TUHAN MAHA MENDENGAR

Mungkin judul tersebut tidak terlalu istimewa, karena di samping sudah menjadi pengetahuan  masyarakat bahwa Tuhan itu Maha Mendengar, juga tidak ada yang menarik.  Hanya saja ketika hal tersebut dikaitkan dengan beberapa peristiwa yang muncul di permukaan, khususnya bagi umat Islam, tentu akan menjadi menarik.  Persoalannya bukan mengenai kebenaran dan keyakinan bahwa Tuhan itu memang Maha Mendengar, melainkan, sisi lain yang secara  sepintas seolah menganggap bahwa Tuhan itu kurang Mendengar, sehingga diperlukan suara keras saat memanggil-Nya.

Beberapa waktu yang lalu sempat muncul isu dan kritik terhadap pengeras suara yang dipsang di masjid dan mushalla, terutama dalam mengumandangkan adzan menjelang shalat wajib.  Kritikan yang disampaikan pada saat itu ialah bahwa  suara yang sangat keras dari mushalla dan masjid tersebut dapat mengganggu masyarakat, padahal Tuhan itu Maha Mendengar kenapa harus di panggil dengan suara keras keras.  Jawaban atas kritik tersebut sesungguhnya sangat mudah bahwa adzan tersebut bukan panggilan kepada Tuhan, melainkan panggilan untuk menjalankan shalat kepada semua umat Islam.

Tentu sangat pantas jikalau umat Islam yang sedang melaksanakan berbagai aktifitas diingatkan untuk melanjalankan shalat, saat waktunya sudah tiba.  Nah, kalau panggilan tersebut hanya dapat didengar oleh orang yang ada di dalam masjid atau mushalla, maka masyarakat yang berada di luarnya sama sekali tidak mengetahui dan mendengarnya. Meskipun demikian memang kita juga harus  mawas diri bahwa meskipun  pengeras suara untuk kumandang adzann tersebut berfungsi untuk memanggil umat bahwa waktu shalat sudah tiba dan  agar mereka meninggalkan aktifitas lainnya dan menuju rumah Allah untuk shalat, namun tidak boleh mengganggangu pihak lain.

Artinya kalau hanya sekedar adzan, tentu secara umum tidak akan mengganggu masyarakat, karena di samping waktunya juga sangat singkat,  hal tersebut sudah  menjadi biasa karena setiap hari dilakukan  lima kali.  Tentu  l;ain halnya jikalau  pengeras suara tersebut dibunyikan terus menerus dan sangat keras, sehingga akan banyak pihak yang terganggu.  Terutama hal itu biasa terjadi pada saat bulan suci Ramadlan, bahkan hamper semalaman pengeras suara dapat berbunyi terus untuk tadarrus.

Namun demikian jikalau  hal tersebut dilaksanakan pada  lingkungan umat Islam, juga kiranya tidak akan mengganggu.  Hal tersebut dibuktikan  secara bertahun tahun bahwa tidak ada complain  dari masyarakat atas berkumandangnya tadarrus sepanjang malam pada bulan Ramadlan. Bahkan mereka malahan menganggap sangat bagus dan mensyiarkan Islam serta dapat mengingatkan dan membangunkan mereka saat akan melakukan sahur.

Hanya saja bilamana masjid atau mushalla tersebut berada di tengah masyarakat majemuk, tentu harus diatur sedemikian rupa sehingga merka yang bukan muslim akan tidak terganggu dengan suara  bacaan al-Quran dan adzan.  Misalnya dengan cara tidak terlalu keras atau untuk bacaan al-Quran dibatasi sampai jam 10 malam dan selanjutnya  dapat dilakukan dengan tanpa pengeras suara atau  dengan cara  lebih mengurangi volume suara pengerasnya sehingga tidak mengganggu tidur mereka.

Kita memang harus menyadari secara tulus bahwa  keberadaan kita di negeri ini ialah bersama dengan mereka yang bukan muslim, sehingga kita memang harus bertoleransi untuk menghargai mereka.  Mungkin bagi sesame muslim kita dapat mempertanyakan kepada mereka jikalau ada suaran al-Quran dikumandangkan meskipun semalam suntuk kok kemudian merasa terganggu.  Tetapi sekali lagi kalau  kepada kaum non muslim tentu kita tidak boleh mempertanyakan  hal serupa.

Lain lagi dengan peristiwa  berdoa yang harus dikeras keraskan, sehingga  menimbulkan kesan seolah Tuhan tidak mendengar.  Tuhan pasti mengetahui apapun yang kita ucapkan meskipun sangat lirih, jangankan sudah diekspresikan, bahkan hanya terbersit dalam hati saja Tuhan akan mengetahuinya, walaupun  tidak dianjurkan untuk hanya “mbatin” saja saat berdoa kepada Tuhan. Jadi memang  dapat dimengerti jikalau ada kritik terhadap kelompok tertentu yang kalau berdoa senantiasa dilakukan dengan suara keras dan cenderung seperti menuntut.

Saat ini justru muncul sebuah  anggapan bahwa kalau berdoa sebaiknya  dengan menangis, sehingga Tuhan akan mengabulkan permohonan yang dipanjatkan.  Tetapi sesungguhnya Tuhan itu juga Maha Tahu terhadap semua  yang dilakukan oleh para hamba-Nya.  Kalaupun tangisan yang  dilakukan pada saat berdfoa tersebut hanya  sebuah rekayasa belaka dan tidak muncul dari dalam dirinya sendiri dengan pengertian penyesalan atas segala perbuatan yang telah dilakukannya dan  tidak sejalan dengan syariat, maka Tuhan tentu akan  mengetahuinya.

Demikian juga jikalau tangisan yang muncul tersebut setelah di stimulasi sedemikian rupa sehingga orang akan trenyuh dan mengeluarkan air mata, tentu Tuhan juga akan mengetahuinya pula.  Tangisan yang muncul dari dalam diri setelah penyadaran yang total atas semua perilakunya selama itu dan hal tersebut sama sekali bukan karena dilihat pihak lain, melainkan justru dilakukannya pada tengah malam  pada saat sebagian besar manusia  lagi  nikmat tidur, maka Tuhan juga akan mengetahuinya pula.

Jadi karena Tuhan Maha Mendengar dan juga Maha Mengetahui segala sesuatu, maka  seyogyanya kita tidak melakukan hal hal yang  aneh dan mengelabuhi mata manusia.  Saat berdoa tidak perlu dilakukan dengan aktuing yang demikian heboh dengan menjerit dan menangis secara histeris atau dengan cara lainnya yang tidak muncul dari dalam dirnya secara  otomatis. Demikian juga kiranya kita tidak perlu  meneriakkan nama Tuhan sedemikian heboh untuk melakukan hal hal yang justru bertentangan dengan penyebutan nama agung tersebut, semisal untuk merusak atau untuk menyakiti orang lain dengan meneriakkan nama Allah.

Kita juga harus yakin bahwa disebabkan Tuhan itu Maha  Mendengar, maka setiap permohonan kita yang disertai dengan usaha baik  dan kesungguhan untuk apa yang kita harapkan, tentu Tuhan akan  mendengar dan mengabulkannya, meskipun ada kalanya waktyu pengabulan permohonan  tersebut  tidak sekaligus, melainkan  dalam tempo waktu tertentu.   Juga sebaliknya kalau ada orang yang berdoa sambil mengeraskan suaranya seolah Tuhan tidak bisa mendengar kalau dipanjatkan secara lirih misalnya, bahkan sambil mengis  dam meraung seolah menyesali perbuatan dosanya, namun hal tersebut ternyata hanya sebuah acting semata, maka kita harus yakin bahwa Tuhan pasti akan  memutuskan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Dengan meyakini bahwa Tuhan Maha Mendengar tersebut, kita tidak perlu silau dengan pemandangan yang  over acting dan seolah merekalah yang paling hebat dan p[aling  dekat dengan Tuhan, karena belum pasti penampilan luar tersebut mencerminkan  hal yang sesungguhnya.  Bahkan sering terjadi malahan sebaliknya, yakni tampilan luar itu sama sekali berbeda dengan yang sesungguhnya.  Kita memang sebaiknya berlaku secara normal sesuai dengan  kebiasaan yang lazim, namun jika suatu malam kita  shalat, lalu berdoa dan menyadari semua diosa yang kita lakukan serta  ingat akan siksa Tuhan  yang dahsyat, dan kemudian air mata kita berlinang sebagai wujud kesadaran kita atas  hal hal tersebut, tentu hal tersebut sangat bagus dan Tuhan sudah pasti mengetahuinya.

Pendeknya keyakinan bahwa Tuhan itu Maha Mendengar tidak Cuma ada dalam lisan dan pernyataan saja, melainkan justru harus terimplementasikan dalam sikap dna perilaku kita secara nyata.  Mudah mudahan kita  dapat merenungkan dan meresapi semua sifat Tuhan dan mempercayainya dengan kesungguhan  hati, serta pada akhirnya terimplementasikan dari langkah dan sepak terjang kita. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.