ketimbang membicarakan  apa program yang seharusnya disusun dan nantinya harus dilaksanakan oleh pemimpin yang diberikan amanah untuk memimpin NU  Jawa Tengah.  Namun kita tidak heran, karena di semua organisasi, termasuk organisasi kemasyarakatan, apalagi organisasi partai politik, yang lebih menonjol justru masalah suksesi kepemimpinannya itu sendiri.

Untungnya dalam perhelatan di kalangan Nahdliyin tidak terbiasa  dengan permainan uang sebagaimana yang kerap kali kita dengar di perhelatan organisasi  yang bergerak dalam bidang politik misalnya, sehingga  hasil yang didapatkan nantinya dapat diharapkan akan lebih memberikan nuansa perbaikan dan pencerahan terhadap umat.  Alasan sederhananya ialah kalau mereka dalam menapaki perjalanan memimpin tidak harus mengeluarkan modal besar, maka  fokus pemimpinnya bukan lagi bagaimana  dapat mengembalikan modal, melainkan bagaimana  dapat mewujudkan visi dan misi yang diusungnya.

Tentu akan sangat lain dengan pemimpin yang meskipun juga menyampaikan visi dan misi serta berjanji akan mewujudkannya, namun karena dalam meraih posisinya tersebut harus mengeluarkan modal yang besar, maka secara manusiawi tentu akan  berusaha dengan posisinya tersebut untuk megembalikan modal yang sudah dikeluarkan, dengan berbagai cara.  Nah, dengan konsentrasi dan fokus yang seperti itu, maka secara otomatis pula visi dan misinya akan terabaikan dan harapan untuk dapat berbuat lebih baik bagi masyarakat, juga akan terbelenggu atau terhalang.

Nah, dalam perhelatan konferensi wilayah kali ini, sebagimana  telah diptuskan bahwa  pak Abu hapsin telah diberikan kepercayaan sebagai amanah  untuk memimpin NU Jawa Twngah kedepan mengantikan pak Muhammad Adnan.  Tentu kita sangat berharap bahwa dalam kepemimpinan pak Abu tersebut NU akan lebih baik dan maju dalam berbagai bidang. Harapan lainnya ialah bahwa sebagaimana komitmen sebelumnya bahwa NU tidak akan  diseret ke politik praktis, melainkan untuk berkhidmah kepada masyarakat.

Sedangkan warganya yang memang  ada kecenderungan ke partai politik, dipersilahkan untuk memilih sendiri sesuai dengan hati nurani masing masing, dan tidak dibatasi hanya kepada parpol tertentu.  Sehingga dengan demikian nantinya NU memang benar enar dapat berbuat untuk kepentingan masyarakat secara umum atau dengan bahasa lain NU itu  dapat kemana mana dan ada di mana mana.  Dengan posisi seperti itu tentu gerak dan langkah untuk berkhidmat kepada masyarakat akan lebih leluasa dan tidak terbelengu oleh ikatan kepartaian dan lainnya.

Harapan seperti itu tentu dapat kita tancapkan, karena kita tahu bahwa pak Abu yang disandingkan dengan K. Ubaid sebagai syuriyahnya tentu akan dapat  banyak diharapkan untuk mempertahankan  kenetralan NU  dalam kancah partai politik yang ada.  Bahkan lebih jauh konsentrasi NU wilayah ke depannya ukan lagi kepada persoalan kenetralan politik warga nahdliyin, melainkan kepada bagaimana  NU dapat berbuat banyak untuk memajukan masyarakat secara umum dalam berbagai bidang.

Bidang pendidikan yang saat ini sudah tampak cukup maju, tentu akan terus didorong untuk lebih maju dan mengembangkan diri lagi, sehingga  tidak saja  dapat sejajar dengan pendidikan di beberapa wilayah yang sudah terlebih dulu maju di negeri sendiri, melainkan juga   diharapkan akan dapat mensejajarkan diri dengan  beberapa lembaga pendidikan di manca negara.  Demikian juga dalam bidang kesehatan yang hingga saat ini NU Jateng masih terasa belum banyak berbuat dalam persoalan ini.  Untuk itu penggalakan untuk mendirikan  klinik klinik kesehatan NU atau bahkan rumah sakit NU menjadi sebuah tantangan yang harus direspon oleh pengurus yang baru.

Dalam bidang pemberdayaan masyarakat, NU juga diharapkan akan dapat memberikan solusi tepat untuk mengentaskan  warga masyarakat dari kemiskinan yang masih cukup tingi di negeri ni, termasuk di Jawa Tengah.  Persoalan kemiskinan yang  sangat erat hubungannya dengan persoalan sosial secara umum, memang merupakan masalah pemerintah, namun sebagai salah satu komponen bangsa ini, NU menurut saya juga berkewajiban untuk mengentaskan warga bangsa ini dari kemiskinan tersebut.

Tiga hal tersebut menurt saya  harus mendapatkan prioritas garapan dari NU agar NU ke depan  lebih  banyak berperan dalam kehidupan masyarakat bawah yang memang menjadi garapan NU. Artinya agar NU tidak terkesan elitis dan hanya mengurusi persoalan persoalan besar saja.  Tentu pembinaan secara rutin oleh pengurus NU  kepada warga nahdliyin juga sangat ditekankan.  Lailatul ijtima’ yang merupakan  kekhasan  NU harus dipertahankan dengan melibatkan banyak kalangan, termasuk para tokoh yang ada di berbagai posisi.

Namun demikian masalah peningkatan kualitas pendidikan harus mendapatkan perhatian lebih dari NU, meskipun persoalanlain bukannya dianak tirikan.  Kita tentu sangat paham bahwa kenajuan  suatu bangsa ke depannya, akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, dan kualitas sumber daya manusia akan dapat diraih dengan meperbaiki kualitas pendidikan yang ada.  Dengan demikian kalau NU peduli kepada  masa depan warganya, tentu persoalan pendidikan ini memang tidak boleh dilepaskan sedetikpun dari perhatiannya.

Sesungguhnya kita sudah tahu bahwa maarif  Jawa  Tengah sudah banyak berbuat untuk mengembangkan dan memajukan penddikan,  namun tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada maarif NU  Jateng,  persoalan pendidikan di wilayah kita ini memang belum  dapat memuaskan kita semua.  Memang  sudah ada sebagian  lembaga pendidikan yang cukup maju dan  bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya, tetapi harus diakui ternyata di sana masih banyak lembaga pendidikan yang  masih memprihatinkan, baik dari sisi fasilitas pendukung pembelajaran, maupun dari aspek  sumber daya manusia atau gurunya.

Untuk kepentingan tersebut yang terpenting ialah bagaimana maarif dapat mendapatkan data akurat mengenai lembaga lembaga pendidikan  yang ada di Jateng, terutama yang dikelola leh warga nahdliyin, untuk kemudian dilakukan beberapa kajian dan penentuan skala prioritas  penanganan. Diharapkan dalam waktu lima tahun kedepan seluruh lembaga pendidikan NU di Jateng ini akan dapat disentuh untuk mendapatkan penanganan dan pada saatnya akan dapat disejajarkan dengan lembaga pendidikakn lainnya.

Semuanya ini hanyalah sebuah harapan kepada pengurus baru yang tadi mendapatkan amanat dari konferwil untuk menjalankan roda organisasi  NU Jateng.  Tentu harapan tersebut menurut saya tidak erlalu muluk dan  sangat wajar, apalagi kalau diingat pak Abu sudah  sangat paham terhadap persoalan  di Jawa Tengah, karena sebelumnya  beliau juga sebagai wakil ketua yang tentu sudah  tahu apa yang akan diperbuatnya setelah terpilih menjadi ketua saat ini.

Hal lain yang tentu menjadi koncern pak Abu ialah bagaimana di Jawa Tengah ini  terjadi pengertian antar warga dengan berbagai latar belakang suku, ras, agama dan keyakinan.  Artinya  kerukunan antar umat beragama yang saat ini sudah cukup bagus harus tetap dipelihara dan bahkan dilakukan berbaai upaya untuk lebih memperkokoh kerukunan tersebut. Namun hal tersebut dapat dilakukan bersama dengan ormas lainnya, sedangkan NU hanya sebagai salah satunya saja.

Dengan begitu konsenrasi seluruh pengurus baru NU Jateng akan dapat dikerahkan untuk melakukan  perbakan dalam idang bidang sebagaimana yang saya sebutkan di atas.  Mudah mudahan pengurus baru wilayah NU Jateng kali ini akan dapat lebih berbuat banyak untuk kemajuan warga  di Jateng ini.  Selamat pak Abu dan selamat bekerja untuk kepentingan umat.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.