PENGURANGAN KUOTA HAJI INDONESIA

Pada saat masyarakat sedang  berkonsentrasi dengan rencana kenaikan harga  bahan bakar  minyak, tiba tiba sebagian masyarakat, terutama yang  tahun ini akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci menjadi was was.  Itu disebabkan oleh berita tentang keputusan pemerintah Arab Saudi yang mengurangi jatah kuota masing masing Negara yang mengirimkan jamaah haji, disebabkan alas an perbaikan masjid dan mas’a yang belum selesai.  Dan jumlahnya pun  sangat  banyak mencapai sekitar 20%, sehingga  harus ada sekitar 40.000 jamaah calon haji kita yang tahun ini akan gagal menunaikan ibadah haji.

Kalau nantinya negosiasi yang saat ini sedang dilakukan oleh menteri agama RI  Surya Dharma Ali, menemui kegagalan dan jalan buntu, tentu mau tidak mau pemerintah, dalam hal ini kementerian agama harus melakukan  keputusan berat untuk  menentukan siapa sajakah yang terpaksa harus  gagal melaksanakan ibadah haji tahun ini.  Keputusan seperti itu memang sangat berat dan sulit  dilakukan, tetapi memang  harus.  Untuk itu harus ada kriteria yang jelas untuk menetapkan siapa yang berangkat dan siapa yang harus menunggu hingga tahun depan.

Kita  sudah dapat memprediksi bahwa masyarakat yang saat ini sudah masuk kuota  tentu akan merasa keberatan untuk ditunda lagi, tetapi sekali lagi harus ada keputusan untuk masalah tersebut.  Kita  memang dapat mengerti betapa sulitnya atau betapa terpukulnya masyarakat yang nantinya diputuskan untuk  menunda keberangkatannya ke tanah suci hingga tahun depan, karena mereka sudah merasa membayar semua pembiayaan  dan bahkan  sudah banyak yang “syukuran” dan menginformasuikan kepada sanak saudara, kalau tahun ini akan berangkat haji.

Namun demikian kita juga perlu meghimbau kepada sel;uruh calon jamaah haji tahun ini agar memikirkan ulang  tentang posisinya sebagai hamba Tuhan.  Artinya bahwa untuk menunaikan ibadah haji itu merupakan panggilan Tuhan, jadi kalau misalnya nanti terpaksa harus menundanya sampai tahun depan atas adanya kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut, harus diterima dengan ikhlas, karena memang belum waktunya dipanggil oleh Tuhan untuk bertamu ke Baitullah.

Jangan sampai  kemudian niat baik untuk menunaikan ibadah haji malah dikotori oleh  sikap dan perbuatan yang melawan hokum, hanya untuk mempertahankan  keberangkatan ke tanah suci dan hanya disebabkan rasa malu kepada  tetangga dan sanak sauadara.  Kita sangat yakin bahwa sel;uruh masyarakat akan dapat memahami  penundaan tersebut dan kita tidak perlu merasa malu, karena memang belum waktunya untuk berangkat.  Perasaan legowo dan ikhlas seperti itu tentu akan semakin membuat seseorang menjadi semakin  baik di mata Tuhan.

Persoalan pengurangan kuota tersebut bukan hanya dialami oleh calon jamaah Indonesai saja, melainkan juga dialami oleh seluruh calon jamaah haji asal Negara lain.  Kondisi ini tentu harus disosialisasikan kepada seluruh jamaah calon haji, agar mereka  sedikit  dapat mengerti dan membantu mereka untuk  memahami kondisi yang ada.  Dengan begitu nantinya pada keputusan untuk berangkat atau tidak pada tahun ini, mereka akan siap lahir batin dan menyikapinya dengan  penuh  ketulusan dan tidak melakukan tindakan yang justru akan merugikan diri mereka sendiri.

Kita juga berharap kepada kementerian agama yang nantinya akan memutuskan mengenai siapa saja yang akan berangkat  tahun ini dan siapa saja yang harus menundanya hingga tahun depan, untuk bersikap adil dan tegas.  Artinya  kondisi ini tidak dimanfaatkan untuk hal hal yang  tidak diinginkan, semisal untuk kepentingan beberapa pihak saja atau dengan  tindakan tidak adil dengan memutuskan tanpa  didasarkan atas sebuah kriteria yang jelas.  Harus ada  transparansi dalam menetapkan kriteria tersebut dan  pengawasannya juiga harus diperketat.

Dalam kondisi dan Susana yang  seperti itu, tentu akan mudah terjadi adanya dorongan oleh oknum tertentu untuk melakukan hal hal tercela dan merugikan  jamaah.  Untuk itu disarankan peada semua piohak terutama para pimpinan di kementerian agama  di seluruh Indonesia agar  waspada  munculnya  hal hal yang tidak diinginkan tersebut dan  harus tegas dalam bertindak dan memberikan sanksi bilamana  memang diketahui ada penyimpangan sebagaimana dimaksudkan tersebut.

Kalau sekiranya  negosiasi yang dilakukan oleh menteri agama  dapat berhasil dan kuota kita tidak dikurangi, tentu hal tersebut akan sangat bagus, namun rupanya akan sangat sulit, bilamana kita  hubungkan dengan kondisi perbaikan tempat ibadah di masjid al_Haram yang memang baru dilakukan.  Untuk itu  kementerian agama dan seluruh jajarannya di seluruh Indonesia harus segera merumuskan kriteria mereka yang harus menunda keberangkatan haji pada tahun depan dan segera disosialisasikan.

Lebih cepat membuat keputusan tersebut dan mensosialisasikannya kepada para calon jamaah, niscaya akan mengurangi persoalan yang akan timbul, dibadingkan jikalau tertunda dan  mereka semua sudah mempersiapkan diri lebih matang, termasuk  pamitan dengan para tetangga melaui acara syukuran dan sejenisnya.  Disamping itu saat ini  mayoritas dari para calon haji yang akan berangkat tahun ini juga sudah mendengar informasi yang tidak menyenangkan ini, sehingga semakin lama persoalan ini digantung tanpa keputusan yang pasti, akan semakin banyak  derita yang harus ditanggung oleh mereka.

Rasa was was dan ketidak pastian mengenai keberangkatan mereka untuk menunaikan haji tahun ini tentunya akan membebani mereka sedemikian rupa.  Kalau hal ini tidak segera diberikan kejelasan dan pengertian tentang  betapa pentingnya  memahamkan kepada mereka, tentu akan menjadi sebuah masalah besar yang sangat sulit untuk diatasi.  Penyertaan para ulama  dalam mensosialisasikan masalah ini menurut saya sangat penting, terutama untuk memberikan pemahaman  kepada para jamaah calon haji, agar mereka tidak tertekan batinnya dan  dapat menerima dengan ikhlas apapun yang  nantinya diputuskan oleh kementerian agama.

Hal inilah yang  sangat penting untuk segera diberitahukan kepada mereka, sehingga mereka akan benar benar menerima keputusan apapun, demi kebaikan bersama.  Lebih lebih sebagaimana yang  saya sebutkan di atas bahwa  haji sesungguhnya merupakan panggilan.  Kalau memang belum dipanggil, meskipun secara kasat mata kita sudah sangat siap, maka  yakinlah kita tidak akan pernah sampai ke tanah suci dan memnunaikan rangkaian ibadah haji.  Dan sebaliknya, kalaupun secara kasat mata  tidak ada persiapan apapun, nemun karena sudah dipanggil untuk menunaikan haji, maka kita akan sampai ke  tanah suci dan dapat menjalankan ibadah haji.

Dengan pemahaman seperti itu, diharapkan akan sedikit menjadi obat bagi kekecewaan para calon jamaah haji yang batal berangkat tahun ini.  Bagqaimanapun kita dapat memahami bahwa sekalipun dapat menrima kenyataan bahwa  dirinya harus mennda pelaksanaan hajinya sampai tahun depan, tetapi sebagai manusia biasa  tentunya rasa kecewa selalu akan  dapat muncul pada setiap ada hal yang sangat diinginkan, tetapi meleset.  Apalagi kalau sesuatu yang diidamkan tersebut sudah cukup lama dinantikan, yakni menunggu  giliran untuk beberapa tahun.

Jadi pengurangan kuota yag diputuskan oleh pemerintah Arab saudi tersebut memang diambil untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh umat manusia yang melaksanakan ibadah haji, dan bukan dengan maksud lainnya.  Untuk itu seluruh umat Islam Indonesia  yang seharusnya tahun ini mendapat giliran untuk berangkat menunaikan ibadah haji, harus menyadari sepenuhnya bahwa kalau misalnya  nanti terpaksa harus menunggu lagi  sampai tahun depan, hendaklag diterima dengan tulus, dengan harapan Tuhan akan lebih memberikan kemudahan dalam segala urusan kepada kita semua. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.