SUDAH SAATNYA ILMU FALAK DIKEMBANGKAN

Selama ini ilmu falak dikenal sebagai disiplin ilmu yang langsung berkaitan dengan Islam, dank arena itu tidak aneh jikalau ilmu ini dimasukkan ke dalam rumpun ilmu agama, padahal seharusnya ilmu ini merupakan ilmu yang netral sebagaimana ilmu lainnya.  Memang sebagai umat Islam kita menginginkan bahwa semua ilmu itu satu dan bersumber dari Tuhan.  Ilmu ilmu yang sementara ini dianggap sebagai ilmu umum pun seharusnya kita sikapi sebagai sebuah ilmu yang bersumber dari Tuhan.  Cara pandang seperti itulah yang selama ini diimpikan oleh para tokoh yang tidak ingin ilmu itu terkotak kotak yang hanya mengakibatkan  sempitnya ilmu itu sendiri.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu itu ada yang dohasilkan dari sebuah perenungan dan pencermatan terhadap sebuah gejala alam, da nada pula yang langsung didapatkan dari ayat ayat qauliyah dalam kitab suci.  Keduanya bermuara  pada satu sumber, yakni Tuhan yang Maha Kuasa.  Kita meyakini bahwa  ilmu yang didapatkan dari penggalian atas gejala alam, sesungguhnya merupakan ilmu yang diberikan oleh Tuhan, sama dengan ilmu yang sudah dengan jelas ditunjukkan dalam kitab suci.  Untuk itulah kita seharusnya mendudukan ilmu pengetahuan sebagai sebuah ilmu yang satu dan berasal dari Tuhan.

Ini sangat penting agar tidak ada satu klaim pun yang kemudian memisahkan antara sebuah ilmu dengan Tuhan sebagai yang menentukan segalanya.  Bagaiamanapun berkembang dan majunya sebuah ilmu, tentu tetap akan ada batasnya.  Nah, dalam keadaan seperti itu kalau kemudian kita menghubungkannya dengan Tuhan, kita akan  semakin pwercaya bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Kuasa dan Maha Segalanya.  Bagi Tuhan ilmu itu tidak terbatas, sementara bagi umat manusia ilmu itu tentu sangat terbatas.

Kembali kepada masalah ilmu falak yang saat ini dimasukkan ke dalam kelompok ilmu keislaman, tentu kita tidak menyesalinya, hanya saja seharusnya semua ilmu itu dipandang sama.  Bahkan dengan dimasukkannya ilmu ini ke ilmu keislaman, justru  manambah  distorsi ilmu ini.  Artinya ilmu falak ini  sesungguhnya merupakan ilmu yang sangat luas cakupan pembahasannya, bahkan  dapat dikatakan sebagai  sama dengan ilmu astronomi.  Nah, dengan dimasukkannnya ilmu ini dalam ilmu keislaman, kemudian kajiannya menjadi sangat terbatas.

Kita juga  sama sama tahu bahwa ilmu falak ini kajiannya hanya berkisar masalah yang terkait dengan persoalan ibadah dan hanya sedikit yang membicarakan soal yang netral dan itupun juga masih dikaitkan dengan ibadah juga.  Maksudnya ilmu falak saat ini hanya  mengkaji masalah waktu waktu shalat,  menentukan  awal dan atau akhir bulan Qamariyah, mengkaji tentang  arah kiblat dengan segala persoalan detailnya, serta mengkaji tentang gerhana, baik bulan maupun matahari.

Ilmu falak tersebut pada akhirnya terjebak dalam persoalan detail yang menyita banyak  waktu dan energy, seperti  dalam menentukan awal atau akhir bulan Qamariyah misalnya, selalu akan dibahas mengenai bagaimana  mathlak, seberapa ketinggian bulan pada saat matahari  tenggelam, bagaimana letak bulan dan tingkat kemiringannya, dan bagaimana  hubungan antara konjungsion atau ijtima’ dengan jarak waktu kemunculan bulan dan lainnya, termasuk  seberapa derajatkah sebuah bulan yang sudah berada di atas ufuk mungkin disaksikan dengan mata kepala secara langsung atau memakai alat tertentu.

Kalau seandainya ilmu falak tersebut tidak direduksi menjadi hanya  sebuah ilmu yang digunakan untuk memperkuat sarana beribadah saja, tetapi dikembangkan sesuai dengan  dasar asalnya, tentu akan lebih memberikan manfaat yang lebih banyak, terutama dalam kehidupan umat manusia.  Artinya  pengembangan ilmu falak sebagaimana dasar keilmuannya yang sama dengan astronomi, tentu akan memberikan nuansa uang lebih laus dalam bidang kajian, seperti dalam hal memperkirakan kondisi cuaca dengan segala kemungkinan yang menyertainya, seperti hujan,  kecepatan angina dan lainnya.

Demikian juga mengenai kajian tata surya  secara lebih komprehensif dan mendudukkannya  antara satu dengan lainnya.  Saat ini seperti yang kita tahu bahwa pengembangan kajian tata surya telah mendapatkan kesimpulan yang cukup akurat bahwa tata surya yang kita kenal saat ini ternyata hanya  merupakan titik kecil dari keseluruhan tata surya yang ada. Dengan terus mengembangkan  kajian seperti itu, tentu akan dapat menambah kekuatan iman seseorang, karena ternyata tata surya  yang kita huni ini merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan tata surya yang maha luas dan seolah tidak terbatas.

Pantas saja pada zaman dahulu ilmu falak ini dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan  sebuah kota atau bangunan tertentu.  Demikian juga ilmu ini dapat dijadikan alat  untuk mendesain sebuah kapal yang akan menempuh perjalanan jauh di lautan dan samudra nan luas.  Maksudanya dengan  kajian yang dapat memperkirakan  cuaca, terjadinya ombak dan kecepatan angina yang bertiup, tentu akan sangat bermanfaat bagi sebuah  banguna  ataupun kapal ataupun lainnya yang tentu tidak dapat dilepaskan dari kemungkinan buruk disebabkan cuaca yang tidak bersahabat.

Ilmu falak tersebut oleh para ulama tempo dulu memang tidak dingkari sebagai ilmu yang sedemikian luas, namun untuk kepentingan praktis, khususnya yang berkaitan dengan persoalan ibadah, maka kemudian hanya dikembangkan beberapa bidang kajian semata,  tidak dengan maksud mereduksi ilmu ini, melainkan hanya sekedar mempermudah kepada umat untuk memahami beberapa hal yang berkaitan dengan peribadatan.  Sementara  untuk kajian bidang lainnya tetaplah harus dilakukan oleh mereka yang memang menekuninya.

Tetapi kemudian sejarah mencatat bahwa  kebijakan para ulama terdahulu tersebut akhirnya disalah pahami oleh generasi berikutnya yang hanya mengambil bidang kajian tertentu tersebut, dan kemudian melestarikannya, sehingga kesan dan kesimpulan yang dibuat oleh generasi berikutnya menjadi salah, yakni menganggap bahwa ilmu falak ialah ilmu yang hanya mengkaji beberapa bidang sebagaimana kita saksikan saat ini.  Atas dasar itulah kemudian kita juga dapat memahami kalau ilmu falak tersebut pada akhirnya dimasukkan kedalam kelompok keilmuan Islam sebagaimana ilmu fiqh, tafsir, dan sebagainya.

Sungguh sangat disayangkan memang, kalau kemudian ilmu ini menjadi tereduksi sedemikian rupa sempit, sehingga  keberadaanya kurang memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.  Namun dengan kesadaran tinggi yang kita miliki saat ini, seharusnya kita  mulai memikirkan bagaimana caranya mengembalikan ilmu ini kepada watak dan dasarnya yang awal.  Untuk memulai memecahkan persoalan ini kiranya dibutuhkan  sebuah kesadaran bersama dari semua pihak, terutama para ahli falak dan juga ahli astronomi sekaligus.

Artinya  sangat tidak mungkin kita hanya mengharapkan kesadaran dari satu pihak saja.  Karena disamping akan tidak mudah mendudukan ilmu ini  sesuai dengan dasarnya yang asli, juga  tentu akan muncul klaim yang tidak diinginkan.  Para ahli ilmu falak saat ini tentu karena yang dikaji hanya bidang bidang tertentu tersebut, maka  untuk kajian  bidang lainnya tentu akan mendapatkan kesulitan tersendiri.  Sementara pada ahli bidang astronomi, biasanya juga kurang berkonsentrasi dalam bidang bidang yang berkaitan dengan ilbah  sebagaimana yang ditekuni oleh ahli falak.

Jadi untuk mendudukkan  ilmu ini dan mengembalikan pada asalnya, memang diperlukan sebuah kesadaran bersama, dan  atau ada upaya dari pihak tertentu yang memprakarsai univikasi keilmuan yang sesungguhnya satu dan realitasnya  kemudian menjadi dua tersebut.  Kita sangat yakin bahwa kalau ada kemauan, pasti akan ada jalan.  Kita sedang menunggu kesadaran dari mereka yang terlibat dalam keilmuan ini dan sekaligus  menunggu datangnya  seorang tokoh yang  akan memadukan keduailmu yang sudah lama berpisah tersebut.  Semoga Tuhan mengutus salah seorang hamba-Nya  untuk masalah ini.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.