MEMPERTIMBANGKAN E VOTING

Sabtu tanggal 8 Juni kemarin Forum Rektor Indonesia  mengadakan pertemuan ilmiah atau seminar membicarakan tentang kemungkinan menggunakan e voting sebagai alternatif pengganti pencoblosan dengan menggunakan kertas bergambar sebagaimana selama ini berjalan di negeri ita.  Sebagai barang yang relatif masih baru agi sebagian orang, e voting ini tentu masih banyakmenimbulkan pertanyan dan bahkan keraguan, terutama dalam hal kepercayaann masyarakat terhadap kemungkinan penyeleweangan  dan manipulasi suara.

Bahkan pada saat digunakan di beberapa tempat untuk memilih lurah atau kepala desa di Boyolali dan pemilihan bupati di Sulawesi selatan, masih banyak yang mempertanyakan.  Meskipun hasilnya cuykup memuaskan, tetapi barang ini memang belum tersosialisasikan dengan baik, seingga masih banyak masyarakat yang belum mempercayainya  seratus presen atau setidaknya masih meragukan kemampuannya untuk dijadikan sebagai sebuah sistem yang sepenuhnya dapat diandalkan.

Pada saat diperagakan sistem kerja e voting ini, dan beberapa pertanyaan yang sempat saya ajukan kepada tim ITnya, saya kemudian berkesimpulan bahwa sistem ini merupakan sitem yang  sangat bagus untuk mengurangi kecurangan yang selama ini dikeluhkan banyak pihak saat pelaksanaan penghitngan suara secara manual.  Tentu disamping beberapa keuntungan lain yang dapat dipetik dengan  memberlaqkukan sistem ini.  Hanya saja memang masih ada  beberapa pihak yang  masih meragukan, terutama dalam hal payung hukumnya yang hingga saat ini masih digodok.  Walaupun sesungguhnya kalau kita mengacu kepada keputusan MK sudah cukup untukmelaksanakan sistem ini.

Barangkali di sini perlu dikemukakan beberapa keuntungan bilamana sistem ini dioperasionalkan dalam pemilihan umum, terutama dalam pemilihan kepala daerah, baik di kabupaten kota maupun di propinsi.  Beberapa keuntungan tersebut ialah:

1.     Biaya menjadi lebih murah.  Sebagaimana  kita ketahui bahwa selama ini pemilihan umum selalu  menggunakan kertas untuk dicoblos atau dicontreng.  Tentu kita dapat menghitung berapa kertas yang harus digunakan dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak tanda gambar para calon dan setelah itu dimusnahkan atau disimpan yang hanya akan  menjadi sampah atau barang yang  pada akhirnya akan dapat menyumbang pencemaran.  Nah, dengan  e voting ini semua pemilih hanya  cukup memasukkan  kartu tertentu atau mungkin pada saatnya hanya menggunakan  e KTP kemudian memilih salah satu kandidat dan memilihnya dengan cara menyentuhnya.  Cukup menggunakan waku sekitar 5 sampai 10 detik saja.  Memang harus ada layar mponitor  dan peralatan elektronik yang harus dibeli, tetapi dibandingkan dengan cara maual akan jauh lebih murah, apalagi kalau dikaitkan dengan para saksi dan petugas yang harus diberikan uang lelah beberapa hari  karena menghitung secara manual.  Belum lagi selaa ini pada saat penghitungan seperti itu sangat rawan manipulasi, terutama  saat sudah lelah dan mengantuk.

2.    Lebih valid hasilnya dan relatif lebih terjaga  dari kemungkinan manipulasi suara sebagaimana yang  selalu menjadi masalah bilamana penghitungan dilakukan secara manual.  Sistem e votig ini akan  secara otomatis mentabulasikan sendiri dan kalaupun ada gangguan listrik, maka data yang sudah ada tidak akan hilang, sehingga manakala  pada saat tengah  melakukan pemilihan, ternyata listrik mati, maka pilihan tidak harus diulang, karena data yang sudah ada tetap akan aman tersimpan.  Di samping itu sistem ini juga tidak memungkinkan bagi siapapun untuk menghitung atau melihat tabulasinya sebelum  ditutup dan dinyatakan tidak ada lagi pemilih yang  dapat melakukan pemilihannya.  Keamanan sistem ini juga ditunjukkan pada  hasil ganda yang diterapkan, yakni hasil tabulasi secara otomatis dan sekaligus  print out yang dapat dijadikan  rujukan manakala  ada keraguan dari pihak pihak tertentu.

3.    Cepat dan aman.  Artinya  dengan sistem ini penghitungan pemilu akan lebih cepat dapat diketahui sehingga tidak rawan untuk dilakukan berbagai manuver untuk manipulasi dan lainnya.  Begitu selesai pemungutan suara dan di close, maka saat itu pula rekapnya sudah dapat diketahui,  dan kondisi ini  secara otomatis akan menjamin keamanan dari tangan tangan jahil yang bermaksud untukmelakukan kecurangan.  Pengiriman rekap dan tabulasi dari masing masing tempat pemungutan suara ke desa dan kekabupaten serta ke propinsi dan demikian juga ke KPU nasional juga akan sangat mudah dan cepat serta akurat.  Tentu kita sangat menyadri bahwa  bagaimanapun bagusnya sebuah sistem,  kemungkinan untuk dicurangi juga masih terbuka.  Karena itu fungsi para saksi dan pengawas pemilu juga tetap dibutuhkan untuk mencegah kemungkinan kemungkinan yang tidak diinginkan.  Keamanan sistemini juga  sekaligus dapat mendeteksi pemilih ganda.  Artinya seorang pemilih hanya dapat memilih sekali saja, karena sistem ini akan tidak dapat menerima  orang yang sama untuk memberikan suaranya dalam satu pemilu.

Namun demikian yang sangat perlu diperhatikan untuk dilakukan sebelum memberlakukan sistem ini ialah  melaukan sosialisasi kepada masyarakat secara sungguh sungguh.  Bagaimanapun sistem ini ialah  barang baru dan  masyarakat kita belum terbiasa dengan sistem ini.  Jangan sampai mereka sama sekali belum pernah mengetahui  perubahan sistem  kemudian harus melakukan pilihan,tentu akan menimbulkan sedikit kekisruhan dan masalah.

Hal lain yang juga sangat penting untuk dilakukan sebelum memberlaukan sistem ini ialah menyiapkan  sumber daya manusia yang akan mengoperasikan sistem ini.  Untuk yang satu ini tentu akan lebih mudah manakala KPU merekrut  mahasiswa yang ada di masing masing daerah dan dilakukan pelatihan secukupnya.  Kita masih sangat yakin bahwa para mahasiswa akan  dapat dipercaya mengemban misi ini untuk mensukseskan pemilu dan dalam  jangkauan yang lebih jauhnya ialah untuk lebih meningkatkan kualias pemilu sehingga menghasilkan pemimpin yang berkualitas pula.

Sangat mungkin pula bahwa  dengan pemberlakuan sistem ini, akan  didapatkan manfaat lain yang  tidak diduga, yakni manfaat keterlibatan atau partisipasi masyarakat yang baik dan banyak ketimbang secara kovensioanl seperti saat ini. Kita tentunya sangat paham bahwa  tingkat partisipasi masyarakat dalam pemiluhan umum saat ini menjadi sangat menurun, meskipun hal tersebut tidak akan mengurangi tingkat legitimasi hasil sebuah pemilu.  Namun kalau tingkat partisipasi masyarakat meningkat dan lebih dari 75 %, tentu kita akan semakin  bangga dan  demokrasi yang diinginkan akan lebih mantap.

Namun demikian kita juga menyadari bahwa pemberlakuan sistem ini sudah barang pasti akan menimbulan kritik dari berbagai pihak, terutama mereka yang merasa dirugikan, seperti pengusaha dan pabrik kertas yang tentu akan berkurang omzetnya atau sangat mungkin beberapa lembaga survey yang selama ini  mendapatkan order  untuk melakukan  penghitungan cepat dan pihak pihak lainnya.  Bahkan manakala  masalah payung hukumnya  masih diperdebatkan seperti saat ini dan tidak segera diterbitkan undang undang yang khusus membahas mengenai hal ini, maka  dapat saja pihak calon yang kalah akan menggugat keabsahan sistem ini melalui MK.

Karena itu semua pihak memang harus bersama sama untuk melaukan berbagai upaya untuk merealisasikan sistem yang jelas menguntungkan ini.  Perubahan ini tentu membutuhkan keberanian semua pihak, terutama pihak komisi pemilihan umum, terutama menghadapi kemungkinan resiko yang bakal diterima.  Namun kita semua juga tahu bahwa tanpa ada keberanian untuk berbuat, maka  selama itu pula tidak pernah akan maju.  Semoga semua pihak meyadari pentingnya masalah ini sehingga bersama sama melakukan upaya menuju perubahan tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.