TENTANG MUCIKARI ABG

Meskipun sesungguhnya merupakan berita yang cukup menggemparkan, tetapi penangkapan seorang yang masih ABG yang ternyata menjadi mucikari di Surabaya, ternyata tidak terlalu mengejutkan warga bangsa ini.  Itu disebabkan  saking banyaknya persoalan bangsa ini yang terus menerus menerpa masyarakat dan tidak kunjung selesai atau memang tidak diselesaikan.  Sungguh ini merupakan cerminan sebuah komunitas yang sangat rusak parah.  Bagaimana tidak, anak anak yang seharusnya  mendapatkan kasih sayang di dididik menjadi manusia yang berkualitas dana bermoral, ternyata dengan berbagai alasan, mereka justru terjebak dalam dunia yang sangat tidak wajar.

Kita tentunya  sangat prihatin dengan kondisi tersebut, karena bagaimanapun juga  sebagai manusia, siapapun pasti mempunyai rasa dan secuil kemanusiaan, yang tidak membenarkan keberadaan anak anak sebagai pemain dalam jual beli manusia, meskipun hanya sekedar jual jasa service seks.  Itu semua juga pasti tidak terlepas dari lingkungan dan pendidikan serta perhatian dari orang tua.  Kalau anak anak kemudian dilepaskan begitu saja dengan mudahnya dapat mengakses situs situs yang “haram” tanpa kontrol sama sekali, tentu akibatnya akan menjadi fatal.

Barangkali pada awalnya bukan persoalan ekonomi yang melatar belakangi m,unculnya persoalan ini,  meskipun banyak orang menuduh faktor ekonomilah yang menjadi penyebabnya.  Menurut analisa saya  justru dimungkinkan  adanya faktor lain, yakni faktor kekayaan dan kemanjaan seseorang yang hanya dijejali dengan materi tanpa kasih sayang dan perhatian terhadap perkembangan dan akhlak mereka.

Kita dapat membayangkan jikalau ada seorang anak kemudian diberikan fasilitas yang lengkap dan tibiarkan atau dibebaskan untuk melakukan apa saja, termasuk bergaul dengan anak anak yang perangainya kurang baik dan kemudian juga sering mengakses situs situs porno dan kekerasan serta  yang mirip dengannya, lama kelamaan sudah dapat diperkirakan perkembangan ank tersebut akan menjadi sangat menyimpang,.  Bahkan tidak menutup kemungkinan pada akhirnya mereka juga akan terjebak dalam persoalan narkoba dan seks bebas.

Nah, pembentukan kepribadian yang seperti itu dapat saja kemudian memunculkan ide untuk mengajak kepada kawan kawannya yang masih ABG untuk menikmati dunia yang sama sekali belum pernah dibayangkan  dalam usianya yang masih dini tersebut.  Ditambah lagi bahwa dengan melaqkukan aktifitas tersebut, ternyata juga sangat mudah untuk mendapatkan uang untuk keperluan jajan, berfoya dan lainnya. Jadilah mereka itu terjungkal dalam masalah yang sangat memalukan tersebut.

Meskipun demikian, ternyata setelah diungkapnya kasus tersebut, masyarakat ternyata kurang merespon, dan hanya sedikit saja yang kemudian berkomentar miring dan pada akhirna hanya menyalahkan kondisi bangsa yang memang sedang carut marut ini.  Kondisi apatis dan kurang perhatian terhadap persoalan moral yang sudah sangat rusak seperti ini menurut saya sangat berbahaya, karena dapat memicu lebih besar lagi kasus kasus lannya.  Namun demikian kita juga tidak bisa menyalahkan sikap masyarakat yang cenderung apatis terhadap semua masalah sosial tersebut, karena sangat kompleksnya persoalan  yang ada.

Keprihatinan kita sebagai masyarakat yang beragama ialah kalau nantinya persoalan moral seperti itu pada saatnya  bukan lagi dianggap tabu,meainkan hanya sebagai kebiasaan saja sebagaimana yang terjadi di beberapa negara lain.  Artinya seks bebas asalkan dilakukan suka sama suka maka hal tersebut tidak menjadi tabu, termasuk juga kalau dalam melaukan  seks tersebut harus ada imbalan dari salah satu pihak.  Tentu kalau hal ini terjadi, sirnalah ajaran  moral yang selama ini kita pertahankan untuk menjaga kesucian diri serta punahkan ajaran agama yang hingga saat ini  kita pertahankan.

Sebagai bangsa yang bermoral dan beragama serta negarapun  menjamin hal tersebut tentu kita tidak akan membiarkan kondisi seperti itu akan melanda dan  terjadi di negeri ini. Cukuplah kasus kasus moral yang sampai saat ini  ada  hanya sampai di situ dan tidak lagi akan menjalar dan meluas sehingga mengalahkan benteng moral dan agama yang  kokoh kita tancapkan.  Ini tentunya juga memerlukan perhatian dari seluruh elemen masyarakat dan juga  orang tua serta pemerintah, khususnya  dalambidang pendidikan.

Kurikulum yang saat ini akan diberlakukan tentu  diharapkan akan mampu mengerem dan mencegah hal hal negatif seperti itu, karena  di dalamnya memuat  lebih banyak muatan agama dan ajaran moral bagi peserta didik.  Tentu hal tersebu juga tidak secara otomatis akan menghasilkan produk berkualitas sebagaimana harapan, karena masih tergantung epada pendidknya itu sendiri, yakni guru yang mengajarkan dan sekaligus memerankan diri sebagai teladan yang sangat disegani dan dikagumi oleh anak didik.

Jangan sampai  lebih banyak materi dan muatan ajaran  agama dan moral tersebut tetap saja  diajarkan dengan  apa adanya dan  justru menjadi mata pelajaran yang sangat dihindari atau diabaikan oleh  murid.  Guru bidang studi agama ini harus dapat menjadikan dirinya sebagai teladan dan menjadikan pada peserta didik sagat tertarik dan  menggemari ajarn tersebut.  Tentu ini memerlukan ketrampilan  dan pengalaman tersendiri.  Karena itu sangat diperlukan training yang intensif untuk peningkatan kualias guru tersebut.

Kasus mucikari atau germo cilik yang sempat ditangkap oleh pihak aparat tersebut harus kita jadikan sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga  dan sekaligus  dijadikan tonggak untuk memerangi hal serupa di lain tempat yang sangat mungkin juga  ada.  Kita tidakbolehmembiarkan generasi bangsa ini terpuruk dan sulit bagkit, kita haruis menyelamatka mereka dan menggugah mereka agar sadar dan sekaligus mau segera menatap masa depan mereka dengan antusias tinggi. Artinya mereka mau meperbaiki diri dan segera melakukan berbagai aktifitas belajar, sehingga masa depan mereka tetap akan cerah.

Pada saat ini sebaiknya kita memang tidak saling menuding dan menyalahkan terhadap kondisi tersebut, melainkan semuanya introspeksi dan sekaligus  berusaha untuk menemukan jalan keluar yang paling baik dan menguntungkan semua pihak.  Apapun yang kita lakukan,  toh semuanya sudah terjadi dan bahkan sangat mngkin masih banyak lagikasus serupa yang belum terungkap.  Jadi memang sikap bijak kita sangat dibutuhkan, yakni segera menangai masalah ini  dan berusaha untuk menyelamatkan anak anak kita dan lingkungan kita.

Kalau masing masing keluarga  mau melakukan penyelamatan seperti itu terhadap keluarganya sendiri dan msayarakat lingkungan, kita  sangat yakin bahwa  arus demoralisasi tersebut akan dapat kita cegah dan masa depan anak  anak dan generasi kita akan tetap dapat diharapkan tetap baik.   Bagi masyarakat yang kebetulan masih aman aman saja, jangan kemudian lengah, karena belum tentu yang tampaknya  adem ayem tersebut sebagaimana yang tampak di luar.  Sanat mungkin bahwa rend seperti itu sudah menjalar ke seluruh daerah, sehingga ada kemungkinan bahwa yang tampak aman ternyata juga  sama saja, hanya belum terungkap saja.

Untuk itu kita memang harus terus melakukan pengawasan yang cukup bagi anak anak, meskipun tidak boleh mengekang mereka sehingga  tidak mampu berkreatifitas.  Arahan kepada mereka juga sangat diperlukan dalam waktu waktu tertentu sehingga mereka tidak merasa bosan, melainkan justru malah menjadi sangat senang.  Kondisi harmonis di dalam keluarga tentu menjadi sangat vital untuk kita ciptakan, karena dari sanalah kita akan dapat  mengevaluasi dan sekaligus membentuk watak mereka serta sekaligus mengarahkan mereka ke jalan yang baik dan memberikannharapan masa depan yang sangat cerah.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.