PIALA KONFEDERASI YANG SEPI

Kejuaraan pila Konfederasi yang biasa dianggap sebagai pemanasan piala dunia biasanya juga tidak kalah ramainya  denga piala dunia itu sendiri, namun apa yang kita saksikan saat ini rupanya agak berbeda, yakni gaung piala konfederasi menjadi seolah redup bersama dengan munculnya berbagai persoalan yang melanda dunia saat ini.  Hampir tidak ada pembicaraan yang  bertopikkan piala konfederasi, baik oleh para pakar maupun sekedar oleh masyarakat secara umum.  Tentu akan sangat berbeda sekali misalnya dengan piala dunia atau bahkan dengan piala Eropa sekalipun atau bahkan juga  kalau dibadingkan dengan  liga Chmapion Eropa.

Saya sendiri tidak tahu, padahal kalau ada kejuaraan sepak bola apalagi yang berskala internasional, selalu hangat diperbincangkan oleh para abang becak dan anak anak kecil.  Bahkan kebanggan untuk sekedar memegang stiker atau membeli kaos yang berkaitan dengan piala konfederasi saja tidak nampak gregetnya.  Barangkali  hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai persoalan yang saat ini sedang melanda masyarakat kita, termasuk digorengnya terlalu lama  persoalan  akan dinaikkannya harga BBM dan masalah lainnya, dan semalam kemudian harga BBM sudah diumumkan naik.

Memang persoalan  ketertarikan seseorang terhadap sebuah peristiwa itu sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yang diantaranya ialah sejauh mana orang lain dan masyarakat uga memberikan perhatian yang lebih untuk peristiwa tersebut.  Jadi kalau saat ini kebanyakan masyarakat lagi pusing memikirkan persoalan keuangan sehubungan  akan dinaikkannya harga BBM dan sehubungan dengan persoalan  akan dimulainya perkuahan dan liburan lalu masuk sekolah serta  akan masuk bulan suci Ramadlan.  Tentu semua itu membutuhkan persiapan keuangan yang cukup sehingga akan dapat menghadapnya dengan tenang.

Nah, dalam kenyataannya saat ini masyarakat dibuat pusing dengan merangkaknya seluruh harga kebutuhan pokok meskipun BBM belum juga diumumkan kenaikannya, dan kita menjadi sangat yakin bahwa setelah tadi malam harga  BBM resmi diumumkan naik, harga harga  akan bertambah naik, termasuk transportasi.  Tentu kenaikan  saat ini merupakan babak pertama dari kenaikan yang akan terus berlanjut, terutama saat bulan suci sudah tiba dan disambung dengan hari raya Idul Fithri. 

Tetapi memang secara langsung tidak ada hubungan antara penyelenggaraan kejuaraan piala konfederasi dengan kondisi dalam negeri kita, apalagi dalam kejuaraan tersebut tidak ada tim kita, bahkan dari Asia Tenggara sekalipun, dan hanya Jepang yang berlaga.  Disamping itu karena penyelenggaraan  piala konfederasi tersebut berada di Brazil yang berbalik kondisinya dengan di negara kita.  Jadi pertandingan pertandingan yang ada  berada di jam jam pagi  hari  di negera kita.

Meskipun demikian sesungguhnya bagi penggila bola, soal waktu tidak menjadi masalah dengan bukti pada masa yang lalu saat penyelenggaraan piala Eropa ataupun piala dunia, pertandingan juga dilaksanakan dini hari, tetapi tidak menyurutkan minat mereka untuk tetap melihat siaran langsungnya.  Tentu  beda antara piala konfederasi dengan piala dunia, meskipun pesertanya juga tim tim bagus dan kemungkinan besar merekalah yang nanti juga akan mengikuti piala dunia.

Hanya saja kita memang kemudian menjadi kurang respek dengan kenyataan bahwa kemarin tim Matador meremuk redamkan tim Haiti dengan mencolok.  Setidaknya hal tersebut menjadi indikasi bahwa  ada ketidak seimbangan antara tim tim yang mengikutinya.  Dengan begitu mungkin sangat dapat dimengerti bahwa piala konfederasi tersebut tampak sepi dan kurang greget, setidaknya bagi para penggemar bola di tanah air.

Bagi sebagian masyarakat yang selalu mengikuti perkembangan sepak bola, termasuk penyeleggaraan piala konfederasi tersebut, tentu akan memberikan gambaran awal tentang kekuatan masing masing tim pada saat nanti berlaga di piala dunia, meskipun masih banyak tim kuat yang tidak terlibat dalam kejuaraan tersebut.  Sehingga dengan demikian daya magnet untuk piala dunia nanti akan dapat diperkirakan, terutama pada saat tim tim kuat  saling bertemu.

Sebagai salah seorang yang menggemari  olah raga  terpopuler ini, saya menjadi teringat kembali dengan kondisi sepak bola  di negeri kita, terutama ti nasional kita yang tidak konsisten dalam permainan dan performa  saat bertanding di level internasional.  Terkadang saya sendiri menjadi sangat bingung, kenapa prestasi kita  tidak juga menunjukkan  kemajuan, bahkan cenderung menurun.  Padahal kalau dilihat dari banyaknya kompetisi atau klub yang berlaga di negri ini cukup mengembirakan.  Mungkinkah ini disebabkan  kurangnya  pembinaan oleh pelatih ahli, ataukah disebabkan persoalan lainnya, seperti masa depan pemain yang tidak jelas.

Kehadiran para pemain luar negeri ke negeri kita tentu dimaksudkan agar ada transfer permainan  dari mereka  kepada para pemain kita, sehingga para pemain yang didatangkan dari negara lain seharusnya  memang mereka yang sudah mempunyaipengalaman dan mempunyai skill yang bagus.  Namun  rupanya saat ini ketentuan tersebut seperti dilupakan, sehingga banyak pemain luar yang justru tidak lebih baik dibandingakn dengan pemain lokal.  Bahkan lebih menyedihkan lagi ialah  justru para pemain laur tersebut menjadi penyebab kerusuhan di lapangan, karena  sikap dan emosinya yang tidak terkontrol.

Mungkinkah  untuk mendatangkan pemain luar negeri yang bagus harus  dibarengi dengan pengeluaran biaya yang sagat tinggi, sehingga klub tidak mampu melakukannya. Ataukah para pemain yang bagus dari luar negeri yang memang tidak mau bermain di Indonesia, karena khawatir justru karirnya akan semakin  meredup ataupun sebab lainnya.  Namun yang jelas tampaknya persoalan danalah yang menjadi penyebabnya.  Kita masih  ingat betul betapa banyak klub di negeri ini yang  masih berhutang kepada para pemainnya dan hingga berbulan bulan belum dibayar.  Bahkan  beberapa waktu lalu sampai ada pemain luar yang meninggal karena untuk berobat saja tidak mempunyai uang, disebabkan belum  dibayar oleh klub.

Andai tim kita dapat berprestasi bagus, setidaknya di Asia, apalagi kalau kemudian dapat mengikuti piala dunia ataupn konfederasi seperti Jepang misalnya, tentu seluruh masyarakat kita akan tetap antusias dalam mengikuti setiap kejuaraan yang diikuti oleh timnas kita.  Harapan untuk tampil di kejuaraan piala dunia bagi tim kita sepertinya memang hanya sebuah impian di siang bolong, karena hanya untuk berprestasi di kawasan Asia Tenggara saja rasanya  masih sulit, utamanya untuk saat ini dan dengan melihat cara pembinaan yang ada.

Barangkali memang harus ada revolusi di negri ini untuk sepak bola, dari kondisi saat ini yang semi profesional menjadi benar benar profesional dengan menrapkan  betul betul keprofesionalan.  Artinya  klub memang benar benar ditangani secara profesional dan tideak ada lagi rengekan untuk dibantu oleh APBD atau sejenisnya, melainkan klub akan mencari solusinya sendiri.  Revolusi tersebut tentunya dengan menjadikan sepak bola sebagai industri sebagaimana di negera lain. 

Sangat mungkin nantinya akan banyak  klub  yang rontok dan tidak mampu melakukan kewajibannya, tetapi kalau memang revolusi ya tidak masalah.  Artinya kalau memang klub tidak siap biarlah bubar atau dijual kepada pihak yang mampu menanganinya secara profesional.  Dan kalau misalnya nanti hanya sedikit klub yang akan bertahan, menurut saya tidak mengapa, asalkan memang benar benar profesional, karena  kita yakin bahwa  pada saatnya nanti akan muncul klub lain yang melihat prospek industri sepak bola di negeri ini.

Dengan begitu kita akan menjadi bangga menjadi warga bangsa yang di dalamnya  ada timnas yang dapat dibanggakan dan berprestasi  internasional.  Dengan itu pula kita tentu akan dapat menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat untuk setiap kejuaraan sepak bola, apalagi kalau tingkatannya internasional, seperti piala dunia dan juga konfederasi.  Semoga  di masa depan kita dapat menyaksikan hal tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.